Sekolah versus Tidak Sekolah

09/19/2005

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] pengalaman baru lagi... (sekolah versus tidak sekolah)

Tadi saya baru pulang dari 'berbincang-intens' dengan sekelompok guru yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah reguler. Lepas dari perjalanan pulang pergi yang amit-amit lama dan susah, hari ini membuat saya berpikir ulang mengenai berbagai hal.



Ternyata, kalau anak kita bersekolah itu, masalah belum tentu sudah selesai. Bila anak kita bersekolah di sekolah reguler, belum tentu masalah juga sudah selesai.



Diskusi hari ini membuat saya benar-benar melakukan banyak introspeksi dan refleksi. Sebenarnya, untuk apa sih kita memasukkan anak ke sekolah?

Guru-guru banyak menumpahkan uneg-uneg. Selain masalah sehari-hari dalam mengejar ketertinggalan pelajaran atau mengatasi tantrum, ada juga pembahasan mendalam mengenai bagaimana memastikan terjadinya 'kesepakatan' antara pihak sekolah dengan pihak orangtua. Bagaimana menyamakan persepsi antara pihak sekolah dan orangtua mengenai keadaan si anak.



Guru banyak sekali mengeluhkan kecenderungan sebagian orangtua yang ekspektansi-nya tinggiiiiiii luar biasa. Seolah anaknya harus berubah menjadi sempurna (padahal mana ada sih, manusia yang sempurna..). Sebagian orangtua lagi, bahkan tidak perduli anaknya maju atau tidak. Tidak perduli pada masukan dari pihak sekolah. Karena yang penting bagi mereka adalah "anak saya happy" (maksudnya, ada kegiatan rutin setiap hari).



Yang jadi persoalan, guru-guru melaporkan bahwa sebagian dari anak-anak ini hanya "terikut" saja naik kelas. Sebetulnya anak tidak menguasai materi sama sekali.. Waduh..pusing saya.



Saya jadi lalu berpikir:

- kita sebagai orangtua mungkin harus belajar setiap hari untuk evaluasi 'strengths' & 'weaknesses' anak-anak kita

- kita sebagai orangtua harus berlapang dada menerima masukan selama ada pembuktian dan upaya ke arah solusi

- kalau anak tidak mampu menguasai materi tertentu, mungkin perlu dievaluasi lagi apakah materi tersebut memang betul-betul PERLU untuk kehidupannya di masa datang??? Contoh: anak perlu tahu konsep 'pembagian'. Tapi begitu pembagiannya sudah 'akar kwadrat' maka anak kesulitan...jadi nilainya selalu jeblog. Lalu karena dipaksa, jadinya tantrum terus sehingga pada akhirnya anak itu benci belajar matematika. Waduh.tewas, 'kan?

- Ada resiko dimana anak-anak 'special needs' jadi bulan-bulanan oleh anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus. Bagaimana kita mensiasatinya???

- Dan yang paling penting...apa lalu begitu anak selesai bersekolah???? (ini hal yang bikin saya lebih pusing lagi, karena ingat masalah anak saya sendiri).



Sekedar sharing saja.

Hari ini saya banyak sekali belajar. Alhamdulillah dipercaya untuk mendengarkan cur-hat para guru. Biarpun sampai rumah rasanya kepala tuing-tuing saking neg-nya berjam-jam nyupir.



Salam,

DP



----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pengalaman baru lagi... (sekolah versus tidak sekolah)

Bu DP yang gigih (gimana ngga, udah punya gangguan mata, masih nyetir jauh2... :-) dan sibuk urus macam-macam). Dipikir-pikir anak2 kita tidak usah dipaksakan di sekolah reguler, kalau memang kurang mampu mengikuti, jadi dipaksakan, anak jadi tantrum, guru2 dan teman2nya kasihan jadi kerepotan & tidak tenang. Kalau mampu sih OK aja... Apalagi kalau nanti jadi bulan2an...

Kami berdua sih, walaupun dulu sedih ngga bisa sekolah umum lagi (G cuma sempat TK 3 bln), atau dijadikan bulan2an (bahkan oleh beberapa anak/remaja sekitar rumah, tdk semua, ada juga yang bersimpati), sekarang ambil hikmahnya, keuntungannya anak belajar sendiri di rumah :

1. Anak tdk kenal branding/merk baju, tas, sepatu, dll. Dikasih apa aja mau. PD aja terus, "EGP (emang gua pikirin)", begitu seolah-olah sikapnya. Bahkan sering barang2nya dilemparkan/ hilang.

2. Kita bisa mengawasi pergaulan anak (moga2 bebas narkoba, dll). Tetangga saya pernah bilang : Ibu mah enak, bisa ngawasin G terus. Kami ini takut anak2 kena narkoba, dll. (Dari sekolah, dari pergaulan).

3. Kita bisa mengontrol sendiri pelajarannya, bisa ngajarkan yg memang benar. Contoh: entah benar, entah tdk, mungkin melebihkan, guru2 masih ada yg salah:

+ 1/3 = 1/5, atau 2/5. Yang mana hrsnya + 1/3 = 3/6 + 2/6 = 5/6.

Atau 20 + 60 : 2 = 40 (salah), hrsnya 50. (Krn kalau tdk pake kurung,

bagi lebih kuat drpd tambah). Lalu ada yg menyebut bentuk "layang-

layang" dgn "wajik/belah ketupat". Salah. Kalau bentuk "wajik" memang

bisa dibilang bentuk "layang2" yg khusus, tapi kalau layang2 belum tentu wajik.

4. Kita bisa menanamkan nilai2.. (Krn lebih lama ketemu kita daripada teman2nya). Dll keuntungan, yg belum terdeteksi.

Kami sekarang percaya, pasti ada MASA DEPAN YANG BAIK utk anak2 kita. Emang kalo udah sekolah tinggi mau apa? Ngga usah jauh2, diri sendiri, sekolah sampe "keringet darah" di univ. LN (bukan beli gelar lho), sekarang kandas di rumah tangga.. (Maaf ya kalo gaya bhs.nya begitu). Lalu banyak contoh orang yang ngga sekolah tinggi, bahkan tadinya buta huruf, bisa jadi orang "hebat". Orang hebat juga bukan diukur dari uangnya, tapi dari seberapa bergunanya dia untuk sesama, untuk kemanusiaan, ya kan?

Salam,

EH

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] sekolah versus tidak sekolah

Gigih apaan.....Ndablek sih, emang.

Anyway...makasih buat tanggapannya. Keputusan selalu di tangan orangtua masing-masing. Pilihan selalu ada plus-minusnya. But that's life, 'kan????

BTW, tadi pas mau ngajar bahasa inggris di sebuah lembaga, ada seorang guru yang ngobrol-ngobrol terus tiba-tiba mengungkapkan pepatah dan ditujukan kepada saya: "do your best, prepare for the worst". Saya langsung ngakak (yang membuat dia nyengir) dan bilang "what more worse situation do you think I should go through, siiiihhhh". Ha..ha..

Life is short. Just enjoy.

Salam,

DP



----- Original Message -----

From: Wy T

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pengalaman baru lagi... (sekolah versus tidak sekolah)

Akur.... bu Eveline. Orang hebat adalah bukan sekedar yang keranjingan bawa titel...

Tapi adalah seberapa jauh ia dapat bermanfaat bagi sesamanya.



Rahamatan lil alamin,

Kemanapun ia berada, selalu berguna bagi orang sekitar. Amien

Salam,

----- Original Message -----

From: bs

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Mohon pencerahan Bu DP (sekolah versus tidak sekolah)

Bu DP Yth.,

Saya juga lagi bingung dengan putra saya Yoko yang duduk di kelas 1 sd di sekolah reguler.

Kalau pulang sekolah buku tugasnya selalu diperiksa oleh ibunya, ternyata kosong dan hanya ada satu dua kalimat saja yang dikerjakannya. Tetapi ketika diminta oleh ibunya untuk membaca dan menulis apa yang ditugaskan oleh guru SDnya ternyata bisa dilakukan dengan lancar dan benar.

Demikian pula ketika diminta untuk membacapun bisa dilakukannya dengan baik dan benar. Dalam pelajaran berhitung juga demikian. Yang membuat saya bingung adalah setiap tugas yang diberikan oleh guru SDnya selalu tidak dilaksanakan dengan baik (buku tugasnya selalu kosong dan kalau ada hanya coretan satu atau dua kalimat saja) termasuk kedalamnya ketika harus mengikuti ulangan dan ulangan umum, sehingga akibatnya tidak dinaikkan ke kelas dua oleh gurunya.

Mohon bantuan pencerahan dari Bu DP.

Terima kasih.

Salam

Papanya Yoko

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Mohon pencerahan Bu DP (sekolah versus tidak sekolah)

Kemungkinannya banyak, pak.

1. Di kelas terlalu banyak anak sehingga anak tidak bisa berkonsentrasi.

2. Guru membacakan kalimat dengan cepat sehingga anak mengalami kesulitan. Sudah menjadi ciri anak autis untuk memerlukan upaya khusus bila diberi dua tugas sekaligus (=mendengarkan kemudian mencatat). Pelan aja susah, apalagi kalau tidak pelan.

3. Guru menuliskan di papan tulis, anak ditugaskan untuk menyalin, tapi terlalu banyak yang memecahkan perhatiannya sehingga tidak fokus. Alhasil, buku tugas kosong. Menyalin dari papan, susah lho. Coba bapak melakukannya. Lalu hitung berapa langkah yang terlibat di dalamnya:

- menatap ke papan tulis

- mengingat apa yang ia baca

- memproses apa yang ia ingat dan kemudian memfokuskan perhatian untuk menulis

Nah, kalau semua terjadi cepat. Belum selesai mengingat, baru mau memproses, eh, soalnya sudah bertambah. Jadi tadinya lihat ke baris pertama, tau-tau dia harus fokus ke baris pertama dari lima baris.

Weleh-weleh.....

4. Guru menuntut dia menjawab pertanyaan yang ditampilkan dalam kertas kerja dengan tulisan kecil-kecil dan rapat-rapat; yang sulit dipahami oleh anak.

5. Bahasa yang tertampil adalah bahasa bermakna 'tersirat' atau 'rumit' yang belum masuk ke dalam perbendaharaan kosakata-nya. Boro-boro jawab Ngerti juga engga'?!

Bagaimana memecahkan persoalan ini? Komunikasi dan kompromi.

Barangkali saja gurunya tidak tahu bahwa orangtua tidak keberatan kalau anak tidak mampu di beberapa bidang tertentu. Barangkali guru juga tidak tahu bahwa sebetulnya anak bisa bila ditanya, dan tidak dituntut untuk menuliskan jawaban di tengah keramaian. Jadi, proses evaluasi dilakukan secara individual. Barangkali guru juga tidak tahu bahwa kata-kata yang diberikan harus dipermudah.

Usaha dulu...tapi kalau kurang menunjukkan hasil...perlu dikaji kembali apakah pilihan untuk menyekolahkan anak di sekolah tersebut adalah yang paling bijak.

Saya selalu percaya bahwa pendidikan tidak selalu harus dilalui melalui sektor formal. Tidak juga harus menghasilkan ijazah. Sayangnya memang masyarakat kita sangat "mengagungkan" ijazah ya.

Tapiiiiii.....dalam kasus anak-anak 'kita'....kalaupun punya ijazah mentereng, apakah lalu sudah menjadi jaminan bahwa mereka bisa bekerja di lingkungan masyarakat????

Itu yang menjadi pertanyaan saya dan pada akhirnya membuat saya menumpahkan energi ke pendidikan khusus Mandiga, dimana program disesuaikan dengan kemampuan setiap anak.

Alhamdulillah, anak saya yang pasti ditolak di sekolah reguler karena punya banyak sifat unik, sekarang sudah bisa sms ke saya (berarti harus bisa baca dan tulis dan nalar, 'kan?). SMS-nya mengandung kosakata yang dia pelajari saat terapi (jadi terapi tidak juga menjadi sesuatu yang percuma).

Misal, Ikhsan bisa lapor "ibu yuli marah" (ibu yuli adalah guru yang mengajar temannya).

Saya tanya melalui sms "kenapa?". Dia jawab "Yasmin marah" (Yasmin adalah teman perempuannya yang cute...). Tidak berapa lama dia berusaha menjawab pertanyaan saya sebelumnya "ibu

Ida berisik" (ibu Ida adalah guru yang sedang mengajar dia). Saya lalu ke kelas tempat mereka berempat sedang belajar. Terdengar omelan ibu Ida --> "Ikhsan, hapus! Enak aja bilang ibu ida yang berisik. Yang berisik 'kan Ikhsan!!". (Ha...ha... rupanya dia mencoba 'mengelak' dari kesalahannya dengana melempar ke gurunya).

Lalu saya terima sms dari Ikhsan "Ikhsan berisik". Lalu saya jawab, "Oohhh, jadinya Ikhsan berisik, makanya ibu Yuli dan Yasmin marah? Ikhsan jangan berisik dong. Yasmin 'kan mau belajar.

Ikhsan minta maaf ya".

Menurut gurunya lalu Ikhsan berdiri dan pergi mengacungkan tangannya meminta maaf kepada Yasmin.

Amazing, ya? Sampai detik ini saya tidak berhenti takjub akan kebesaran Tuhan. Anak saya yang autis non-verbal, pada akhirnya bisa 'melapor, bohong, memutar-balikkan fakta agar aman, tapi juga jujur dan mau mengakui kesalahan dengan meminta maaf'.

Nothing is impossible, pak. Tapi memang kita semua harus kerja keras. Jangan dikira saya sudah berhenti lho. Saya sendiri masih gundah bertanya dalam hati. Sesudah selesai dari Mandiga, lalu apaaaaaa?????

Salam,

DP

----- Original Message -----

From: MS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sekolah versus tidak sekolah

Ibu DP dan temen yang lainnya

Saya kadang merasa putus asa dan kasihan melihat anak kita (baca: saya).

Lebih dari 5 tahun di kelas TK, mendapatkan pelajaran yang itu2 juga. Sekolahnya sering pindah dari sana ke sana ...... tergantung sekolah mana yang masih mau menerima.

Terapi dilakukan sudah lebih lama lagi, sejak umur 2 tahun, dan paling banyak mengeluarkan biaya extra

anggaran per bulan bisa untuk mengangsur rumah mewah ... sad

Tapi demi harapan untuk mendapatkan kemajuan atau mukjijat yang tidak muncul-muncul ... semua kita

pertaruhkan .... ,tapi sampai kapan yaaa? Sebenarnya yang kita cari ,kalau ada sistim pendidikan yang praktis saja untuk dapat hidup bermasyarakat ... (ada nggak yaa di Jkt ini?)

Pelajarannya ... bagaimana berbelanja, mengenal uang, melatih bekerja yang enteng-enteng, ketrampilan praktis untuk mendapatkan penghasilan ... mimpi kali yee kita??? sad

Yang lagi sedih ...

Mi

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sekolah versus tidak sekolah

Aduh, pak. Itu sih bukan mimpi. Dari jaman jebot (he..he..) saya sudah mendorong orangtua untuk "memberanikan diri" membuat sekolah-sekolahan dengan kurikulum sendiri.

Izin mah, belakangan deh. Mulai dengan izin yayasan, kerja sama sesama orangtua, tempat di garasi salah satu orangtua. Setiap minggu bisa mulai dengan 3x pertemuan @ 2 jam. Pelan-pelan ditingkatkan jadi 4 jam...lalu 5x pertemuan.

Belajar apa? Ya itu tadi. Belajar hal-hal yang penting saja untuk survival-nya.

Banyak sekali di sekitar kita sumber untuk belajar. Dan itu bisa dimanfaatkan.

Contoh sederhana saja.

Anak musti tahu penjumlahan. Belajarnya 'kan dari identifikasi angka, pemahaman simbol angka yang mewakili himpunan benda, belajar berhitung, lalu langsung aplikasi. Begitu sudah paham, tingkatkan jumlahnya sampai sekitar puluhan. Kalau sudah mulai kesulitan, ajari pakai kalkulator. (Lagian, kita sendiri juga...kalau sudah jumlah besar bukannya lalu mengeluarkan handphone atau kalkulator???).

Kalau soal cerita, ajak bicara saja. Jangan pakai kata-kata yang rumit-rumit seperti yang di dalam buku. Tapi bercakap dengan bahasa biasa: "ibu punya tahu DUA, lalu si mbak menggoreng lagi dan si mbak taruh di piring ibu SATU lagi. Sekarang tahu-nya berapa ya? Ayuk kita hitung! SATU, DUA, TIGA. Oh, kalau DUA ditambahkan SATU, jadi TIGA, ya?"

So, pak...bukan mimpi. Tapi tekad. Memang susah awalnya (saya juga merasakan kok sewaktu nekad membuka Mandiga). Tapi sedikit demi sedikit kita semua belajar dari pengalaman. Yang penting, jangan takut berbuat kesalahan. Kita tidak pernah sengaja berbuat kesalahan itu 'kan??

Semoga membangkitkan motivasi untuk "maju" terus.....



NB: Kalau bertanya "sampai kapan"...mungkin jawabannya 'till death do us part'...sampai ajal memisahkan kita. Bukan berpikir negatif, tapi saya pribadi sih realistis saja dalam halnya anak saya...

Salam,

DP

----- Original Message -----

From: RM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pengalaman baru lagi... (sekolah versus tidak sekolah)

Bingung..bingung..bingung...!

Kenalan saya sikapnya ekstrem ttg masalah ini. Secara financial tentu saja beliau ini mampu menyekolahkan anak di sekolah yang paling top sekalipun. Tapi beliau memilih tidak menyekolahkan ketiga anaknya tersebut. Mereka bilang sistem sekolah kita ini masih membingungkan masa kita menyerahkan pendidikan anak pada orang-orang yg bingung. Mereka memilih untuk mendidik anaknya di rumah, menjejalinya dengan informasi internet dan buku-buku. Saya kalau sempat ngobrol dengan anak-anaknya rasanya jadi orang yang paling kuper karena kalah pengetahuan dengan anak yang umurnya belasan.

Ketika neneknya bertanya bagaimana anak-anak bisa dapat pekerjaan kalau tidak sekolah. Ibunya menjawab yang perempuan bisa jadi tranlater atau guru bahasa (karena memang anak ABG itu jago bahasa inggris, perancis, dan belanda seperti ayah ibunya) yang laki-laki bisa jadi ahli komputer atau pengusaha, dsb.

Mau mengikuti cara mendidik mereka..? Rasanya saya belum pantas. Teman saya itu ayah yang sangat cerdas dengan posisi penting di perusahaan international dengan anak buah bule-bule. Ibunya sangat santun namun supel dan baik hati. Saya...?! Wah...masih jauh dari seperti itu.. Nekad tidak menyekolahkan anak..?! Punya warisan buat anak..tidak! Bisa mendidik IP sama anak...belum tentu! Mengajarkan budi pekerti dengan baik...kadang-kadang saya lupa!

Jadi bagaimana dong...?!

Yah..setidaknya kita memberikan gambaran dunia nyata. Bahwa di luar itu ada 'hitam' ada 'putih' dan tidak selalu membuat diri kita nyaman.

Salam

Re

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pengalaman baru lagi... (sekolah versus tidak sekolah)

Bu Re,

Asyik ya cerita tentang keluarga kenalan ibu. Memang lucu, itulah dunia, seperti roda. Ada ortu yg sudah 'sekolah', malah bilang 'sekolah itu ngga perlu, yang penting BELAJAR!'. Ada ortu yang 'tdk sekolah' bilang 'anak saya HARUS sekolah, supaya nasibnya tdk seperti saya'. Yah, begitulah, tiap kepala punya pendapat berbeda... Memang kelebihannya disekolahkan: bisa belajar bersosialisasi, bergaul dan ortu bisa gantian tanggung jawab dgn guru, jadi anak bukan melulu tanggung jawab ortu.

Kekurangannya (saat ini): anak terlalu 'keberatan', dijejali dgn segala macam hafalan yg BERAT

(kayak orang kuliah). Contoh: utk pelajaran biologi katanya mereka harus hafal sampai yg namanya akson, nerit, dendrit, simpai Bowman, apa itu, kita aja udah lupa?? Utk pelajaran PMP dlsb, mereka sampai harus hafal bunyi pasal2, yg seorang SH pun belum tentu hafal, dll.

Sementara pelajaran olah raga, seni, dll, katanya kurang, hanya sebagai ekstra kurikuler. Terlalu berat

kerja OTAK KIRI. OTAK KANAN kurang diasah ---> makanya banyak tawuran, violence.

Sekolah versus tidak sekolah, semua punya kekurangan & kelebihan masing2. Tinggal ditimbang-timbang aja bobotnya, lalu kita putuskan sendiri. Kata kuncinya sebenarnya: BELAJAR, bukan sekolahnya, menurut saya ...

Salam,

Ev



----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Sekolah versus tidak sekolah

Bagi anak-anak kebanyakan (tidak special needs) yang namanya sekolah adalah mutlak perlu.

Karena di sekolah anak-anak bisa belajar banyak.

Kalau sekarang banyak orang tua yang mengeluh tentang "sekolah" itu bukan karena sekolahnya yang salah, tapi sistemnya. Nah.... kalau sudah masalah sistem, susah dan repot lagi urusannya .... udah kayak mission impossible smile

Itu untuk anak-anak normal. Sedangkan untuk anak-anak spesial baru berlaku teori bahwa sekolah itu belum tentu perlu. Yang penting BELAJAR. Orang tua harus full intervensi dalam hal ini, karena anak-anak spesial tidak seperti anak-anak kebanyakan.

Salam,

LM





Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy