Anak tunggal, anak raja?

10/18/2005

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] anak kami satu-satunya

Sekarang ini kami (saya dan isteri ) masih belum punya gambaran mau kemana.

Razi bagi kami anak satu2nya, memang dia punya saudara sepupu yang banyak dan kebanyakan udah mahasiswa dan kerja. Seperti ibu DP juga, yang kawatir soal Iksan, kami kawatir masa depannya, hanya bisa berserah pada Yang Diatas. Sekarang sebenarnya saya merasakan Razi ada kemajuan dalam sosialisasi ( saya rasa tapi tidak tau di bagian mana ), hanya saya pikir masih belum cukup untuk menghadapi sosialisasi di SMP yang umum.

Sementara Razi karena satu2nya, jadi seperti anak raja di rumah. Dari segi disiplin sih untuk hal tertentu bagus bahkan kaku. Contoh, mandi pagi selalu jam 06.30, berangkat sekolah ( naik ke mobil ) selalu jam 06.50, saya perhatikan setiap hari hampir tidak pernah meleset. kalo misalnya, jam 06.30 ada yang dikamar mandi maka pintunya digedor-2 sampai yang dikamar mandi terpaksa keluar karena berisik, dan mengalah tentunya. Kalo mobil belum siap jam 6.50 maka dia akan teriak: ini bisa terlambat, dan bisa menangis kalau terlalu jauh melesetnya. Begitu juga jam bikin PR-nya sudah tertentu tidak mau lebih cepat dari itu, juga tidak mau kalau ada penundaan. Kami coba mengikuti saja sambil mencoba mengurangi kekakuannya.

Disisplin lain adalah main PS, dia hanya boleh main PS hari Jumat sampai Minggu sore atau hari lain kalau libur. Maka sekarang, PS nya dia pasang sendiri pulang sekolah hari Jumat dan copot sendiri dan simpan hari Minggu sore.

Pernah beberapa kali saya sengaja pulang dari kantor kadang jam 14.00 kadang jam 4 sore hari selasa s/d Kemis , parkir mobil agak jauh. Lalu masuk ke kamar Razi, dan memang PSnya tidak dipasang, dia lagi nonton TV atau tidur. Razi sejak kecilnya memang sangat gampang tidur, asal ruangan ada ACnya misalnya seberapa ributpun dia bisa tidur. Di rumah kami tidak pake AC, cuma kami mempertahankan pohon rambutan menutup setengah dari atap sehingga dirumah cukup nyaman.

Kami memang tidak menerapkan diet terhadap Razi, makannya dari kecil udah susah. Generasi Mc Donald kali. Jadi makannya dulu disekitar Mc Donald, pizza, kentang goreng, steak ayam dan hamburger. sekarang2 dengan cara halus berubah jadi : kalo di Mc Donald pesannya spaghetti, kalo di pizza hut pesannya cuma roti garlic, kalo steak hanya steak ayam, kalo hamburger sekarang belinya di dwima atau happy burger. Disamping makanan begituan dia juga suka nasi uduk dan sate ayam. Akibatnya tinggi tubuhnya sekarang Razi (151 cm, berat 50 kg ) udah nyusul ibunya dan hampir nyusul saya ( 160 cm ). Tapi sifatnya masih sangat kekanak-kanakan dan suka menyendiri itu, lho, kalao sudah begitu dia mundar-mandir seperti berdeklamasi tanpa suara. Hari hari biasa dirumah dia makan segala macam biskuit, coklat dan susu yang mungkin akan dilarang oleh JJ Mom dan Dr RA, makan nasinya dikit, itu juga pake dibujuk2 lauk tunggalnya adalah ayam goreng

Kalo punya info soal sekolah sekolah yang bisa terima dengan kondisi seperti anak kita tolong ya. kalo saya punya info sedapatnya juga akan saya infokan.

Trims.

Salam,

(ayahnya razi )

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] anak tunggal, anak raja?

Wah, ga' setuju sayaaaa.....

Anak saya juga anak tunggal, tapi "ga usyah yaaa" jadi raja!

Berani-berani anak saya gedor-gedor kamar mandi karena mau masuk cepat-cepat, udah keriting dia saya semprot abis-abisan...

Bukan sok tau, tapi saya hanya mikir kalau anak saya "semaunya", nanti mana ada yang mau ngurusin dia kalau saya tidak ada??? Dia harus 'manis perilaku' biar semua orang ga' enggan...

Barangkali saya 'hitler' yak? Di sekolah juga gitu sih. Anak-anak langsung mengkeret semua kalau saya sudah 'menggonggong'. He..he..

Menggonggong for their own good lah. Masa semaunya terus. Ntar ga' bisa

kemana-mana karena 'sulit', malah kasihan.

Just a thought...

Salam,

It

----- Original Message -----

From: WW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: anak tunggal, anak raja?

Setuju Bu DP.

Anak tunggal bukan berarti harus semaunya. Anak saya, Gilang juga anak tunggal. Tapi saya menerapkan disiplin, dia tidak boleh semaunya nyuruh-nyuruh pengasuhnya, makan, mandi ganti baju harus sendiri.

Semua ini saya lakukan untuk kepentingan dia sendiri.

salam,

Wi

----- Original Message -----

From: ND

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: anak tunggal, anak raja?



Thanks ibu DP ..dengan penjelasannya...

Saya pikir Cuma saya yang sedikit keras dalam aturan- aturan sama anak saya Saya jadi sedikit lega ... selama ini saya merasa aku ...kok kejam banget ya sama anak.

Hal-hal kecil yang selalu aku jelaskan ke anak Seperti habis makan tolong piring bawa ke pencucian piring (kalau makan di rumah) pulang sekolah simpan sepatu sendiri, mengatur buku pelajaran sendiri, membereskan mainan jika selesai bermain, membuat kotor lantai atau meja resikonya harus membersihkan sendiri, jemur handuk sehabis mandi dll. Semua aturan-aturan itu saya jelaskan sama si mbak yang menjaganya, supaya si anak melakukan itu tidak hanya di depan saya aja, tapi harus

dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Reasonnya sama dengan ibu ita .. nanti kalau kami(ortunya) dah gak ada ..

Siapa yang mau ngurus dia ...kalau sikapnya masih semau gue ...

Alhamdullilah berjalan ...baik .. Tapi namanya juga anak-anak ... kadang dia keluar rasa malasnya ...he..he..(normal kan..??)

-nr

----- Original Message -----

From: Fr

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: anak tunggal, anak raja?

Bu DP,

Mungkin ibu bisa tegas dan marah2 begitu karena putra ibu berbeda dengan putra kami. Putra ibu adalah anak yang menurut dan tidak ada sifat menentang sedikitpun.

Isteri saya dulu juga bertindak tegas kepada Adi putra kami yang menurut saya asperger (tapi saat itu kami belum tahu tentang asperger) dengan cara membentak dan kadang2 memukul kalau Adi tidak menurut atau tidak disiplin.

Pokoknya dengan cara keras. Tapi lama kelamaan Adi semakin tumbuh besar dan lama-lama berani melawan dengan cara balas membentak dan bahkan juga membalas memukul mamanya sendiri atau melempar barang ke arah mamanya jika sudah meledak emosinya. Jadi semakin dikerasin dia juga semakin keras wataknya.

Bahkan sekarang kalau Adi ditegur dengan cara halus pun akan membuat dia cepat marah dan melempar dan merusak barang2 di rumah.

Di rumah setiap hari hanya memakai pakaian dalam saja dan membuang sampah dimana saja, jika ditegur langsung marah dan merusak barang. Terus terang saya khawatir karena lama-lama Adi bisa membahayakan orang lain karena dia sudah berani pegang gunting dan hendak melemparkan ke orang.

Akhirnya kami pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa.

Itulah sebabnya dari awal saya menulis bahwa kami ingin mengirimnya ke asrama karena kami sudah kewalahan. Maksud kami, kalau di asrama Adi bisa bergaul sesama teman di asrama, sedangkan kalau di rumah saja tidak punya teman karena mengurung diri terus di rumah. Dan Adi meskipun berani melawan orangtuanya tapi takut sama orang lain atau tidak berani melawan kepada orang lain, sehingga kalau di asrama barangkali dia bisa belajar disiplin karena takut kepada pembimbing

asramanya.

Saya mohon saran dari Bu Ita yang juga psikolog bagaimana

cara menangani anak seperti itu? Saya sedih bu, setiap hari melihat anak saya di rumah saja tidak sekolah dan perilakunya tidak terkendali.

Dari awal saya selalu menanyakan adakah asrama yang dapat menangani

anak asperger dan sekaligus ada sekolah SMPnya. Prioritas saya bukan sekolah SMPnya, tetapi lebih kearah pembinaan mental dan kepribadian.

Boleh saja diarahkan ke sekolah kejuruan yang sesuai minat dan bakatnya, yang penting Adi bisa belajar bergaul dan bersosialisasi di luar rumah. Kalau di rumah saja tanpa kegiatan dan tanpa teman, saya khawatir kondisinya semakin buruk dan aspergernya semakin tidak dapat disembuhkan.

Salam,

Fr

----- Original Message -----

From: Ch

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: anak tunggal, anak raja?

Mencoba sharing di milis ini.

Adik saya bukan anak tunggal tapi manja mungkin karena tinggal dia yang paling kecil. Kami bersaudara bertiga, abang saya sudah menikah dan kemudian saya lalu Sarah. jarak saya dengan sarah 18 tahun dan sekarang dia 11 tahun, jadi praktis dia jadi perhatian semua orang.

Dari segi phisik tidak ada perbedaan antara Sarah dan kawan2nya. terkadang memang kita kehabisan akal dalam mendidik dan menghadapinya. Benar kata pak Fr, dikerasi dia melawan di bilangin baik-baik ga mau nurut. tidak ada punya rasa takut sama orang mungkin ini yang agak beda dengan Adi. kalo dia "mengamuk" di kelasnya guru2 semua bahkan kepala sekolah ga bisa ngadepinnya. Dari kelas 1 sampai kelas 6 Sarah ditunggui sama mama saya di sekolah sampai2 orang2 bilang...ih... mama Sarah juga ikutan sekolah ya!! orang yang ga tau Sarah semua bilang begitu, semua tetangga juga, maklumlah kami hanya orang menengah yang tinggal di tengah perkampungan daerah depok. dulu pagar kami selalu di gembok takut Sarah keluar dan kalo keluar selalu masuk kerumah tetangga dan "mengacak" kamar tidur orang. Kami selalu memarahinya, memukulnya bahkan pernah saya dan mama menggotongnya keluar dari kamar tidur orang asal tau aja kalo dia sedang marah tenaganya sangat kuat ga bisa dipegang satu orang saja. Papa, mama, abang dan saya punya "perjanjian" yaitu janganlah kita memancing dan membangkitkan

emosinya. It's work sometimes tapi kita memang harus super sabar.

Terkadang ga ada alasan yang jelas Sarah marah2, memukul2 saya dan mengacaukan isi rumah... kita semua membujuk2 supaya dia bersikap manis, mengatakan bahwa tidak akan ada yang suka sama anak yang pemarah, melawan sama orang tua, nanti ALLAH marah dsbnya, kalo ini ga berhasil kami mendiamkan saja sampai dia kelelahan sendiri atau bahkan mengalihkan perhatiannya dengan membicarakan hal lain... itu juga suka berhasil loh!!! DIKERASI..... jangan tanya papa saya orangnya ga sabaran.. pernah suatu kali papa pernah memukulnya keras sekali... dia nangis tapi ga peduliin pukulannya.. tetap aja membandel sampe2 mama bilang...dipotongpun tanganya pasti akan dikasihnya...dia engga tahu apa yang diperbuatnya itu bikin kesal orang... tapi setelah reda emosinya... dia datangin papa saya sambil peluk papa dan

bilang...Pa, maafin Sarah ya, saya bikin papa kesel. tidak ada kemarahan atau dendam dihatinya. Uh kalo saya jadi Sarah mungkin Papa ga bakal saya tegor2 sampai papa datang sendiri ngebujuk saya. Itulah Sarah...kita semua sekeluarga paham dengan keadaan nya.

Jadi Pak Fr, memang keluarga adalah obat bagi anak dan adik kita, karena kita lebih mengerti dia, jadi sabar aja Pak, semoga kesabaran kita ga sia2 dan tentunya juga diiringi ikhtiar untuk kesembuhannya.

Amin....

Ch

----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: anak tunggal, anak raja?

Sekedar sharing,

Dulu saya menerapkan semua orang harus mengalah sama Andro , apa aja yang Andro mau harus cepat dituruti, dan bila ngamuk, melempar barang saya tidak memarahinya, dan yang lebih kasian adiknya Andro yang juga harus mengalah, dan ini semua sebenarnya supaya Andro tidak marah, karena bila tidak dituruti aduh ampun dech, semua perhatiaan saya lebih besar ke Andro sampai saya mengundurkan diri dari kantor selama 2 tahun, untuk membimbing Andro.

Tapi itu semua tidak sia-sia kalau melihat kemajuan Andro, setelah Andro sudah bisa ditinggalkan dan masuk TK, sayapun dipanggil kembali dikantor lama. Namun disetiap sikap saya itu ada pengaruh positif dan negatifnya.

Positifnya Andro, kalau istilah saya sekarang lebih halus sekali perangainya dan lebih ramah. Andro tidak lupa mengucapkan minta tolong or kata terima kasih kalau sudah ditolong atau diberi sesuatu dan selalu menawarkan apa yang dia punya kepada temannya dan tersenyum.

Negatifnya, Andro selalu memaksakan kehendaknya pada setiap orang. Setiap orang harus menerima pemberiannya atau ajakannya, yang akhirnya dengan bentuk paksaan.

Apalagi sekarang Adiknya sudah ga mau lagi mengalah, sekarang tugas dan PR saya mengajarkan Andro untuk mengalah dan mau menuruti lingkungannya, bukan kemauannya sendiri, dan saya juga dibantu oleh guru2 disekolah.

Ya....itu seperti kata Bu DP, saya tunggu dulu marahnya reda, baru saya dan Ayahnya memberikan pengertian.

Jadi sekarang kalau Andro marah kami diamkan dan pura-pura ga peduli. Karena saya lihat Andro marah meniru cara marah kita, kalau kita bicara keras dia kan belajar bicara keras, tapi kalau kita bicara halus, dia juga turut halus yang akhirnya memeluk kami dengan kencang.

Dan satu lagi PR saya, adalah mencoba lebih mendekati adiknya Andro (Firna), yang tadinya harus terus mengalah, saya bangga banget sama Firna, yang begitu melidungi, menjaga dan membela Abangnya bila disekolah dan ditempat umum lainnya, walaupun kalau dirumah tidak ada lagi ngalah- mengalah, kalau perlu berantem.

Jadi rumah kami sekarang rame dan meriah, apa lagi Andro punya Adik kecil lagi, so nambah satu lagi teman berantemnya, n adiknya dari Baby pulang kerumah sudah disambut dengan TERIAAKAN yang memukau itu.

WELCOME TO JUNGGLE.

Ep



----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: anak tunggal, anak raja?

Bu DP dan rekan milis sekalian,

Wah kaget juga saya mbaca nggak setujunya bu DP. Saya pake istilah yag mungkin terlalu dramatis menggambarkan kekakuan anak saya soal disiplin. Tapi soal

nggedor itu benar, dan kami betul sering ngalah. Mungkin itu kelemahan kami. Tapi untuk kebanyakan hal kami juga menerapkan aturan, contohnya soal maen PS seperti saya sebutin, dia memang patuh. Soal makanan kadang juga sering merupakan perang internal, ibunya suka makan coklat,biskuit dsb.......lha karena takut gemuk maka cokelat/biskuit/cemilannya disalurkan ke mulut anaknya ( begitu sering saya sampaikan ke isteri ). Lemari dapur itu kayak gudang makanannya Razi, semuanya makanan kesukaan isteri saya yang dia sendiri nggak berani makan.

Tapi yaaaaa saya sering ngalah juga karena nggak tega, abissss ketimbang nggak makan apa2. Soal raja, ya nggak seratus persen. Kalo dia tahu saya benar2 marah, dia lalu bilang : "Maaf ayah/ibu, ini memang salah ku". Tapi kalau dalam kondisi biasa2 ; ipar2 ( dari isteri ) saya sering marah2 sama saya ( juga sama Razi ) karena tangan Razi sering tanpa permisi menggetok kepala saya, menjewer kuping, menarik rambut dan sebagainya. Marah karena saya tidak menggampar anak saya dan membiarkan anak saya berlaku tidak sopan sama orang tuanya. Razi Kadang kadang sambil bilang sama saya seperti guru terhadap muridnya : "Kau harus ingat yaa ? " Saya cuma nyengir aja: ini pasti ditiru dari gurunya. Saya atau isteri nggak pernah ngajarin model begitu. Dulu malah waktu masih di Pantara dia sama saya sering bilang : bego, bodoh dan sebagainya, sampai2 saya protes sama gurunya. saya dirumah tidak

pernah mengucapkan kata model itu terhadap Razi, darimana dia belajar kata2 ini. Belakangan saya tau dia mendengar dari film kartun di TV. Soal marah, saya memang jarang marahin sampai batasan apa yang dikerjakannya membahayakan dirinya atau orang lain. Kalo sekedar sikap tidak sopan saya sering nahan diri dan kadang minta maaf terhadap lakunya Razi pada orang bersangkutan. Tapi saya pernah marah sekali, saya banting mainan didepannya saya tendang pintu kamarnya. Reaksinya: Dia minta maaf dan saya tolak. Dia menangis dan tertawa bercampur, badannya benar2 gemetaran. Saya pelototin terus kalau mendekat ( waktu kecil dulu malah saya pukul pantatnya sampe nangis ). Dia ngadu ke ibunya saya marahin ibunya, baru sejam kemudian dia saya pegang kepalanya dan saya cium dahinya. Dia memeluk saya kenceng sekali, badannya masih gemetar. "Itu memang salahku "

Soal belajar, syukur, sekarang nggak perlu disuruh lagi cuma sering2 nggak PD kalau bekerja sendiri, perlu didampingi. Dia teriak : ayooo ayah. aku mau bikin PR nih.

Saya kebanyakan hanya duduk atau tiduran di kamarnya, bukannya membantu dia nomor demi nomor. Paling kalo dia bingung. Kalo udah selesai baru saya periksa dan saya beritahu kesalahannya dan bantumemperbaiki. Sedapatnya saya berusaha keluar dari kamarnya ( ngerokok.... ) waktu dia belajar sampai dia teriak lagi : ayah...............

Akibatnya saya/kami jadi jarang bisa punya acara sendiri kalo malam hari, harus siap sedia dekat Razi, nunggu dia selesai bikin PR.

Hidup Razi memang seolah jadi pusat kehidupan kami sekarang, tanpa dia seolah segalanya jadi hambar. Saya kalau ditugaskan luar kota sering nawar. kalau bisa yang lain aja deh. Bikin kesal, bikin marah, bikin bingung dan takut akan masa depannya, semua jadi satu. mana saya udah dekat pensiun laginya ( normalnya saya sudah punya cucu, malah punyanya anak yang masih kecil ).

Wassalam,

Ayahya razi

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy