Kurikulum Pendidikan

04/27/2006

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Rekan milis yth,

Kemarin saya membantu Razi (kelas 6 SD) mengerjakan PR matematikanya . Terus terang saya bengong karena yang dikerjakannya adalah salah satu materi yang dulu diajarkan pak Hutahaean (dosen ayahnya bu Eve) kepada saya : statistik, regressi, diagram garis, diagram batang. Beberapa minggu yang lalu saya membantunya mengerjakan pekerjaan matematika juga, materinya : Ilmu Ukur Analitik ; Absis , ordinat, kuadran I s/d IV dsb. Ini juga saya pelajari dalam mata kuliah matematika di ITB dulu. Sebenarnya, ilmu ukur analitik sudah diajarkan juga waktu di SMA kelas 2 dan 3, tetapi diulang lagi di tingkat I perguruan tinggi untuk mematangkan, itupun banyak sekali teman yang nilainya jeblok untuk pelajaran tersebut. Bukan hanya dibidang matematika saya lihat pelajaran seperti itu, materi pelajaran IPA, IPS, PPKN dan lain2 itu banyak yang dulu saya baru mempelajari di SLA, sekarang diajarkan di SD.

Ampun, saya pikir kalau pelajaran yang dulu saya pelajari setelah ditingkat mahasiswa sekarang diajarkan di SD kelas 6 memang luar biasa kemajuan Indonesia ini di bidang pendidikan. Semangat pimpinan negara Indonesia ini untuk mengejar ketinggalan dari negara maju, memang luar biasa. Sayangnya, mereka tidak mengukur kemampuan rata2 anak bangsa ini, sehingga akhirnya sebagian kecil anak bangsa ini memang mampu menyerap pelajaran yang ada dalam kurikulum nasional ini dan bersaing dengan di lapangan tenaga kerja dengan tenaga asing, tapi sebagian terbesar dari pendidikan Indonesia menurut pendapat saya adalah produk gagal.

Saya tidak tau bagaimana kurikulum pendidikan di negara Asean seperti Malaysia dan Singapura. Yang nyata pendidikan mereka berhasil sehingga penduduk negara2 itu sekarang menjadi majikan dari produk pendidikan Indonesia yang canggih ini. Entah bagaimana lagi pelajaran yang akan dihadapi Razi nanti kalau dia berhasil melanjutkan pelajaran ke SLP, SLA dan selanjutnya. Atau ..........memang saya yang sudah ketinggalan jaman barangkali.

Wassalam,

Ro

-----Original Message-----

From: RLH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Sama, saya juga merasa kayaknya sistem kurikulum anak kita sekarang menganut metoda berulang bukan berjenjang. Dari kecil sampai besar materi itu akan ada terus. Contohnya: waktu ulangan umum semester I kemarin anak saya yang kelas 2 dan 4 sama-sama belajar perubahan bentuk benda seperti benda padat ke cair, cair ke padat. Sampai yang kelas 4 bilang kok pelajaran adik sama dengan aku sih? Di Matematika juga begitu. Bingung saya sad

----- Original Message -----

From: DS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Kejadian ini, baru saya alami tadi malam, karena anak saya di SMP Kls. 1 hari ini menghadapi ulangan untuk 3 pelajaran, Fisika, PLKJ dan Geografi. Luar biasa ...dulu kita kuliah aja, ujian 2 mk mahasiswa keberatan, ternyata kemajuan sangat luar biasa Wah...mana ga masuk2 lagi, diajar yang paling menurut saya paling gampang ga bisa juga, akhirnya emak-nya jadi spaning, si anak juga jadi ikutan... Setelah itu emak-nya sadar, bahwa anaknya dengan segala kekurangannya sudah berusaha tapi mungkin beban terlalu berat, akhirnya merasa bersalah..dan menangislah si-emak. Selanjutnya, malam itu saya terapaksa tidur bersama anak karena menyesal tadi udah marah-marah....gara-2 pelajaran yang susahnya selangit.

Nanti di SMP ada lagi pelajaran perubahan wujud dan terus nyambung hingga Perguruan Tinggi. Itulah pendidikan di negeri kita tercinta ini .....telah menjerat anak-anak kita dan orang tua..sehingga tidak bisa menikmati proses belajar sesungguhnya.

Mungkin rekan millis yang di Luar Negeri bisa berbagi cerita.

----- Original Message -----

From: CK (di Jepang)

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Iya ngomongin soal pendidikan sebenarnya kurikulum di indonesia jauh

lebih canggih di banding di sini, kalau untuk SD khusus (bahasa jepang

nya: Yogo Gakkou) di sini untuk akademik (baca-tulis dan berhitung)

itu juga di lihat dari kemampuan si anak, untuk akademik itu sistim nya juga satu guru satu murid 20 menit/hari. Lainnya ke musik, jalan-jalan di taman (masih dalam lingkungan sekolah), belajar menyiapkan/membereskan makan siang sendiri, cuci tangan sebelum makan, sikat gigi sesudah makan, olahraga/kegiatan yang dinamic (dalam hall sekolah), dan sebelum pulang ada bersih2 kelas (seperti mengepel lantai kelas dll), selain itu juga ada program di luar sekolah seperti autism awarness (jalan-jalan ke mall) dan anak di ajarkan bagaimana berbelanja dan harus bayar di kasir, harus antri, pilih menu kalau di resto, beli tiket, naik kereta dll.

Setiap hari di sekolah selalu ada daily program nya, biasanya di pasang di papan tulis (lengkap dengan pecs dan waktu nya),

Disini juga saya sering menjumpai orang yang special tapi mereka mandiri

(belanja atau naik kereta sendirian),

Salam,

ci

----- Original Message -----

From: MC (di Singapore)

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Hello All,

Metoda pendidikan disini juga berat pak, anak2 disini underpresure, ibu rumah tangga juga stress, malah ada yg menyetrika anaknya karena saking keselnya ngajarin anak, untuk singaporean uang sekolah hanya $5,5 aja, tapi les mahal, jadi orang tua nyari uang lebih banyak buang ke les2 anak.

Jangan kaget angka bunuh diri tinggi disini 4 thn terakhir ada 1700 orang bunuh diri, berusia muda 15 thn - 30an, tragis sebenarnya, mobilitas begitu cepat disini, setiap 3 dari 4 warga singaporean dewasa mengalami tekanan darah tinggi.

Pendidikan di Indonesia, tidak bisa dibilang gagal.

Untuk anak2 Indo yang ke Singapore meneruskan secondary(SMP) biasanya mathnya jago, tapi mereka ada kendala dengan bahasa, biasanya mereka memilih bahasa ke-2 bahasa malay, bahasa pengantar inggris mutlak sebagian besar ortu harus keluarin uang untuk les inggris.

Untuk saat ini cukup udah lumayan banyak org indo yang tamatan Univ Indonesia ditawari kerja disini.

Salam,

Mc

----- Original Message -----

From: RP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Mbak Ci,

Saya setuju banget nih dengan kurikulum sekolah khusus di Jepang, mirip-mirip dengan kurikulum Homeschooling Dhani, sebelum belajar senam dulu 15 menit,main puzzle, terapi ABA/VB,OT kemudian istirahat makan /brunch, play terapi, main kolase, main kereta api dan puzzle huruf (dulu beberapa teman sebaya yang NT sering ikutan sekarang sudah jarang, bosen kali yah..), shalat, kemudian jalan-jalan di sekitar rumah durasi terapi dari jam 07.30 s.d 11.30

Untuk Hari Jumat, terapi hanya sampai jam 10.00 setelah itu berangkat ke kolam renang, renang bareng si mbak dan terapisnya, maunya sih seminggu dua kali, tapi karena cuaca di Surabaya masih sering mendung and hujan, jadi hanya seminggu sekali dulu aja.

salam,

Ro

----- Original Message -----

From: HB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Satu hal yang perlu dicatat dari ceritanya ibu Ci di Jepang adalah "disini juga saya

sering menjumpai orang yang special tp mereka mandiri (belanja atau naik kereta sendirian)"

Mulai sekarang kalau pergi ke resto biar dia pilih makanan/minuman yang dia suka, kalau pergi sekolah biar dia yang masukin peralatannya (kita siapin semuanya dimeja), kalau naik busway biar dia yang beli karcis dst, kita disampingnya aja kasih promp.

thanks ibu ci...

salam,

Her

(time goes by so quickly, tanggal 25 maret ini kenan

akan 7 tahun, anaku udah besar yah..)

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Pak Ro,

Setahu saya Razi sekolah di SD Purba Adhika yang notabene adalah Sekolah Khusus? Apa tidak pake kurikulum khusus juga? Masih pake kurikulum Sekolah Umum?

Memang kelihatannya pemerintah belum siap dengan kurikulum sekolah

khusus makanya selama ini ijin mendirikan sekolah khusus agak susah,

malah kemudian dimasukkan ke golongan SLB.

Kurikulum pendidikan kita memang "canggih" yah..... dari dulu belum berubah.

Padahal sudah banyak yang protes dari berbagai kalangan, dan dari Depdiknas juga sudah berjanji ingin memperbaiki tapi kenyataannya janji tinggal janji. Sekarang diterapkan sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetisi) yang katanya hasil penyempurnaan kurikulum sebelumnya. KBK dinilai sesuai dengan tujuan membangun seluruh dimensi kebutuhan manusia.

Waduh.... kasihan yah anak-anak ..... bisa stress.....

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kurikulum pendidikan......aduh canggihnya !

Iya benar bu.

Kurikulum yang dipake gabungan antara kurikulum umum ( reguler ) dan kurikulum SLB C dan B. Razi 90 % pake kurikulum umum. Kalau di SD khusus seperti sekolah anak saya biasanya tiap anak beda2. Buat yang dianggap sudah mampu dipakai kurikulum SD reguler sepenuhnya, kalau anak dianggap belum mampu sebagian pake kurikulum SD reguler sebagian lagi kurikulum SLB C, bahkan kalau dianggap daya serapnya masih sulit dipake kurikulum SLB B. Hal ini pernah dijelaskan kepala sekolahnya sama orang tua murid, dan dibuatkan petanya. Razi waktu itu 90 % pake kurikulum SD reguler, 10

% SLB C.

Dengan kebijakan Depdiknas untuk pendidikan anak autis itu sebenarnya SD Khusus bisa menyusun kurikulum sendiri. Tapi nggak tau nggak tau kenapa, nggak bikin sendiri mungkin karena belum ada SMP Khusus kali.

Wassalam,

Ro

----- Original Message -----

From: Lu

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] pendidikan anak khusus

Jadi pingin nimbrung :-)

Gavin juga di sekolahnya sudah belajar yang sangat mendalam dan detil.

Bahan pelajaran anak 1 SD sudah seperti kelas 4 SD. Kadang worksheet gavin mirip dengan worksheet kakaknya yang di kelas 4 tapi lain sekolah. Untuk bahasa gak usah di bilang lagi grammar sudah sampai past perfect. Tapi kalau saya tanya sekolahnya katanya Gavin bisa mengikuti pelajaran dan nilai rata2nya 7.

Hari ini ambil raport, setelah kami tanya2 ternyata yang kesulitan bukan hanya Gavin tapi juga anak2 normal lainnya dan mereka mengerjakan worksheet itu dengan bantuan. Jadi bukan hasil sendiri. Menurut gurunya itu cuman pengenalan saja. Yah... kalau sekolahnya bilang begitu kita sih ikut aja.

Menurut saya kita sebagai orang tua harus tau memberikan batas mana yang sesuai dengan perkembangan usia dan yang tidak. Itulah perlunya asosiasi POMG yang selama ini seolah terlupakan. Tapi perlu dihidupkan lagi. Kita sebagai orang tua yang berperan untuk memonitor sekolah. Pelajaran sekolah yang sesuai adalah pelajaran dimana jam sekolah sudah cukup bagi anak untuk mengerti pelajaran tersebut tanpa harus les tambahan.

Boleh2 saja sekolah beri pelajaran yang diluar batas usia anak. Tapi kalau sekelas jelek semua nilainya mau apa? mereka yang harus sadar bahwa mereka terlalu memaksakan kurikulumnya. Jadi jangan orang tuanya yang memaksa anak untuk mengikuti pelajaran disekolah yang sangat menekan itu, tapi sekolah yang harus mengikuti tingkat kemampuan anak sesuai dengan usianya.

Kembali lagi gunanya POMG disitu. Apalagi sekarang banyak sekolah2 swasta baru, persaingan makin ketat. Kita sebagai orang tua harus aware juga bahwa hak kita untuk juga memonitor kurikulum anak2 kita. Ini kayaknya juga perlu sosialisasi ke orang tua dech. Karena saya masih sering menemui orang tua yang menganggap bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah yang memberikan materi pelajaran yang sangat "advance" dan komphrehensive (kadang dalam satu kurikulum ada 3 macam bahasa, Indonesia, Inggris dan mandarin :-()

Edukasi orang tua penting. Kalau bukan kita yagn mulai siapa lagi? Apakah kita mau punya generasi yang secara IQ tinggi tapi Eqnya rendah (terlihat dari tingkat bunuh diri yang semakin meningkat, moral degradation, dsb??)

Wah malah jadi semangat nich... sebel abisnya ama kurikulum sekarang ini. kasihan tuh anak2..

Lu

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy