Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

09/11/2005

----- Original Message -----

From: Muk

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Setelah banyak tau apa harapan orang tua terhadap anak autis, ada baiknya kita juga merenungkan apa harapan anak autis terhadap orang tuanya ya ? kalo saya jadi anak autis, saya mau orang tua saya :

-Sabar

-Rukun2

-Realistis

-Banyak menghabiskan waktu dengan saya, dan tidak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan saya kepada terapis dan baby sitter

-tidak malu mengakui kalo punya anak autis

Saya cuma mau ngingetin aja, selain harapan kita atas anak kita, kita juga harus bisa memenuhi harapan anak autis kita. Ayo apalagi kira-kira harapan anak autis terhadap orang tuanya, dan apakah kita sudah memenuhi harapan mereka ?

Thanks

Muk

----- Original Message -----

From: HW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Iya nih Pak MA bener.

Harus sabar dan realistis. Dan yang nggak kalah penting : positive thinking ...

salam,

HW

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Touché!

Agree with you totally...

BTW, saya pernah punya harapan setinggi langit. Saya pernah down dan tidak berani punya harapan sama sekali. But today...saya berada di sebuah titik yang mensyukuri apapun yang terjadi diantara anak saya dan saya.

Tadi pagi saya marah karena dia mencoba melepaskan stiker dari dalam jendela mobil. Tujuannya baik, tapi saya sebal karena tangannya berludah jadi malah kotor. Tapi sewaktu dia marah, dia bingung "kok saya mau bersihkan, ibu malah marah?"...dan tatapan nya yang penuh kebingungan itu membuat saya merasa sangat malu. Langsung saya raih kepalanya, dan saya cium sambil bilang, 'maafin ibu, ya. Ibu marah-marah aja dari tadi, ya? Ibu udah ga' marah lagi kok sekarang. Nanti kita bersihkan lagi jendelanya'. Dan senyum dia sesudah itu membuat hati ini serasa melayang.

Harapan? Saya hanya melangkah dari hari ke hari, berdoa semoga hari ini lebih baik dari kemarin, semoga semua orang sehat, dan semua orang happy.

Salam,

DP

----- Original Message -----

From: Muk

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Ita

That is my point, kita juga harus bisa mengerti anak autis kita, jangan mereka hanya menjadi objek, untuk memenuhi harapan kita, yang mungkin saja tidak realistis, yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa2, bahkan kita banyak kehilangan waktu untuk mengejar hal-hal yang mungkin unrealistic to achieve, padahal kita bisa melakukan hal-hal kelihatan sepele dan kecil tapi sangat bermanfaat bagi anak kesayangan kita.

Thanks

MA

----- Original Message -----

From: BR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua dan Lingkungan

Ikutan nimbrung........ ya saya jadi tertarik ,kalau tadi harapan orang tua terhadap anak autis, kemudian berkembang menjadi harapan anak autis kepada orang tuanya, ......tentunya harus ditingkatkan lagi dong menjadi........ "Harapan anak autis kepada lingkungan sekitarnya".

Maksud lingkungan sekitarnya tentu........Masyarakat sekitarnya........bagaimana ini "mungkinkah?". Kita sebagai orang tua dengan yakin harus menjawab optimis pasti. Ya harus optimis........wong ini untuk anak2 kita juga. Sebelumnya saya minta maaf, kalau apa yang akan saya ungkapkan ini mungkin ada yang tidak setuju. Saya tinggal di Bontang, sewaktu anak saya usia 3 tahun sudah terdeteksi autis dan lingkup kompleks kami kebetulan di tempat kami kerja ada sekitar 7 anak autis pada th. 1998. Singkat cerita 7 th kemudian jumlah anak autis dilingkunan kami menjadi 43 anak, hal ini saya peroleh dari jumlah anak2 yang mengikuti terapi di Rumah Sakit Perusahaan kami bekerja. Oleh karena sering ketemu para orang tua di tempat terapi, atas usul salah satu dokter yang menangani rehabilitasi medik di RS, kami membuat suatu perkumpulan yg. dinamakan "Forum Orang Tua Peduli Autis" disingkat FOPA dimana kemudian saya atas asas demokrasi dipilih menjadi ketuanya (karena pada waktu itu para bapak2 nggak ada yang sanggup,sedangkan kalau ibu2 dikhawatirkan sulit untuk bernegosisasi dengan manajemen, jadi dipilih yang statusnya karyawan). Alhamdulilah karena punya anak autis, tentu saya punya pengalaman selama 6 tahun lebih merawat anak saya tentu saja sama ibunya. Sehingga saya punya program2, dari program2 yang urgent adalah "Kemana anak2 kita setelah selesai terapi ? ".Tentu sekolah bukan?. Bagaimana idealnya anak autis bersekolah? Di SLB, SD Reguler atau ke SD Inklusi ( Integrasi ) ? SLB oleh para pakar2 autis tidak direkomended terus gimana? Oleh karena ditempat kami tdk ada sekolah inklusi, banyak anak2 autis (tentunya yang verbal) bersekolah di SD Reguler, tapi banyak sekali kendalanya dari guru2nya,dari teman2nya dan dari pihak sekolah tentunya. Kenapa bisa banyak kendala ? Karena para guru dan masyarakat sekitarnya "belum tahu apa itu autis", terus gimana tindak lanjutnya. Ya saya pikir mereka masyarakat harus tahu apa itu autis. Akhirnya saya ajukan proposal akan "presentasi AUTIS" kepada guru2, kepala sekolah dan pengurus sekolah untuk tingkat TK dan SD di sekolah lingkup Perusahaan.. Dan proposal saya alhamdulilah disetujui Manajemen (kalau yg. ini dg. negosiasi). Ada 2 agenda presentasi yaitu Autis dari sisi Medis disampaikan oleh seorang dokter (kebetulan anaknya juga autis), dan bagaimana penanganan anak autis terutama dalam bidang pendidikan (disampaikan oleh terapis yang senior). Apa hasilnya?.....alhamdulilah guru2 dan semua yang mendenganrkan presentasi baru "mengerti" apa itu autis, dan efeknya para guru sudah mulai kooperative dengan kita para org. tua anak2 autis. Dari hasil itu kita buat rencana maju ke DPRD Bontang, dan alhamdulilah diterima oleh komisi D utk dengar pendapat intinya kita minta agar diperhatikan masalah pendidikan bagi anak autis, karena semakin lama akan semakin tumbuh anak2 autis di Bontang bahkan di dunia (di Amerika, ada negara bagian dimana populasi anak autis dan anak normal 1 : 70, " mengerikan bukan?"). Dan alhamdulilah ditanggapi bahkan mereka akan studi banding ke sekolah2 inklusi di Jawa, 2 hari yang lalu saya baca koran daerah , dari komisi D menyatakan sudah waktunya Diknas di Bontang mendirikan sekolah inklusi untuk anak2 autis. 2 minggu yang lalu, kami juga mengundang ahli autis dari Yogya yairu Mr Fred Fargoosten untuk memberikan ceramah, kami undang para guru2 TK dan SD di Bontang untuk menghadiri ceramah tsb., alhamdulilah banyak guru2 antusias. Dan terakhir kami dapat informasi, guru2 TK mengunjungi terapi anak2 autis di Rumah Sakit, mereka ingin diajari bagaimana menangani anak autis bila tantrum, dan macam2lah tingkah anak2 kita itu.

Sehingga kami optimis bahwa Apabila masyarakat tahu apa itu autis, bagaimana penanganannya. insya Allah " Harapan anak autis kepada lingkungan sekitarnya " akan terwujud. Tentunya dengan kerja keras orang tua, mari kita buat group2 orang tua, adakan pertemuan perioedik kita bahas sama2 ide2, karena saya yakin bidang pendidikan adalah jalur yang tepat untuk anak2 kita agar dapat hidup dilingkungan masyarakat kelak. Pendidikan yg. bagaimana, Orang tua tentu lebih tahu.

Sekian dulu sharing kali ini, terima kasih atas perhatiannya.

----- Original Message -----

From: Id

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Setelah berjalan hampir 9 tahun dengana anak autistik, dari 5 item yang diingatkan pak Muchlisin, pada bagian Sabar dan Realistis adalah hal yang "paling berat".

Bu Ita, masih "perlu" dan "boleh"kah kita mengekspresikan rasa bangga juga sayang kita padanya dengan peluk dan cium pada anak kita yang sudah menginjak remaja itu (Syauqi hampir 9 tahun).

Salam,

Id

----- Original Message -----

From: CJ

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

100% tentu,

dan pasti sebagai orang tua kita juga sudah berusaha memenuhi semua harapan tsb, walau kadang tidak sempurna ya namanya manusia pak, apalagi yang namanya 'sabar', doa saya yang utama sama Allah minta di kasih sabar aja yang buuuannnyakkk, jangan sampai habis...kalau udah kecapean sekali ya, sabar...sabar...rumah berantakan ya, sabar...si tat-chan ngamuk ya sabar....

regards,

cj

----- Original Message -----

From: ALB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Harapan Anak Autis terhadap Orang Tua

Dengan Nama Sang Khalik yang Maha Segalanya...

Berbicara mengenai harapan seorang anak autis kepada orang tua nya, saya punya pengalaman yang sedikit unik dengan Ezra. Ini terjadi pada saat kali pertama Ezra (+/- 3thn) dengan saya melakukan Eye Contact (saat ini usia Ezra 5thn), saat yang singkat namun penuh makna sehingga mampu menggetarkan asa. Tanpa berkata-kata Ezra mengungkapkan Harap dan Rasa kepada saya.

Maha Besar Allah dengan segala ke Kuasaan-Nya..., saat itu dengan naluri yang dimiliki setiap Orang Tua terhadap anaknya, saya dapat menterjemahkan bahasa tanpa kata-kata yang disampaikan Ezra kepada saya. Ezra dalam tatapannya berkata:

"Jangan terlalu mengkhawatirkan saya, saya baik-baik saja, dampingi saya, tak ada yang tak bisa selama Allah membimbing kita".

Sesaat setelah naluri saya menterjemahkan apa yang disampaikan Ezra, dan setelah saya memberikan jawaban kepadannya: "Baik anakku sayang, saya akan berusaha sekuat tenaga", terputuslah kontak mata pertama saya dengan Ezra. Yang membuat saya lebih memahami makna percakapan sederhana dari tatapannya adalah tindakan Ezra yang tertatih-tatih dengan kaki kecilnya menghampiri dan langsung memeluk saya dengan erat sambil mengelus-ngelus pundak saya layaknya seorang dewasa yang menenangkan kegundahan lawan bicaranya.

Demikianlah pengalaman Saya, semoga apa yang saya sampaikan dapat dipetik manfaatnya, bila dirasakan kurang bermanfaat lewatkan saja...

Segala sesuatu menurut ketentuan-NYA...

Salam,

ALB

----- Original Message -----

From: SW

To: peduli-autis

Subject: Pertanyaan ke-empat (was: Harapan ....)

Ada tiga pertanyaan klasik dalam dunia eksistensial:

1. Where are we come from?

2. What do we do?

3. Where do we'll go?

Pertanyaan pertama, gak usah dibahas.

Pertanyaan kedua, apa yang kita lakukan jelas terfokus pada anak-anak autistik kita (titipan-Nya), selain juga berusaha untuk menjalani kehidupan ini apa adanya seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Pertanyaan ketiga, itu masalah keyakinan (agama, kepercayaan, falsafah hidup) yang kita anut.

Nah, buat kita ada pertanyaan keempat: Bagaimana dengan kehidupan (nasib) anak-anak autistik kita setelah kita pergi...?

Berkaitan dengan topik terhangat kita saat ini tentang harapan, tampaknya ujung dari harapan kita semua adalah agar kita bisa (kelak) pergi dengan tenang. Dengan sendirinya kita semua pasti mengupayakan yang terbaik bagi anak-anak kita. Bagaimana dengan konsep berjama'ah lebih baik dari pada sendiri-sendiri? Saya sendiri belum mendapat gambaran yang konkrit dari pemikiran itu, tapi saya pernah memimpikan sebuah 'padepokan' ala SH. Mintareja, dan ada yang justru sudah merintis sebuah komunitas autistik yang mandiri.

Terakhir, Bu Ita mempunyai ide untuk membuat kegiatan produktif yang diorganisir sesederhana mungkin tetapi bisa jalan dan tampaknya punya prospek yang bagus dalam realisasinya.

Sepertinya ini topik yang cukup bagus untuk dipertimbangkan menjadi salah satu bahan 'obrolan' dalam gathering III yang akan datang.

Salam,

SW

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Pertanyaan Ke-empat (was: Harapan ......)

Rasanya harapan anak autis (apalagi yang non-verbal) tidak setinggi harapan orang tua terhadapnya. Hampir semua orang tua berharap agar kelak.... mereka dapat mandiri dan berguna. Menurut saya itu tuntutan yang "cukup" tinggi. Sedangkan harapan anak autis atau yang paling mereka butuhkan dari orang tua hanyalah "perhatian" dan "realistis". That's it.

Di sini, ada pasangan yang sudah tua (suami 70 lebih dan istri 60 lebih) punya anak "spesial" dan sampai sekarang di usianya yang ke 45, sama sekali tidak bisa hidup mandiri. Beruntung anaknya itu bisa masuk suatu lembaga yang membina orang disable. Yang membuat saya kagum adalah setiap week-end, orang tua tsb. datang mengajak anaknya beribadah dan rekreasi. Setiap week-end, tanpa kecuali. Dan ternyata concern mereka saat ini juga sama dengan "pertanyaan keempat" pak Slamet.

Jadi saya setuju sepertinya ini topik yang cukup bagus untuk dipertimbangkan menjadi salah satu bahan 'obrolan' dalam gathering III yang akan datang. Bukan saja bagus, tapi juga mungkin saja ada manfaat yang dapat dipetik.

Salam,

LM



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy