Permasalahan saudara sekandung (Siblings)


anak autis

09/26/2005

----- Original Message -----

From: FR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Siblings & ortu: sharing

Dear all,

Sekali-sekali kepingin dengar juga sharing pengalaman ortu atau siblings dari anak-anak autis dong, kalau nggak keberatan :-)

Yang sering sekali dibahas topik-topik yang langsung berhubungan dengan anak-anak autis (terapi, pengasuhan dll), tapi rasanya jarang dibahas atau baca sharing dari pengalaman/masalah/perasaan dari ortu DAN siblings dari anak-anak autis.... perasaan frustrasi (yang dari sisi ortu agak sering baca sich), lucunya, sedihnya punya anak, kakak, adik yang autistik... khususnya perasaan dari kakak/adik nich. DAN bagaimana kita menyikapinya sebagai orang tua?

Anak kami, Orin (7 thn), beberapa kali dalam keadaan marah ngomong kalau dia 'nggak suka dan nggak mau punya adik autis seperti Ruben!' Setelah beberapa kali kejadian seperti itu, saya tegur dengan keras kalau saya tidak mau dengar lagi dia ngomong begitu. Saya bilang suka atau tidak Ruben tetap adiknya Orin. Saya juga ngomong 'kamu boleh bilang nggak suka kalau Ruben nakal, atau Ruben susah dikasih tahu, tapi tidak mau dengar lagi kamu bilang tidak mau punya adik autis!' Saya juga bilang kalau Tuhan sudah atur Orin sebagai kakaknya Ruben, karena Dia tahu hanya Orin yang paling cocok untuk jadi kakaknya Ruben, tidak ada yang lain.

Setelah itu saya pikir-pikir apa tidak terlalu keras ya saya marahin seperti itu? Suka kasihan juga lihat Orin, karena saya tahu dia sayang banget sama adiknya, tapi dia juga ingin seperti kakak-kakak lain yang adiknya bisa diajak ngobrol; kalau Ruben sekarang ini baru bicara (eh, lebih tepatnya sich protes kalau diganggu Orin) dengan kalimat-kalimat pendek "Kakak, jangan!", "Aku tidak mau!", "Hey, what are you doing?" atau "No way!" (kalau yang ini gara-gara nonton film).

Terus dia juga suka merasa sepertinya Ruben lebih banyak dapat perhatian daripada dia (ini terlontar juga waktu dia sedang ngobrol dengan ibunya) :-(

Gimana nich? Mohon komentar, sharing dari yang lainnya.

Terimakasih

-fr

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli_autis

Subject: [Puterakembara] RE: Siblings & ortu: sharing

Pak Fr,

Jangan dimarahin, atuh. Memang stress kok punya adik autis. Lagian, kita yang dewasa aja (yang katanya sudah lebih tahu bahwa anak ini tidak pernah meminta jadi anak autis) masih suka teriak stress, apalagi anak-anak.

Terus, Orin ikutkan di sib-shops-nya Mandiga, dong. Biar ketemu anak-anak lain yang punya adik autis pula.

Salam,

Ita

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Siblings & ortu: sharing

Kalau pengalaman di keluarga kami, abang yg autis (12 thn-) & adik putri yang cerewet aktif (3 thn) sbb:

ade pingin sekali main sama abang, suka ajak & tarik (semacam nge-prompt) abang, "Abang, yo main bola!". Tapi sang kakak ngga dengar, ngga konsen, sibuk dgn dunianya sendiri. Ade mulai kesal, dan berakhir dengan teriakan, "ABANG, AYO MAIN BOLA SINI!!!". Dan anehnya, ini sangat

ampuh. Abang nurut. Mereka main lempar tangkap bola, tp baru 2-3 menit, abang sudah ngacir

menjauh. Ade mengejar lagi, dan seterusnya, siklus berulang... Saya sibuk menegur ade supaya jangan terlalu kasar kepada abang, menegur abang supaya mendengar ajakan ade untuk main...

Memberitahu anak keadaan sebenarnya ngga apa-apa, asal memang jangan dengan nada seperti marah atau menyalahkan...menuntut terlalu tinggi. Apalagi kalau seperti kata Bapak, dia sudah sayang kepada adiknya. Punya saudara/anak yang 'lain' memang membuat keluarga itu juga jadi 'lain'.

Dan saya rasa itu berat untuk seorang kakak/adik..

Tentang lebih banyak perhatian kepada anak spesial. Ini juga nampaknya kita mesti hati2. Kami punya pengalaman yang sama, ade jadi suka teriak2, pura-pura sakit apanya (angg.tubuh) persis spt abangnya, lalu minta diurut, diperiksa.

Jadi utk meng-encourage dia (yg normal) berbuat lebih bagus, kami suka bilang, "Abang, TIRU itu ade, PINTAR makan, mau makan nasi". Atau: TIRU ade, TENANG, tidak teriak2. BAGUS kan? (Kalau abang tantrum, walaupun karena bocor diet, salah ortu). Ade jadi tersenyum senang.

Pokoknya kita harus hargai juga mereka yang sudah bersikap manis/baik.

Yah, segitu aja dulu, salam. Ev

----- Original Message -----

From: AB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Siblings & ortu: sharing

Yth. temans,

Kalo saya lagi mengalami masalah ini, saya langsung ajak anak saya pergi berdua aja. Bisa ke plasa, makan di luar, atau jalan-jalan di kompleks. Karena artinya dia sedang mencari perhatian dari kita. Sementara kita sedang memusatkan perhatian sama anak yang ASD. Jadi dia pikir, kenapa

begitu ? Cepat pak, beri waktu luang berdua saja akhir pekan ini. Itu akan membuat semuanya lebih lega. Sebaiknya dibicarakan dengan lembut, bukan sebaliknya. Karena ia benar2 hopeless. Semakin keras kita bicara, semakin tertanam bahwa ia tidak dikasihi / dicintai.

Ajak anak berdoa berdua di akhir acara tersebut, supaya Tuhan pulihkan saudaranya dengan cepat. Itu manjur lho Pak. Setiap hari ajak berdoa di waktu senggangnya. Nanti dia akan menjadi lebih lembut hatinya.

Penjelasan Bapak sudah bagus, tinggal polesan sikap yang diperlukan. Jangan marah ya Pak, itu kejadian dan perasaan yang wajar dari para sibling. Anakku juga begitu. Berkali-kali, tapi bisa diatasi.

Ibu Ina Ginanjar, ada saran lain ? Ibu Ina ini yang pernah memberikan seminar mengenai Sibling Rivaly. Thanks mau berbagi yah.

Salam,

An

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Siblings & ortu: sharing

Pak Iki,

Kata orang tua dulu, salah satu dinamika anak-anak itu berantem. Semakin sering berantem (ribut) antar sesama saudara sekandung, akan semakin mendekatkan hubungan mereka. Tapi akan jadi lain ceritanya yah...kalau salah satunya itu anak spesial smile

Bukan mustahil kalau siblings bisa berpikir (sewaktu-waktu) bahwa: kok adik/kakaknya begini yah ? kok beda dengan adik/kakak teman2nya. Jadi wajar kalau siblings akhirnya jengkel, capek dan sebel dibuatnya, walaupun dalam hatinya sih sayang. Sebagai orang tua kita sebaiknya bersikap adil. Bahkan apabila siblings lagi bersikap manis dan baik pada adik/kakaknya yang autis, kita beri appresiasi dan katakan bahwa kita bangga mempunyai dia (tentunya jangan di depan anak yang autis).

Jadi siblings pun senang dan merasa bahwa "jerih payah" nya untuk mengerti ada yang menghargai.



Appresiasi atas suatu pengertian sangat penting bagi siblings dari anak spesial. Jangan hanya dibebani "harus mengerti", "harus menerima", "harus membantu" kakak/adiknya yang autis, jadi semacam kewajiban, padahal mereka masih kecil. Kekecewaan siblings anak autis yang tidak tertangani bisa menimbulkan masalah baru pada anak yang normal, seperti jadi nakal, pembangkang bahkan bisa sampai frustrasi.

Itu makanya di luar negeri, selain Parents Support Group, banyak juga dibentuk Siblings Support Group. Dan kayaknya di Indonesia sudah mulai dirintis oleh Ibu Adriana Ginanjar, Psikolog sekaligus ibu dari penyandang autis (lihat 2 surat dari ibu Adriana di bawah sebagai referensi).

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: Adriana

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Sibling Support Group

Rekan-rekan milis,

Saya ingin memperkenalkan satu program di Mandiga yang disusun khusus untuk saudara sekandung dari anak-anak autis, namanya Sibshops (singkatan dari Sibling Support Group). Program ini sudah pernah dilaksanakan untuk adik-adik dari murid Mandiga dan ternyata hasilnya menggembirakan. Karena salah satu pesertanya adalah anak saya sendiri (Icha, 9 tahun), jadi saya merasakan sekali manfaatnya bagi dia. Selain bisa saling curhat, Icha sekarang punya 'geng' baru yang bisa memahami betul bagaimana rasanya punya kakak autis. Program ini dipandu oleh beberapa mahasiswi S2 Fakultas Psikologi UI yang ternyata juga sangat antusias dengan kegiatan ini. Walaupun Sibshops 1 sudah berakhir, tapi mereka sepakat untuk tetap bertemu sebulan sekali dan bersenang-senang bersama.

Karena uji coba Sibshops 1 cukup sukses, rencananya akan diadakan Sibshops 2 yang dimulai pada bulan September 2004. Pesertanya adalah mereka yang berusia antara 11 - 16 tahun. Pertemuan akan dilakukan dua minggu sekali, setiap hari Sabtu jam 16.00 - 17.30, di Sekolah Mandiga - seluruhnya adalah 8 kali sesi. Bila ada orangtua yang berminat untuk mengikut sertakan anaknya dalam Sibshops 2 ini, harap mendaftar ke Sekolah Mandiga. Rencananya pesertanya akan dibatasi 10 anak supaya kelompoknya lebih kompak.

Menurut saya kita sebagai orangtua jangan sampai hanya memperhatikan anak kita yang spesial saja. Saudara sekandung anak special needs juga punya masalah-masalah tersendiri dan sudah pasti sering stres karena harus banyak mengalah pada anak autis serta kurang perhatian dari orangtua.

Salam, Adriana S. Ginanjar

(Ibu dari Azka, 11 tahun)

----- Original Message -----

From: Adriana

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sibling Support Group

Kalau ada ketidakcocokan antara saudara sekandung, itu memang hal yang sangat normal. Malah kalau mereka sama-sama anak 'normal', rasa iri dan berantemnya bisa lebih banyak, karena mereka bisa protes kepada orang tuanya. Dulu waktu Azka (anak saya yang autis) baru dapat adik baru, dia sama sekali tidak mau melihat pada adiknya. Waktu itu dia baru berumur 2 tahun, tidak verbal dan hiperaktif. Nah ketika adiknya (Icha) sudah mulai bicara, dan malah ikutan terapi ABA di rumah, justru Azka yang luar biasa iri. Habis prestasi adiknya kan lebih baik. Adiknya sering dipukul dan dijambak. Tapi situasi ini justru saya gunakan untuk mengajarkan Azka meminta maaf dan belajar berinteraksi dengan lebih baik

Sesudah Icha masuk TK dan SD, gantian dia yang merasa bahwa perlakuan orangtuanya tidak adil. Memang Azka lebih banyak diberi dispensasi seperti tidak membereskan mainan, diperhatikan sekali bila sakit, tidak punya PR, dll. Saya jadi bingung juga, sudah berusaha yang terbaik kok masih salah

juga.

Kalau dari pengalaman saya, akhirnya saya melihat 'sibling rivalry' itu memang harus diterima. Yang penting memang kita berusaha menjelaskan terus menerus kenapa kita memperlakukan mereka secara berbeda. Cara yang saya rasakan cukup efektif untuk mengurangi rasa iri adalah meluangkan waktu bagi

setiap anak. Misalnya untuk Icha saya punya acara ke Pasaraya setiap hari Minggu, berdua saja. Disana saya benar-benar ngikutin kemana dia mau pergi. Sekarang tiap Sabtu saya menemani dia main tenis. Otomatis setiap malam saya juga menemani dia belajar.

Sementara untuk Azka saya ajak jalan-jalan naik mobil keliling Jakarta. Dulu setiap minggu pagi saya, suami dan Azka jalan pagi ke UI, Senayan atau Cinere. Sekarang dia kami temani les berenang di Pondok Indah. Karena Azka sudah 11 tahun, setahun terakhir ini bapaknya yang lebih banyak mengajak dia main play station, ke mal beli CD atau pergi cuci mobil berdua. Lega deh, tugas saya sudah berkurang ....

Mengenai Sibshops, Mandiga memang ingin menyelenggarakannya untuk para kakak yang sudah lebih besar. Tetapi kalau ternyata peminatnya lebih banyak yang berusia lebih muda, bisa saja diadakan untuk mereka.

Salam,

Adriana (Ina)



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy