Obsesi makan kue dan cookie

09/25/2005

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Obsesi kue/cookie (masalah diet)

Hallo rekan2 semua,

Lagi pusing nih soal diet. Anak saya , Janice (2.5 thn) sudah beberapa bulan ini seperti terobsesi dengan kue dan cookie. Sebenarnya sudah cukup lama tapi akhir2 ini makin parah. Semua pretend play nya dia berhubungan dengan makanan. Dia sering suapin boneka2 nya dengan barang apapun (mainan2 kecil seperti tutup teko, piring kecil, dll yang bentuknya bundar pipih), semua itu dianggap cookie. Kalau ada mainan bentuk kue atau cookie, akan selalu dipegang seharian, nggak boleh dilepas, dan selalu berpura-pura makan. Dia sering bilang yum yum yum , enaakkk... sedih sekali melihatnya. dia tuh sangat suka sekali melihat-lihat gambar kue atau cookie, dan juga ice cream (gak pernah makan ice cream). Dan selalu membayangkan kalau lagi makan makanan tersebut.

Sampai2 seperti kue/cookie maniac. Bahkan semalam lagi tidur berteriak-teriak cookie..cookie...

Kesalahan saya adalah memberikan cookie GFCF, dan memberikan kue GFCF, semenjak itu dia selalu

minta kue dan cookie. Tidak mau makan nasi, walaupun akhirnya selalu bisa kita paksa makan nasi. Sekarang setiap hari minta kue dan cookie, kalau nggak dikasih dia akan menangis dengan tangisan yang memilukan hati, dan terus tanpa menyerah memanggil2 mami mami mami papi papi, mau mau mau mau kue, mau kue, mau cookie, mau kue ,mami mami papi mami mami... terus tidak berhenti sampai akhirnya kita nyerah dan kasih. Kadang sih bisa kita alihkan ke hal2 yang lain, tapi itu hanya sementara. Nggak lama lagi dia akan teringat kembali, dan mulai lagi merengek dan menangis. Kalau salah ngomong aja, bisa membuat dia teringat kue dan cookie. Contoh, dia dengar kata : kasih, makan, minta, wah langsung kasih kue, makan kue, minta kue, dll.

Saya cukup tertekan dengan situasi ini. Pernah terlintas di pikiran saya untuk men-stop diet dan stop supplement. Tapi sampai sekarang saya masih belum berani untuk melakukannya, apalagi dengan hasil2 test yang menunjukkan alergy telur, casein, whey, jagung, dll plus test urine yang mengharuskan diet GFCF, dan juga test rambut dengan hasil mercury yang sangat tinggi.

Saya belum pernah membocorkan dietnya(sudah 6 bulan diet). Kalau untuk alergy, memang saya percaya 100% karena janice memang alergy seperti telur, jagung, kacang merah. kelihatan kalau makan salah satu dari 3 makanan tersebut, timbul reaksi alergy seperti bintik2 merah dimuka (terutama dekat bibir dan pipi), atau napas sesak (karena jagung). Dan batuk pilek.

Sekarang janice lagi batuk pilek, entah karena alergy atau memang batuk pilek biasa. kalau karena alergy, alergy apa? apa karena saya kasih cookie setiap hari? sehingga jadi alergy cookie? semenjak batuk saya stop cookie nya , sekarang jadi minta kue terus. Kalau saya kasih terus apa nantinya nggak jadi alergy kue juga? kalau nggak dikasih cookie dan kue, juga nggak bisa. Gimana yah?

Apa rekan2 yang lain ada ide, untuk makanan snack yang aman selain cookie, dan kue? tentu bukan yang goreng2 an karena janice lagi batuk. Dan juga bagaimana caranya supaya janice nggak terlalu

terobsesi dengan cookie dan kue?

Ok deh, sorry kepanjangan... smilesmilesmile mohon informasinya yah rekan2 ... thank you

Regards

DH

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Obsesi kue/cookie (masalah diet)

Tentang masalah pak David, ada kalimat pak David yang menggelitik saya, dan membuat perasaan saya campur aduk antara geli, sebel, jengkel, mau marah, gemes, dan akhirnya nyengir.

Tuh, kalimat bapak "akhirnya kami nyerah dan ngasih" di bagian tengah paragraph ke 2.

Hayo. Apa bukan itu yang jadi biang kerok??? Ibaratnya nih, si Janice lagi kepingiiinnnn banget ecstasy.

Tereak-tereeak mami, papiiiii minta ecstasiiiiii.....apa iya karena sayang terus bapak kasih????

Konsistensi-nya mana???

Sekali dikasih, mereka ini akan cari celah terus. Negara republik kita

tercinta ini 'kan juga dapat kekuatan demo gara-gara 20 mei 1998, dimana mahasiswa demo menghasilkan turunnya soeharto. Jadi sekarang bentar-bentar para mahasiswa demo. Coba-coba, gitu. Sapa tau berhasil.



Biar saja dia pretend play pakai cookie. Ajari saja prertend play yang lain supaya tidak terobsesi dengan makanan. Ajak main yang lain, kreatif lah.

Ingat. Kalau hati tercabik-cabik karena "Kasihan" ---"ga tega"...sebentar lagi itu anak perempuan cantik mungil akan menjadi anak perempuan remaja besar dan bisa saja tetap berteriak mamiiiii

pappiiiiii minta coookkiiiieee.

Nah lho !!

Salam,

It

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Thank you Bu Ita .RE: masalah diet

Makasih deh Bu Ita udah ngingetin.

Memang saya sadar dan sudah mengerti sifat anak2 baik yang special maupun tidak special, bahkan jauh2 hari waktu janice masih di perut maminya.

Tapi janice sampe kebawa mimpi.. apa nggak bahaya ??? nggak jadi tambah aneh? janice tuh bener2 ter obsesi dengan kue dan cookie, sampai2 dalam keadaan apapun, lagi main apapun, lagi megang mainan yang paling dia suka sekalipun langsung dilempar dan berlarian ke maminya kalau tau ada kue atau cookie buat dia.

Bu Ita kan psycholog, gimana bu? apa bisa mengganggu kejiwaan nya janice nggak kalau sampe saya bertindak tegas dalam hal kue dan cookie tersebut? karena menurut saya obsesi nya ke kue dan cookie cukup parah yah. Bayangin aja, pretend play selalu makanan, lihat buku selalu makanan, sampai2 kemarin main di taman ada meja catur cina, dia bilang itu pizza. main play dough juga harus dibuatkan kue, cookie, ice cream (setelah dibuatkan langsung pura2 dimakan dan bilang yummy enaaakkk).

kalau ke retauran pasti minta buku menu buat dilihatin makanan2nya. Aduh kalau kayak gitu, campur2 deh perasaan saya, tapi paling menonjol tuh sedihnya.

Soal pretend play akan saya usahakan seperti yang Bu Ita sarankan. Coba saya selalu alihkan dengan cerita2 yang lain selain makanan.

Regards

DH

----- Original Message -----

From: Vic

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: masalah diet

Pak Da,

Waktu itu kami pernah berbagi cerita dengan Pak Ant yang anaknya juga obsesive terhadap bakso ... Anak kami Haga jg pernah mengalami hal sama... Biskuit oreo yg bisa dipilin.. Waktu itu berhenti gara2 biskuitnya disemprot halus pake air rebusan daun sambiroto yg pait. Bahannya banyak dijual oleh tukang jamu gendongan. Terapi ini cocok sekali buat mengubah persepsi Haga ttg suatu makanan. Memang sesekali masih minta tapi nggak ngotot lagi kalo ga dapet. Belakangan Haga beralih ke barang

misalnya pernah sekali waktu hobi maen mobil dipeluk sampe tidur. Tapi gak lama beralih lagi ke boneka batman, superman, power ranger. Kemudian balik lagi ke mobil. Sekarang lagi suka anjing atau kelinci

(binatang) dari keramik. Sepanjang hobinya berganti-ganti, kami menganggap normal saja.

Demikian dari kami, Pak.

Salam,

Vic

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: masalah diet

Terima kasih atas sarannya Pak Vic. Ini jadi option terakhir saya deh, nggak tega bohongin Janice. Takut nanti dia tambah stress, kok tadinya enak jadi nggak enak.. soalnya dia kan belum bener2 bisa ngomong, takutnya dia sedih tapi nggak bisa diungkapkan jadi malah uring2-an dan nangis.

Tapi kalau saya sampai kewalahan dan nggak bisa pake cara Bu Ita, baru deh saya coba.

Regards

DH

----- Original Message -----

From: Frc

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Obsesi Kue

Pak Da,

Sekedar saran, kalau memang masih diet ya pakai cookie yg GFCF, lalu manfaatkan untuk ber main sambil memberi limit setting. Pada saat dia minta cookie, kita ackowledge perasaan dia dengan bilang " ooh Janice pingin cookie ya?" agar dia tahu dia bisa mengekspresikan keinginannya dengan benar, tidak berteriak atau marah. Tapi dengan kalem bilang "Janice mau cookie". Lalu bisa kita bilang "bagaimana kalau kita adakan tea party, karena dalam tea party kita bisa makan cookie. Kita ajak yuk mama, boneka barbie dll" . Kalau dia merespon mau bawa dia membantu kita siapkan peralatannya, piring gelas mainan (ngajar konsep setting table).

Taruh 1-2 cookie dipecah kecil2 di satu piring utama sambil ajak main. Mulai dgn Bapak menawarkan pada ibu, lalu ibu ambil satu & say thank you, taruh dipiring kecil, lalu makan kue gigit sedikit2 dan

dengan ekspresi yg dilebih2kan misalnya bilang: "ooh manis" or "ooh asin!" sesuai rasa kue (ini sekalian ngajarin konsep rasa).

Lalu gantian ibu nawarkan pada bapak dari piring besar & bapak juga ambil 1, taruh di piring sendiri, say thank you & ekspresikan rasa kue tsb, Nah Janice mesti tunggu giliran dia untuk ditawarin (ngajarin

konsep menunggu & taking turn) , kalau dia ambil kita bahasakan buat dia (kalau dia blm verbal sendiri) " thank you papa/mama" lalu kita tanya dia apa rasanya. Kalau dia tidak jawab kita labelkan "manis ya" syukur2 dia tersenyum. Diulang beberapa putaran sampai cookie habis, diselingi dengan menawarkan minum tiap 1 putaran supaya interaksi jadi panjang.

Lalu saat giliran bapak menawarkan terakhir (padahal piring sudah kosong, pura2 gak tahu), kpd ibu, ibu menjawab dengan serunya , sambil raba permukaan piring 'wah habiss!!' lalu gantian ibu kepada bapak & bapak juga tunjukkan pada Janice bahwa kue sudah 'habis'.

Lalu kalau dia mau lagi kita masukkan limit dengan janjikan, ooh Janice senang ya, kalau begitu besok kita tea party lagi ya. Kalau 1-2 cookie bisa dimakan ber tiga dalam waktu 10- 15 menit kan sudah lumayan.

Besok2 nya bisa ditambah potongan buah, tamunya ditambah (ada suster atau ada anak tetangga, atau boneka juga bisa) atau makanan kecil dengan variasi rasa lain, atau bentuk lain. Jadi sambil main bisa belajar konsep2 dasar rasa, bentuk, sosialisasi & komunikasi (menawarkan, menuggu, say thankyou, banyak sedikit, lagi atau cukup, habis, nambah/lagi, mau / tidak dll).

Jadi fokus dia digeser dari cookienya ke permainan nya, lama2 dia akan menanti2 waktu bermain "tea party" tsb, misalnya kalau pagi2 sudah nagih cookie, bisa kita tambah dengan konsep waktu "ohh iya nanti sore habis mandi kita main tea party" tapi ditepatin lho janjinya.

Anak balita memang pasti ada masanya 'obsesi' pada satu benda, kalau di banned sama sekali pengalaman saya malah makin lama & parah ekspresi kemarahan/ frustasinya, jadi lebih baik dimanfaatkan untuk 'masuk' & berinteraksi dengan anak. Tapi pasti akan berlalu kog, dan ganti dengan benda/ kegiatan lain, asal kita bisa tegas dalam hal limit setting nya. Nah nanti kalau datang obsesi yg lain ya kita kreatif aja memanfaatkan ide anak tsb untuk mengajar dia berinteraksi dengan baik kalau mau memperoleh keinginannya.

Semoga membantu.

Salam,

Mama Audrey

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Obsesi Kue

Saran yang menarik.

Learn through role-plays and games like drama memang akan sangat membantu pemahaman anak entah yang verbal atau non-verbal. Efektif, mudah dan murah karena dilakukan sendiri (anggota keluarga), juga akan meningkatkan hubungan emosi anak dengan orang tua.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: Frc

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Obsesi Kue

Setuju bu Leny, memang itu aspek2 yg membuat saya suka dengan floortime. Saya juga jadi dipaksa belajar kreatif untuk memanfaatkan steaming or obsesi anak (chlid's lead) menjadi permainan yg interaktif & komunikatif. Untungnya kantong jadi irit juga, jadi saya nggak terlalu stress lagi mikirin ngejar setoran buat bayar terapis -smile

Salam

Cis

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: obsesi kue

Kalau Bu Ita yang pakarnya aja udah bilang tenang aja nggak bakalan jadi tambah aneh... saya dengan tenang ngikut aja deh.

Plus thank you banget buat Bu Cis yang udah kasih tau gimana "mempergunakan" obsesinya janice terhadap kue dan cookie. Baca sarannya aja udah seru hehehe coba ah nanti sore... tea party.

(Janice jg udah tau tea party nya alice in wonderland)

Regards,

DH

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy