Tes Intelegensia (IQ)

01/23/2006

----- Original Message -----

From: GB

To: Peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tes Intelegensia

Saya ada pertanyaan mengenai Physico tes anak spesial umur 6 th apakah materinya sama dengan anak-anak normal usia 6 th ? Bagaimana jika hasilnya dibawah rata-rata? Apakah pernah dibahas di milis ini dan saya menunggu pencerahannya

terimakasih.

Salam

GB

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tes Intelegensia

Sejauh yang saya tahu, alat psikotes yang dipakai di Negara kesatuan RI

tercinta ini adalah alat tes yang dipakai untuk anak-anak 'typical'

(=normal). Jadi norma perbandingan yang dipakai tentunya

adalah 'kebanyakan anak pada umumnya'.

Kemudian, muatan tes tersebut umumnya terbagi dua. Performance dan

Verbal. Anak-anak special needs, umumnya pencapaian hasilnya akan

njomplang banget antara yang performance dan verbal.

Ini saya baru bicara satu-dua alat tes lho ya. (Nama teknisnya WPPSI

atau WISC, dan SB). Ada lagi yang mengandalkan persepsi visual (PM,

VMI).. Ah, pokoke ribet.

Nah, kalau saya sih, tidak akan menggantungkan 'harapan' pada "angka"

yang diperoleh dari hasil beberapa pertemuan mengerjakan sesuatu

bersama-sama. Mengerjakan sesuatu bersama seorang yang tidak dikenal

aja, udah susah. Belum lagi kalau anak ga' ngerti pertanyaan-nya.

Jadi nanti hasilnya tidak optimal.

Udah hasil tidak optimal, eh..angka tersebut malahan

dijadikan 'senjata' untuk memvonis anak.

Lalu bagaimana, dong?

Saya pribadi, yang psikolog nih, biarpun penasaran ga' berniat ngetes

anak saya sampai dia 'siap'. Siap? Ya, paham instruksi, paham apa yang

diharapkan dari dia, tertib mau duduk, bisa fokus.

Barulah kemudian di tes, tapi itu juga dengan tes yang khusus untuk

anak-anak special needs yang non-verbal (CTONI, namanya).

Hasilnya? Ya seperti yang saya tahu dari dulu kok. Dia average, ga

pinter-pinter amat, tapi juga ga bodo. Hanya saja cara mengajarnya

harus 'pintar'. Begitu udah 'ngeh', ya tergali-lah pengertiannya.

Bagi saya pribadi, yang penting adalah "problem solving skills".

Nah, itu yang justru sering tidak diajarkan dalam edukasi, saking sibuknya

ngejar akademis....

Salam,

It

----- Original Message -----

From: SN

To: peduli-autis

Subject: Re: Tes Intelegensia

Tapi gimana ya Bu Ita, sekarang mau masuk sekolah SD aja sudah pake

psikotes segala. Gimana kalo yg di deket rumah gak ada sekolah khusus untuk anak2

special, or gak mampu utk bayar di sekolah tersebut.

Padahal sich anak2 ini ya temasuk rata2 la intelegensia nya.

Semakin hilang dong kesempatan.

Bisa gak sich dilatih dulu anaknya di rumah / ada gak pedomannya (kaya

buku2 test IQ yg dijual utk org dewasa).

Sorry ya kalo nanyanya awam banget.

Salam,

mami Callista ADHD 5 th 11 bln

----- Original Message -----

From: Ri

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Tes Intelegensia

Bu Ita,

Kalau test intelegensia tsb, bisa dilakukan dimana? Putra saya Daffa

sudah cukup paham instruksi, tertib mau duduk, bisa fokus.

(2th - He.3X, hari ini Ultah-19 Jan'06). Masalah utamanya Daffa blm bisa

bicara (Baru bisa mam..mam, mama, & gol).

Apabila nanti sdh bisa bicara, kira2 usia berapa th bisa ikut test?

Salam,

Ri

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Dear rekan milis,

Berdasarkan pengalaman saya yang lalu2 akan psikologuntuk meng'akses'

anak2.. pilihlah psikolog yang juga seorang IBU, baik punya anak NT

atau anak autis.razz Walaupun untuk assessment itu ada 'prosedur

standard', dll... Soalnya... Psikolog Ja itu label dia LOW MODERATE... hanya gara2 tak tahu 'doll' (emang seumur2 dia tak pernah kita kenalkan 'this is a

doll'. terus si psikolog tak sabaran sewaktu suruh Ja imitate building

blocks. Padahal... imitate is his forte.

Kebalikannya si Jo, Dx mild?? Padahal 'parah', ini si psikolog

(psikolog yang lain dari Ja) juga tak punya anak. Katanya Jo bisa self

help skills. Hiya... Baru2 ini kemanakan saya umur 14 bulan juga punya

self help skills, Jo self helps skill nya muncul pada saat usia 26

bulan.. Lha???

Untung.. untung... kita tak terjebak oleh Dx. pokoknya genjot terus..

sampe keriput dan jerawatan, panuan juga...razz

Salam,

JJMOM



----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Terserah orangtua sih.

Tapi saya penganut "apapun hasilnya, yang penting orisinil", jadi

mungkin pendapat saya akan menjadi terlalu subyektif.

Kalau anaknya memang mampu, ya just go ahead aja. Tes.

Lalu kalau hasilnya tidak bagus? Ya memang begitu adanya. Bagaimana

lagi? Jangan sampai anak juga stress dong. Kasihan. Semakin stress semakin

ga' bisa mikir lho. Latihan untuk tes? Wah, ya ga' mungkin saya akan mengiyakan.

Itu sama saja minta 'kisi-kisi' sama guru yang mau kasi ujian dong :p

Setiap tahapan usia ada tes-nya.

Tapi pertanyaannya, untuk apa?

Apa nanti ga' jadi terlalu cepat 'vonis'???

Soalnya kalau pada hasil tes tertentu dikatakan 'below average',

orangtua terus patah semangat....padahal bisa saja itu karena 'anak

belum siap untuk dites'.

Biasanya sih, anak dites untuk diketahui kematangan sekolahnya

(menjelang masuk TK atau SD). Tapi tes yang BETUL adalah bila

dilakukan secara individual lho. Bukan secara massal (yang akhir-akhir

ini sering dilaporkan terjadi).

Jadi, enaknya gimana? Usaha terus...sambil dipantau perkembangannya.

Gitu.

Salam,

Ita

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Ada lho buku "Tes IQ" utk anak-anak jilid 1-4. Bukunya kecil & murah,

ada di Gramedia kalo tdk salah. Isinya sy liat kebanyakan :

- memasangkan (misal sendok dgn garpu, kaos kaki dgn sepatu, meja dgn

kursi, dll),

- mencari gambar yg sama

- mencari gambar yg beda

- mengelompokkan

Tapi mungkin ini utk anak masuk TK yah?

----- Original Message -----

From: sal

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Saya tertarik ikut nimbrung karena anak saya juga IQnya jauh dari

normal... Anak saya IQ-nya tidak sampai 50 ketika dia 3,5.

Sekarang juga walaupun maju sedikit masih jauh dibandingkan anak2

lain. Tetapi dia juga punya kelebihan.

Kemarin ini saya ketemu salah satu pemilik agency yang

menyediakan provider untuk habilitation anak2 ini. Dia pernah menjadi

guru selama puluhan tahun dan sekarang sudah 73. Tetapi masih sehat,

cerdas dan menarik. Sangat enak ngobrol dengan dia. Dia harus

menginterogasi saya, apa yang anak saya bisa dan tidak bisa. Matanya

berbinar-binar mengetahui kelebihannya dan dia tahu/mengerti anak saya

pasti tidak bisa ini dan itu dan segala kekurangannya. Karena

kelebihan dan kekurangannya ini satu paket. Dia kelihatannya lebih

excited daripada saya terhadap anak saya....

Saya ngak terlalu memikirkan IQ anak saya, yang penting kita melakukan

yang terbaik yang kita bisa untuknya dan menyayanginya. Kalau memang

tidak mau IQ-nya jelek apabila ditest dengan test2 yang ada, ya jangan

test dulu. Memang ada test2 tertentu yang dibuat untuk anak2 yang

visual. Tetapi dulupun disuruh memilih anak saya tidak mengerti. Ya

dan tidak juga tidak tahu, sekarang sudah tahu "NO" belum bisa

bilang "Yes". Dan dia ngak nurutan.

Setelah saya baca email ibu Sofie lebih lanjut ternyata sekolahnya

yang menuntut anak2 untuk di test IQ-nya. Mereka punya standard bahwa

sekolah tersebut untuk anak ber IQ tertentu. Saya kira ketidak mampuan

anak kita tidak bisa cover-up selamanya, maksudnya kekurangan ini akan

muncul nantinya. Jadi sekolahnya itu sebaiknya sadar bahwa anak2

seperti ini ada kekurangannya dan kelebihannya. Apakah mereka mau

menerimanya dan membantu di area kekurangan dan kelebihannya.

Kelebihannya juga harus di nurture, itu adalah suatu potensi yang

terpendam. Anak2 seperti ini harus diset-up IEP dengan pihak sekolah.

Salam hangat, El

----- Original Message -----

From: SN

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Saya baru tanya2 sekolah yg deket rumah. N ada test, tapi bukan tentang

pelajaran, lebih ke siapan utk sekolah.

Saya sich sudah pada taraf yg, lakukan aja yg terbaik yg bisa

dilakukan saat ini, apapun hasilnya.

Dan sdh berusaha siap kalo emang anak ini tidak bisa sekolah di sekolah

umum, paling tidak kita sudah memberikan anak ini kesempatan utk lebih

berarti (kurang lebih gitu kata Ibu ini. Hayo... sapa ya yg pernah

kasih nasihat seperti ini...?)

Anak saya belum pernah test IQ, spt yg ibu Ita bilang, kalo anaknya

belum siap buat apa, nanti malah ortu yg down ngeliat hasilnya.

Pantes ada temen yg setiap 6 bulan or 1 th sekali melakukan test. N

katanya sich IQ nya ningkat, padahal mungkin juga kesiapannya

melakukan test yg meningkat kali ya?

Salam,

mami Callista ADHD 5 th 11 bln

----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Saya punya pengalaman tentang IQ, di TKnya Andro setiap tahun

diharuskan test IQ, saya informasikan sama Bapak ngetest itu, bahwa

Andro itu baru bisa bicara 6 bulan ini dan Autis, bicaranya juga belum

ngerti apa yang dia ngomong.

Ga masalah Bu, katanya kita test dirumah aja tapi harga beda karena

saya harus 3 kali datang dan nanti dapet laporannya tebel, Ok. Pada

hari itu juga mampir kerumah, lihat-lihat Andro 5 menit pulang buru-

buru, lusanya dateng lagi, Andro disuruh sebut benda yang dia

tunjuk"semua bisa dijawab" dan disuruh gambar bulatan, lah gambarnya

anak autis ga sekedar bulatan ditambahiin macem-macem sama Andro, ini

15 menit. Lusa dateng, saya pikir test lagi, ternyata ngga sudah bawa

hasil, hasilnya Andro dibawah rata-rata dengan 2 lembar kertas.

Jadi sekarang ini, kalau saya lihat munculnya lembaga2 test IQ itu cuma

tukang jualan aja. Nah sekarang diadakan test IQ lagi, masih pake

bapak itu, dia pikir saya tidak ada di TK itu lagi, ngelihat masih ada

saya, langsung Bapak itu kabur.

Sekedar sharing....

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tes Intelegensia

Profesi apapun, ada 'oknum'-nya.

Saran: kalau ada penawaran untuk pemeriksaan psikologis..yang bener

itu, TIDAK PERNAH bisa ambil kesimpulan dengan 2 lembar kertas dan

dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya (seperti ngusir penjajah).

Lah saya yang psikolog gini aja ga bisa ambil kesimpulan tentang orang

(antara lain anak saya) kecuali udah bertahun-tahun kenal, koq. Dan

bagi mereka yang pernah ketemu saya secara pribadi, saya selalu punya

kalimat standard bahwa saya tidak bisa bikin gambaran psikologis

sesudah ketemu 30menit saja. Emangnya saya paranormal?

Please be careful.

Ita



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy