----- Original Message -----
From: RT
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Sistem cara bermain
Dear all,
Tolong dong...yang punya & bisa kasih saya copy-an mengenai floortime, bisa
dikirimi ke Balikpapan...saya yakin Daffa pasti suka sekali dengan cara tsb..
Salam,
Ri
----- Original Message -----
From: RP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Sistem cara bermain
Kalau untuk mengetahui cara berfloortime ria dengan anak, ibu Frc adalah pakarnya, queen of floortime. kalau saya gak begitu bisa dan seringnya belajar pake nyanyi, misal lagu "kalau kau suka hati pegang hidung, kalau kau suka hati pegang kepala, kalau kau suka hati pegang tangan dst" kalau si anak belum bisa sambil diprompt dan anak gak terasa kalau lagi diajarin juga dan jangan lupa selalu beri pujian misal hebat, bagus, pintar.
Floortime itu Approach, dan "taking the child leads" Lagi-lagi Ibu Frc harus njelasin deh HELP PLEASE...
Ros
----- Original Message -----
From: LH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Sistem cara bermain
Bu Ri,
Buku basic floortime yang judulnya "The Child With Special Need" tebal sekali, sekitar 300-500 halaman dan sulit untuk di fotokopi (buku asli bisa rusak). Saran saya, ibu ke situs Yayasan Ayo Main, dan download tulisan/ringkasan apa itu Floortime yang ditulis oleh psikolog Fridia.
Floortime, arti harafiah-nya waktu bermain di lantai, prakteknya bermain tidak hanya di lantai saja, di mana saja. Pada floortime, orang-tua atau siapapun yang melakukan floortime dengan anak dituntut "ramai/aktif" memberi komentar, memancing komunikasi (membuka & menutup lingkaran komunikasi). Komunikasi di sini bisa sekedar gesture. Pendekatan floortime sangat erat/tidak bisa lepas dengan terapi Sensory Integration. Untuk anak yang speech delay, yang digarap bukan ke
speech-nya langsung, tapi sensory-2 yang berkaitan dengan oral motor.
Rgds,
Li
----- Original Message -----
From: Frc
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Buku Floortime (The Child With Special Needs)
Sekedar update, Yayasan Ayo Main! sedang dalam proses menerbitkan edisi
bahasa Indonesia dari buku pegangan (bible nya) Floortime, yaitu The Child With Special Needs karya Dr Greenspan. Saat ini sudah tahap editing oleh editor ahlinya, ibu Dra Fridia, perintis penerapan pendekatan floortime di Indonesia sejak pertengahan 90an.
Penerbitan buku ini merupakan program pertama sesuai misi Yayasan yaitu,
menyebarluaskan pendekatan DIR - floortime di Indonesia yang mana
merupakan pendekatan yang berbasis
1. Perkembangan emosi & intelegensi (D = developmental)
2. Perbedaan profil sensory setiap orang (I= individual difference); dan
3. Relasi personal (relationship based);
yang semuanya dijalankan dengan filosofi Floortime alias bermain sesuai komponen DIR itu tadi;
Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi tambahan alternatif atas pendekatan perilaku (behavioral approach) yang sudah lebih populer di Indonesia. Secara umum memang sering disebut Floortime saja (walaupun DIR itu lebih luas dari sekedar ber floortime)
Secara harafiah memang floortime berarti 'get down on the floor & play with your child', tapi maknanya bukan eksplisit sebatas bermain dilantai dengan anak, melainkan mengikuti 'petunjuk anak' (follows child' lead) sehingga kita bisa memahami setiap tindakan & pikiran dia agar kita bisa menuntunnya meniti tahapan perkembangan anak yang seharusnya.
Saya sendiri bukan ahli floortime, cuman ortu yg sangat bersyukur karena saya kenal pendekatan ini cukup dini & filosofinya sangat bisa diterima oleh pemikiran & jiwa saya dan merasa anak saya sangat terbantu sekali dengan ini. Sebagai sedikit upaya balas budi & penghormatan (tribute) buat para ahli yg sudah menemukan maupun yang mengajarkannya pada saya maka saya membuat komitmen untuk membantu menyebarluaskan pendekatan ini, agar mudah2an lebih banyak anak lagi yang dapat terbantu.
Memang untuk memahami nya gampang2 susah, gampang karena 'biasa2 aja' nya itu tapi kalau dipraktekkan kog nggak gampang2 sekali. Ini sharing pengalaman pribadi aja. Menurut saya yang bikin susah mempraktekkan karena kebanyakan manusia 'modern' sudah 'kehilangan' naluri kanak2 dalam dirinya, kepalanya sudah dipenuhi target2 & tuntutan2 standar hidup yang 'normal & seharusnya', dan kemauan atas segala sesuatu yang serba 'instan' hingga mengutamakan 'hasil' dan kurang menghargai 'proses'. Padalah pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan suatu
proses yang hasil sesungguhnya nya baru kelihatan dalam jangka panjang.
Pengertian tentang floortime sebagai 'mengikuti anak bermain sesuai kemauan dia & mengarahkan lebih lanjut' cukup tepat kog. Sebenarnya paling gampang belajarnya memang lewat praktek langsung, workshop atau konsultasi langsung sesuai sikon anak. Floortime itu kalau dalam pendidikan anak biasa kira2 disamakan dengan Cara Belajar Siswa Aktif (Active learning) dimana yg diutamakan adalah memancing & mengembangakan inisiatif, daya pikir sendiri & kemandirian dalam mempelajari sesuatu.
Yah cocok2an lah, memang mungkin nggak semua orang mungkin berbakat untuk ber floortime, terutama karena kebanyakan generasi kita sih dibesarkan dalam lingkungan feodalistik dan otoriter (yg tua yg paling benar, mesti selalu diturut & paling tahu segala) yg namanya anak ya manut sama ortu, titik. Banyak kali kita jadi orang ya mesti menunggu & mentaati perintah yg lebih 'senior' dulu baru berani/bisa bertindak. Ini yang saya rasakan jadi bikin agak susah untuk 'switching' ke filosofi floortime.
Kalau dalam konsep floortime, setiap tindakan anak itu ada maknanya & tugas kita untuk membantu dia menggali lebih dalam & membimbing dia untuk memperluas & memampukan dia untuk berpikir lebih kompleks (cari alasan/ solusi/ cara ekspresi yg lain).
Kalau pinjam contoh pak DH, misalnya seorang anak sudah menguasai bahwa kalau dia bilang mau pipis (aksi) pasti ortunya akan bawa dia keluar/pindah dari suatu tempat (reaksi). Dan karena ortunya sangat konsisten dengan reaksi ini maka dia jadi belajar bahwa dengan bilang mau pipis dia bisa pindah/keluar dari suatu tempat/ aktivitas. Lantas dalam situasi dimana dia mungkin sebenarnya merasa bosan, tidak suka, overload sensory nya, takut dll mungkin satu2nya ekspresi yang dia ingat dan sudah kuasai untuk bisa lolos / mengekpresikan kemauan/perasaannya adalah dengan bilang mau pipis tadi karena dia akan mendapatkan hasil yg dia maui yaitu rhenti/keluar dari aktivitas yg dia bosan, tidak suka, overload sensory nya, takut tidak mau tsb.
Saya pernah baca kalau dalam floortime, even tsb bisa dipakai sebagai bahan untuk menggali lebih & mengajak anak untuk mengenali & melabel perasaannya & membimbing dia untuk berpikir lebih logis & kompleks.
Misalnya kalau setelah dibawa ke wc ternyata tidak pipis, ajak dia 'diskusi' kenapa dia tadi bilang pipis, kalau blm bisa menjawab kita tawarkan opsinya, apakah karena tidak suka, takut, terlalu sulit dll. Kalau misalnya pilih karena tidak suka, kita ackowledge 'oh kamu tidak suka ya. Nggak apa2, kalau tidak suka kamu bisa bilang sama mama 'tidak suka' jangan bilang 'mau pipis' (membenarkan label feeling & ekspresi verbal & menumbuhkan pede)'.
Lalu dibahas lagi apanya yg dia tidak sukai. Lalu, kenapa dia kog tidak suka (misalnya biasanya suka). Lalu dibahas lagi apa alternatifnya,misal kalau dia tidak suka disuruh menulis, dibahas apa mau ganti kertas/ pinsilnya supaya lebih nyaman, atau ganti soal (jangan2 sudah menguasai subjek) atau pindah tempat duduk, tidak suka gurunya, atau lompat2 dulu 10 kali baru nulis lagi dll. Bisa dibahas juga apa kegunaan & tujuan kegiatan tsb untuk dia, apa benefitnya. Kalau tidak mau juga bisa dinegosiasikan apa/berapa yg dia mau dll. Bisa dibahas juga apa akibat pilihan dia pada orang lain, misalnya kalau dia tidak mau sama sekali maka mama jadi kecewa/ sedih/ marah dll, jadi dia bisa belajar memahami sudut pandang orang lain.
Jadi proses berpikir anak bisa distimulasi lebih dalam & jauh. Tidak terlalu penting pilihan dia apa akhirnya (terutama kalau masih balita!) yang penting dia belajar mengekspresikan diri dengan lebih tepat (bosan., marah & tidak suka adalah hal yg sah2 & wajar aja kan), belajar berempati, berinteraksi lebih dalam & intens, closing lots of circles of communication, belajar memahami konsep2 abstrak & otaknya berlatih berpikir runut & mendalam.
Sebenarnya kalau dari sudut floortime masih bisa dibahas aspek2 lainnya lagi misalnya segi sensory issues nya. Jadi setuju banget, jangan marahi anak yg lagi belajar atau memadamkan kreativitasnya yg sedang dalam tahap tumbuh.
Salam hangat,
Cis
----- Original Message -----
From: LH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Perliaku Anak 3-4 thn : FT
Bu Cis,
Ada pertanyaan,
Misalnya kalau setelah dibawa ke wc ternyata tidak pipis, ajak dia 'diskusi' kenapa dia tadi bilang pipis, kalau blm bisa menjawab kita tawarkan opsinya, apakah karena tidak suka, takut, terlalu sulit dll. Kalau misalnya pilih karena tidak suka, kita ackowledge 'oh kamu tidak suka ya. Nggak apa2, kalau tidak suka kamu bisa bilang sama mama 'tidak suka' jangan bilang 'mau pipis' (membenarkan label feeling & ekspresi verbal & menumbuhkan pede)'.
<
opsi-opsi yang kita berikan? Dalam bayangan saya, ketika ternyata
setelah dibawa ke wc ternyata tidak pipis, kemudian kita tanya/beri
opsi "tidak suka, takut atau sulit", sedangkan anak tidak memahami
konsep "tidak suka, takut, sulit", maka meskipun diberi opsi anak
masih tidak bisa menjawab?">>
Lalu dibahas lagi apanya yg dia tidak sukai. Lalu, kenapa dia kog tidak suka (misalnya biasanya suka). Lalu dibahas lagi apa alternatifnya,misal kalau dia tidak suka disuruh menulis, dibahas apa mau ganti kertas/ pinsilnya supaya lebih nyaman, atau ganti soal (jangan2 sudah menguasai subjek) atau pindah tempat duduk, tidak suka gurunya, atau lompat2 dulu 10 kali baru nulis lagi dll. Bisa dibahas
juga apa kegunaan & tujuan kegiatan tsb untuk dia, apa benefitnya. Kalau tidak mau juga bisa dinegosiasikan apa/berapa yg dia mau dll. Bisa dibahas juga apa akibat pilihan dia pada orang lain, misalnya kalau dia tidak mau sama sekali maka mama jadi kecewa/ sedih/ marah dll, jadi dia bisa belajar memahami sudut pandang orang lain.
<
rasanya belum bisa (tujuan, kegunaan dll). Contoh, anak saya sudah bisa
mengungkapkan "mau" dan "tidak mau", tapi belum bisa memberikan reason
tidak mau-nya karena apa -> harus diajarkan dulu mengenali kata/konsep
suka/tidak suka.>>
Rgds,
Li
----- Original Message -----
From: IP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Perliaku Anak 3-4 thn : FT
Bu Cis,
sekalian ikut nanya ya... soalnya saya rasa pertanyaan saya sama kayak bu Li, biar jawabnya sekalian.
Diskusi seperti yg Ibu contohkan juga masih sulit untuk saya lakukan ke anak saya, bahkan opsi sederhana untuk milih 'chicken or fish' aja saya mesti pelan2 & mungkin beberapa kali ngomongnya baru dia get the idea auditory processing-nya masih limited banget, walaupun kadang waktu saya jelaskan reasoning why can / cannot kadang dia bisa 'ngeh'. Di lain sisi, kalo baca email ibu ttg Christ ke bu MC,
anak saya cukup bisa bikin cerita & setting tempat misal : dia lagi demen pengalamannya naik pesawat, jadi di rumah kursi dibariskan spt pesawat terus dia tiruin si pramugari menjelaskan ttg safety belt - no smoking - turn off handphone - how to use life jacket - oxygen mask dsb, walaupun kata2nya terbatas & gak gitu jelas bahkan bisa ngarang bikin seat belt & life jacket dari kertas koran, dipotong bentuk yg mirip2 ---tapi ya itu, auditory processing masih limited, sehingga agak susah diajak diskusi panjang seperti contoh bu Cis.
salam,
Ir
----- Original Message -----
From: Frc
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Perliaku Anak 3-4 thn : FT
Buat Bu Li,
Itulah memang kalau dalam floortime yg pertama2 di'sasar' adalah engagement & self regulation: "Engange, Embrace, Expand"
Contoh saya itu bisa aja diterapkan pada yg receptifnya masih terbatas, tentunya disesuaikan dgn versi yg lebih simple & pendek sesuai level perkembangan anak. Misanya jawaban dia hanya sebatas menggerakkan kepala di saat kita bilang salah satu pilihan (maks 2 aja jgn banyak2) ya kita asumsikan itulah 'pilihan' dia. Kalau dia tidak setuju pasti nanti bereaksi lagi kog.
Tp contoh saya itu biasanya nggak akan terjadi kalau anak belum bagus receptifnya & yg belum ada sama sekali ekspresif languangenya (bisa bilang mau pipis), karena kalau tujuannya escaping dari sesuatu, anak yg receptif masih jelek (apalagi blm ada ekspresif language) tidak akan bisa 'basa basi' pakai 'alat / alasan' bilang mau pipis, tp akan ngeloyor aja pergi kemana dia suka nggak peduli dibentak sekalipun atau yg masih lebih parah nggak pake ba bi bu begitu nggak mau sesuatu escaping nya dengan tantrum (ini kalau self regulation masih parah sekali).
Kalau contoh saya itu anak at least udah masuk level 3, ada two way communication. Mulai nya ya dari 1 -2 step. Contoh saya panjang krn bbrp alternatif 'conversation' saya ketik jadi satu, aplikasinya ya lihat sikon, step by step lah, start dgn bisa close 1-2 circle dulu. Awal2 kita yg memilihkan jawaban untuk dia & kayak ngomong sendiri aja gitu, lama2 dia akan mulai tertarik & akan 'protes' kalau pilihan yg kita labelkan seolah pilihan dia tidak sesuai dgn pikiran dia. Lalu dipesult lagi dengan kita 'gantungkan' kalimat kita biar dia yg selesaikan (bisa mulai dari buntutnya) atau kita belagak 'bodoh' tidak tahu apa ya jawab nya, dll variasinya.
Kalau menjawab WHY questions itu tahapan paling sulit, sampai sudah canggih, haleluya deh kalau sudah bisa sampai situ (bisa jawab nya tp yg bukan scripting / di prompt lho, yg murni ide & alasan nya sendiri).
Suka & tidak suka sebenarnya anak sudah tahu tidak usah diajarkan, yg dia belum bisa adalah melabel bahwa apa yg dia tengah rasakan tsb suka/tdk suka. Jadi setiap dia kelihatannya enjoy sesuatu kita ackowledge 'kamu suka ini ya' lalu di expand aja , ooh suka rasanya, suka bentuknya, suka nyaman nya etc, lalu bisa ditanya 'suka ya, mau lagi ?' kalau dia ambil yg kita sodorin ya berati dia setuju, karena klau dia sekedar nunjukkan jarinya aja itu udah menjawab, ngak usah dipaksa samapi bunyi 'suka' lgs kita kasih sambil kita bilang 'nih aku kasih lagi karena kamu suka ya'. Dengan tidak dipaksa bicara & kita terapkan dlm berbagai situasi dia lama2 akan grab the undestanding of his own feeling, meskipun belum verbal.
Karena ini soal proses jadi ya nggak bisa langsung kelihatan hasilnya. Tp percaya deh setiap kata yg kita bicarakandgn dia parti terekam somewhere in their brain, soal timing difference aja, sejalan receptif nya makin bagus pelan2apa yg dia udah pernah dapat akan di retrieve kembali & kalau ekspresifnya berkembang dia akan 'pakai' memori itu untukmengungkapkan gagasan dia.
Buat Bu Ir,
Spt sy tulis ke bu Li di atas, memang step by step & pelan2 lah bu. Apalagi kalau anaknya belum terbiasa direspon begitu, tapi kalau pembawaan kita menarik pasti dia jadi tertarik juga. Diskusi itu juga bertahap, yg penting konsisten sesering mungkin di berbagai kesempatan.
Tiap anak memang nggak sama, lagipula membangkitkan engagement sampai emotional thinking itu memang langkah awalnya yg seret - seperti buka kunci pintu, begitu udak 'klik' selanjutnya mengalir lebih lancar. Contoh ada anak yg belum register sama sekali sampai mau pay attention pertama itu ada yg perlu berbulan2 ortunya konsisten 'merayu' baru dapat 1st attention (belumengaged lho), tp setelah dia tertarik secara emosional pada lingkungan, wuss seterusnya pinter2nya ortu ngasih umpan & meladeni. SI based play kuncinya kalau untuk awal2 floortime.
Itu awal pretend play (pretend play juga ada tahapannya kan, ingat di cwsn?) yg bagus bu Ira, memang mulai dgn imitating & scripting dulu dikembangkan terus aja, ibu ambil bagian aktif dalam scenarionya, jadi pramugari nya misalnya, lalu masukkan variasi yg nggak ada sebelumnya.
Kalau ber floortime memang ibarat nyalakan mesin yg start nya/panas nya lama.. tapi nanti kalau sudah 'klik' mesinnya jalannya sendiri jangka lama gitu.. Apalagi kalau yg kurang beruntung karena ada double problem misalnya ASD ditambah MR or CP dll, ya butuh lebih sabar & lebih lama lah, tapi kalau mau bisa kog.
Salam,
Cis
----- Original Message -----
From: TH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Definisi & Pelaksanaan Floor Time
Bagi saya Floortime merupakan pendekatan yang sangat humanistik, dan sangat fleksibel hingga dapat diterapkan dan dikombinmnasikan dengan berbagai metode. yang saya tahu dan terapkan menggunakan tools (FEAS) functional emotional assesment scale. dengan melihat sejauh mana kemampuan anak dalam membuka lingkaran komunikasi (ada 6 tingkatan menurut greenspan) dan orang tua serta terapis memberikan pilihan serta memanfaatkan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin agar anak mampu membuka lingkaran komunikasi.
Saya pernah melihat rekaman video beth osten, greenspan dan wieder, "they are trully very immpressive" itu kesan saya, dari sang anak hanya sibuk bermain dengan sendiri hingga mampu melakukan komunikasi dua arah.
Dari hal yang kecil bisa kita kembangkan menjadi suatu potensi untuk melakukan dan membuka lingkaran komunikasi. ex. (ini hal yang saya alami) sang anak melakukan stimming yang cukup intens dengan memukul tangan kedinding, dagu dengan frekuensi yang sangat sering. dengan duduk sama rendah (meminjam kalimat pak Haryanto), memberikan signal pada anak jika kita ada disekitarnya (masih ingat tentang tingkatan arousal;vigilance, monitoring, self directed, shiftting/maintaining),
hingga saat hubungan saling mempercayai terbina anak tidak akan keberatan jika saya mengikuti memukul-mukul tangan dan dagu (sambil mempelajari sensasi apa yang ia cari), lalu saya menaruh salah satu objek bergetar di hadapan anak, ex. massage vibra (biarkan beberapa saat), lalu saya mainkan sendiri dihadapan anak. Saat muncul kesempatan (yang mungkin sepersekian detik) anak mulai tertarik ambil kesempatan tersebut dengan mulai memperkenalkan ke anak. hingga masuk tahap turn taking dan modelling dan tahap akhir kita bisa expand pada permainan lain dengan kualitas yang cukup baik.
salam
TH
----- Original Message -----
From: HPU
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Definisi & Pelaksanaan Floor Time
Pak Th, kalo anak sudah mau diajak floortime ada baiknya kita masukin pelajaran aja sambil main. Jadi anak menerima pelajaran tapi tanpa terbebani dengan pelajaran
tersebut. Seperti konsepnya ki hadjar dewantara dengan taman siswa nya. Jadi anak itu belajar dengan hati yang senang. Memang sih pada awalnya ngajakin anak floortime susahnya minta ampun. Anak saya dulu kalo diajak floortime pasti loncat-loncat nggak karuan, sekarang kalo kotak mainan udah saya buka dan saya tuang ke lantai, dia pasti mau duduk di lantai. Memang mengajar / menjadi pengajar
anak autis itu harus punya jiwa seni mendidik, dan punya banyak trik agar anak kita cepat maju.
Salam,
Har
----- Original Message -----
From: LM
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Pertanyaan seputar masalah Floortime
Bu Cis,
Pertama-tama saya mau ucapkan terima kasih dulu atas sharingnya mengenai floortime.
Sejujurnya saya berpikir bahwa DIR-floortime adalah salah satu terapi yang tidak ada salahnya untuk dicoba untuk melengkapi terapi-terapi yang ada. Dengan pertimbangan minimalis biaya, kalau memang floortime bisa diterapkan untuk semua anak, kenapa tidak? Apalagi bagi yang merasa, bahwa terapi-terapi yang sudah dijalankan selama ini belum maksimal hasilnya?
Kita tahu masalah autis tidak lah sederhana. Demikian kompleks!
Dari penjelasan bu Cis, yang saya tangkap pendekatan DIR-floortime adalah lebih luas artinya dari pada hanya "main di lantai". Juga ada tingkatan levelnya (bener gak bu?)
Sehubungan dengan pemikiran saya di atas, muncul beberapa pertanyaan:
- Apakah level ditentukan berdasarkan umur anak atau kemampuan anak?
- Bagaimana kalau seandainya si anak belum bagus eye contact dan
compliance nya? masih acuh dan semau gue.
- Apakah floortime bisa membuat anak membaik kemampuan eye contact dan
compliance nya ?
- Apa floortime bisa juga efektif untuk anak yang sudah remaja umur
15 - 17 tahun (misalnya) atau hanya khusus untuk anak balita atau < 10 tahun ?
- Bagaimana seandainya remaja autis tsb. non verbal dan masih suka
tantrum?
Salam,
LM
----- Original Message -----
From: Frc
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Pertanyaan seputar masalah Floortime
Bu LM,
Terimakasih juga atas kesempatannya, saya sebenernya bukan pakar nya yg tepat untuk bisa menerangkan dengan baik, cuman karena ada yg raise issue jadi ingin nimbrung sedikit.
Bener pengertian ibu, level yg dimaksud disini adalah level perkembangan emosi & intelegensi anak (yg juga dilalui oleh anak biasa). Levelnya ada 6, kalau anak biasa take it for granted rata umur 4-6 th sudah 'lulus' semua tahapan itu, meskipun 'kadar' kelulusannya beda2 (ini yg membedakan ada anak yg pintar ini tp kurang itu dst.) Pada anak ASD tahapan ini terganggu & terlambat, atau tidak terllaui dengan baik (misalnya emotional thinking ada tapi kurang kompleks problem solving nya atau sering kita lihat udah dewasa tapi masih gampang 'ngambek/merujuk' seperti anak kecil).
Tapi jangankan anak ASD, orang dewasa biasa pun kalau di uji level pekembangan ini bisa nggak semua 'lulus' kog karena dulunya juga ada tahapan yg skip atau kurnag stimulasi yg tepat/memadai.
Saya coba jawab pertanyaan ibu ya:
- Apakah level ditentukan berdasarkan umur anak atau kemampuan anak?
Ya level perkembangan bukan berdasarkan umur kronologis tapi sesuai
kemampuan anak & sifatnya dinamis, sudah sampai level yg lebih tinggi
bukan berarti yg bawah sudah beres terus, kadang2 masih harus kembali
ke level bawah sesuai sikon (sama seperti orang biasa lah, bisa moody
juga kan), tapi dalam jangka panjang level bawahnya makin membaik -
seperti grafik bursa gitu kali ya, naik turun dlam jangka pendek tapi
secara keseluruhan dalam jangka panjang trend nya menaik terus.
- Bagaimana kalau seandainya si anak belum bagus eye contact dan
compliance nya? masih acuh dan semau gue.
Ini biasanya tahap 1 belum matang, yaitu belum ada self regulation &
engagement. Tahap 1 ini floortimenya hampir seluruhnya berisi SI based
play & tahap 'merayu' yg panjang & sabar. Ini tahapan yg bisa lama
tergantung gradasi ASD nya. Justru floortime paling berguna untuk yg
masih begini. Kalau anak sudah enganged & self regulated nantinya mau
diajarin apa aja dgn metoda apaun akan jadi lebih mudah.
- Apakah floortime bisa membuat anak membaik kemampuan eye contact dan
compliance nya ?
Dalam floortime eye contact bukan sasaran tapi merupakan hasil ikutan,
meskipun tentunya distimulasi juga, karena bila anak sudah engaged, eye
contact akan membaik sendiri seiring dengan makin besarnya minat dia
pada sesama manusia & lingkungannyaJadi eye contact yg didapat adalah
yg meaningful, purposeful sesuai context & situasi, bukan karena
disuruh atau diminta. Contoh kita aja orang dewasa kan melakukan eye
contact karena kita punya ketertarikan & maksud pada ornag yg kita ajak
komunikasi, tp kan nggak pada smeua orang & intensitasnya pada tiap
orang beda2. misalnya kalau kita bayar karcis tol kan kita memberi uang
& terima karcis tp nggak perlu ada eye contact juga bisa aja tapi kalau
ngomong sama pacar pasti eye contact terus nggak mau lepas2.
Compliance juga bukan sasaran floortime, tapi merupakan hasil ikutan,
karena yg diinginkan anak melakukan segala sesuatu itu karena dia mau,
ingin, tertarik, mengerti kenapa harus, punya motivasi pribadi, dan
sukarela karena sesuai dengan apa yg dia pikirkan, bukan hanya karena
disuruh atau diminta apalagi karena takut atau karena mengharapkan
reward. Ibaratnya kalau dengan pendekatan lain kita yg biasanya kita
ajarkan adalah 'hasil' pemikiran ke anak yaitu berupa tindakan atau
kata2 yang anak harus lakukan /katakan, nah kalau dengan floortime yg
mau kita stimulasi adalah 'cara pikir' nya supaya bisa dia gunakan
untuk melakukan tindakan / mengungkapkan isi hati/ hasil pemikirannya
& timbul keinginannya sendiri untuk mempelajari apa saja.
Karena menurut pakem floortime, anak2 ASD itu rata2 nggak bermasalah
dengan IQ nya (kecuali memang yg kurang beruntung dapat masalah MR or
IQ dibawah normal atau ada kerusakan otak) yg lebih bermasalah adalah
EQ & SQ nya.
- Apa floortime bisa juga efektif untuk anak yang sudah remaja umur 15 - 17 tahun (misalnya) atau hanya khusus untuk anak balita atau < 10 tahun ?
Dr Greenspan pernah mulai floortime dengan ornag yg umur 33th. Dr Dewi
juga punya pasien yg 27 th. Tapi ya yg mulai lebih dini pastinya punya
kans lebih besar & lebih cepat. Kalau yg paling muda saya pernah ketemu
bayi 5 bulan didiagnosa oleh bu Fridia (ya belum di dx ASD tp udah ada
ciri2 yg memenuhi, dihandle segera syukur2 umur 3th nanti bebas nggak
masuk dx ASD).
- Bagaimana seandainya remaja autis tsb. non verbal dan masih suka tantrum?
Belum pernah lihat langsung kasus begitu, tapi kalau menurut para
pakarnya di US sono bisa lho. Ya kebayang oleh saya pasti lebih berat
ya, perlu super ekstra sabar, misal kalau umur udah 19 tapi masih level
1 perkembangan emosinya kan mau kasih bear hug atau di sandwich perlu
tenaga besar juga kitanya.
Ya memang paling bagus baca bukunya langsung lalu ikut workshop jadi terbayang gimana2nya. Mohon bantuan doa nya deh supaya cepat terwujud. Semoga membantu.
Cis
----- Original Message -----
From: LM
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Thanks penjelasan mengenai Floortime
Terima kasih bu Cis atas penjelasannya.
Memang benar kata ibu, harus baca bukunya biar lebih jelas. Atau sementara nunggu bukunya, saya akan coba ke www.floortime.org seperti anjuran bu RP.
Makasih juga buat bu RP.
Salam,
LM
----- Original Message -----
From: Frc
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Thanks penjelasan mengenai Floortime
Bu LM,
Selain itu saya juga belajar banyak dari ortu yang sudah lebih dulu ber floortime di US dan belajar dari mereka yang dapat akses ke pakar2 bahkan sampai ketemu Dr Greenspan nya sendiri, caranya dengan gabung di milis floortime US di yahoo.
Salam,
Cis
----- Original Message -----
From: Frc
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Penjelasan mengenai Floortime
Bu LM,
Ini ada penjelasan singkat yg cukup baik.
D.I.R. MODEL GUIDELINES
Developmental, Individual,Relationship-Based Model
The basis of D.I.R., or the Greenspan/Wieder approach, is to help
children with learning difficulties connect ideas and develop a logical
understanding of the world.Dr. Greenspan states that teaching children
to become independent thinkers enables them to do anything.
The way to do that is to respect the child's interest while challenging
her/him to become more logical and better adept at abstract thinking.
Often we focus on changing specific behaviors, or teaching very
specific skills. Children may memorize these skills, but if they cannot
"think on their feet" their ability to use and generalize this skills
will be limited.
Children with developmental challenges often favor rote ways of
thinking, but rote learning only compounds the problem.
DIR uses emotional and motivating experience-based learning to improve
social skills, language, independence, and to teach specific concepts
and academics.
Annually over 1,000 professionals and parents attend the DIR training
course seminar given by Dr. Greenspan and Dr. Wieder in Washington,
D.C.
The DIR model was recently highlighted in the Autism Quality Program
Indicators published by the New Jersey Department of Education as one
of two most commonly implemented instructional methods used with young
students on the autistic spectrum. The Indicators are available
onlineat www.state.nj.us/njded/specialed/info/
Terjemahan kira2nya:
Dasar dari DIR atau pendekatan Greenspan/Wieder adalah untuk menolong
anak anak dengan kesulitan belajar untunk menyambung2kan ide dan
membentuk pengertian logis atas dunia. Menurut Dr Greenspan, mengajari
anak untuk menjadi pemikir bebas akan memampukan mereka untuk melakukan
apapun.
Caranya adalah dengan menghargai minat anak sambil menantang mereka
untuk menjadi lebih logis dan lebih memahami pemikiran2 abstrak.
Seringkali kita fokus pada merubah perilaku tertentu atau mengajarkan
ketrampilan tertentu. Anak2 mungkin akan mengingat ketrampilan
tersebut, tetapi bila mereka tidak dapat 'berpikir spontan' maka kemampuan mereka
untuk mempergunakan dan menjeneralisasikan ketrampilan tersebut akan
terbatas.
Anak2 dengan masalah gangguan perkembangan memang biasanya mendukung
cara berpikir yang berulang2, tetapi cara belajar dengan pengulangan
hanya akan memperbesar masalah.
DIR mempergunakan pembelajaran berdasarkan pengalaman yang emosional &
pengalaman yang membangkitan motivasi untuk memperkembangkan
ketrampilan sosial, bahasa, kemandirian, dan untuk mengajarkan konsep2 khusus dan
konsep2 akademis.
Setiap tahun ,lebih dari 1,000 preofesional dan orang tua mengikuti
pelatihan, kurus dan seminar DIR yang diberikan oleh Dr. Greenspan dan
Dr. Wieder in Washington, D.C.
Model DIR baru2 ini disorot dalam laporan Indikator Kualitas Program
Autisme yag diterbitkan oleh Departemen Pendidikan New Jersey sebagai
satu dari dua metode yang paling umum diimplementasikan pada murid2
muda dalam spektrum autisme. Indikator2 tsb bisa dilihat online di:
www.state.nj.us/njded/specialed/info/
Salam,
Cis