Terapi Bicara dengan cara paksaan

09/25/2005

----- Original Message -----

From: Dev

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Speech therapy Cara paksaan

Dear rekans seperjuangan,

Mungkin ada yang bisa memberikan input. Anak saya, Tyo (3 tahun) baru mulai mengikuti speech therapy, baru 3x pertemuan (seminggu sekali). Kelihatannya dia masih tidak comfortable dengan therapistnya, sehingga sering ngambek. Sebenarnya dia sudah bisa mengucapkan beberapa kata2

tunggal, tapi artikulasinya belum jelas. Therapistnya bilang kalau Tyo harus lebih dikerasin, sedangkan menurut saya, masuk akal lah kalau anak umur 3 tahun masih angin2an, apalagi kalau baru kenal dan jarang2 ketemunya. Kalau dikerasin ya Tyo nangis, lalu therapistnya bilang anak ini terlalu dimanja. Terus terang saya (dan terutama Tyo) sudah trauma dengan terapi dengan paksaan.

Apakah ada dari rekan2 yang bisa share pengalamannya. Mungkin ada yang bisa membantu memberikan info tempat speech therapy di Surabaya, syukur2 ditambah sekelumit kesan pesan atas tempat therapy/therapistnya.

Terima kasih banyak sebelumnya :-)

----- Original Message -----

From: Mil

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy Cara paksaan

Mengenai pengalaman Ibu Dev, saya juga pernah menjumpai hal seperti itu. Pada satu ketika saya pernah membaca di salah satu surat kabar di Surabaya mengenai pengalaman anak untuk kebutuhan khusus. Saya tertarik dengan tulisan tsb, kemudian saya hubungi koran tsb utk menanyakan sekolah yang imaksud. Tapi setelah saya survey, rasanya saya tidak setuju dengan pendekatan yang dipakai. Ya..seperti yang ibu ceritakan itu....Tadinya saya mau ikutan daftar di Sekolah itu...akhirnya saya mundur teratur.

Singkat kata, setelah saya ceritakan dengan psikiater tempat saya konsul beliau menyarankan ke salah satu tempat terapi tapi lokasinya sangat jauh.Lha...saya di Selatan...lokasi terapinya di Utara. Di tempat terapi yang sekarang saya merasa cocok. Terapisnya telaten sekali...Cuma ya itu..jauuhhh. Makanya kemaren saya juga menanyakan kalo2 ada tempat terapi yang dekat rumah dan bagus.

Tidak ada salahnya kita coba...

Regards,

Mil

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy Cara paksaan

Pengalaman pribadi, nih.

Kalo terapi "dipaksa", jadinya engga' "fun" dan anak juga ga' berkembang positif.

Khusus soal bicara, ada kejadian menarik dalam hidup saya dan Ikhsan.

Buat yang "baru kenal"...Ikhsan anak saya, 14 tahun 6 bulan, tidak bisa bicara. Autis.

Dari umur 3 tahunan sampai 10 tahunan Ikhsan terapi speech sama ibu Evi Sabir. Tidak terlalu berhasil dalam arti, si anak tidak juga bisa bicara karena memang sulit sekali buat dia. Tapi Ikhsan terus meningkat dalam hal pemahaman, komunikasi, perilaku dan sebagainya.

Anyway, karena Juli lalu Ikhsan 'bilang' (via yes-no questions) bahwa dia "ingin bisa bicara", saya ajak Ikhsan ketemu Evi Sabir lagi Sabtu kemarin.

Menurut penilaian beliau, Ikhsan sudah sangat banyak berubah. Banyak verbalisasi dibandingkan dulu. Dan 'motivasi' untuk bicara sangat terlihat, juga dibandingkan dulu.

Karena ibu Evi tidak ada waktu (hiks) dan saya tidak sanggup cari-cari tenaga baru lagi, akhirnya kita sampai ke jalan tengah: program dan teknik dari ibu Evi, dan Saya yang akan sok tau bersikap sebagai speech therapist. Secara periodik akan konsul dan aku harus commit dengan proyek ini (kalau ibu ga' ngerjain, aku ga' mau ketemu lagi lho....begitu katanya....ha..ha.. sounds like me, bo!!!).

So...kesimpulannya....kalau segala "iklim" di sekitar anak dibuat dalam keadaan tidak terpaksa (tapi juga tetap dalam kaidah aturan yang berlaku), anak seyogyanya akan perform sesuai potensi-nya.

Kalau memang harus "dipaksa", tetap harus dalam konteks apa yang ia kuasai (si Ikhsan sekarang harus dipaksa untuk mengucapkan berbagai hal yang ia sudah bisa, dengan konsonan yang sudah mampu ia ucapkan). Jadi kita tidak menghancurkan rasa percaya dirinya, dan tidak menindas harga

dirinya.

Sekedar pemikiran seorang ibu yang juga masih berjuang terus....

Ita

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy Cara paksaan

Kasihan Tyo Bu, jangan paksa anak belajar, bisa "shut down" in si anak. Pengalaman saya dengan speech therapist adalah kita belajar tekniknya, prakteknya adalah angggota keluarga di rumah. Kalau di Singapore ST itu sangat mahal SGD100 per jam, itu pun 30 menit buat simpam toys, nulis2 homework buat si anak. Kita ngga bisa tiap hari ST, tak sanggup biayanya. Ja (3.5 tahun) sempat ikutan ST 2 bulan sebelum ikut special school (ini karena sekolahnya bilang tak usah ST di luar). Ja yang tidak ada meaningful words (4-5 bulan yang lalu). Semalam, bilang sama Bapaknya, "I want Mei Mei sit on green chair". Suamiku langsung floored! 7 words! walaupun grammarnya tak benar.

Padahal ini dia lagi libur 2 minggu, sekolahnya belum kasih dia ST (karena murid baru sih). Ini karena kita selalu modelin ke Ja, NEVER CORRECT, MAKE IT FUN, dan CONSISTENT (jangan hari ini bilang bakso, besok bakwan, bingung sih anak). Karena Ja mulainya dari meaningless echolalic, jadi ja ada chance untuk belajar language lebih cepat.

Nah, si Jo, putriku (2 tahun), baru ultah hari ini, non verbal, non echolalic, jadi lebih sulit ngajarin dia, bahkan mantan ST nya ja menolak menerima Jo, alasannya too young. Padahal dia Speech Pathologist! Blek... Tapi saya percaya, kalau anak bisa nangis, teriak, bisa babble, pasti bisa bicara, karena hardwarenya ada (ini menurut Anita Russell). Saya tidak akan putus asa. Nah, untuk si Jo,

kalau dia bilang Te Te, Saya langsung bilang 'water" "water", dengan meriahnya, kalau dia bilang 'pen pen", saya langsung bilang 'open" open" dengan meriah dan modelling juga, baik di depan lototan orang

banyak.

Kalau Ibu Dev tertarik akan buku2 bacaan, salah satunya yah.. itu...i, More Than Words. smile. yah... yang itu itu lagi kata para senior.

Oh ya, kata ST ja, kalau si anak verbal, pakai gambar visual bisa cepat membantu, kalau non verbal, bisa pakai PECS lebih cepat. Mula2 nya untuk kata2 baru yang susah dipahami Ja, saya pakai visual (gambar2 dari PECS juga, ada CD programnya). Sekarang, saya sangat bersyukur, Ja tak perlu pake visual, kecuali untuk mengajarkan dia merangkai kalimat sulit. Kita lebih banyak dengan modelling ke Ja, seperti maen sandiwara antara anggota keluarga.

Salam

JJ Mom

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Speech therapy Cara paksaan

Kalo pengalaman saya , saya cari tahu dulu kesenangan anak saya apa. Dari situ saya explore benda tersebut. Contohnya anak saya belajar warna , awalnya dari kesukaan dia dengan mobil, trus dia enjoy kalo diajak jalan2 naik motor. Sambil saya boncengin di depan saya ajarin dia ngomong. Dari nama mobil , trus saya ajarin warna mobil. Dari situ dia bisa ngomong. Sewaktu belum bisa ngomong, dia sukanya liat tv F1. Sekarang sudah mulai lumayan. Jadi kita gali dulu kegemaran anak itu apa dan situasi yang bagaimana dia itu bisa enjoy.

Kalo dipaksa anak saya nendang2, malah nggak karu2 an.

Salam,

----- Original Message -----

From: Ind

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy Cara paksaan

Dear all,

Saya sangat menentang pola paksaan dalam mendidik anak, apalagi anak-anak spesial seperti ini. Harus ada kesepahaman dulu antara orang tua dengan therapist or guru or dokter yang menangani anak kita. Anak yang belum bisa bicara mempunyai 'tingkat frustasi yang lebih tinggi' dibandingkan anak yang verbal, karena ia tidak bisa menyampaikan perasaan, keinginan dan keluhannya secara sempurna.

Makanya tak heran kalau tingkat tantrum mereka juga lebih tinggi. Apalagi kalau dengan cara paksa. Anak akan takut dan tidak enjoy, ujung-ujungnya terapi tidak berhasil.

Hal ini terjadi pada anak saya (3 th). Sebelum masuk Play Group dan OT, sering tantrum sambil bilang kata-kata yang kami tdk tau artinya (misal: ica..ica..atau ini..ini...). Setelah terapi ada perkembangan

ia bisa mengucap beberapa kata walau belum jelas. Tapi setidaknya kami bisa mengerti. Bersyukur terapistnya cukup sabar sehingga anak saya mau kooperatif, walau kadang masih suka 'semaunya sendiri'.

Di rumah, kalau saya mau follow up home programnya, saya tunggu ia siap. Kalau ia sedang tidak mau, saya alihkan dengan permainan lain. Kalau moodnya sdh baik, baru deh saya mulai. Dan ini bisa terjadi

kapan saja. Misalnya sedang makan, saya ajak ia belajar ucap nama makanan atau sayuran.

salam,

Ind

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy Cara paksaan

Dear all,

Ikutan sharing...

Memang pada metode ABA yang traditional (Lovaas), yang dipentingkan adalah kepatuhan, oleh karena itu kalau membaca buku "The Me Book", instruksi yang diajarkan pertama-tama adalah "sit". Dan kebanyakan tempat terapi yang ada menganut pola ini, bahkan meja dilubangi dan dipepetkan tembok supaya anak tidak bisa keluar, seperti dipasung.

Metode ABA ini mengalami evolusi, dan pada ABA Verbal Behavior, ditekankan bahwa learning is fun. Instruktur harus bisa menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, oleh karena itu instruktur harus

melengkapi diri dengan reinforcer (istilahnya "pairing with reinforcer), sehingga si anak merasa enjoy bersama instrukturnya karena dia tau bahwa kalau dia bertemu dengan si instruktur dia bakal

mendapatkan sesuatu yang menyenangkan (reinforcer).

Untuk mengurangi tantrum, pada ABA VB, skill pertama yang diajarkan adalah "MAND" (= request), atau meminta, baik secara verbal (bagi yang sudah ada vokalisasi), maupun dengan cara lain (PECS, signing). Tujuannya adalah supaya anak tahu the power of communication, dengan komunikasi dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Beda dengan ABA traditional, yang diajarkan pertama adalah receptive.

Bu Ind bener, belajar tidak harus setting formal, di mana saja bisa, di kamar mandi, di meja makan dll.

Rgds,

LH

----- Original Message -----

From: Ind

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy- dont make them robotic

Dear all,

Saya mengikuti seminar "Keterlambatan Bicara, Autisme dan Hiperaktif" di FKUI tgl 10 September kemarin. Salah satu narasumber, Dr. Ira (saya lupa nama lengkapnya wink) menekankan agar para terapist jangan kaku dalam mendidik anak-anak special ini.

Selama ini masih banyak terapist yang sering mengulang-ulang instruksi: duduk! berdiri!, dll (LOVAAS). Akibatnya anak-anak ini menjadi seperti robot. Mereka mungkin bisa mengikuti instruksi tersebut, tapi tidak menghayati 'jiwa' dan 'makna' dari instruksi itu.

Kebetulan hari itu banyak terapist yang datang. Mudah-mudahan, mereka memahami. Saya yakin, di balik sikap "cool" anak-anak ini, mereka sesungguhnya mempunyai perasaan yang peka, sama seperti kita.

Salam,

Ind

----- Original Message -----

From: FR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy Cara paksaan

Dear all,

Yang namanya 'pola paksaan' itu sebenarnya seperti apa ya? Misalnya ada 2 kasus:

Kasus pertama:

(Pernah kejadian sama anak kami tuh), dulu di salah satu tempat terapi (masih dalam rangka cari tahu anak kami autis atau bukan) anak kami masuk ruangan sama terapis, nggak lama kemudian terdengar suara anak saya nangis-nangis dan suara keras "Ruben, ambil bola! Ambil bola!"

(kalau di tombol radio volumenya udah sampai angka 8 atau 9 nich). Terus kelihatan si terapis lagi duduk di lantai dengan menjepit kaki anak supaya tidak lari... :-(

Kasus kedua:

Misalnya, waktu terapi anaknya mau lari lalu (a) dipegang tangannya oleh terapis diam di tempat dan (b) terapis bicara dengan nada lembut "Ruben, duduk. Kalau sudah selesai baru berdiri". Dan diajak

ngomong terus seperti begitu sampai akhirnya Ruben duduk lagi.

Yang masuk pola paksaan kasus pertama atau kedua? (bukannya keduanya sama-sama memaksa? Bedanya kasus kedua 'memaksanya' lebih halus.

Maaf nich saya tanya begini, soalnya saya pikir dalam pendidikan anak, apalagi anak-anak kita ini, pasti ada (banyak?) unsur paksaannya.

cheers,

FR (ayahnya Ruben, 5 thn)

----- Original Message -----

From: Ind

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy Cara paksaan

Pak FR,

Yang saya maksudkan di sini adalah pemaksaan yang tidak halus. Untuk mendisiplinkan anak memang perlu cara yang jitu, dalam arti tidak kasar tetapi juga diupayakan agar anak mau mengikuti. Anak saya juga masih sering lari-larian sendiri, tapi untung terapistnya sabar. Dengan bujukan, akhirnya terapi bisa diteruskan.

Mungkin ada faktor kesiapan juga dari si anak. Artinya, ketika anak merasa siap, maka ia akan lebih kooperatif. Nah..bagaimana merangsang kesiapan anak? Tentu dengan kondisi yang menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain bisa menjadi KUNCI UTAMA untuk mendorong anak mau belajar.

Mungkin ada masukan dari yang lain?

Salam,

Ind

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] paksa memaksa

Aku sih selalu berpikir anak-anak kita kalo ga' rada dipaksa, ga' akan jadi apa-apa. Lagian...namanya juga autis. Nikmat aja ada di dunianya...

Tapi aku ambil kasus yang kedua. Ga' pake intimidasi (suara keras, pegangan fisik secara keras) soalnya.

Gitu.

Ita

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Speech therapy (metode pola paksaan ?)

Kelihatannya kasus pertama dan kasus kedua mempunyai tujuan/target yang sama yaitu "kepatuhan". Sama-sama "maksa" juga, tapi bedanya yang satu maksa secara halus, yang satu maksa beneran smile)

Setahu saya metode ABA memang paling "jitu" dalam usaha meningkatkan kepatuhan dan fungsi kognitif atau kepandaian. Sayang ada banyak Terapis yang melakukan metode ABA secara kaku. Sehingga yang terjadi adalah seperti kata ibu Linda Halim bahwa instruksi yang pertama kali diajarkan adalah "sit" atau "duduk" atau juga "tirukan ini, tirukan itu".

Kembali kepada kasus pak Rotty, menurut saya yang akan men"buah"kan hasil yang lebih baik mungkin kasus kedua, sedangkan kasus pertama mungkin akan membuat si anak malah trauma dan bisa saja berakhir dengan tantrum.

Saya ingat Dr. Hardiono pernah berkata bahwa sebenarnya metode Floor time dan ABA kalau dipadukan akan sangat baik. Walaupun metode keduanya berbeda (satu inisiatif dari anak, satu inisiatif dari

terapis), tetapi dengan kreativitas Terapis "learning is fun" bisa dicapai.

Sekedar urun rembuk....

Salam,

LM

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy