Bersitegang dengan Terapis

02/23/2006

----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Bersitegang Dengan Terapis

Bercerita sedikit yach...saya amat sangat tertolong dengan adanya floortime (cara bermain), minggu pertama Daffa ikut speak terapi, dia stress berat (rewel, jadi pemarah & tidurnya gelisah). Saya sempat bersitegang dengan terapisnya Daffa akibat Si terapis ngotot bahwa Sistim/Metoda yang Effective adalah ABA, "Anak harus patuh dengan cara duduk dijepit Meja" 1 minggu petama kakinya Daffa biru - biru akibat selalu meronta bila di jepit kursi, hati saya sangat sedih.apakah harus membuat anak saya menderita padahal tujuan saya baik ingin Daffa bisa bicara.setelah konsul dengan psikholog dan membaca info - iinfo dari rekan milis, akhirnya saya dapat satu kesimpulan Daffa harus terapi dengan system bermain karena pada dasarnya kontak mata sdh ok, mengerti perintah & mau berinteraksi walaupun satu arah karena Daffa belum bisa "BICARA".

Akhirnya saya ambil keputusan.saya minta ke terapisnya "Daffa terapi dengan duduk dilantai tanpa jepit kursi dengan mengutamakan system bermain" dan alhamdulillah ini sudah mau masuk minggu ke 3, walaupun masih menangis tapi sudah riang dan mau pergi untuk terapi.

Salam,

Ri

----- Original Message -----

From: MC

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bersitegang Dg Terapis

Dear all,

Masih ingat sewaktu christ ikut speech therapy,...trapistnya membiarkannya bermain dg mainan yg dia suka,tahap berikutnya, mainan diganti dg yg berhub gd therapy,bagaimana cara mengunakan kuali,teko,dsb,tahap berikutnya disediakan buku2 yg menarik,kemudian anak diminta untuk memasangkan kata dengan gambar yg ada pd buku tsb, selanjutnya ke materi yg lebih sulit ...dst, tanpa terasa anak jadi menikmati.

----- Original Message -----

From: RP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bersitegang Dg Terapis

Bu Ri,

Barusan baca buku Teaching Language to Children with autism or other developmental disabilities yang notabene pake program ABA/VB. Ternyata sebelum menerapi seorang anak, apalagi anak itu nonverbal, maka si terapis harus membangun hubungan dengan anak, kalau memang ia menginginkan anak ternyata anak bisa tahu loh kalau si terapis menginginkan nya atau tidak.

lebih lengkap ini saya cantumkan, saya terjemahkan bebas mohon maaf

kalau tidak berkenan..

salam,

Ro

----------------

Membangun Hubungan

Ada beberapa faktor untuk dipertimbangkan ketika mendekati anak

nonverbal yang tidak siap bekerja sama atau mengikuti perintah

terapis. Hal penting pertama kali bagi anak untuk belajar kalau

pandangan terapis wicara adalah meginginkan. Anak tidak akan mudah

diajari bila secara aktif atau pasif menghindari terapis.Hubungan

terapi yang diinginkan akan dibangun ketika terapis secara konsisten

diasosiasikan (dipasangkan) dengan pemberian objek atau saat-saat yang

menyenangkan *bagi* anak. Oleh karena itu, penting bagi terapis untuk

menguasai dan secara periodik memberikan objek dan aktivitas

yang cukup efektif bagi anak tertentu (misal., makanan, gelembung,

mainan, buku-buku, mobil-mobilan, video). Terapis harus menyusun

daftar imbalan ini, dan juga daftar cara-cara untuk memberikan akses

pada saat-saat menyenangkan lain (misal., mengayun, membuka pintu).

Tujuan utama dari prosedur ini adalah untuk membentuk terapis sebagai

satu bentuk dari imbalan/reinforcer yang terkondisi bagi anak. Yaitu,

anak harus belajar untuk menyukai terapis, sebelum terapis mulai

menerapi anak.

Lebih lanjut, penting kalau terapis tidak dipasangkan dengan aktivitas

menyenangkan yang sedang berlangsung dan dapat dipindahkan. Ketika

seorang terapis pertama kali mencoba untuk mendapatkan kerja sama

anak, tidak disarankan untuk menghentikan anak dari aktivitas yang

menyenangkan dan anak langsung harus diterapi. Anak sudah bersenang-

senang. Mengapa ia harus berhenti untuk belajar dengan terapis? Paling

baik mencoba untuk mendekati anak ketika anak sedang tidak terlibat

dalam beberapa aktivitas yang menyenangkan, dan membiarkan anak untuk

mendapatkan akses pada beberapa objek yang sangat menyenangkan atau

aktivitas melalui terapis. Contohnya, bila anak terlihat bosan, dekati

anak dan secara tiba-tiba (tidak meminta respon) memberikan mobil-

mobilan favoritnya, atau mengelitik anak; atau ketika anak sedang

terlibat dalam satu aktivitas yang menyenangkan terapis

dapat membuat aktivitas itu menyenangkan dengan turut serta (misal.,

mengayunkan kuda-kudan yang sedang anak duduki). Proses berpasangan ini

dapat menyita beberap trial (atau bahkan sesi) sebelum terapis siap

mulai meminta satu respon (memulai sesi terapi).

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bersitegang Dg Terapis

Dear Bu Ri,

Sebenarnya terapi ABA-pun pelaksanaannya tidak seperti itu (anak dipaksa, dijepit, diberi instruksi tegas & nyaring). Kemungkinan, adanya salah persepsi dengan penerapan metode ABA dan kurang update dengan perkembangan2 ABA yang terkini.

Kenapa memakai ruang sempit, banyak kemungkinan, bisa keterbatasan lahan, tidak seperti di LN, kalau kita lihat video The Invisible Wall:

Autism, ruang terapi yang luas, bisa juga untuk antisipasi anak yang hiperaktif spy terapisnya tidak kesulitan menyampaikan materi.

Rgds,

Li

----- Original Message -----

From: IP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bersitegang Dg Terapis

Bu Ri,

Jadi pingin nimbrung.

Awal terapi untuk anak saya ya pake ABA, memang pertama kali susah banget untuk 'menjinakkan' si anak, sempet juga strateginya pake dijepit, tapi nggak pake meja

melainkan terapis & anak duduk berhadapan, kaki si terapis menghalangi si anak untuk bisa lari dari kursinya ('ngangkang' lah bahasa Jawanya), tapi ini pun nggak boleh lama2 dan tetep ada 'reward' / 'reinforcer' nya instruksi memang singkat & tegas, tapi bukan berarti berteriak / nyaring, wong si anak aja harus menjawab dengan baik tanpa teriak kok, masa malah terapisnya yang teriak sih dan selalu kita harus ending session dengan anak merasa sukses, nggak boleh sampe si anak stress & marah2 duuuuh... itu terapis kali bener2 keluaran model lama kali ya

salam,

Ir

----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bersitegang Dg Terapis

Trimakasih Bu Ro,

Memang betul apa yg Ibu sampaikan bahwa:

"Tidak disarankan untuk menghentikan anak dari aktivitas yang menyenangkan dan anak langsung harus diterapi" "Anak harus belajar untuk menyukai terapis, sebelum terapis mulai menerapi anak" Dua hal tsb sangatlah.saya tekankan pada terapis putra saya, karena itulah permasalahan utamanya.. Karena putra saya begitu datang ke tempat terapi langsung di masukkan kedalam kelas yg sempit dan langsung duduk dikursi dengan dijepit meja + mendengar instruksi terapi yang Tegas, Jelas & Nyaring yang konotasinya berdekatan dgn berteriak yang membuat putra saya takut dan stress. ("karena di rumah tidak pernah mendengar perkataan yang keras"). Tapi Alhamdulillah.saat ini terapi sudah berjalan cukup baik.

Buat Bu Ir,

Thks.

Maklum Balikpapan tempat terapi aja baru ada 3 tempat...jadi yach gitu...

keluaran model lama. Makanya saya harus banyak belajar di Puterakembara biar tambah pintar....

Salam,

Ri



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy