Stimming dan Escaping Behaviour pada Anak

01/23/2006

----- Original Message -----

From: RP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] stimming?

Saya jadi ingat dengan cerita terapis anak saya, sewaktu ia masih

gabung di satu centre menghandle beberapa anak-anak autis yang sudah

agak besar kira-kira umur 6-7 tahunan, dan sudah verbal, kalau lagi

diajarkan sesuatu sama si terapis dan si anak gak mampu melakukan

(stress gak bisa), maka anak-anak tersebut akan mengucapkan kata-kata

yang ia tonton di TV, kalau anaknya suka nonton iklan, maka

berhamburlah kata-kata iklan tapi kalau suka nonton Sinetron maka yang

keluar adalah kata-kata seperti "Kamu selingkuh" "Saya benci Kamu" nah

loh...

Apakah ini termasuk verbal stimming?

salam,

Ro

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] stimming?

Bukan.

Ini adalah bentuk "escaping behaviour".

Kemungkinan lain escaping behavior: menguap, ketawa-ketawa, lari, pura-

pura mau pipis, marah-marah, pukul kepala, serang orang lain...

Stimming biasanya tidak dipicu oleh 'stressful situations' terjadi

kapan saja semaunya, terutama apabila anak tidak ada kegiatan.

Semoga cukup jelas.

Salam,

It

----- Original Message -----

From: Wind

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Ibu Ita,

Bagaimana cara menghentikan (apa yang harus kita lakukan) pada saat

anak melakukan itu. Saya coba untuk memberitahunya : "Nanda, tidak

boleh bicara sembarangan". Kadang malah dia niruin ucapan saya. Lama -

lama saya takut kalau kata - kata itu (bukan kata0-kata kotor sih) dia

pikir memang nggak boleh diucapkan. Nanda juga kalau sedih, marah terus

menangis, dia akan menyanyikan lagu yang dia suka pada saat itu.

Maaf, banyak tanyanya. Terimakasih sebelumnya atas saran Ibu.

salam,

wi

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Menghentikan yang mana? Stimming-nya atau escaping behavior-nya?

Stimming?

Biasanya sangat berkurang bila anak sedang banyak kegiatan yang dia

nikmati atau sukai. Tapi on the other hand, kalau sedang excited

(misal main PS atau nonton film yang dia suka) bisa aja stimming itu

keluar (flapping, lari-lari dsb).

Kalau habis 'capek' karena banyak kegiatan, anak-anak juga cenderung

stimming. Ini semacam "stress release behavior".

Seperti misal, sesudah pergi dari Jakarta ke bandung, anak saya akan

'sembunyi' di kamar kakak saya dan stimming (mengetukkan sedotan

plastic ke kakinya) selama sekitar 2 jam. Soalnya sepanjang jalan, dia

nahan diri untuk 'behave' dari rumah sampai rumah kakak saya. Berarti

dia harus bisa bertahan ditengah hiruk pikuk stasiun, mall dsb.

Escaping behavior?

Besar kemungkinan tugas yang dihadapi anak 'terlalu menekan'.

Biasanya karena drilling (>3x sudah bisa membuat anak tertekan), atau

dia justru diminta mengerjakan sesuatu yang merupakan kelemahan dia

(baca, nulis, berhitung, bicara).

Disarankan unutk melakukan evaluasi ulang terhadap tugas yang dituntut

dari anak. Kalau terlalu sulit, mundur.

Kalau terlalu banyak, kurangi.

Kalau sesudah 3x disuruh ulang katakan sesuatu dia mulai tampak stress,

batasi pengulangan 3x, kerjakan tugas lain, lalu kembali lagi.

Memang tidak disarankan untuk 'melarang anak bicara'...tapi mencari

tahu 'bicaranya tadi itu, untuk apa ya?'.

Bicara sendiri jelas bukan hal yang kita inginkan.

Bicara tanpa konteks juga bukan hal yang kita harapkan.

Bicara untuk melepaskan stress, bisa kita coba kurangi dengan

mengurangi stressnya.

Bicara untuk 'lari dari tugas' bisa dengan mencoba mengevaluasi tugas

itu sendiri.

Jangan melarang, tapi alihkan perhatian ke hal lain sehingga bicaranya

lebih sesuai konteks.

Semoga bermanfaat.

Salam,

It

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Dear Ibu It,

Escape Behaviour ini berarti ada hubungannya dengan sensor

integrasi ya bu. Kalo anak nggak ada kegiatan akan muncul

perilaku seperti itu, berarti anak perlu diberi aktivitas

yang terus berkelanjutan dan mengasikkan buat si anak.

Tolong dijelaskan bu.

Salam,

Ha

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Saya tidak mengkaitkan dengan sensory integration, tapi

lebih 'kosongnya pikiran anak'.

Namanya juga anak autism. Begitu ada celah dan kesempatan sedikit, dia

akan seperti 'terhirup' masuk kembali ke dalam 'cangkang autism-nya'.

Jadi, gimana dong....

Saya sih, dulu....giat banget cari hal apa yang bisa membuat dia sibuk

tapi asik. Sibuk tanpa tertekan.

Ternyata ikhsan-ku senang belajar karena berarti dia tahu hal baru,

dapat pujian, dan selalu ada pengalaman. Bahkan di jalan saya putar

lagu, biar pikirannya juga ga' kosong.

Lalu saya lihat dia senang coret-coret, ya saya fasilitasi dengan

berbagai alat tulis. Hasilnya sekarang, lumayan.

Sesudah dia bisa baca, ya diperkenankan baca macam-macam, jadi sibuk

sendiri. Sesudah paham bahwa film tertentu ada ceritanya, yaaa ibunya

berburu dvd yang kira-kira dia suka. Sampai sekarang sih masih aja

tokoh favoritnya sesame street.

Setahun terakhir senang berenang, jadi itu kesibukan juga.

Senang jalan-jalan dan makan-makan, ya jadi kesibukan juga...

Nah, kalau lagi dengan berbagai kegiatan di atas, dia ga' stimming.

Dulu kalau lagi lega dikit cenderung stimming. Tapi sekarang kalau

capek atau lega dikit cenderung di kamar baca-baca dan tiduran. Udah

gede 'kali?

Atau karena metabolisme udah beda?

Gatau juga.

Yang jelas, saya ga' bisa kasi penjelasan dari sudut sensory

integration. Bukan bidang saya, sih....

Salam,

It

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Nimbrung ya...

Escaping behavior tidak selalu ada hubungannya dengan kebutuhan sensory

anak. Anak saya, semakin pinter (aware), makin banyak akal untuk

escaping dari learning session-nya. Selalu jika saatnya menulis A-Z,

dia alasan mau pipis, begitu keluar dari kamar, bukannya ke kamar

mandi, tapi langsung ke ruang keluarga, dan dengan susah payah membujuk

dia agar mau balik ke kamarnya.

Dia belum mengerti konsep "bohong", tapi sudah ada akal untuk "escape'

dari kegiatan yang tidak disukainya. Sebenarnya saya tidak terlalu

mengejar kemampuan akademis seperti baca-tulis, bahkan untuk IEP-nya

tidak saya masukkan baca-tulis ini, tapi terkadang tuntutan dari

sekolahnya, playgroup sudah dikenalkan menulis A-Z, diberi PR pula.

Salam,

Li

----- Original Message -----

From: SS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Anak saya juga akhir-akhir ini sering menujukkan escaping behaviour

dengan pura-pura pipis. Biasanya dia begitu kalo disuruh makan.

Setiap disuruh makan dia sering teriak teriak bilang "wee...wee".

Terkadang kami suruh dia ke toilet dan kadang pula kami malah

memaksanya untuk mulai makan dan tidak perduli dengan teriakannya, apa

cara ini sudah tepat?

Bu It, mohon sarannya bagaimana seharusnya menghadapi escaping

behaviour seperti ini. Akhir-akhir ini saya juga sering kewalahan

dengan tingkahnya yang cenderung berbahaya. Saat ini saya hamil 30

weeks, ada orang yang bilang tingkah anak biasanya berubah dan

cenderung susah ketika ibunya hamil, apa benar seperti

itu? dan apakah itu juga bisa berlaku pada anak autis? Atau adakah

sesuatu yang saya "lupakan" sehingga dia bertingkah seperti itu, mohon

sarannya. Terimakasih.

Salam

S.S

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?

Ternyata banyak juga yang ada escaping behaviour nya dengan cara bilang

pipis. Janice juga sempat begitu tapi udah nggak lagi.

Kalau dari pengalaman saya, Janice bisa begini karena kita2 juga orang

tuanya. Soalnya pas udah bisa bilang pipis/poop kita kan seneng banget,

jadinya tiap kali bilang pipis langsung kita buru2 angkat dan bawa ke

wc. sama halnya kalau dia bilang poop.Semua kegiatan ditinggal demi

pipis dan poop. Nah kalau si Janice udah dalam kondisi yang lagi dia

nggak suka banget( contoh : dipaksa makan, dipaksa mandi, mau masuk

ruangan dokter, dll), dia langsung bilang mau pipis. nah kontan kita

pada nurutin dan langsung bawa dia ke wc.

Tetapi Janice sekarang udah nggak lagi, gimana caranya? he he he

mungkin ini bukan contoh yang bener yah tapi it works for Janice. yah

gampang aja, marahin abis2-an hehehehehehe.

Saya dengan galak marah2, "Janice gak boleh bohong sama papi yah, kalu

mau pipis baru ngomong mau pipis. Gak boleh bohong." Yah kira2 gitu

deh kata2 yang kita keluarkan, dan dengan nada marah setengah

membentak. Sama juga dengan istri saya. Yah nggak lama lah kira2

maximum 1 bulan. Udah nggak berani bohong soal pipis lagi heheheheh

Saya dan istri sekarang mulai pake marah kalau Janice bandel. bahkan

istri saya pukul pantat Janice kalau janice bilang mau pipis, tapi

begitu di cek, di celananya udah ada pipis sedikit. Si Janice ini

kalau lagi seru dengan sesuatu, dia akan menahan kencing sekuat tenaga

sampai nggak tahan baru bilang mau pipis, alhasil, di celananya suka

udah ada kencing sedikit. Ini yang susah dilatih. karena yahhhh kita

juga bisa begitu yah, karena lagi seru banget nonton TV, sampe nahan

kencing tunggu iklan.

Demikian sharing dari saya, semoga membantu.

Regards

Dh

----- Original Message -----

From: MA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: stimming?



Ngomong2 soal Escaping Behaviour, hal ini gak hanya terjadi dengan

anak2, Ini juga terjadi kepada orang tua, ciri2 escaping behaviour

orang tua sbb :

pura2 sibuk

pura2 sakit

berlama2 di kantor atau mall supaya telat sampai rumah, jadi gak

kebagian ngurusin anak

pura2 serius nonton tv atau baca koran

marah duluan sebelum dimarahi istri

pipis mungkin juga sekali2 di gunakan orang tua sebagai escaping

behaviour

ngomongnya meeting, padahal ????

Banyak lagi kok Escaping Behaviour yang dilakukan oleh orang tua.

My point is, jangan sampai kita menempatkan diri kita sebagai orang

yang selalu tahu kebutuhan anak kita, tapi kadang kita sendiri baik

sadar maupun tidak sadar mempunyai behaviour yang berdampak negatif

kepada perkembangan anak.

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Anak 3-4 thn (Was RE: stimming?)

Pak Da & rekan lain yg punya anak umur balita,

1.TOLONG jangan terlalu keras sama anak2 kita yg masih kecil,,, ini

akan membekas, menjadi luka batin yg mungkin susah sembuhnya, dan

bahkan bisa jadi kerusakan fisik juga. (Percayalah! Ngga usah banyak

tanya, kenapa. Ngga usah "ngeles", menjawab-jawab. Udah banyak contoh

buruk, jangan ditiru.) Kalau mau mendidik dia, mendisiplinkan dia

secara agak keras, nanti kalau sdh usia SD... Itupun kalo bisa jangan

pakai kekerasan...

2. JANGAN TERLALU dianggap SERIUS apa yg mereka lakukan atau katakan;

mereka cuma anak kecil yg sedang mengeksplorasi, sdg belajar pintar...!

3. Perbanyak SABAR. Lebarkan, lapangkan dadamu...!

- - - - -

[Hari Minggu yg lalu di luar gereja, seorg anak dipukuli bpknya pantat

& kakinya, pdhal anak itu msh kecil & lucu. Sdh dipukul kan jadi

nangis, eh sdh nangis disuruh diam, dibentak bbrp kali : Diam! Sambil

mukanya dipegang erat2. Memilukan...].

Saya ngga tau bgmn harus menerangkan ini...

Contoh : anak umur bbrp bulan suka membanting2 mainan. Itu adalah

PENGALAMAN yg tujuannya utk (SUPAYA dia PINTAR) merasakan seberapa

kuat bendanya, seberapa keras suaranya (merangsang telinga), dll, dll,

yg ngga beda dgn kita kalau memilih kain / baju di toko (meraba,

membolak-balik, mengucek-ngucek), sampai mungkin bikin kesal

penjualnya. Sama aja anak kita juga...sampai bikin kesal kita.

[Saya lupa bukunya, karangan seorang perempuan (habis cuma minjem),

bener2 mengubah saya..]

Contoh lain : Anak saya & keponakan usianya sama 3 thn lebih. (Syukur

normal). Sdh bbrp bulan ini senangnya bilang : Ngga mau. Tidak.

Pokoknya NEGASI dari yg kita harapkan alias MELAWAN. Misalnya saya

bilang : ayo cepetan mandi, biar wangi, biar segar -> dijawab : Ngga

mau mandi. Ngga mau wangi, mau bau ajah! (Ternyata, ini masanya anak

sedang belajar menyatakan kemauannya, belajar punya wibawa,

menunjukkan kekuasaannya, bekal utk fight). Ya udah, akhirnya saya

ngalah juga walau gatel ngeliatnya... Dan utk jadi mandi itu mesti

lewat diplomasi, diskusi (artinya kita menghargai dia).

Katanya, jangan kita paksa dia (memang kalo dipaksa sampe nangis

gerung2an) -> bisa cukup fatal akibatnya. Fase melawan ini tdk lama

lagi akan selesai, diganti fase yg lain. Mereka harus sukses / puas

melewati fase-fase/masa-masa tsb. Baca aja buku ttg Balita (terbitan

Nakita ada, bgmn usia 1-2, 2-3, 3-4, 4-5).

Kalo kita terlalu keras atau memaksa, kita ngga tau sebenernya kita

"memotong bonggol besar dahan yg sedang tumbuh dgn banyak cabang /

ranting"... yg kita ngga sangka sama sekali. Ngeri deh. (Bukan nakutin

lho!)

Pengalaman dgn G sbg anak I, saya suka menyesali kebodohan kami dlm

mengasuh, mendidik dia. Terlalu dini ingin mendisiplinkan, sampai wkt

umur 1 thn-an dia cuma liat2 orang lain aja saya bilang : Jangan G,

ngga sopan! Mau pinjam mainan anak lain, sy bilang: Jangan, ini punya

orang lain! Dst.

Udah, pokoknya pakai selalu bahasa cinta kasih, lemah lembut, sabar,

sopan (walaupun kpd anak kecil)...

NB : Setuju dgn surat pak Mukhlisin, ttg ortu juga kadang punya

escaping behaviour.

Salam,

Ev

----- Original Message -----

From: fn

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak 3-4 thn (Was RE: stimming?)

But Rekan2 milis semua..

Saya setuju dengan yang disampaikan bu Ev..

kalo menengok pengalaman saya sendiri, pendidikan saya

(penerapan sehari2) yang dulu cukup keras (saya bukan

menyalahkan orang tua saya), salah sedikit kena tampar,

pokoknya yang pakai contact body gitulah.. akhirnya sempat

membuat saya dendam dengan model pendidikan yang seperti

ini.. pernah suatu saat saat saya SMP saya tanya ke Bapak

saya "saya anak tiri ya.." dan sampai pertengahan kuliah

saya belum bisa deket dengan Bapak saya...(Sekarang

hubungan saya dengan Bapak Ibu sudah sangat mesra...)

tidak ada komunikasi yang baik waktu itu, bahkan ngajak

bercandapun rasanya takut.. namun dibalik itu kompensasi saya jadi

punya 'hobby' berantem, mudah terbawa emosi, gampang naik darah,

tidak sabaran.. bahkan maaf sempat beberapa kali 'indekost' di

polsek/polres karena sok pendekar...(walau pernah juga

ikut kejurnas pencak silat.. gak promosi lho ..)

jadi lama sekali dampak pendidikan yang kurang bisa

diterima oleh anak itu terhadap perkembangan jiwa anak

tersebut... untuk saya masuk psikologi, jadi 'idep2 'retrospeksi'

sambil terapi diri... kalo bu Ev pernah tanya 'Malik grembyang'...

ceritanya ketika saya bertandang ke kampus saya ketemu

sama temen2 lama yang sudah jadi dosen disana, saya cerita

bahwa saya kerja di treatment centre nangani anak autis

dan special need lain, yang mesti sabar, siap dengerin

keluhan dan komplain orang tua dan sebagainya...

temen2 bilanga "Edan kon Ad.. isok malik grembyang

tibakno.." (Gila lo Ad, bisa berubah 180 derajat ternyata.."

agak malu juga saya dibilang begitu..

fn

----- Original Message -----

From: Frc

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Perliaku Anak 3-4 thn : FT

Setuju banget dengan tulisan bu Ev, pak Fn dan pak Muk.

Nambahin sedikit.

Anak ASD itu kan memiliki problem keterbatasan dalam interaksi &

perilaku sosialnya terutama dalam

- memahami konsep2 'sosial' yang abstrak, seperti perasaan (feeling),

bohong/jujur, sopan/tidak sopan, sayang, kangen, kecewa dll

- memahami gradasi emosi, misal marah besar vs marah vs sebal vs

terganggu dikit tp belum marah vs sebal tp lucu (senyum kecut) dll

- berempati pada perasaan & sikon orang lain

- mengekspresikan & berbagi perasaaan serta pemikirannya dengan orang

lain

Jadi kalau orang 'normal' pintar sekali cari beribu alasan berlainan

sesuai sikon org yg dihadapi yang semua pada intinya escaping behavior

tsb, maka anak ASD dengan keterbatasannya baru mampu mulai dengan yg

dia tahu & sudah coba sebagai efektif & tidak terpikir olehnya (sampai

diberi tahu atau dicoba sesuatu yg baru) untuk menciptakan sendiri

escaping behavior yg baru.

Selain itu, dibalik escaping behavior itu ada sesuatu yang sebenarnya

ingin dia ungkapkan atau share dengan kita, tapi kembali karena

keterbatasannya tadi dia baru bisa mengekspresikan secara terbatas

dengan perilaku yg dia sudah pelajari & kuasai saja.

Jadi sebenarnya kasihan banget lho, anak2 kita ini sebenarnya mau

menyampaikan sesuatu tp 'alat'nya yg dikuasai masih terbatas jadi yg

dipakai 'itu2' aja.

Kalau dalam konsep floortime, setiap tindakan anak itu ada maknanya &

tugas kita untuk membantu dia menggali lebih dalam & membimbing dia

untuk memperluas & memampukan dia untuk berpikir lebih kompleks (cari

alasan/ solusi/ cara ekspresi yg lain).

Kalau pinjam contoh pak David, misalnya seornang anak sudah menguasai

bahwa kalau dia bilang mau pipis (aksi) pasti ortunya akan bawa dia

keluar/pindah dari suatu tempat (reaksi). Dan karena ortunya sangat

konsisten dengan reaksi ini maka dia jadi belajar bahwa dengan bilang

mau pipis dia bisa pindah/keluar dari suatu tempat/ aktivitas. Lantas

dalam situasi dimana dia mungkin sebenarnya merasa bosan, tidak suka,

overload sensory nya, takut dll mungkin satu2nya ekspresi yang dia

ingat dan sudah kuasai untuk bisa lolos / mengekpresikan kemauan/

perasaannya adalah dengan bilang mau pipis tadi karena dia akan

mendapatkan hasil yg dia maui yaitu berhenti/keluar dari aktivitas yg

dia bosan, tidak suka, overload sensory nya, takut tidak mau tsb.

Saya pernah baca kalau dalam floortime, even tsb bisa dipakai sebagai

bahan untuk menggali lebih & mengajak anak untuk mengenali & melabel

perasaannya & membimbing dia untuk berpikir lebih logis & kompleks.

Misalnya kalau setelah dibawa ke wc ternyata tidak pipis, ajak dia

'diskusi' kenapa dia tadi bilang pipis, kalau blm bisa menjawab kita

tawarkan opsinya, apakah karena tidak suka, takut, terlalu sulit dll.

Kalau misalnya pilih karena tidak suka, kita ackowledge 'oh kamu tidak

suka ya. Nggak apa2, kalau tidak suka kamu bisa bilang sama mama 'tidak

suka' jangan bilang 'mau pipis' (membenarkan label feeling & ekspresi

verbal & menumbuhkan pede)'.

Lalu dibahas lagi apanya yg dia tidak sukai. Lalu, kenapa dia kog tidak

suka (misalnya biasanya suka). Lalu dibahas lagi apa

alternatifnya,misal kalau dia tidak suka disuruh menulis, dibahas apa

mau ganti kertas/ pinsilnya supaya lebih nyaman, atau ganti soal

(jangan2 sudah menguasai subjek) atau pindah tempat duduk, tidak suka

gurunya, atau lompat2 dulu 10 kali baru nulis lagi dll. Bisa dibahas

juga apa kegunaan & tujuan kegiatan tsb untuk dia, apa benefitnya.

Kalau tidak mau juga bisa dinegosiasikan apa/berapa yg dia mau dll.

Bisa dibahas juga apa akibat pilihan dia pada orang lain, misalnya

kalau dia tidak mau sama sekali maka mama jadi kecewa/ sedih/ marah

dll, jadi dia bisa belajar memahami sudut pandang orang lain.

Jadi proses berpikir anak bisa distimulasi lebih dalam & jauh. Tidak

terlalu penting pilihan dia apa akhirnya (terutama kalau masih balita!)

yang penting dia belajar mengekspresikan diri dengan lebih tepat

(bosan., marah & tidak suka adalah hal yg sah2 & wajar aja kan),

belajar berempati, berinteraksi lebih dalam & intens, closing lots of

circles of communication, belajar memahami konsep2 abstrak & otaknya

berlatih berpikir runut & mendalam.

Sebenarnya kalau dari sudut floortime masih bisa dibahas aspek2 lainnya

lagi misalnya segi sensory issues nya. Jadi setuju banget, jangan

marahi anak yg lagi belajar atau memadamkan kreativitasnya yg sedang

dalam tahap tumbuh.

Salam,

Ci

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy