Diet atau tidak

09/11/2005

----- Original Message -----

From: Ni

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] diet atau tidak ?

Dear milister........help me.....smile)

Mohon bantuan untuk menjawab pertanyaan saya yg lagi bingung.....

anak saya tanggal 11 Juni berumur 3 tahun, baru bisa bicara kurang lebih 11 kata (tapi saya ragu ia memahami arti dari yang ia ucapkan), sudah mulai paham perintah sederhana tapi kontak mata masih sulit

Saya lakukan diet terigu dan susu sapi..juga makanan dari coklat, lalu saat gempa yang cukup kuat melanda padang serta adanya isue tsunami kurang lebih sebulan yang lalu kami sempat mengungsi dan tidur diluar rumah..saat itulah dietnya bocor...dia makan apa aza yang ada disana, kue2 dan coklat bekal dari temen yang disana karena sulitnya mencari makanan yang sesuai untuk dia (maklum lagi ngungsi).

Setelah saya perhatikan, tidak ada reaksi apapun dari dia, misalnya jadi lebih aktif atau tantrum..semuanya berjalan seperti biasanya. Saya sendiri memang belum memeriksakan anak saya untuk tes alergi (saya tidak tau apakah di Padang ada?).

Karena tidak memberikan reaksi apapun, akhirnya saya agak longgar memberikan dietnya. Pertanyaannya : apa yang terjadi dengan anak saya? apakah setiap anak autis harus diet? apa yang harus saya lakukan terhadapnya, tetep diet atau tidak karena kadang2 saya suka kasihan juga liat dia.....

Maaf kalo terlalu panjang, sebelumnya saya ucapakan terima kasih sekali atas bantuannya

Bunda Fauzan (umur 3 tahun)

----- Original Message -----

From: HI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] diet atau tidak tergantung kondisi anak

Halo bu Ni,

Tertarik saya untuk menyumbang pengalaman. Terlebih karena saya juga orang Padang (tepatnya Pariaman), cuma saya kebetulan tinggal di Sidoarjo dan bekerja sehari-hari di Surabaya. Kebetulan

kakak perempuan saya juga tinggal di Padang (tepatnya di Tunggul Hitam). Tapi bagi saya menolong orang sekampung itu fardhu ai'n.



Anak saya Hadi Sayudha, umur 7 tahun. Autisnya kami deteksi ketika umur 2,5 tahun. Karena tidak bisa konsentrasi waktu terapi maka kami melakukan diet ketat selama beberapa bulan. Tapi kami kesukaran untuk memberikan makanan pengganti yang kadar gizinya sama, dan lebih repot dalam mengontrol. Awal masa terapi tidak masalah karena waktu terapi tidak tiap hari. Setelah beberapa lama terapi, terapi yang dilakukan mulai intensif tiap hari, kecuali minggu. Kemudian jadwal terapi juga dari jam 8.00 s/d 15.00. Terlihat penurunan kondisi fisik anak saya. Yudha kelihatan loyo dan sering sakit-sakitan. Kamipun kesukaran dalam mencari menu yang sebanding jika tidak diet. Akhirnya kami putuskan diet diperlonggar.



Setelah diperlonggar, Yudha tidak loyo, pikiran kami tidak begitu terkuras dalam mengontrol diet, dan konsentrasi di tempat terapi tidak begitu masalah karena sudah terbiasa dengan model pengajaran di terapi.



Jadi saya berkesimpulan bahwa diet adalah salah satu sarana untuk mengurangi hiperaktif anak agar anak dapat diedukasi. Tapi kalau anak sudah mengerti diperintah dan mau belajar, saya pikir diet dapat

sedikit diperlonggar, tidak usah diet ketat. Tentang kadar diet diperlonggarnya bu Nia mungkin menakar-nakar sendiri dari respon anak. Kalau terlihat ada gejala alergi, tantrum, hiperaktif, atau indikasi

perilaku destruktif mungkin segera direspon dengan mengingat-ingat apa pantangannya yang agak banyak dilanggar hari-hari terakhir, sehingga bisa langsung di-kurangi drastis.



Sekarang Yudha tidak diet sama sekali, kecuali ice cream dikurangi, sedang TK B dan tahun ajaran yang akan datang sudah saya daftarkan SD.

Sekian bu N.

Salam,

HI

----- Original Message -----

From: DO

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: diet atau tidak ?

Sama nih. saya juga pengen tanya hal yang sama. karena saya liat farrel anak saya ga keliatan ada perubahan kalo dietnya bocor. Kalo memang dia bisa bebas makan apa saja ya kebetulan. Karena

sebenernya dia gampang banget, dan doyan semua makanan. Ada saran dan pendapat ga?

DO

----- Original Message -----

From: Li

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: diet atau tidak ?



Yang termasuk dalam kategory allergy itu adalah semuanya yang allergy-allergy sampai yang disebut intolerance. Dari yang bisa memberikan efek langsung sampai pada yang "delayed" (tertunda). Permasalahan dengan produk susu dan terigu bersangkutan dengan leaky gut. Bisa baca di web site putera kembara.

Salam hangat,

Li

----- Original Message -----

From: WW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: diet atau tidak ?

Bu Ni,



Saya juga belum ada biaya untuk membawa Nanda test rambut, darah dan sebagainya. Tetapi karena saya pikir salah satu penyebab dari Autis secara umum yang saya tahu adalah alergi makanan, jadi Nanda sampai saat ini masih diet bahkan 'lumayan' ketat. Kemajuannya adalah bahwa Nanda mengerti ada beberapa makanan yang tidak boleh dia makan dan tidak akan memakannya. Dia akan bilang sendiri: 'Nanda nggak boleh makan permen, nanti nggak bisa bobok"



Demikian saran saya.

Salam

----- Original Message -----

From: LD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: diet atau tidak, tergantung kondisi anak

Pernah berpikir kenapa judul buku yang dipakai referensi pendekatan biomedis yang sering dipakai/disebut2 adalah "Children with Starving brains" ?

Anak-anak dengan otak yang lapar......

Kalo boleh saya tulis hasil kesimpulan saya yang seorang ibu biasa......

(harap yang profesinya dokter membetulkan yaaaaa hihihihihi)

Banyak (sorry kalo pakai term yang relatif) anak2 dalam spektrum yang ternyata fungsi pencernaannya nggak baik, sehingga walaupun intake (makanan yang masuk mulutnya) cukup/tinggi nilai gizi diatas kertas, tapi semua nutrisi yg terkandung dalam makanannya tidak mampu terserap dengan

baik oleh sistem pencernaannya, entah berapa persen yang terserap. Dan sekian persen nutrisi yang terserap tsb didistribusikan ke tubuh, antara lain otak. Nah otaknya ini kurang nutrisi........jadinya ada

istilah "starving brain" Jadi sudah masukin mulutnya PERJUANGAN darah dan air mata serta

mengasah MENTAL dan kantung ibu dan anak, belum tentu ada gunanya......, bisa2 mubazir....

Nah yang susah kan delayed effect yang tidak bisa teramati dengan baik.... Kalo ternyata sedikit demi sedikit mempengaruhi konsentrasi dan tingkat belajarnya menurun (macam nikotin yg sedikit demi sedikit menggerogoti tubuh, trus gimana ?)

Kenapa nggak bisa terserap dengan baik ???? Pernah mendengar penyakit diare????

Ato typhus....., usus meradang dls... Kalo tetap masuk makanan bergizi yang susah dicerna, jadinya usus kayak pipa pembuangan aja kan......, malah kerja usus juga semakin besar, capek.

Mari kita analogkan dengan diet ini, Kalo kurangnya enzym (yang secara natural diproduksi tubuh untuk

memecah peptide -->secara ilmiah kagak tahu gue kenapa sampe produksinya kurang/tidak ada)

sehingga makanan ini nggak bisa pecah sampai sekecil asam amino, terus karena usus yang permiable, jadinya peptide di usus ini lolos ke aliran darah dan terpompa sampai ke otak, trus jadi casemorphin dan

gltenmorphin (pokoknya punya efek morphin pada otak), trus apa yang anda pertahankan ?

Lha wong nutrisi caseinnya nggak bisa keserap lho...., trus buat apa gitu... Makanya kasih aja makanan yang mudah dicerna.....yang rantai glukosanya pendek....(monosakharida ato disakharida). Kalo nilai gizinya dikit, banyakin aja porsinya ato tampah suplemen, gitu .....

Well, itukan cuman kesimpulan saya, yang blum tentu benar.....hiksss

Pernah nggak anda mendengar kalimat ini "Lebih baik menghindari dari menanggulangi ?"

Saya keberatan dengan kalimat ini bapak/ibu dokter.....

Karena "AVOID DOESN'T WORK", di alam bawah sadar kita yang tercatat bukan DOESN'Tnya tapi apa yang mesti kita avoid.

Saya terus terang nggak sependapat dengan slogan-slogan "anti A, anti B" dst "anti NARKOBA" dst.

Buat saya lebih baik slogannya "Hidup sehat, makan/tidur/olahraga teratur"

Sama dengan CFGF ini. Emangnya kita bisa mati and kurang gizi kalo nggak makan/minum casein dan gluten ? Karena kita "avoid" justru kita mikirnya semua derivatif casein and gluten ini.

Kalo anak dibilang "jangan buka2 dompet ibu!", saya jamin pikiran anak akan tergoda "ada apa yaaaaa di dompet ibu???" trus selalu ambil kesempatan untuk checking kondisi memanipulasi aturan ambil kesempatan saat lengah untuk buka dompet ibu. Mending dibilang "Buka dompet ibu itu nggak baik/jelek !" trus diikuti ajakan aktif positif lain "ayuk main petak umpet!"

Beda khannnnnnnnnnnn ???????

Sorry panjang,

LD

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] kalau mau diet....

Kalau mau diet-kan anak, tolong anak diperkenalkan dengan makaann pengganti dulu, dong!

Jangan sampai anak belum ada makanan pengganti sudah dilarang ini dan itu. Wadoh, bisa-bisa busung lapar !!

Contoh, dilarang biscuit coklat 'selamat', sebelumnya saya jumpalitan cari resep bikin kue kering dari tepung beras/sagu dan tapioca dengan rasa coklat yang kurang lebih sama dnegan si "selamat" yang penuh terigu, susu, ragi dan teman-temannya. Resep dicoba dulu (yang bikin Bibi lho, bukan aku), dan begitu jadi, di "oplos" dengan yang asli. Begitu anak sudah terbiasa, si biscuit asli dihilangkan.

Begitu juga untuk menggantikan mi rebus dengan bihun rebus. Mi goreng dengan bihun goreng. Susu sapi dengan susu soya...

Semoga bermanfaat.

Salam,

DP





Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy