Sembuh dari Autis

06/09/2006

----- Original Message -----

From: FR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] "Sembuh" dari autis?

Dear all,

Rasanya ini udah pernah dibahas juga, tapi tadi di perjalanan ke kantor pikiran ini mulai muncul dan jadi kepingin tanya di milis ini. Jadi ceritanya tadi pagi waktu lagi nganterin Ruben dan istri ke sekolah. Di jalan istri nelepon sepupu saya dan ngobrol; sepupu itu cerita kalau dia sedang ikut pijit dan katanya orang yang pijit itu pernah "menyembuhkan" anak yang autis, dengan cara dipijit tentunya. Lalu sepupu ajak kalau mau Ruben juga dibawa untuk pijit, siapa tahu bisa 'sembuh' katanya.

Setelah itu istri dan saya jadi diskusi di mobil, sebenarnya autis itu bisa 'sembuh' nggak sich? Lalu namanya sembuh itu seperti apa? Istri saya ambil contoh anak kami ini; pernah ketemu saudara dan saudara ini nyeletuk 'si Ruben diapain? Kok sekarang udah sembuh ya!' Lalu istri saya jadi mikir sendiri, emangnya Ruben udah sembuh?

Definisinya 'sembuh' buat orang-orang itu apa sich, atau ada berapa macam definisi 'sembuh' (dari sisi saudara/teman yang nggak berinteraksi sehari-hari, sampai dari sisi orangtua dan siblings yang 24 jam/hari berinteraksi). Terus saya nyeletuk mungkin orang punya definisi 'sembuh' yang beda-beda; orang tua anak autis definisi sembuh kalau A, sementara saudara/teman-teman definisi sembuh dari autis adalah B, misalnya.

Anak kami kemajuannya memang banyak (banget)! Dari nggak pernah keluar kata-kata, sampai sekarang mulai bisa menjawab pertanyaan (mis. Ruben sudah mandi? Siapa namamu?) dan bisa bertanya (mis. 'mama, di mana kakak?', 'mama, suara apa itu?'); dari cuek sama lingkungan sampai bisa ngerti dan merasa bersalah kalau melakukan sesuatu yang bikin ortunya marah. Kalau dulu jalan-jalan ke mall harus selalu dikejar-kejar dan dijagain dari dekat supaya nggak pegang sini pegang sana,

sampai sekarang mulai bisa dilihatin saja dari jauh kalau ke toko mainan... dan banyak kemajuan lagi. Tapi tetap kemajuannya nggak seperti anak-anak normal seusianya. Kalau lagi marah, nggak bisa tahan diri... kalau mau teriak, langsung aja teriak! Kalau lagi di mall, tiba-tiba lari deketin petugas kebersihan, satpam, waitresses untuk salaman; masih nggak bisa dengerin guru cerita dan nggak bisa ngobrol dengan teman-teman di sekolah.... segitu bisa dibilang 'sembuh'? :-)

Untuk sekarang ini, saya dan istri beranggapan bahwa anak kami tidak akan 'sembuh' dalam artian akan menjadi normal seperti anak-anak lain (seperti orang sehat, kena flu, lalu sembuh... flunya hilang sama sekali), kecuali jika Tuhan menganugerahkan keajaiban. Saya sendiri kalau ada orang yang bilang Ruben itu udah 'sembuh', saya suka jelasin kalau autis bukan penyakit (seperti flu) yang bisa sembuh kalau diberi obat (flunya hilang).

Jadi, balik ke pertanyaan awal, sebenarnya yang namanya 'sembuh' dari

autis itu bagaimana sich? :-)

-Ik

----- Original Message -----

From: RA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Pak Ik, kalau asumsi saya sih, jika anak saya, Zikri sudah bisa interaksi scr normal, sekolah tidak pake co-teacher, proaktif, akademis dlm standar, seperti saat ini yg kami alami, ya sudah dibilang sembuh. Ini kan bukan hanya dalam pandangan orangtua, dokter sendiri menyatakan sudah keluar dari spektrum. Cuma kewajiban kita kan tetap menjaga diet, kalau larangan sesuai pemeriksaan alergi harus dijaga, harus terus dijaga. Sekali-sekali boleh lah tes case, siapa tahu alerginya juga sudah sembuh. Kan

nutrisi tetap dipertahankan, yang penting be protected terus.

Rus Bandung

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Pak Ik,

Memang orang yang nggak setiap hari ketemu dengan anak kita yang sudah mengalami kemajuan, selalu beranggapan anak kita sembuh. Contohnya Dimas anak saya, orang awam pasti bilang sembuh, cuma ada sedikit kelakuan2 dia yang agak berbeda seperti hiperaktif dan kenekatannya. Masalah emosi yang kadang nggak stabil, misalnya cium atau memeluk orang semaunya dia. Orang pikir Dimas itu anak normal tapi nakal. Kemarin Dimas berenang, ada anak kecil cewek cantik pake lesung pipit. Anak kecil itu dikejar-kejar pipinya yang lesung pipit dicolok-colok pake jari. Trus sekarang lagi seneng2 nya nyanyi " Tombo Ati ", nggak ada yang nyuruh tiba2 dia nyanyi keras sekali " Tombo ati iku ono limang perkoro .." , orang yang denger pasti senyum2 liat kelakuan anak saya. Kalo diliat sepintas memang sepertinya normal2 saja, tapi kalo diselami lebih jauh, ada perbedaannya.

Salam,

Har

----- Original Message -----

From: PS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

pak ik... anak bapak berapa umurnya? trus pijat di mana? saya kayaknya tertarik untuk melakukan pijat pada anak saya. Kalo sembuh menurut saya yaa... mendekati ormal...

karena kalo menjadi "normal" secara utuh saya masih ragu...sebab karakteristik autisnya pasti masih ada.

Di tunggu jawabannya ya pak..

btw selamat pak... anak bapak menjauh sedikit2 dari spektrum ASD.

----- Original Message -----

From: FR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Ibu Pus,

Anak saya umurnya 5 thn; tahun ini jadi 6 thn.

Saya juga lupa tempat pijatnya dimana. Anak saya nggak pernah ikut pijat-pijat yang teratur... pernah beberapa kali aja dengan orang yang beda. Yang dilakukan yaa terapi di Mandiga, terapi SI di tempatnya Dr. Hardiono, lalu terapi juga di rumah. Dari ikut terapi itu kemajuannya pesat (selamat 3 tahun ini).

Yang saya perhatikan dari beberapa kali dia dipijat, tidurnya jadi lebih nyenyak... itu aja. Tapi saya pikir hampir semua orang habis dipijat, badannya lebih relaks, tidurnya lebih enak, ya nggak?

Seperti pendapatnya pak Har, orang-orang yang nggak setiap hari ketemu anak-anak kita suka nggak tahu bagaimana keadaan anak kita; suka enteng aja mereka ngomong kalau anak kita sudah 'sembuh' :-)

cheers,

-ik

----- Original Message -----

From: hj

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Rekan2 millis,

Bagi saya untuk Rifa yang sekarang udah 1 SMP....,sembuh artinya dia dapat berpenghasilan sendiri... dapat berkeluarga, masih jauh rasanya..tapi tetap semangat bersama-sama rekan lainnya berbagi pengalaman...

salam kami

Ayah Rifa

----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Bener Pak Ik...,

Orang yang baru lihat Andro sekarang pasti bilang, "ah Andro ga apa-apa nich biasa-biasa aja ", tapi kalau yang tahu Andro dari dulu " wah ! n salut buat Andro" itu yang Cuma lihat sekilas, Cuma kita yang sehari-hari melihat, tetep ada perbedaan/ terlihat Autisnya, tetep seneng muter-muiterin roda walaupun intensitasnya tidak terlalu sering or mainin roda mobilnya sambil diputer-puterin dan ditempelin kekupingnya dan assik banget itu juga ga terlalu sering seperti dulu. Yang jelas dia sudah mau main dengan teman-temannya & sudah dapat berkomunikasi dan sudah jelas bicaranya, sudah mulai bisa membaca, berhitung, hanya egonya kadang-kadang masih tinggi, sehingga ada guru yang ga tahu bilang Andro terlalu dimanja sama mama n papanya.



Diet dikit-dikit dibocorin, tapi sekarang ga lagi dikasih susu, karena kejadian minum pediasure, langsung susah lagi, kalau produk yang ada susunya bisa langsung panas or BAB menceret.

Jadi kesimpulannya TETEP kita harus waspada.

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: "Sembuh" dari autis?

Pertanyaan yang "nakal", ya?

Saya males kalo suruh jabarkan perkara "sembuh", soalnya saya juga ga' paham definisi "normal" sih ?

He..he...

(jadi inget pertamakali ruben dibawa ketemuan aku di erlangga...)

salam,

Ita

----- Original Message -----

From: Na

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: "Sembuh" dari autis?

Ikutan sharing.

Tetangga, famili dan teman2 kami pun sering bilang bahwa putra kami Yakobus sudah sembuh tapi kami merasa dia masih belum sembuh total bila dibanding dengan anak normal. Kami tentunya sangat bahagia dan bersyukur melihat perkembangan Yakobus yg pesat melalui banyak peristiwa2 yang kadang lucu dan menggemaskan. Salah satu contoh peristiwa nya : sehari2 di rumah Y berteman dengan anak hansip yang sebaya dengan nya, si C perempuan 7thn dan D laki2 6thn. Setiap sore Y ingin bermain sepeda dgn mereka, sayangnya mereka tidak punya sepeda. Jadilah 1 sepeda roda 2 dimainkan bertiga secara bergiliran. Sementara Y naik sepeda dr tempat startnya (pos hansip) hingga ke ujung gang lalu kembali lagi ke pos hansip, C dan D menunggu. Setelah itu ganti C, sementara D dan Y menunggu sambil ngerumpi, begitu seterusnya. Pernah suatu hari saya nguping apa sich yg dibahas bocah2 ini.

Rupanya si D bilang ke Y : "nanti kalo bajumu sudah sempit, jangan

dibuang, kasih aku ya.. Bajumu bagus, aku kepingin bajumu"

Y hanya menjawab : "iya"

Lalu di D bilang lagi : "nanti kalo kamu udah bisa naik sepeda besar,

kamu naik sepeda koko mu, sepeda kecil mu ini buat aku ya."

Y menjawab : "tidak boleh, aku mau naik sepeda kecil aza.."

(--- Y masih salah persepsi ---)

Suatu hari saya sedang membereskan baju2 Y yg sdh sempit, dia langsung

bilang : "mami, D minta baju, kasih D aza..

Y masih ingat kalo bajunya sdh ada yg minta.

Saya bilang : "kamu anak pintar, anak Tuhan harus saling berbagi"

Dan Y pun senyum kesenangan dapat pujian.

Puji Tuhan, rupanya Yakobus sudah memiliki rasa empati dan belas

kasihan terhadap teman, tidak hanya pada kakak nya saja.

Demikian sharing saya.

Salam // Na

(mami Yakobus, autis verbal hampir 8thn)

----- Original Message -----

From: nic

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: "Sembuh" dari autis?

Tergelitik juga untuk komentar mengenai mengenai definisi "sembuh" untuk

anak autis. Saya punya 2 anak normal dan 1 anak autis, dan coba membuat comparison. Sebagian besar orang pasti berpendapat dan mempunyai definisi bahwa :

"sembuh dari autis" = normal (bener gak?).

Tapi saya kurang sependapat, berdasarkan fakta-fakta hasil comparison sbb (bersifat relatif --> anak saya yg normal vs anak saya yg autis) :

1. Anak saya yang autis lebih mudah ber-emphaty kepada orang lain.

Anak yang normal ......."itungan" banget...

2. Anak saya yang autis lebih "mau" memanage dirinya (lebih disiplin

dan melakukan kewajiban2nya dengan kesadaran/tanpa paksaan). Anak yang

normal, harus pake rayuan gombal baru mau bergerak.

3. Anak saya yang autis lebih tekun dalam mengerjakan sesuatu. Anak

yang normal, mudah bosen atau suka menyepelekan, jadi fighting spiritnya kurang.

4. Anak saya yang autis lebih rajin sholat.

5. Anak saya yang autis lebih sulit menahan diri ketika emosi.

6. Kelebihan anak saya yang normal, adalah lebih bisa bercerita panjang lebar, lebih "pede" dlm menghadapi sesuatu yang baru, lebih kreatif dalam membuat alasan utk tdk mengerjakan kewajibannya, dan lebih mudah memahami soal cerita dan pelajaran2 non exact, dll.

7. Kesamaannya : sering dpt nilai 9~10 utk Math, suka dimanjain, doyan

makan, hobby jalan2, dll.

Dengan semua plus & minusnya, saya membayangkan kalau anak saya tiga2nya normal, belum tentu juga akan lebih ringan buat saya.

(contoh nyata : kakak saya punya 2 anak normal, sering frustasi menghadapi anaknya, dan....sering menjadikan anak saya yang autis sebagai "contoh baik" ke anak2nya).

Yang paling saya inginkan adalah (ini goal saya lho..): "mempunyai 3 orang anak sholeh (kualitas hubungan yang baik dengan Allah) dengan soft competencies yang baik (memberikan manfaat bagi sesama mahluk hidup)".

Jadi kalau ada orang yang comment : "anakmu terlihat sembuh atau terlihat belum sembuh dari autis",..... saya senyum aja...karena definisi "sembuh" belum jelas, saya tidak menjadikan "sembuh dari autis" menjadi goal...

Ini hanya sekedar pendapat dari pengalaman pribadi saya saja.

Mudah2an tidak menambah kebingungan.

Nic (bundanya alm.Alif)



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy