Anak saya dibilang monyet

01/04/2006

Tidak dapat dipungkiri bahwa anak ASD (Autism Spectrum Disorders) sering mendapat perlakukan yang tidak pada tempatnya terutama di kalangan anak-anak atau lingkungan sekolah. Karena tingkah laku mereka yang "berbeda", mereka sering dicemooh, di-kata-katai bahkan dianiaya.

Ternyata pengertian dan penerimaan masyarakat terhadap keberadaan anak ASD masih harus terus diperjuangkan.

Simak pengalaman dan tanggapan di bawah.



----- Original Message -----

From: "HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Dear All,

Kebetulan di tempat kami, anak sekolah pada libur. Jadi kalo malam, pada mingu ini banyak anak pada keluar main di jalanan kompleks. Biasanya anak saya kalo main nggak mau di kompleks, soalnya dia tahu kalo di kompleks banyak

musuhnya. Anak saya biasanya main sama anak2 kampung di belakang kompleks, atau kadang malah main sama anak2 pemulung. Kebetulan nggak jauh dari tempat saya ada tempat pembuangan sampah liar yang notabene banyak pemulung.

Karena hari sudah malam dan anak saya penginnya keluar main, akhirnya anak saya main sama anak2 kompleks. Seperti biasanya kalo anak saya main keluar rumah selalu saya ikutin. Pas lagi main ada anak yang teriak2 ngatain anak

saya " dimas kayak monyet .." sambil bergaya kayak topeng monyet. Yang bikin saya kesel, anak saya dikatain gitu malah tepuk tangan sambil loncat2. Hati saya panas juga, tapi saya nggak mau memarahi itu anak. Memang sih anak saya

kalo liat topeng monyet selalu paling depan, malah sering monyetnya ditarik-tarik ekornya. Lama anak itu ngatain anak saya monyet, sampai akhirnya dia kesel mungkin kenapa anak saya kok nggak ada reaksi, akhirnya anak saya

didekati sama itu anak, trus anak saya didorong-dorong mau dipukul.

Dalam hati saya bilang, ini anak kurang ajar juga, udah ngatain anak saya monyet masih juga kurang puas. Padahal saya tahu, kalo main pukul pasti anak saya

yang menang. Anak saya kalo udah didorong selalu balas dorong atau menyeret . Langsung anak itu tadi diseret sama anak saya sampai jatuh , terus masih diseret juga. Yang pasti anak itu sakit, trus dia nangis. Sama anak saya dibilang, nggak boleh nangis. Kakaknya yang sudah sampai ngeliat , dia ikut nyalahin anak saya. Trus saya

bilang, habis dimas monyet sih, jadi kalo nyakitin adikmu jangan disalahin dong;. Herannya kenapa waktu adiknya ngatain anak saya monyet, dia ngeliat tapi juga

diem aja. Malamnya saya nggak bisa tidur, mikirin anak saya enaknya saya latih tinju aja atau gimana. Sakit hati benar saya. Padahal anak saya kalo main sama anak2

pemulung yang notabene anak orang yang tidak berpendidikan , nggak pernah mereka ngomong kotor gitu. Ya tapi gimana lagi , lha wong anak saya juga enjoy main meskipun dikatain monyet, kenapa saya yang panas hati.

Saya sekalian mau nanya, kalo anak saya main sama anak2 pemulung, biasanya anak2 itu saya kasih uang per anak Rp. 500 kadang seribu. Tapi kalo anak saya nakal mukul atau rebutan bola, mereka selalu ngalah. Saya udah bilang ke mereka; kalo rebutan, jangan ngalah kalo anak saya mukul ya dibalas. Soalnya kalo mereka ngalah

karena saya kasih uang, anak saya nggak jadi dewasa. Saya penginnya anak saya dari kecil benar2 belajar kehidupan. Apakah cara mendidik anak saya dengan memberi uang yang nggak seberapa ( Rp. 2000 ) ini salah. Bukan saya bermaksud menyogok anak2 itu agar mau main dengan anak saya, tapi saya cuma kasih mereka uang jajan. Maaf kalo email saya kepanjangan. Soalnya saya sakit hati benar.

Salam,

Har ( bapaknya Dimas 4.5 thn autis )

----- Original Message -----

From: "TH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Dear Pak Har,

Setuju pak, pukul bales pukul!.

Selama saat mereka bermain dapat all out saya, tanpa rasa tidak enak

karena ada bapak atau karena uang tersebut saya rasa ini bukan

sogokan. tapi mungkin akan lebih baik berupa barang atau makanan jadi

setelah main saat break bisa istirahat bareng dalam kondisi yang

relaks.

salam

th

----- Original Message -----

From: "mc

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Sabar ya Pak, bukan apa2 namanya jg anak2,gimana dengan anak saya yang dimarahi

org dewasa "stupid kid" padahal yg marah sedang mahil dan saya jg

ikutan dibentak ama suaminya(mrk turis hongkong), cuma gara2

kesenggol, capek hati tapi mau diapain lagi, tdk semua org mau

mengerti, kalau saya jelasan rasanya seperti memberitahu semua org

kalau anak saya ASD, jd milih ngalah ajalah,dan masih banyak peristiwa

yg ngak enak lainnya yg kami alami bersama christina,pernah christina

lagi duduk dipintu luar supermarket, seorang wanita buru2 keluar nabrak

kaki chris yg dimarahi ya anak saya, aneh,jg pernah nonton live show di

mall, anak saya berdiri seorang wanita philifino terhalang pandangannya

ama anak saya,anak saya langsung dimarah, lebih kesel lagi suaminya

ikutan melotot, waktu itu chris baru umur 2 th.

Saya hanya memilih menghidar dan pergi,biarkan mereka bahaya dengan

caranya,kalau itu bikin hati mereka puas.

salam

m.c

----- Original Message -----

From: "DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Saya kok takut ya mengajarkan anak untuk 'pukul balas pukul'.

Takutnya ntar anak saya malah dikroyok ama anak-anak lain, dan keburu

'konyol' sebelum semua tersadarkan bahwa yang mereka pukuli itu tidak

pernah bermaksud untuk jahat.

Sakit hati juga kalau sampai anak saya dikata-katai. Dilihatin aja

suka udah sakit hati. Tapi kalau mengajarkan mukul balik....hm....will

that be the wisest way?

Ita

----- Original Message -----

From: "EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Pak Har, mustinya bapak sejak awal menegur mrk, spy mrk juga tau mana

yg salah, mana yg benar.

[Menegur bukan berarti memaki-maki, tapi ngomong dgn suara tenang hal

yg sebaiknya mrk lakukan.]

Spy mrk juga belajar 'menghargai & menghormati' orang lain. [Gimana

kalo udah gede?]

Jangan sampai udah keburu panas / mangkel baru mau ngomong, kan susah?

NB : Anak saya bbrp kali disebut or-gil, bukan dgn singkatan, tapi dgn

lengkap. Ih amit2.

----- Original Message -----

From: kri

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Pak Har Yth,

Saya bisa memahami perasaan Bapak, marah & sedih bercampur

aduk, tapi sebagai orang beriman, saya yakin Bapak bisa bersabar

(selama ini kesan saya, Pak Har memang sangat sabar,

terutama dalam menjaga Dimas). Ucapkan istigfar (benar nggak

nulisnya sih), semoga anak2 "berpendidikan" tsb bisa sadar

untuk tidak meng-olok2 sesama.Tentang uang yg diberikan kpd anak2

pemulung, saya pikir akan lebih baik kalau berupa makanan, selesai main bersama, makan bersama Dimas, sekaligus sbg sarana sosialisi bagi Dimas. Kalau

berupa uang, kita nggak tahu akan dibelikan apa oleh anak2 tsb.Tentang

latihan tinju, saya lebih cenderung ke ilmu bela diri,

bukan yg bersifat menyerang, misalnya Judo atau Karate boleh

juga.Yah, semoga Bapak tetap diberi kesabaran, orang sabar disayangi

Tuhan.Salam hangat - Kris

PS. Kalau emosi Bapak sdh turun, boleh baca kisah saya ini.

Pernah anak saya dikatain monyet juga, alih-alih marah, saya

jadi suuaangaaat marah, kalau gitu Bapaknya berarti Gorilla,

Bapak saya King Kong, dst dst.

----- Original Message -----

From: "LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya

Pak Har,

Jadi ikutan "sakit hati" nih...

saya rasa semua orang tua bisa merasakan bagaimana sakitnya hati ini

kalau lihat anak kita di kata-katain, di cemooh.

saya pernah mengalaminya, dan rasanya sampai "berdarah" hati ini

(minjam istilah dari bu Cisca).

Tapi kata orang "hati boleh panas, kepala harus tetap dingin".

- Pertama-tama kita harus berpikir, namanya juga anak-anak (maklum).

- Kedua, kita hubungi orang tuanya, ngomong baik-baik. Yang susah

kalau orang tua nya juga sama "gila" nya. Ada lho... orang tua yang

tidak mengerti dan malah membela anaknya. Kalau udah begitu, yah.....

- Tarik anak kita dari kelompok anak-anak nakal itu (hindari). Lebih

baik main dengan anak-anak pemulung, biar mereka miskin, tapi baik

hati. Tapi saya khawatir, anak-anak pemulung ini baiknya hanya karena

bapak sering kasih uang. Satu waktu, bapak tidak (lupa) kasih uang,

mungkin akan nakal juga (?) mudah-mudahan tidak yah....

- Atau tetap membiarkan Dimas main dengan anak-anak kompleks, sambil

tetap terus diawasi. Selama mereka tidak memukul, hanya ngata-ngatai

yah.... dimaklumi. Toh.... Dimas sendiri belum mengerti kan....

malah lama-lama mengerti bahwa dunia luar tidak se-indah di dalam

rumah (lingkungan keluarga).

- Yang terakhir (yang menurut saya paling jitu), berdoa pada Yang Di

Atas mohon petunjuk dan jalan keluarnya.

Menurut pengalaman, dengan DOA, seiring berjalannya waktu, biasanya

everything is going to be fine.

Demikian, sekedar masukan.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: "ps

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Bapak Har,

mungkin kasus kita berbeda tapi intinya sama 'sakit hati', anaku

Astari kalo bermain dengan anak-anak yang baru dikenal sering

terdengar omongan "eh, ada orang gila...". Siapa yang sakit hati dan

panas pak...dan itu sering terjadi, kadang saya suka enggan membawa

anakku kumpul kumpul karena hati saya suka tidak siap.... belum lagi

yang melihat sambil terheran-heran...tapi kebutuhan untuk

bersosialisasi tetap perlu untuk anak kita kan.... Di

sekolah 'mbak'nya Astari juga sering 'nyogok' temen-temen

Astari dan hasilnya temen-temennya pada perhatian sama Astari....

Mungkin mental kita harus sekeras baja dan secuek anak kita ya pak....

salam

Pi (Ibu Astari 11th)

----- Original Message -----

From: "hj

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Pak Har,

Saya salut pada bapak, Dimas boleh bergaul dengan siapa saja.

Rifa juga begitu bergaulnya cocoknya dengan anak desa, yang kompleks

hanya beberapa orang, lebih kecil dan pendiam cirinya.

Kalau ngadu diledek temannya saya jawab, diamkan saja biar tuhan

menghukum ke neraka (susah kalau kita suruh dia berdo'a semoga anak

itu ditunjukkan ke jalan yang benar, saya sendiri tidak stabil).

yang penting jangan sampai luka di Kepala atau berdarah.

Sama juga kadang saya suruh teman yang baik main, dikasih

jajan, bermalam dirumah, biar dia ngerti dan bisa memilih teman yang

baik.

Ma'af p',ini sekedar sharing saja...banyak kesamaannya dalam

menghadapi anak Spesial Kita

Salam

AYAH RIFA

----- Original Message -----

From: SNM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Saya juga punya pengalaman "unik"dengan anak saya (Fifi 8th)

pada saat itu tidak biasanya dia ngotot mengajak saya ke Lapang

untuk bermain. Kebetulan pada saat itu banyak anak-anak sebayanya

sedang bermain bola. Karena senang melihat kawan-kawannya

bermain anak sayapun langsung berlari ketengah lapang

dan berlari berputar-putar tanpa memperdulikan kawan-kawannya

yang merasa terganggu dengan kehadiran anak saya.

Sejenak saya hanya perhatikan dari jauh, tapi lama kelamaan

kondisi bertambah kacau, karena anak-anak lain mulai menyingkir

dan memperhatikan Fifi yang terus berlari berkeliling dengan

riangnya.

Tiba-tiba salah satu diantara temannya tadi ada yang nyeletuk :

" Hai ! anak Gila menyingkir kau dari sini !!!

Bagaikan kilat disiang bolong, kaget dan marah luar biasa saya

mendengar hardikan sekasar itu. Seketika itu pula saya

berlari ketengah lapang dan balik membentak anak tadi.

Semuanya terjadi begitu spontan dan tiba-tiba...

Kata-kata yang keluarpun seperti meluncur begitu saja

sampai si anak kaget dan melongo.

Saya pegang anak saya lalu saya katakan :

"Fifi tak pernah mengganggu kamu dan tak pernah bilang kalau

kamu anak nakal dan bodoh, lalu kenapa kamu bilang

anak saya GILA !!! " ," Lapangan ini milik semua orang, setiap

anak boleh bermain disini.. termasuk Fifi !!! "....

Awas sekali lagi kamu katakan itu ! akan saya bilang orang tua dan

gurumu !! biar kamu dihukum.

Mendengar ancaman dan bentakan saya seperti itu, lapangan menjadi

sunyi anak-anak mulai satu demi satu membubarkan diri,

saya lihat anak tadi shock dan ketakutan, sampai belakangan hari

dia sering lari menghindar apabila berpapasan denga saya

Sejak peristiwa itu, tak ada seorangpun anak yang berani mengolok-

ngolok Fifi

Dia bisa bermain dengan bebas, sementara saya dicap sebagi si "

Pemarah " oleh anak-anak tetangga .

Lama saya berfikir dan merenung benarkah apa yang saya lakukan itu...

karena kadang-kadang kita banyak dihadapkan pada situasi yang tak

memungkinkan kita untuk melakukan hal yang lain, selain mengalirkan

naluri kita sebagai orang tua untuk melindungi anak kita yang terancam.

Logika saya mengatakan ini tidak baik dan tidak bijaksana

tapi Naluri saya mengatakan : SOMETIMES YOU DON'T HAVE ANY CHOICE

SO LET IT BE WHAT IT SHOULD BE.

Best Regards and Happy new Year To All Of U

Wass.

SNM

----- Original Message -----

From: "lfs

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.



Memang sedih Pak kalau anak kita dikatain macem2 atau diliatin terus kayak barang aneh aja , masih mending Dimas yg ngatain anak2 , anak saya ( Lala ) pas arisan

dikomplek perumahan saya kebetulan Lala ikut , dan kebetulan pas ada satu ibu anggota baru yg baru aja pindah dikomplek perum saya , terus tiba2 dia nyletuk

, eh.... ini anaknya siapa ? ngak normal ya , ada kelainan ya ? sambil ngeliatin Lala dari atas sampai bawah dan mukanya ngak enak sekali , wah..... langsung

saya juga naik darah , saya bilang ke dia : yang ngak normal dan punya kelaianan itu ya yg ngomong itu. sedangkan ibu2 yg lain pada manggil Lala dan ngajak

ngomong Lala dan Lala bisa jawab seperti biasa , terus ibu itu diem aja dan kayaknya malu gitu Eh..... tahunya beberapa bulan kemudian dia digerebeg

sama seseorang ternyata dia isteri simpanan ke 3 , dan tak lama kemudian udah ngak kelihatan dikomplek kami dan rumahnya ditulisin oper kontrak.

Oh....... ya ampun , Terima kasih Tuhan Kau bukakan mata semua orang

Salam,

Lfs

----- Original Message -----

From: Kri

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Memang dapat dipahami sih, sbg orangtua kita patut membela anak

kita, khususnya bila dia tdk salah sama sekali koq sampai

dikatain demikian. Jangan takut dicap "si Pemarah" !Saya heran, dulu

di SD kita diberi matapelajaran "Budi Pekerti", bagaimana

bertingkahlaku yg sopan dll, namun di Indo

ternyata sdh dihapus sama sekali ya?

Salam hangat Kris

----- Original Message -----

From: el

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Setahun yang lalu anak saya bermain ditaman diantara

anak2 lain, tetapi dia seperti layang2 putus...

diantara tetapi tidak bermain bersama...

Akhirnya entah karena sensory overload dia kemudian

membaringkan diri dilantai menghalangi jalan anak2 lain

yang mau perosotan. Karena seperti orang ngak dengar

ibu2 disini tau keadaan "seperti orang ngak dengar". Berbaring seperti

batang kayu", tidak bergerak dan tuli. Dia ditendangi ramai2. Anak

yang satu ngak berhenti menendangi, sementara yang lain puas...

Suami saya yang babysit anak saya, anaknya kemana, dianya entah

dimana... ;o) Kaget sekali ketika sadar anaknya babak belur...dia

pikir anaknya bisa mati...dia berlari kearah anak saya, ibu anak yang

menendangi anak saya berlari mengambil anaknya. Dia sudah tahu anaknya

keterlaluan sehingga khawatir dilabrak suami saya.

Suami saya pikirannya sudah ingin melihat keadaan

anaknya saja, dan buru2 dibawa pulang.

Sejak itu saya takut anak saya diantara anak2 normal,

dan saya kemudian memasukkan anak saya ke special need school.

Selama ini lingkungannya terkontrol. Tetapi kemarin ini

mulai saya ketemukan dengan anak2 lain... dia jauh kelihatan lebih

baby dibandingkan anak2 lain. Dan saya

bayar remaja yang terbiasa dengan anak2 disana untuk bermain dan

mengajak anak saya bergaul dengan anak2 lainnya. Sebelumnya saya

sudah "ceramah" panjang lebar

dengan pegawai2 perpustakaan sehingga mereka ikut bersimpati dan ikut

mengawasi anak saya. Saya bisa pulang dan kerja.

Suami saya agak kaget anaknya ditinggal diantara anak2 lain, karena

dia masih ingat peristiwa.. "anaknya ditendangi". Tetapi saya pikir2

sekarang sudah saatnya anak saya berada diantara anak2 normal lainnya.

Tentu saja dengan dikontrol, ada yang mengawasi.

Salam hangat, Elisa

----- Original Message -----

From: "AP/IP"

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya

Pak Har,

Saya baca email bapak rasanya ikut sakit hati, nangis darah deh rasanya

Sedikit banyak mungkin banyak Ibu/Bapak yang pernah merasakan hal yang

sama...

Anak saya sendiri pernah di tempat les-nya (untuk normal kids), pernah

dikatain "autis2" sambil dituding2......... padahal yang ngatain anak

temen saya sendiri, tetangga depan rumah Ibu saya, masih saudara ama

yang punya tempat les.

Sakit banget rasanya, seketika pingin nelpon ibunya, marah2 juga...

karena saya yakin bahwa dia tau diagnosa asli Aga seperti apa. Tapi

kemudian saya berpikir "then so what ??"

Seperti kita pun orang dewasa, toh kita tidak bisa menghalangi atau

mengatur pandangan orang lain terhadap kita, tidak bisa membuat semua

orang suka pada kita.

Akhirnya saya cuma titip ke pengelola tempat les, saya bilang : "Saya

nggak mau komplain / negur si anak itu or ibunya. Saya cuma titip aja

Aga jangan dideketin / dikumpulin satu grup ama itu anak (yang emang

terkenal nuakal), pleasee.... I just want to protect his heart, his

confidence is still very fragile, but I still want him to socialize

with normal kids here"

Mungkin Bapak bisa ngajak omong si Kakak or si Anak sekalian, kasi

pengertian betapa sakit hati kita (atau siapa pun juga) kalo dikatain

monyet, biarpun itu anak normal sekali pun

Kalo Dimas mukul Anak itu, saya nggak bakalan nyalahin Dimas deh

(malah nyorakin kasi semangat, he3x). Saya selalu ajar anak saya

untuk ngalah ke yang lebih kecil atau cewek, tapi if somebody hurt you

first, you have the right to defense yourself

salam simpati sedalam2nya,

IP

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Pak Har, saya bisa ikut merasakan rasa sakit hati seperti itu.

Saya perhatikan Pak Har ini orangnya sabarnyaaaaaaa minta ampun.

Kalau ada terapi untuk bikin orang yang pemarah bisa jadi sabar yah

itu, sering bergaul dengan Pak Har aja he he he.

Kalau nggak salah dulu cerita yang susternya bisa nyubit/mukul itu juga

ceritanya Pak Har kan? (sori kalau salah)

Saya rasa tindakan bapak udah bener yah. Ngapain bergaul sama anak

nakal? Udah nakal cengeng, biasanya anak nakal jangan cengeng dong ya

gak? Pak , biarpun anak pemulung, kalau sikapnya baik, jauh lebih

terpuji dibanding anak orang kaya yang gaya nya nakal dan cengeng.

Memang saya yakin di satu sisi, pemberian uang menyebabkan anak2

tersebut mengalah sama Dimas. Tapi Pak Har juga udah benar

memberitahu anak2 pemulung itu jangan mengalah. Kalau saya jadi Pak

Har, mungkin saya juga mengambil langkah yang sama.

Setelah melihat beberapa pendapat rekan lain, pemberian uang memang

lebih baik diganti dengan makanan atau hadiah/mainan kecil. Atau

mungkin sharing mainannya Dimas dengan anak2 tersebut? Mereka kan juga

pasti senang bisa main2 dengan mainana yang mungkin buat mereka nggak

bakalan kebeli. Nah dari sisi ini bagus sekali untuk sosialisasi. main

bersama, juga bisa diajarkan sharing mainan, sharing makanan, ajarin

take turn (giliran/antri), dll

Sambil berjalan, mungkin dicoba untuk menjelaskan ke Dimas cara2

bergaul?

Kalau situasi ini harus bersikap begini, kalau di situasi itu harus

bersikap begitu. Apa bisa dengan cara gini? Saya juga nggak tau bisa

atau nggak, tapi seperti cara ini yang saya terapkan ke Janice. Juga

belom berhasil sih, tapi saya pikir kalau terus2 kita ajarkan, mungkin

anak2 kita tersayang lama2 bisa mengerti? Yah semoga aja bisa, apalagi

ditambah doa.

Sori yah Pak kalau ada kata2 yang menyinggung.

Regards

DH

----- Original Message -----

From: YF

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Dalam menghadapi hal-hal seperti ini, memang kita sbg orang tua harus

bersabar, tawakkal, sambil memberi pemahaman ttg anak kita ini.

Tantangan berikutnya, authistic ini perlu lebih disosialisasikan

terutama di negara kita ini, agar keberadaannya lebih difahami oleh

masyarakat umumnya termasuk karakteristic dan pola tingkah laku

anak-anak kita ini, agar kejadian seperti yang saya alami dibawah ini

tidak terjadi lagi.

Saya pernah mengalami hal yang sama, waktu berada di Ferry

penyeberangan antara Sumbawa - Lombok. Waktu itu anak saya ingin

sekali main ayunan di Ferry, Cuma waktu itu ada ibu-ibu ngobrol trus

menerus di ayuan tsb, sehingga Alief (anak saya) gak bisa main ayunan

tsb.

Selanjutnya Alif ingin main kuda-kudaan, Cuma lagi dimainkan oleh anak

ibu yang di ayunan tsb. Karena sdh lelah menunggu, akhirnya Alief gak

sabar, didorongnya lah anak itu oleh Alief.

Yang terjadi selanjutnya, ibu anak tsb menghardik dg makian kasar

sekali, sampai dia bilang anak binatang, gak bisa diajar, orang tua

yang gak berpendidikan. Saya sebelumnya sudah dgn santun minta maaf,

dan menjelaskan ttg kondisi anak kami yang sebenarnya sambil menutup

telinga mendengar makiannya, namun bukanya pengertian yang saya

dapatkan malah makian trus.

Emosi Saya sebenarnya sudah diubun-ubun, krn memandang ini perempuan

yang gak mungkin saya pakai cara laki-laki, akhirnya istri saya yang

dari tadi diam membisu bangkit dg emosi yang sama krn sdh gak tahan

anak kita dihina, situasi sempat memanas, akhirnya ibu tsb ditarik

oleh awak kapal agar tdk memaki lagi, sementara saya menunggu kalau-

kalau bapaknya masih mau melanjutkan. Alhamdulillah tdk terjadi hal-

hal yang tidak diinginkan.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang memiris hati yang kalau diikuti

emosi dan perasaan akan berakibat tidak baik, namun kunci semua ini

adalah kesabaran dan pemberian pemahaman ttg anak kita yang special

needs ini.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua ini, dan

semoga kita dijadikan orang-orang yang sabar, Amien.

Salam,

Yu

----- Original Message -----

From: "HW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya dibilang monyet sama temannya.

Rekans,

Setelah membaca email Pak Har di bawah, juga tanggapan dari

rekan - rekan yg lain yang mendukung untuk "membalas" ejekan dengan

kemarahan, saya kok jadi miris. Apakah kita akan mengajarkan kepada

anak kita dan anak - anak yg lain utk membalas ejekan dengan ejekan,

ejekan dengan pukulan, atau dengan dimarahi ? Lha kalo begitu, apa

bedanya kita dengan anak - anak yg mengejek itu ?

Kalo menurut teori tekonya Aa Gym, teko hanya akan mengeluarkan apa yg

diisikan ke dalamnya. Diisi air teh, keluarnya air teh. Diisi air

comberan, ya keluarnya air comberan. Artinya, kalo anak mengejek,

berarti yg diisikan ke kepala anak itu (baca : yg diajarkan baik

secara sadar maupun tidak sadar), ya ejekan. Kalo kita balas mengejek,

atau kita pukul, sama dengan kita "ajarkan" anak itu untuk memukul

atau mengejek lagi.

Menurut saya ada beberapa hal yg bisa kita lakukan :

1. memberi pengertian kepada anak - anak yg mengejek bahwa diejek itu

tidak enak, bikin kesal orang yg diejek, jadi jangan mengejek orang

lain

2. melakukan pendekatan ke orang tua anak - anak tsb,

mensosialisasikan tentang autisme kepada orang tuanya, dengan harapan,

pengertian dari si orang tua ini akan dilanjutkan ke anak - anaknya.

Cara ini kami pakai juga di sekolah Rara. Waktu Rara baru masuk ke TK

A, banyak ibu - ibu yg memandang sebelah mata, menyangsikan apakah dia

cocok masuk ke sekolah umum, malah ada yg khawatir kalau perilaku Rara

menular ke anaknya. Tapi seiring dgn perkembangan Rara dan kegigihan

istri saya mensosialisasikan perihal autisme kepada ibu 2x itu dan

guru 2x di sekolah, alhamdulilah sudah nggak ada lagi tuh yg memandang

sebelah mata atau yg khawatir kalau autis itu menular.

3. mengajari anak kita untuk menyingkir / menghindar jika ejekan tadi

sudha berkembang menjadi kontak fisik, misalnya dipukul, ditendang,

dll. Tapi yg ini saya belum tahu caranya gimana

Semoga usulan ini membuka jalan untuk ide - ide yg lain, tentang hal -

hal yg dapat kita lakukan untuk masalah pelecehan atau bullying kepada

anak - anak kita.

Salam,

HW

----- Original Message -----

From: "EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bgmn spy Damai Re: Anak saya dibilang monyet sama

1. Setuju sekali Pak... no.1 itu benar, kita MEMBERI PENGERTIAN, bukan

mencaci-maki dgn kata2 kasar. Termasuk yg diucapkan oleh Pak SNM:

["Fifi tak pernah mengganggu kamu dan tak pernah bilang kalau kamu anak

nakal dan bodoh, lalu kenapa kamu bilang anak saya GILA !!! " ,"

Lapangan ini milik semua orang, setiap anak boleh bermain disini..

termasuk Fifi !!! ".... Awas sekali lagi kamu katakan itu ! akan saya

bilang orang tua dan gurumu !! biar kamu dihukum."]

adalah memberi pengertian.... (Pls correct me if I'm wrong).

2. a. Yg penting wkt marah / menegur / memberi pengertian jangan salah

arah karena terbakar emosi, jangan mencaci-maki, jangan sampai 'kebun

binatang' & sumpah serapah keluar dari mulut kita, atau menyerang

orangnya (gendut lu, jelek lu, gila lu, dan sejenisnya). Jangan pukul

dibalas pukul, mata ganti mata, tetapi maafkanlah mereka! -

2b. Memaafkan lho, TANPA syarat! - 2c. Sesudah marah, jangan mendendam!

3. Jangan lupa setiap manusia punya tugas utk membuat dunia ini damai,

temasuk di dalamnya utk mengajari / mengingatkan org lain / meluruskan

jalan org yg "bengkok", dan dalam prosesnya kadang-kadang agak keras,

sama seperti seorang guru juga terkadang terpaksa keras kpd muridnya

yg mbandel.

Siapa bilang org yg Bijaksana tdk pernah marah...? (Pastor sy pernah

bilang begitu). Siapa bilang juga bhw orang yg sopan, manis & lembut

itu PASTI baik...??

4. Dengan kita membiarkan yg 'jahat / tdk baik' (tutup mata, tdk

menegur, tdk mengingatkan), berarti kita ikut merestui kejahatan itu

terjadi, ikut menjerumuskan dia... Kalau dlm ajaran agama saya, orang2

seperti itulah (orang yg tdk mau tau ada org lain yg tertindas, tutup

mata thdp korupsi, tutup mata thdp jual beli gelar, jual beli skripsi,

tutup mata thdp bobroknya pendidikan di Indonesia, dll), orang2 yg

selalu cari aman itulah, yg justru menambah berat beban salib Yesus.

[Makanya sy bilang sih : Munir hebat, membela org tertindas, org

hilang, dll]

5. Jadi sedapat mungkin, dalam skala sekecil apapun, apa yg bisa kita

lakukan utk kebaikan & kebenaran sejati, lakukanlah! (sesuai dgn

talenta / bakat kita, kemampuan kita. Jangan memaksakan diri).

6. Cuma memang, roh itu kuat, tapi badan itu lemah. Kadang niat /

maksud kita baik, tapi marah & nafsunya yg muncul... Makanya belajar

menahan diri, puasa (ih, ngomong doang, saya ngga pernah lulus puasa),

dan banyak berdoa.

[Perhatikan, kalau anda kurang berdoa, mulai deh kita tdk terkontrol.

Godaan, ujian yg datang tdk bisa kita atasi ->kita kalah. ]

7. Catatan : Apa yg dilakukan Pak SNM, dll (saya juga pernah) adalah

membela anaknya...

Adalah tugas orang tua utk MEMBELA anak. Bukan over protektif, bukan

memanjakan, tapi membela. Karena kalau bukan kpd kita orang tua, kepada

siapa lagi dia minta dibela?

Salam damai, selamat mencari kebenaran sejati....

Ev

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bgmn spy Damai (Re: Anak saya dibilang monyet)

Rekan milis,

Sebenarnya, segala tingkah laku anak-anak adalah tanggung jawab orang

tua. Jadi kalau memang anaknya nakal, yah kita harus beritahu orang

tuanya. Kalau kita yang balas memaki atau katakanlah memberi

pengertian, tetap ajah kelihatannya tidak akan menyelesaikan

masalah. Apalagi kalau memberi pengertiannya pada saat lagi emosi,

walaupun tidak dengan kata-kata kasar/kebon binatang, tapi yang keluar

biasanya, "suara keras" plus "ancaman" (contoh: AWAS yah kamu

kalau ...... !!). Wah.. anak2 udah keburu takut duluan, bukannya

mengerti.

Tapi susahnya, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, tidak semua

orang tua itu mau mengerti. Mereka bisa ajah berpikir:" enak ajah

nuduh2 anak saya nakal, emang anak kamu yang gak beres sih......."

Jangan kaget lho... kalau ada orang tua yang semacam ini. Dan orang

tua yang semacam itu, biasanya tidak pernah merasakan bagaimana

susahnya punya anak yang spesial. Contohnya ajah kasus bu Elisa, yang

anaknya ditendangi sampai babak belur. Sebenarnya ibu si anak nakal

itu, sudah HARUS "menarik" anaknya sebelum Joshua babak belur (sebelum

papanya Joshua memergoki). Itu di Amerika lho.... yang saya rasa

pendidikan budi pekerti nya sudah tidak diragukan lagi. Aduh saya

bacanya, sampai ikut sedih.

Rupanya yang namanya "anak-anak" dimana-mana sama saja, mereka tidak

terbentuk hanya dari sekolah tapi terutama dari lingkungan keluarga.

Apalagi jaman sekarang, share dari Media TV dalam membentuk pribadi

anak juga sangat besar.

Jadi sudah susah2 orang tua mengajarkan untuk "tidak melakukan hal-hal

yang jelek", eh.... mereka nonton TV tiap hari isinya film-film yang

tidak mendidik. Kekerasan dan sumpah serapah sudah biasa jadi

tontonan.

Jadi bagi kita yang memang dianugerahi oleh Tuhan, anak

yang "berbeda", juga harus belajar untuk SABAR terhadap peristiwa2

yang tidak enak. Sedih bahkan menangis dan sakit hati memang sering

menjadi "makanan" kita. Mau tidak mau kita harus terima dengan tabah

sambil BERDOA. Sambil tidak berhenti berusaha untuk Autism Awareness,

dan SIAP MENTAL juga kalau mereka tetap tidak juga peduli. Tapi

dibanding beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah jauh mendingan.

Perlu waktu dan proses untuk bisa MENDEWASAKAN lingkungan kita apalagi

masyarakat terhadap yang namanya "autisme".

Salam damai,

LM

----- Original Message -----

From: "hpu

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: ( Terima kasih atas saran-sarannya ) Anak saya dibilang

Dear Rekan semua,

Terima kasih atas saran-sarannya. Saya juga mengakui kalo

anak saya memang lain dari yang lain. Untuk saran untuk

mengganti uang dengan makanan , kemarin sudah saya coba.

Kebetulan di rumah ada sayur sisa, saya bagi-bagikan ke

mereka. Mereka seneng banget , trus pulang dikasihkan ke

emaknya. Sebenarnya saya jadi orang nggak beda-bedain,

lagian mereka juga baik. Pernah anak saya hilang , lari

keluar pagar rumah, saya sedang cari sandal , jadi agak

lumayan lama saya ngejar dia. Saya cari ke sana kemari,

trus ada anak pemulung yg kasih tahu kalo anak saya main

di rumahnya. Ternyata anak saya sedang tiduran di rumahnya

sambil nonton tv. Dalam hati saya bilang : Alhamdulillah

anak saya nggak diculik. Tapi saya juga heran, kepala

preman di dekat rumah saya baik juga loh sama anak saya.

Feeling saya mengatakan , dia nggak punya niat jahat sama

anak saya. Soalnya kalo dia punya niat jahat pasti anak

saya nggak mau dekat-dekat dia.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Salam,

Har





Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy