Belajar Baca

04/27/2006

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Belajar Baca

Katanya, tiap hari setelah puas main dengan teman2, (karena jaman dulu TV mulai jam 5 sore), kami suka belajar "suku kata". Mulai dengan 2 huruf, biasalah misalnya hari ini : ca, besok ci, lusa cu, dst. Lalu 3 huruf, tergantung ketemu kata apa, misalnya : je - ruk. Lalu, tiba-tiba bisa baca sendiri koran kompas... (belum TK).

Menurut saya belajar baca lewat "suku kata" tetap jauh lebih baik / lebih MATANG drpd belajar "kata" spt di terapi anak autis... Gimana pendapat yg lain?

Salam,

Ev

----- Original Message -----

From: AP/IP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Belajar Baca

Seperti cerita bu Eve, setelah tahap pengenalan abjad, mulai dikenalkan suku kata dst. Saya biasanya pake kartu2 sebesar kartu nama, ditulis ba - bi - bu dst, dan ada kartu yang cuma huruf hidup, nah setahap demi setahap kartu bisa dikombinasikan untuk jadi kata kan ?

Bu Eve, sedikit kasi comment nih....

Metode sight words yang anak2 kita belajar sekarang langsung ngapalin per kata (nggak dari suku kata), emang ternyata lebih manjur untuk anak saya daripada ngajarin suku kata lho.... Gak tau gimana deh, mungkin karena visual & memory-nya lebih kuat daripada kita2 kali ya ?

Kalo diajarin pake phonetic (dengan suku kata dst) malah nggak mempan karena dia punya hampatan oral motorik-nya

salam,

Ir

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Mungkin, bu Ir... untuk anak2 kita lebih cepat pake kata / gambar... juga untuk anak normal. Awalnya keliatan lebih cepat tapi ujungnya bermasalah karena kurang mateng [kayak buah dikarbit aja, lebih cepat tapi kurang mateng :-)].... Ada contoh2 dimana ternyata anak2 tsb menghafal semua kata (otaknya keberatan ngga ya?), sehingga kalo ada perubahan sedikit jadi gak bisa... Contoh : utk 3 kata orang, hutan, orangutan, mereka ngafalin 3-3 nya (karena "orangutan", bukan "orang hutan")...

Pernah juga ada anak membaca buku cerita, keliatan pinter & lancar untuk hal.1, 2, 3, lalu gak disengaja kita bilangin yuk kita coba baca hal.6, jawabnya "gak bisa, belum sampai situ..." Padahal banyak kata2 yang sama dengan hal.2 sebelumnya, sini coba kita bantu... Eh, ternyata dia hafal mati lho, gak pake analisa... misalnya : kesulitan membaca 2 kata yang mirip ("maka & makam", atau "tenun & tenung").

[Kalo di-analogi-kan ke matematik / fisika : sama dengan anak bila tidak mengerti konsepnya / rumusnya, maka kalo soal-nya di-rubah2 jadi ngga bisa... Apalagi kalo ngafalin-nya kasus per kasus... Berat & pusing... Bener gak, bu Luk?]

Tapi entahlah, saya musti denger juga cerita2 orang2 lain yang anaknya sukses belajar dengan kata...

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Ikhsan belajar baca melalui sight-reading. Mulai dari matching kata dengan gambar, terus frase dengan gambar, kalimat dengan gambar, sampai paragraf singkat.

Cek pemahaman dengan soal-soal multiple choices, oke.

Sekarang sudah bisa baca cerita pendek, dan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan itu. Masih macet untuk pertanyaan tersirat. Still must work on it. Gapapa lah. Namanya juga autis.

BTW, kemarin disuruh "ngarang" ama gurunya tentang 'guruku' dan 'aku', lucu deh tulisannya.... Dia kelihatan sekali mikir, ga' mau disuruh berhenti, dan menulis sekali jadi...

Well, jangan tanya gimana caranya anak non-verbal bisa belajar baca. Itu proses yang ga' kelihatan, aku hanya eksperimen dan pasrah sama YME, eh...anak tahu-tahu bisa. Lagipula...baca 'kan ga' selalu harus dilafalkan toh?

Sekarang gaya belajar seperti itu kita cobakan ke siswa mandiga yang macet identifikasi abjadnya seperti Ikhsan dulu.

salam,

Ita

----- Original Message -----

From: RP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Dhani juga sekarang lagi belajar baca, pertama-tama sih identifikasi huruf vokal, setelah itu baru konsonan baru ke suku kata dan sight words juga karena ia harus belajar matching nama benda dengan tulisan misal kartu warna merah dengan tulisan merah atau gambar buah dengan nama buah.

Alhamdulillah sih berhasil, untuk suku kata ia sudah bisa baca (walau dalam hati dan tidak dilafalkan) dan menyusun kata-kata sederhana seperti, ibu cuci ebi, bude bobi dua, cici coba cabe, abi oca duda dll.

Pagi ini dapat info dari terapisnya Dhani, kemarin si terapis coba-coba untuk mendikte Dhani menulis angka, karena Dhani kan sudah bisa nulis imitasi angka 1-10 secara acak dan berurutan, ternyata Dhani memberikan kejutan kecil, dia bisa menulis angka 1-10 dengan didikte terapisnya secara acak ALhamdulillah. Rasanya gak percaya pertama kali latihan pre writting skill dulu Dhani selalu memberontak, apalagi kalau disuruh mensortir biji-bijian, kecuali meronce dia senang, untuk

menjahit juga ogah-ogahan.

Ternyata kita memang tidak boleh underestimate dan putus asa, pokoknya bagi semua parents harus tetap semangat yah.. Sebetulnya kami tidak terlalu mementingkan sisi akademik tapi setelah diajarkan tracing eh Dhaninya seneng jadi keterusan nulis...

salam,

Ros

----- Original Message -----

From: LD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Komentar untuk baca, dulu kala saya mulai membaca langsung huruf vocal dan huruf konsonan yang sudah berpasangan dengan vocal sehingga berbunyi ( ba - bi - bu - bo - be dst). Dan karena saya dapet dari ortu saya begitu, merasa mudah dan nyaman, jadinya saya pakai ilmu itu juga ke anak2 saya.

Teman yang lebih senior mengajari anaknya dengan mengeja "be - a - ba, be - i - bi" dst mengkritik cara saya dengan komentar "hapalan dong..... nggak ngerti dasarnya".

Membaca ada 2 tahap :

1. MELAFALKAN, bagaimana mengucapkannya

2. MEMAHAMI arti apa yang dilafalkan.

Nah tahap 2 yang notabene adalah goal/tujuannya lah yang kita cari... Seperti peribahasa "banyak jalan untuk pergi ke roma", cari aja yang paling menyenangkan buat anak.

Sekedar sharing pengalaman bekerja dulu kala di sebuah pree school asing, dimana anak belum bisa membaca. Ada beberapa bagian kelas (pojok telling stories), loker tas, absensi, dst mencantumkan abjad dan kata yang punya arti. Diulang-ulang setiap hari.

Mereka tidak tahu "how to spell" tapi tahu bunyinya dulu. Anak baru sekitar usia 3 th mulai mengenali namanya. Dan system meng-encourage anak untuk paham bahwa susunan abjad mengandung arti.

Contoh : biasanya setelah sesi sharing and telling stories di pojok kelas yang relatif lebih banyak bersentuhan dengan abjad, ibu guru akan secara acak mengambil satu kertas karton yang sudah dilaminating dalam ukuran yang cukup besar lalu di tunjukkan ke kerumunan anak yang menanti dengan tenang.

Tulisan di karton tsb adalah nama anak. Jika nama yang tertera di karton yang diangkat adalah namanya, maka anak tsb mendapat kehormatan memilih gift lebih dahulu yang kadang2 diberikan secara merata (yang sering sticker smile atau tattoo hiks lalu meninggalkan kelas untuk bermain di luar) atau mendapat kehormatan keluar kelas dahulu (bermain diluar kelas yang sudah diset up dengan beberapa kegiatan yang kadang2 special toolsnya).

Hikmah : anak2 tahu ANTRIAN, dan tahu tulisan dari nama semua teman kelasnya.

Setiap hari bersama-sama membaca tanggal dan hari saat itu. Lama-lama juga ngerti (mengaitkan tulisan dan arti), checking jika ada kode "cup cake" di tanggal saat itu dan menebak siapa yang berulang tahun dengan "membaca" nama teman yang ultah.

Menebak hasil karya siapa yang sudah ada namanya, menaruh tas di lokernya (posisi nama di loker bisa diganti-ganti. Kodenya tulisan dan foto diri)

Jadi saya pikir kenapa tidak memasangkan tulisan dan gambar ?

Tidak ada rumus sih bu Eve, yang penting ngerti. Jangan berpikir terlalu rumit ke sentence dulu, ejaan dan tata bahasa. Jika anak sudah lihai dengan kata dan object yang mewakilinya, serta sudah diasah cara berpikir asosiatif, moga2 lancar.......

Ibarat belajar bhs Inggris, saya paling nggak setuju kalo mikir grammar dulu yakin benar, baru ngomong. Wah lama nih. Mendingan sampaikan saja, lakukan berulang dan jika tahu salah perbaiki sedikit-sedikit di langkah berikutnya, dan jangan pernah bosan dan kehabisan energi untuk berlatih. Ngapain malu, rugi. Toh orang expat nggak banyak juga yang bisa ngomong bhs Ind cas cis cus.... Sama dong smile)

Berpikir (melihat object)dlm bhs inggris akan sangat membantu, lebih efektif dari proses transalasi per kata! Wuihhhhh...... Jangan-jangan nanti keluar kata-kata

"children fruit" ---> anak buah ----> hehe

Anyway sekarang Ismail lagi suka baca huruf hijaiyah. Setiap hari SAYA dilatih Ismail "Apa nih mami bacanya ??? " (dia menulis sendiri juga, walaupun Ain jadi angka 3 --> kebalik arahnya hehe) Saya sendiri kagak pernah ngajarin :-P

Tahu-tahu Ismail udah tahu bagaimana membaca tulisan arab dengan lengkap, walaupun belum dalam format bersambung.

Apa saja deh yang kamu suka nak, mami ngikutin aja deh...........smile)

Saya senang Ismail punya antusiasme untuk belajar hal baru, dan punya inisiatif dahulu.

Ismail sekarang agak ogah baca tulisan latin (Indonesia) walaupun udah bisa sih, cuman lamaaa karena dia ogah latihan untuk tulisan latin bhs Indonesia ini (walaupun non formal / main2)

Hobinya yang baru adalah menyanyi lagu anak-anak in English. Beberapa CD dia hapal habis bersama gerakannya yang kadang2 adalah artinya (head shoulder knee and toe; one little two little three little indians ) Jangan pikir perfect ucapannya.....

karena bhs Ind aja artikulasinya blum jelas. Biarin aja, paling setelah dia bersenandung saya ikut-ikut dalam artikulasi yang menegaskan..... Bonusnya adalah he picks up some words in english....WITH FUN !

Metode apapun namanya saya nggak tahu, pilihlah yang anak merasa tertarik dan senang.... Namanya juga anak-anak....... Tidak ada artinya lagi KAPAN (saat 2 th/3th/4th/10 th/15 th saya mulai bisa membaca saat ini, rangking berapa saya di SD kls satu s/d SMU kelas 3 yang masih membekas sampai sekarang justru BAGAIMANA saya bisa membaca dan untunglah it's FUN........!!!!!, dan bagaimana saya berjuang dan survive s/d skg, menyelesaikan sesuatu yang sudah saya mulai, memilih dan menetapkan tujuan, be focus untuk pilihan yang sudah diambil)

Diatas semua pelajaran eksakta dan hapalan adalah pelajaran untuk ulet, kerja keras, tekun, pantang menyerah, menyelesaikan semua hal yang dimulai dengan aturan agama dan sosial yang benar dan dapat diterima, dan semuanya dikerjakan dengan suka cita!

Ajarilah anak belajar dengan senang, buatlah anak berpikir "learning is fun" Sehingga saat kita tidak disampingnya lagi, ia akan tetap belajar, karena IT'S FUN!!!!!! , menggugah dan menggoda!

Cheers,

Luk

----- Original Message -----

From: AP/IP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Thank you untuk masukannya....

Belum kepikir juga kalo akhirnya bisa begitu, saya harus hati2 juga nih

Metoda sight words ini saya pake untuk ngajar baca tulis di bahasa Inggris di mana memang banyak kata2 yang nggak bisa di-phonetic-kan & rata2 kata2nya singkat hanya 1 suku kata (tapi 4-5 letter)

Sekedar catatan untuk Bapak2 & Ibu2, saya ngajarin langsung di bahasa Inggris untuk anak saya bukannya karena mau gaya........... tapi ya itu gara2 KURIKULUM INDONESIA yang amburadul, mana mungkin anak saya bisa masuk SD biasa dengan beban pelajaran yang kayak gitu rumitnya. So daripada mesti ngulangi ngajar bahasa Inggris, sekalian aja dari awal program terapi pake Inggris dengan tujuan bisa masuk SD National plus yg kurikulumnya gak gitu ruwet

Sekalian mohon masukan.... lagi bingung abis nih Gara2 belajarnya Inggris duluan, sekarang Aga lagi frustasi di sekolah dengan pelajaran bahasa Indonesia-nya (abis ini saya mau praktek ajaran pak Buana & bu Eve untuk baca-tulis nih Kemaren mid-tes bahasa Indonesia & Matematika, pas belajar A sampe bilang (niru iklan nih) "aduh, kepalaku mau pecah"

Saya yakin (& gurunya juga) sebenarnya dia lumayan bisa di membaca BI, tapi hambatan di motorik halus bikin tulisan dia amburadul & gak bisa nulis secepat anak lain. Alhasil kalo dia nulis, cuma ditulis huruf depannya terus belakangnya pake tulisan dokter egrek2 gitu

Saya pikir, kalo di-fasilitasi kayak Ikhsan (halo bu Ita, minta saran dong) pake organizer, apa nggak makin bikin dia males nulis ?? Padahal kalo test / ujian kan mau gak mau harus nulis di lembar ujian. Kalo di-drill latihan baca-tulis terus, saya takutnya dia makin mogok, padahal menulis kan memang lancar by practice ya ?? (berarti saya harus pake vitamin T - tegaan nih)

Ada ide / sharing pengalaman ???

Salam,

Ir

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

Ikutan nimbrung,

Untuk sight reading yang saya terapkan untuk anak saya (masih baru mulai nih), pertama matching gambar dengan kata, misalnya gambar bola dengan tulisan "bola", setelah itu baru diuraikan gambar bola dengan penggalan suku kata "bo" & "la" -> supaya si anak nantinya bisa juga mengeja tidak hanya menghafal.

Rgds,

Lin

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Belajar Baca : Suku kata atau langsung Kata?

IYA ya... Bu Lin?

Pertama : matching gambar & kata, kedua : kata-nya diuraikan menjadi suku-suku kata... Thanks ya...



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy