Konsisten

04/20/2006

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Konsisten

Konsisten, aduh susahnya..

Hari ini ada kejadian banyak sekali di sekolah, tapi satu yang mau saya share tentu pengalaman "menyebalkan" dengan si Ikhsan Monas.

Sehari-hari pakai sepatu sandal gunung, yang suka dia lepas-lepas. Jadinya kaki kotor, ga' enak ngliatnya, apalagi sepatunya bikin orang kesandung-sandung. Lagian di tempat umum masa lepas sepatu?

Jadi tadi saya peringatkan dia "ikhsan, sepatu". Soalnya pernah, beberapa minggu lalu, sepatu saya sembunyikan sampai separuh hari dan dia kalang kabut yari.ndelalah karena saya kedatangan tamu agung (pak Mukhlizin Aziz dari Australia), jadinya saya kebobolan deh.

Nah, hari ini si Ikhsan hanya memandang sebelah mata atas peringatan saya (yang makin lama nadanya makin tegas): "Ikhsan, SEPATU". Lalu dipertegas "kalau sepatu tidak dipakai, ibu ambil, ibu buang". Masih cuek.

Tiga kali dikasi peringatan bersikap masa bodoh, aku berdiri, aku ambil itu sepatu dan aku sembunyikan. Dia nyoba nyari dimana-mana, ga' ada. Dia mulai panik sewaktu dia sadar ini hari Selasa, dimana dia "biasanya" diajak ayah pergi ke pizza hut. Sepatu tidak ada, lalu bagaimana????

Semua orang senyum-senyum aja karena mereka tahu kalau saya sudah mengeluarkan statement ke anak gitu biasanya sih, ga' bisa ditawar. I MEAN WHAT I SAY, I SAY WHAT I MEAN.

Wadoh.nangis !

Anak segede monas, nangis keras sekali (dengan suara ngebas) dan menendang yang nyaris kena saya. Wah, saya tambah marah. Saya berteriak keras sekali (mungkin penduduk 3 RT tetangga bisa dengar suara saya), dan ucapan saya langsung skakmat ke dia "TIDAK BOLEH MENENDANG KALAU MARAH. APALAGI KE IBU !". Dia langsung cep, mewek, tapi ga' tegangan tinggi. Terus saya dengan suara biasa bilang "minta maaf". Dia datang ke saya, ambil tangan saya dan cium tangan.

Masalah selesai? Tentu tidak. Kan saya dari pertama sudah bilang, kalau tidak boleh pakai sepatu. Saya tambahkan dengan keterangan lebih jelas. SAMPAI PULANG.

Bapaknya telpon, ga' sampai hati, dan mencoba menawar. Gimana kalau dia minta pergi? Rupanya disini terjadi kepanikan pula dari sudut ayah. Kemana muka mau ditarok kalo bawa anak nyokor (ya tarok aja di kepala situ, oy).

Jadinya Ikhsan TIDAK pergi tapi dibawakan makanan oleh ayah. Dan ikhsan marah-marah. Aku bilang, "tidak boleh marah sama ibu, tidak boleh marah sama ayah, tidak boleh marah sama siapa-siapa, semua ini salah ikhsan sendiri".

Eh.ini berlangsung terus sampai saat dia lagi les dan saya lagi terima klien. Untung klien-nya temen lama, dan rekan milis. Jadi sms terus menerus dari Ikhsan yang segera harus saya balas (moga-moga) dipahami oleh ibu Anti Pane ini. Sms-nya bunyinya apa? "Ikhsan mau sepatu". Dan aku dengan tenang jawab "tidak". Dia ulang lagi. Jawaban sama, ditambahin, "ikhsan pulang tidak pakai sepatu, karena tadi sepatu dibuang-buang". Marah lagi dia. Gurunya (kan semua kompak) bilang "Lho, kok marah. Kan kamu yang buang-buang!". Jadi di mobil dia mewek. Bayangin.Ikhsan yang jijik sama yang mblenyek, terpaksa jalan tanpa sepatu. (Awas, cacing!!).

Malam, masih begitu terus. Akhirnya jam 20:30 saya masuk ke kamarnya dan tanya, "ada apa?". Dia tunjuk rak sepatunya, terus ketik di organizer "sepatu". Saya tulis sebuah cerita di depan dia.

"Sepatu ada di sekolah. Tadi ibu ambil, karena Ikhsan buang-buang sepatu terus. Ibu bilang tidak boleh, Ikhsan tidak mau dengar. Ibu bilang suruh pakai, Ikhsan tidak mau dengar. Besok kita ke sekolah, ibu carikan sepatunya, pasti ada. Sekarang janji tidak marah?" (jawabannya = tidak.).

Anyway.sesudah dia baca ulang cerita itu (yang sewaktu saya tulis saya juga baca), dia lebih tenang, ga marah lagi, dan mau tidur.

Aduh, susah betul konsisten yak. But I have to do it. Kalau omongan saya tidak dia respek, apa pula senjata saya?

Salam,

Ita

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

1. Iya, ya ... Susah untuk konsisten ya? Antara kasian juga, karena merajuknya bisa sampe malem ya...

2. Tentang menendang itu, wow kebayang gedenya ikhsan... G pernah juga DULU ngga sengaja nendang perut saya (sedang "isi", jealous karena akan ada adik baru), wah langsung saya tegur keras : tidak boleh tendang2! Juga oppung2nya ikut marah yang padahal tidak pernah marah.

Ibu saya bilang : Itu mah anakku, jangan kamu sakitin, Gerard....!

Lalu : kalau ibumu ngga ada siapa yang urus kamu, gerard ?

3. Kalo sekarang musimnya gemes ketok-ketok dahi saya (dapet ide dari mana, ngga tau). Pertama cium2 pipi-dahi (sayang), sambil tarik rambut, lalu tiba2 tok-tok (gemes).. Tiap kali dibilangin : Tidak boleh pukul2! Sakiiit!

Eh... dia cuma ulang perkataan saya dgn intonasi datarnya : "tidak boleh pukul... sakit..." Haduh, ada aja ...

----- Original Message -----

From: ND

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

Oh ..konsisten ...

Masalah konsisten .. pagi tadi saya melanggarnya ... Habis saya udah sangat kehilangan akal .. Jam udah menunjukkan 6.15...

Harus berangkat ke kantor dan antar anak anak sekolah ..

Ceritanya begini ..

Setiap pagi kami selalu minum jus buah buahan ...

2 anak saya (satu autis) selalu berebut memilih gelas yang isinya lebih sedikit (padahal Cuma selisih 2-3 mm ) Kebetulan tadi si adik dapat duluan ...si abang merebutnya ... Pas lagi berebut .. jusnya tumpah .. basah lah baju si abang ...

Si abang histeris ...mau jus lagi ...padahal udah nggak keburu lagi kupas buah buahan, keluarin blender dan lain lain .. Dia teriak teriak ..mau jus ...mau jus ..( prinsip dia kalau nggak minum jus aku kalah dengan adik ...) Saya jawab tidak .. besok pagi aja ... e..e..makin teriak .. Terus saya suruh dia ganti baju ... eh...dia tetap mau pakai baju yang kotor tsb...terus saya katakan ...silahkan ..pakai baju basah. ...e..e.e..teriakan makin kenceng ... Mau jus ...mau pakai baju olah raga ...

Akhirnya saya udah hilang kesabaran ... saya buat jus ... tapi baju harus pakai baju yang lain ..(dia sudah tahu takut dan malu..nanti di tegur guru di sekolah ...kok bajunya berbeda) .. Akhirnya jadilah itu jus ... tapi dg ukuran mug yang lebih besar ... Karena dia udah minta jus ...terpaksa lah di minum ...jus tersebut ... Padahal ide awalnya kan maunya yang lebih dikit .....

Oh ... tarik nafas lega ...walau telat masuk kantor ...

Cuma saya tetap kesal ... kenapa tadi nggak konsisten ...harusnya tidak kan tetap tidak ...

----- Original Message -----

From: WW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

Memang menjaga konsistensi itu susah..

Saya juga pernah mengalami hal yang sama dengan Gilang.

Kejadiannya pada waktu Gilang kelas 1 SD. Saat itu kami sedang siap-siap untuk berangkat ke Kantor dan Gilang ke sekolah, kami harus berangkat sama-sama dan agar semuanya tidak kesiangan, maka kami harus berangkat dari rumah paling lambat jam 5.45 WIB karena rumah kami di daerah Kalimalang-Jakarta Timur, sementara lokasi sekolah Gilang dan kantor saya/suami ada di Jakarta Selatan dan Gilang masuk sekolah jam 7.20 WIB. Peraturan di sekolahnya kalau terlambat datang maka akan

diberikan kartu kuning dengan tulisan "I'm late", maksimal terlambat 3x dan yang keempat kali anak disuruh pulang.

Pagi itu, Gilang susah banget disuruh mandi dan malahan males-malesan, saya dan suami sudah siap-siap, dia masih belum mandi juga dan setelah dibujuk-bujuk juga belum berhasil akhirnya saya dan suami memutuskan Gilang ditinggal dirumah dan kami berangkat. Hal ini kami lakukan untuk menunjukkan konsekuensi kalau berangkat telat, semua menjadi terlambat dan saya/suami tidak mau terlambat maka Gilang harus menerima konsekuensi itu dan tidak masuk sekolah padahal Gilang sangat senang pergi sekolah.

Setelah kami jalan, rupanya dia buru-buru mandi tapi tetap tidak bisa berangkat sekolah karena sudah kami tinggal, dan dia terus menerus telpon ke Hp saya sambil nangis dan bilang " Mama balik lagi ke rumah, aku sudah mandi, aku mau ke sekolah". Berkali-kalai dia telpon saya, tapi saya cuekin dan saya katakan pada Gilang bahwa kalau lelet akan ditinggal...karena mama dan ayah tidak mau terlambat.

Jadi hari itu dia bolos sekolah dan saya telpon gurunya minta izin tidak ke sekolah dan saya ceritakan kejadian sebenarnya.

Ternyata "shock therapy" yang saya terapkan pada Gilang berhasil lho..., sorenya dia minta ma'af dan janji tidak mengulangi lagi.

Alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah terlambat lagi, apalagi sekarang lokasi sekolahnya lebih jauh (di TB. Simatupang) sehingga berangkat dari rumah harus jam 5.30 WIB.

Saya pikir sesekali orang tua perlu tegas (tapi jangan dengan tindakan fisik ya..) agar anak tetap respek terhadap orang tua.

salam,

Wi

----- Original Message -----

From: MC

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

Saya juga punya pengalaman yang hampir mirip bu, sewaktu christina di K-1, baru 4,5 th umurnya, ada satu pagi lagi berantem, ya paling teriak kalau lagi berantem sama vincent, hanya gara2 berebut mau bergantungan dipintu....lama banget pake sepatunya sambil nangis, kesel saya nunggunya, saya dan vincent pergi aja, biar ngak telat kami take taxi,..ngak disangka2 ternyata christ tarik tangan nannynya langsung nyusul, nekat jalan sambil lari kesekolah.... saya sering salut lihat christ.

----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

"shock therapy"

Saya setuju..itu cara paliiinggg efektif daripada ke arah hukuman fisik.. Dan apa yang Ibu lakukan pada Gilang itu hal yang paling tepat.

Salam,

Ri

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

Memang bener dalam mendidik yang paling penting adalah "konsisten".

Walaupun tidak mudah. Kita harus belajar TEGA.

Kelemahan kita adalah "kasihan" sama anak, apalagi kalau sudah nangis meraung2. Padahal sebenarnya nangisnya itu lama2 bisa dijadikan "senjata" sama anak. Dengan nalurinya, anak juga bisa tahu dan survey yang mana nih yang bisa lemah (ayah/ibu) kalau aku nangis dan ngambek/mogok melakukan sesuatu, yang mana yang suka manjain, dan yang mana juga yang konsisten dan tidak tergoyahkan J

Jadi bukan orang tua ajah yang bisa monitor sifat anak, anak juga bisa monitor sifat orang tua.

So jangan sampai "kalah" sama anak yah....

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: FR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Konsisten

Iya bener sekali bu LM, anak-anak itu jago banget lihat siapa yang paling lemah, ayah atau ibu. Saya suka pakai istilah (main-main) 'manipulative little monsters' sama temen-temen kalau lagi ngomongin anak. Rasanya kemampuan mereka untuk baca 'kelemahan' ortu nggak kalah sama crime profilers dan para interrogators dari FBI/CIA tuh J

fred





Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy