Mengapa harus sekolah?

01/23/2006

----- Original Message -----

From: MY

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Mengapa harus sekolah ?

Sekadar sharing , yang menjadi tantangan kami saat ini adalah

banyak pertanyaan-2 yang sering anak spesial kami ajukan saat ini :

" Ayah mengapa aku harus sekolah setiap hari "

Meski kami sudah menjawabnya :

Biar Fajar pinter ... biar nanti bisa jadi Guru, Dokter, Pilot, polisi, jago komputer dll

orang pinter disayang Tuhan...

Saya tahu mungkin dia sudah bosan ... meski kalo ditanya dia

membantahnya... Pagi ini dia menawar.... Ibu kalo sakit boleh nggak tidak sekolah ?

Terus kalo dijawab boleh ... Dia langsung menjawab ...Ibu aku sakit...

sakit kepala ....sakit perut juga ....

kemarin istri & anak yang spesial needs juga sempet ketemu dgn Bu Ita ...

ketika ditanya sekarang kelas berapa? Jawabannya adalah sebentar lagi

kelas 3. He...he..he.. Kami kadang khawatir dia tidak mau sekolah lagi...

Karena suah kejadian dia tidak mau therapy lagi, tidak mau les renang lagi,

tdk mau les kumon lagi... dgn berbagai alasan yang kadang benar dan kadang

dibuat-buat... Meski kami akui kami sangat bersyukur atas kemajuannya

saat ini...

Ok ini sekadar sharing terima kasih kalo ada tanggapan.

Wassalam

MY

(Ayah Fajar autis 8 thn)



----- Original Message -----

From: nic

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Pak Ya,

Saya juga pernah mengalami dimana Alif tidak mau terapi / tdk mau ke

sekolah / tidak mau lagi les renang.

Case 1 :

Waktu di kelas 2 semester 2, bbrp kali dia tidak mau sekolah, kalau

ditanya, jawabannya adalah bosen. Sampai kemudian dia dtg membawa

hasil formatif social studies yang nilainya 6 dan bilang "Bun, aku

minta maaf nilaiku 6".

Saya kaget, karena rasanya selama ini tidak pernah memberi target

"nilai" kepadanya. Saya bilang :"Kok minta maaf Kak, Bunda tau Kakak

sudah belajar dan berusaha dengan baik. Nilai 6 juga gak apa-apa.

Kakak hebat kok... Social studies ngajarin apa coba? Spy kita baik

sama orang lain, spy kita beresin mainan stlh selesai bermain, supaya

kakak jagain adik2 ketika Ayah & Bunda kerja. Nah, kakak sudah

melakukan itu semua kan ? Itu yang paling penting. Kalau nilai 6 sih

kertasnya kita balik aja, jadi nilai 9 deh...".

Stlh dipancing-pancing ternyata dia tdk mau sekolah krn dia tidak suka

social studies & bhs Indonesia. Akhirnya saya buatkan aja target yang

lbh mudah (bukan nilai, sp contoh diatas), dan alhamdulillah dia mau

sekolah lg spt biasa. Awal kl 3 juga sempat mogok sekolah, Alif tdk mau cerita kenapa, saya coba tanya terapisnya, sopir, guru kelas, dan ternyata krn ada temannya

(sesama special need) suka menyerang Alif dan mengatakan "KAMU ORANG

GILA". Langkah selanjutnya pjg sekali kalau diceritakan, tapi akhirnya

bisa solve ...dan Alif mau sekolah lagi spt biasa.

INTINYA : cari tau penyebabnya dulu kenapa dia tidak mau sekolah (kalau

Fajar sdh verbal, bisa tanya dia, atau tanya guru/terapisnya, teman

sekelasnya, sopir, dll yg dianggap tau informasinya).

Case 2 :

Alif juga sempat berkali-kali bilang :"Aku mau sekolah sampai kelas 6

aja, gak mau ke SMP". Setelah ditanya, katanya pelajarannya makin

susah. Saya tanya: "Kalau Kakak hanya sekolah sampai kl 6, bgm mau cari uang?.

Nanti kalau Ayah & Bunda sudah meninggal, kakak harus bisa cari uang

sendiri lho...". Dia hanya diam, mungkin itu terlalu rumit untuk dia. Berkali-kali

statement itu dikatakannya. Saya jadi berpikir-pikir juga, kenapa saya memaksakan dunia

yg spt gitar 1 senar pada Alif (harus SD,SMP,SMA,dst), seharusnya saya

memberikan banyak alternatif sesuai dengan kemampuan & hobbynya dan

membantu Alif untuk mencapainya.

Saya pancing : "Gini aja... Kakak kan suka nyanyi dan main drum.. Jd

pemain band aja Kak... Atau gmn kalau kita bikin toko kaset aja, kakak

kan tau lagu2, jadi bisa bantu orang yang mau beli, spy kasetnya

laku... Atau jadi pelatih drum spt Kak Riza.. Atau menurut Kakak bagusnya

menjadi apa ya spy bisa mencari uang sendiri".

Bbrp kali saya sampaikan dlm bbrp kesempatan, ketika menonton Jak

Jazz / pagelaran musik lainnya, ketika ke Toko Kaset, ketika ke

Purwacaraka, spy dia bisa membayangkan alternatif2 yang saya tawarkan.

Akhirnya dia bilang : "Kita bikin toko kaset aja Bun.."

B: "Kenapa Kak ?".

A: "Spy aku bisa dengerin lagu tiap hari, dan mendapatkan uang".

B: "Oke Kak, Bunda akan nabung agar kita punya toko kaset".

Coba tebak, apa yang dia lakukan selanjutnya? Alif sangat

bersemangat melihat iklan / brosur penawaran kios/toko di mal2 baru. Dia

tanya2 : ini lokasinya dimana, mahal gak, dsb.

Sejak saat itu, saya jadi mantap untuk tidak hanya memaksakan

pendidikan formal untuk Alif. Walaupun saya tau, mungkin saja

keinginannya berubah, tapi at least saya & Alif sudah punya alternatif

lain untuk mata pencahariannya kelak.

Dan kemudian sayapun membuka tabungan pendidikan untuk Alif dg target

jumlah tertentu, spy di akhir th 2008 bisa merealisasikan impiannya.

Walaupun saya tau, estimasi biayanya akan naik di th 2008, tapi dengan

mulai melakukan langkah...mudah-mudahan akan lebih ringan...

Intinya : Banyak jalan menuju ke Roma.....

Case 3:

Awal kl 2 Alif minta ikut les renang di sekolah, dan sangat bersemangat

ketika waktu les tiba.

Setelah berjalan 3 bl tiba-tiba dia bilang tidak mau lagi les renang,

sampai ketika diajak masuk ke kolam renangnya...Alif teriak-teriak

histeris. Saya tanya kenapa, Alif tidak mau jawab. Ditanya ke guru

renangnya juga, dia tidak tau kenapa. Akhirnya saya tidak paksakan, karena melihat reaksi Alif ketika masuk ke kolam renang.

Saya coba ajak ke kolam renang dekat rumah, bareng adik2 dan ayahnya,

pertama-tama menolak masuk ke kolam, dan setelah beberapa kali dicoba

akhirnya dia mau, sampai terakhir dia bisa berenang dilatih ayahnya.

Intinya : Result itu perlu, tapi alangkah lebih baik kalau dengan

proses yang tepat dan menyenangkan.

Sekedar sharing saja.

bundanya alm. Alif

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Terima kasih untuk ibu N yang mau sharing pengalaman dengan

almarhum. Yang pasti, saya berkaca-kaca bacanya...

BTW, saya adalah salah satu dari segelintir orang yang

berpendapat "banyak jalan menuju Roma", dan "tidak harus bersekolah

untuk bisa mandiri". Bukan hanya karena anak saya termasuk yang tidak bisa bersekolah

di sekolah regular (so, bila ada diantara Anda tidak bernasib sebaik anak-

anak lain, jangan berkecil hati), tapi juga memang karena pelajaran

yang diajarkan di sekolah makin hari makin bikin keriting dan ubanan

(ooppss). Yang penting memang yang ibu ajarkan kepada anak. Aplikasi.

(Belum lagi kenyataan banyaknya orang-orang kipas-kipas dengna ijazah

tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena tidak dilatih

untuk 'trampil'). Saya juga sangat setuju dengan pendapat ibu: 'result itu perlu, tapi

lebih baik dengan proses yang dijalankan dengan menyenangkan'.

That's why I always tell people "education must be fun".

Bekal seumur hidup, 'kan?

Sampai tua, harus terus 'senang' belajar hal baru...jangan pernah

merasa terpaksa.

It

----- Original Message -----

From: MY

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Waduh... Terima kasih sekali Bu N yg tdk segan-2 menularkan

ilmunya. Kayaknya ada beberapa kemiripan dgn apa yg terjadi pada anak

saya. Saya akan coba resep Ibu. Hal lain, ...Bu Ita semoga tdk lupa ...

kami pernah lho ke Mandiga untuk konsultasi Fajar dgn Ibu.

Makanya kemarin waktu gathering ...Istri & fajar mendekati ke Ibu,

sekalian ngucapin terima kasih karena Fajar sudah banyak kemajuan.

Resep Ibu telah kami terapkan ke Fajar bagaimana memperlakukan dia di

rumah dan di sekolah. Oh ya Bu Ita, Adi yg ngajar les piano di YAI,

dia juga ngajar di rumah saya sudah 1 tahun ini.



Salah satu problem yg Istri saya sampaikan waktu itu dia suka meracau

di Kelas ketika masuk kelas 1 SD. Jadi mulai pagi jam 07.30 masuk kelas sampai jam 11.00 dia berceloteh terus gak ada henti-2nya, meski dilarang.

Kdg celoteh dia itu ngeledek temennya meski kdg tdk punya arti.

Misalnya : "Abel tidak pakai kaus dalam".... begitu terus menerus

Suatu saat ada temennya yg jengkel ... dan tiba-2 sebuah bogem mentah

mendarat di dahi anak saya. Apa yg terjadi ? Anak saya terjengkang & terdiam ....tetapi tidak menangis... ... Ibu gurunya yg cerita ke Istri saya ... dan anehnya koq kebiasaan meracau dia

kmd jadi hilang. Ya ampun apa harus begini caranya dlm hati saya.... Maaf jangan ditiru lho.....



Betul Bu N, kdg fajar itu kalo nilainya jelek dia itu mikir.

pernah ketahuan nangis di kamar. Dlm hati saya nih cowok perasa

banget. Kalo matematika nilainya jauh diatas rata-2. Tapi kalo bhs

Indonesia... ya ampun susah sekali menjelaskan pemahaman ke dia. Tapi

kayaknya memang ini kebanyakan kelemahan anak-2 spesial..

Sering kami juga berusaha menjelaskan kpd dia yg penting belajar bukan

nilainya. Tapi yaitu dia sudah memahami kebanggaan menjadi pemenang

dlm sebuah persaingan.



Demikian sharing pengalaman pribadi saya. Sekali lagi matur

nuwun ..buat N, Bu Ita & yg lain atas sharingnya.



Wassalam

MY

----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Nimbrung Dikit....

Hari ini Selasa, mulai masuk sekolah dari liburan yang panjang (2

minggu). Dari terima rapot kemarin Andro sudah bilang bahwa dia mau

masuk sekolah SD ga mau TK lagi, khan sudah dapat rapor, bosen di TK

belajarnya itu-itu aja.Seharusnya memang Andro sudah mendapatkan

ijasah TK yang dulu untuk dapat masuk SD, karena saya kurang percaya

diri dengan emosionalnya, jadi saya masukan ke TK lain, toh umurnya

baru 5,5th sekarang 6 th.

Jadi tadi pagi, terjadilah sedikit keributin, Abang Andro mau sekolah

di SD...! mogok ga mau sarapan. Saya bilang Andro terima rapornya baru

satu kali, ntar yang kedua baru masuk ke SD. Oke jalan, sebelumnya

anterin adiknya dulu ke sekolah ngelewatin sekolah SD, ngamuk minta

turun, terpaksa turun dan minta tolong guru disana ngomong minta rapor

Andro yang kedua, baru mau, jadi rapornya harus dapet dua ya Bun!

Gimana dong..., kalau soal hitungan(tambah2an,kurang2an) membaca si

sudah bisa, ya itu masih mau seenaknya sendiri, kalau lagi mau belajar

ya baru pegang buku, kalau dipaksa lagi ga mau, ya ngamuk. Dan kalau

duduk milih temen, saya ga ngerti kenapa Andro ga suka sama ada satu

anak pada hal ibunya deket dan baik sekali."Andro ga mau ada dia

didepan Andro..suruh dia keluar dari kelas".

Tadi saya pulang kantor, tanya: Abang Andro tadi belajar apa ? ga

belajar, cuma gitu-gitu aja (sambil tangannya diputer-puter), makanya

Bun sekolah SD!

Pak Jeff, gimana dengan perkembangan Nikita yang akhirnya sama kelasnya

dengan Oscar ? karena Firna adiknya Andro sekarang sama-sama di TK B

tapi lain sekolah. Ada ga dampaknya buat Nikita dan Oscar ?perlu ga

satu sekolah atau harus dipisah ?! Banyak ya pak pertanyaannya.

Salam Hangat,

Bunda Andro 6th

----- Original Message -----

From: JD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Bu Er, mungkin karena beda usia mereka persis 1 th. ultah Oscar 11/4 sdgkan

Nikita 14/4, pengaruhnya nyaris nggak ada. Ada istilah sendiri untuk

siblings yang beda persis 1 th. mereka seperti kembaran gitu. Bahkan menurut

kita, banyak manfaat ketimbang mudaratnya. Solidaritas muncul

ketimbang persaingan yang tdk sehat & bagi kita ortunya lebih mudah

pengawasannya. Bagaimana bu Jeffrey? ada tambahan?

----- Original Message -----

From: ID

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Yang saya ingat kenapa mereka ditaruh satu kelas adalah atas saran

pshicolog kita pada waktu itu yaitu advis dari Dra. Rani. Oscar

waktu itu sangat comfortable dengan adanya Nikita karena mereka

dirumah selalu bersama, shg sewaktu mereka ditaruh disekolah bersama

dalam satu kelas, walaupun waktu itu mungkin kita kurang peka

terhadap Oscar, tetapi karena Nikita selalu semangat berangkat ke

sekolah maka Oscarpun demikian. Sehingga keberadaan mereka dalam satu

kelas justru pada waktu itu membuat mereka sangat mudah belajar

bersama dirumah. Satu hal juga yang menyolok dari karakter Oscar

sejak dia kecil adalah "patuh". Oscar sangat mengikuti aturan baik

itu yang ada disekolah maupun yang kita setujui bersama dirumah

apalagi kemudian setelah lebih besar dia mengerti ada kewajiban2 yang

harus dilakukan sehubungan dengan agama yang dianut. Bahkan kadang

kala dia lebih patuh dari kita. Beranjak usia ABG baru Oscar

sepertinya menyadari bahwa ada yang tidak tepat karena dia

selalu satu kelas dengan adiknya. Oleh sebab itu di SMP dia bilang

boleh satu sekolah tetapi harus lain kelas. Ini juga waktu itu kita

diskusikan dengna dra Rani dan kita semua setuju untuk memisahkan

mereka. Perpisahan ini pula yang menurut saya merupakan awal yang

jelas dari pembentukan pribadi mereka, mereka berkembang menjadi 2

pribadi dengan interest yang berbeda tapi tetap akrab dan akur.

Oscar berkembang menjadi ABG yang sangat sederhana tidak suka Mall

dan segala sesuatu yang berbau borjuis dan Nikita menjadi ABG kota

metropolitan.



Sekian dulu sharing saya, nanti ditambah lagi.



----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mengapa harus sekolah ?

Makasih ya Bu...., saran Ibu pas banget.

Er



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy