Kekerasan dalam Rumah Tangga

02/23/2006

----- Original Message -----

From: MA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Di acara Nuansa Pagi RCTI hari ini, kak Seto mengunjungi dua kakak beradik Indah dan Lintang, di RSCM, mereka berdua adalah korban kekerasan dalam rumah tangga, mereka dibakar oleh ibu kandungnya yang kesal terhadap suaminya yang sering mabuk2an, Indah menderita paling parah, luka bakarnya sampai 55 %. tangannya diikat ke ranjang agar dia tidak menggaruk2 luka bakarnnya

Kak Seto berkomentar bahwa kekerasan rumah tangga pada umumnya akan ditanggung oleh the weakest link the the family yakni anak2, istri ada masalah dengan suami ditumpahkan ke anak2, vice versa. Masalahnya kita sering gak sadar, sampai tingkat mana kekerasan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak, kita mungkin merasa permisif melakukan kekerasan terhadap anak atas dasar mendidik, tapi kan sulit bagi kita untuk tahu dengan pasti apakah selain mengandung efek jera, ada efek lain yang negatif. dan tentu saja harus diingat kekerasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk psikis, high tension environment, lingkungan yang gak kondusif, dialog yang gak jalan dalam rumah juga akan berpengaruh terhadap anak.

Menurut salah seorang peserta milis yang suka mengamati perkembangan anak, biasanya akan ada siklus perilaku, kalo orang tuannya keras terhadap anak, anaknya juga akan keras, kalo bapaknya bandel, anaknya juga bandel., kalo bapaknya sensitif, anaknya juga sensitif, betulkan demikian, terus terang saya bukan expert dalam hal ini, kalo ada yang mau sharing monggo wae atuh

----- Original Message -----

From: SB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Pak MA dan semua rekan milis,

Ingin saya tambahkan sedikit, bahwa cinta kasih itu adalah sesuatu yang dipelajari dari pengalaman. Kalau anak biasa memperoleh kasih sayang dari orangtua atau orang yang mengasuhnya, maka ia akan bisa juga menunjukkan kasih sayangnya kepada orang lain. Contoh yang paling jelas tidak usah jauh-jauh, dialami oleh anak-anaknya Ibu LM.

Kita tidak melakukan kekerasan terhadap anak bukan saja karena khawatir kemungkinan anak akan mempunyai rasa dendam terhadap orangtua, tetapi juga ingin menunjukkan dan memberi contoh kepada anak tentang caranya menghadapi persoalan sehari-hari dengan lebih bijaksana, sabar, rasional dan penuh kasih sayang, dan bukan dengan marah-marah melulu atau kekuatan fisik seperti memukul. Kita tentu tidak ingin anak memiliki budaya kekerasan. Selain itu, kita juga ingin menghargai anak sebagai subyek, bukan obyek yang bisa diperlakukan seenaknya.

Menurut saya, salah satu langkah yang baik untuk supaya kita tidak memakai cara main pukul terhadap anak ialah dengan terus-menerus belajar tentang cara-cara yang lebih baik dan kreatif dalam mengasuh/mendidik anak. Dengan mengetahui berbagai macam strategi, langkah dan cara yang lebih bijaksana dalam mendidik anak, maka orang akan lebih mungkin tidak memilih cara kekerasan; walaupun sebenarnya persoalannya bisa tidak sesederhana itu, karena ini menyangkut juga cara pandang, falsafah, pengalaman dan kebiasaan masing-masing orang.

Pernah seorang teman (bukan anggota milis ini, dia mempunyai anak biasa, tidak autis) bertanya pada saya, apakah mungkin orangtua selama membesarkan anaknya itu tanpa pakai memukul. Karena menurut pengalamannya, anak itu haruslah dikerasin, kalau enggak maka akan jadi semakin nakal dan ngelunjak. Dikerasin aja masih nakal, apalagi kalau enggak. Begitu menurutnya. Lalu saya jawab, ya sangat mungkin dan bisa saja mendidik anak itu tanpa pakai memukul, contohnya saya

sendiri dan masih banyak orang lainya lagi (termasuk tentunya banyak teman di milis ini) yang tidak menggunakan pukulan dalam mendidik anak, tapi tentu saja kita perlu belajar caranya. Bagi teman saya itu sepertinya tidak mungkin tanpa memukul, karena dia dan juga pasangannya tidak tahu cara-cara lain yang lebih baik dan efektif dalam mengasuh anak.

Kesimpulannya ialah penting sekali untuk kita terus-menerus belajar tentang cara dan langkah yang lebih baik dalam mendidik anak, melalui buku-buku, artikel, media massa, seminar/lokakarya, konsultasi dengan para ahli, teman-teman dan..... dari sharing teman-teman di milis PK kita ini. Kita semua yang peduli dan sebagai orangtua dari anak ASD, tentunya merasakan mejadi lebih terpacu untuk terus-menerus belajar dan berusaha lebih baik lagi dalam mendidik anak-anak kita. Bukankah demikian? Semoga!

Salam,

SB.

----- Original Message -----

From: MA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Bapak SB,

Thanks for the comments, saya sependapat, bahwa kita terus menerus dalam proses belajar dalam banyak hal, termasuk dalam mendidik anak dan keluarga, salah satu proses belajar adalah dengan sharing di puterakembara ini.

dalam konteks Kekerasan dalam rumah tangga, salah satu pemicu persoalan ini, adalah kecenderungan ketitdakterbukaan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. kita cenderung try to get around the problem, and avoid to solve the problem immediately, and overtime masalahnya tambah besar dan tambah kompleks, yang akhirnya bermuara pada KDRT, yang akhirnya berpengaruh negatif pada pendidikan anak. pendidikan anak adalah subsistem dalam rumah tangga, kita gak bisa menanganinya in isolation, kalo supra systemnya bermasalah, jangan harap subsystemnya akan berjalan dengan baik, menangani anak berkebutuhan khusus membutuhkan usaha ekstra, jadi suprasytemnya harus kuat.



Thanks

MA

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Mendidik dengan Kasih (Re: Kekerasan Dalam RT)

Rekan milis,

Seperti halnya pak SB dan pak MA dan banyak rekan lain, saya juga salah satu penganut "anti kekerasan" terhadap anak-anak, baik anak normal apalagi anak spesial. Saya juga bukan "super mom" yang tidak bisa marah pada anak. Apalagi setiap anak itu pada saat tertentu, memang ada fase "melawan". Selain proses "belajar" yang disebutkan oleh ibu Ev, saya berpendapat bahwa proses melawan itu adalah proses "coba-coba" apakah orang tua nya bisa ditawar atau tidak.

Di sini orang tua juga diuji untuk bersikap konsisten. Jadi kalau si anak menolak "gak mau mandi karena dia mau bau", itu pasti bukan bener2 kemauannya. Ini taktik si anak untuk melihat reaksi orang tua. Untuk menyikapinya, sebagai orang tua kita juga jangan kalah taktik. Jangan malah terpancing emosi. Ini tidak mudah memang, apalagi kalau orang tua juga lagi stress karena masalah lain misalnya.

Selain saya berusaha konsisten dengan tetap menggunakan sistem "negosiasi" dengan anak, saya dan suami sepakat untuk mencegah hal itu, dengan "membalik" situasinya. Caranya? saya bikin peraturan sederhana yang isinya mengenai hal-hal yang sederhana yang harus diterapkan di rumah. Contohnya saja: pada Hari Sekolah, sepulang dari sekolah, tidak ada acara nonton TV dan main Computer kalau belum buat PR dan mandi. Peraturan ini saya buat bersama-sama dengan anak-anak

(ceritanya secara demokrasi lah.....) jadi ada acara sedikit tawar menawar, misalnya: sebelumnya saya buat hal di atas berlaku untuk Senin s/d Jumat, tapi kemudian Kevin bilang bahwa kalau Jumat sore, kan besoknya libur jadi bisa gak mandi nya belakangan, jadi habis buat PR langsung bisa nonton, setelah itu baru mandi. Mereka juga tawar ketentuan tidur jam 9.00 pm jadi jam 10.00 pm. Dan masih ada beberapa peraturan lagi yang sempat ditawar. Sedangkan untuk Hari Libur, peraturan juga cuti, mereka bahkan bisa tidur sampai jam 11.30 pm karena besoknya mereka bisa bangun lebih siang.Setelah itu dalam pelaksanaan peraturan itu, kita tetap harus monitor. Yah... namanya anak-anak, tetap ajah kadang-kadang suka "espcape" juga. Kalau hal itu terjadi, kita tinggal mengingatkan saja tentang peraturan yang telah dibuat bersama.

Sekedar sharing dan mudah-mudahan bermanfaat.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: RL

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Negosiasi (was:Mendidik dengan Kasih)

Saya tertarik dengan bahasan ibu LM,terutama soal negoisasi.. anak saya tunggal dan dengan keberadaannya yang autistik sering menjadi pangeran kecil di rumah.... ketika saya mencoba menerapkan ketegasan biasanya si eyang tersayang langsung membela dan mengatakan... "kasihan, dia kan autis" saya tentu saja tidak serta merta menentang apa yang dikatakan ibu saya, tapi setelah anak saya tidur, saya berusaha berdiskusi dengan ibu saya. bisanya saya pakai kalimat bu Ita, "kalau sekarang dy tidak kita ajarkan... gimana waktu besar..." biasanya setelah itu ibu saya tidak terlalu memanjakan anak saya... hal yang sederhana saja, misalkan.. makan di meja makan... membawa baju kotor ke keranjang cucian.. mengambil minum sendiri.. dll, kalau saya tidak berusaha sejak sekarang... saya yakin anak saya akan semakin autis saja :-) akhirnya saya dan ibu saya punya kesepakatan dengan anak saya... (puji Tuhan dy paham!) jadi pada saat ibu saya yang ngajarin saya mundur dan jadi shadow... pas saya yang lagi ngajarin, ibu saya jadi shadow... lucunya, anak saya sekarang 5 tahun dan masih non verbal tapi sudah bisa paham apa mau kita dan ngeyel-nya nggak ampun... selalu berusaha mencoba menolak terlebih dahulu apapun itu. pada prinsipnya, anak saya paham dengan negoisasi, misal... kalau dia lagi ga mau makan nasi dan maunya nyemil... saya atau ibu saya bilang... "sekarang nyemil dulu, kalau sudah habis cemilannya makan nasi ya...." dan dy mengangguk...pada saat selesai nyemil dan kita ajak makan nasi... sudah gak pecicilan lagi..

satu yang saya syukuri, slain bahwa anak saya sudah mampu berinteraksi adalah... kami (saya dan ibu) tidak perlu lagi tarik urat leher untuk mengajari si jagoan tersayang, anak saya juga hampir nggak pernah dibentak-bentak lagi.. (kebayang waktu masih 2 th dan pecicilan gak karuan..) sekarang lebih banyak dengan menggunakan ketegasan intonasi bahasa dan bukan bentakkan..berkat NEGOSIASI...

autistiknya... tetap ada, dan saya cuma belajar untuk selalu bersyukur atas pelajaran kesabaran yang diajarkan anak saya pada kami.

Salam,

Re

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy