Bullying (perlakuan kasar)

08/20/2005

----- Original Message -----

From: BM

To: peduli-autis

Sent: Tuesday, March 15, 2005 2:31 PM

Subject: [Puterakembara] sharing dan mohon saran

Rekan-rekan,



Ivan sekarang ini kan di TK B Umum, yang suka bikin saya sediiih banget..kalo pulang sekolah saya dapat cerita perlakuan teman-temannya ke Ivan. Bayangkan suatu saat ada temannya yang ultah di sekolah, Ivan kasih kado ternyata kado itu diambil.... dibanting..

dan diinjak2 sama temannya... Ivannya bengonnng...aja..yang marah mbaknya ke anak itu.



Memang saya sudah memperkirakan hal-hal tersebut sangat mungkin terjadi di sekolah umum. Walapun secara akademik Ivan melebihi teman2nya, tapi krn Ivan kurang suka berteman dgn mereka jadi sosialisasi dgn teman2nya kurang banget selama ini yang Ivan ajak ngobrol... yach ibu2 atau mbak2 temannya itu, misalnya ada nih teman Ivan amanya shifa kalo shifa belum kelihatan, Ivan tanyanya ke ibunya shifa.." tante shifa kemana sich" kok belum datang"...kebetulan guru2 dan orangtua murid sangat memahami masalah Ivan, tapi teman2 nya lho....aduuh...belum lagi kalo ada yang tiba2 cubit Ivan, langsung ngomelin Ivan....tanpa Ivan tahu masalahnya apa.

Saya pengin deh ngajarin Ivan berantem atau sekedar mempertahankan diri. ya..kalo dipukul balas..gitu..tapi Ivan..selalu diamm kalo dinakalin sama temannya.



Suatu saat saya pengin ajak Ivan ke sekolah umum yang menyediakan 1 kelas khusus...tapi disana Ivan lebih cerewet dan malah banyak tanya ke gurunya..ini dan itu..jadi gurunya lebih menyarankan agar Ivan, untuk perkembangannya lebih baik dibawa ke sekolah umum agar lebih terpacu.. tapi saya nggak tahan dengar Ivan diperlakukan seperti itu oleh teman2nya.



Teman, apakah ada saran untuk membuat Ivan lebih percaya diri..atau paling nggak bisa berkelahi...( maaf agak ekstrim nih)



Terima kasih

Ibu A ( Ivan 6 thn, verbal)



----- Original Message -----

From: YA

To: peduli-autis

Sent: Tuesday, March 15, 2005 8:22 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran

Ibu A!



Saya sedih sekali mendengar perlakuan anak2 di sekolah Ivan, kebayang bagi saya bagaimana nanti kalau anak saya Iqbal masuk ke sekolah umum seperti Ivan.



Saran saya, Ibu temui kepala sekolah atau guru kelasnya Ivan agar para guru yang mengajar di kelas Ivan memberi tahu kepada teman-teman sekelas Ivan kalau Ivan autis dan teman-temannya diberi pengertian supaya berlaku adil dan baik sangka terhadap Ivan. bukannya Ivan tidak mau bergaul ata sombong. Kalau perlu dikasih tahu kepada teman-temannya ketika Ivan tidak ada di kelas. Tapi saja tentu ada plus minusnya dan ada resikonya mudah-mudahan resikonya positif. Hanya itu yang dapat saya sarankan.



Salam

Mamanya Iqbal

----- Original Message -----

From: DN

To: peduli-autis

Sent: Tuesday, March 15, 2005 8:17 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran

Ibu A,

benar anak kita harus kita ajarkan untuk percaya diri, tapi buat anak autis hal itu tentu tidak mudah. Menurut saya selain mendidik dan mengajarkan anak kita, saya pikir lingkungan juga perlu dididik.

Kasus seperti ini juga pernah terjadi pada anak autis di sekolah anak saya, sampe-sampe mereka ngga mau dekat karena takut menular.

Puji Tuhan hal itu ngga sampai terjadi di anak saya karena saya berusaha antisipasi sejak awal.

Saya cukup dekat dengan teman-teman anak saya, dulu ketika baru masuk SD hampir setiap pagi saya datang dan ngobrol dengan teman-teman Jogi anak saya, tentu dengan 'bahasa' anak-anak. Saya berusaha memberi tahu kondisi Jogi dengan bahasa yang simple sehingga bisa diterima anak-anak, susah memang dan tidak bisa dalam waktu yang cepat. Selain itu saya dekati orangtua teman-teman Jogi, sama juga saya berusaha 'mendidik' lingkungan sehari-hari anak saya untuk mengerti kondisi anak saya. Habis mau gimana lagi...



Pernah sekali waktu juga Jogi pulang dan bilang kalau ada anak grade 1 yang nakal dan bilang kalau Jogi stupid (padahal Jogi kelas 3). Dia kayanya sedihhhhh banget dibilang stupid, karena selama ini kami selalu bilang kalau dia adalah anak pintar. Karena itu anak bukan sekelas anak saya, akhirnya saya lapor ke guru kelas 1. Sejak itu Jogi ngga pernah diganggu lagi, kalaupun ada yang ganggu sekarang teman-teman sekelasnya yang belain dia.

Wah.. kalo diingat-ingat awalnya pengen nangis deh bu, coba aja bayangkan anak kita dianggap mahluk angkasa luar :-(

Sekarang malah teman-teman anak saya jadi 'mata-mata' di kelas kalau Jogi ada masalah pulang sekolah mereka telpon saya ke HP saya.

Pokoknya di sekolah saya jadi teman anak kelas 3, temannya ibu-ibu dan partnernya guru-guru, mbak-mbak sampe janitor dan satpam. Habis mau gimana lagi bu, demi anak apapun dilakoni deh ;-)

Prinsip saya 'just do your best and let God do the rest'.

regards,

DN (mamanya Jogi)



----- Original Message -----

From: SS

To: peduli-autis

Sent: Tuesday, March 15, 2005 10:34 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran

Pengalaman Ibu A mirip dengan pengalaman kami.

Kami bersama 6 keluarga Indonesia di Sheffield mengadakan acara pengajian setiap minggu. Anak saya tampak selalu antusias kalo dibawa acara kumpul-kumpul tapi sayang sekali hampir setiap acara pula Hay menangis. Sayangnya dia belum bisa bercerita apa yang menyebabkannya menangis. Tapi belakangan kami ketahui bahwa dia sering dipukul oleh salah seorang temannya. Saya dan juga Ayahnya sering sekali melihat dia memperlakukan anak kami dengan kasar. Anak tersebut beberapa kali mendorong Haytham di tangga. Kalo kami pada saat yang bersamaan melihat kejadiannya, kami pasti melarangnya. Pernah suatu saat kami dan juga orang tua yang lain tak melihat dia menendang Hay sampai Hay terjatuh & menggelinding kira-kira tiga anak tangga, untungnya pada saat yang bersamaan ada anak lain yang duduk ditannga dan menyangga tubuhnya Hay.

Sungguh itu membuat saya ngeri. Anak itu juga sering memukul dengan benda keras. Saya sendiri sampai heran kenapa anak itu sejak awal (dia datang ke Sheffield satu tahun lalu) sepertinya tidak ingin Hay bermain dengan tenang. Akhirnya saya selalu menemani anak saya main atau saya ajak dia mengerjakan fuzzle yang sekarang tampak menjadi "hobi" barunya. Yach, emang sich jadinya nggak bisa ngikutin pengajian dengan full.

Pernah juga saya berpikir untuk tidak mengikuti acara kumpul-kumpul atau pengajian, tapi saya akhirnya berpikir kalo Hay diumpetin di rumah, justru dia tak akan berkembang. terus terang saya sangat ingin dia bisa bergaul dengan anak-anak yang lain tapi saya tak mau dia jadi korban bullying. Kakak laki-laki saya pernah menjadi korban saat dia masih SD, dan akibatnya fatal. Dia sekarang mengalami depresi berat karena masa kecil yang buruk. Sejak th 1992 dia berobat ke dokter jiwa namun hingga sekarang masih tetap depresi. Pernah ia bercerita bahwa dia pernah mencoba bunuh diri pada saat ia berusia 9 th. Sekarang kalo sedang sakit, jangankan berjalan, menguyah/menelan makanan pun tak bisa. Namun Alhamdulillah, setiap dia sakit hanya satu yang tak pernah dia lupa, yaitu sholatnya. Dia biasanya memberi isyarat untuk diwudu'kan sebelum ia

mulai sholat.

Karena pengalaman kakak tsb, saya berpikir untuk memberikan haytham "bekal"

untuk membela dirinya, namun saya sendiripun belum tahu bagaimana.

salam,

S. S (Ibunya Hay, tgl 31 Maret ini akan genap berusia 4 tahun)



----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Sent: Wednesday, March 16, 2005 11:20 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)



Ibu A, Ibu D, dan Ibu S,

Sebenarnya percaya diri dan bisa berkelahi sama sekali bukan pemecahan masalah agar terhindarnya anak-anak 'spesial' kita dari cemooh atau aniaya (teasing dan bullying). Karena memang persoalannya bukan di situ.

Anak-anak kita yang dasarnya memang berbeda dengan anak kebanyakan, memang rawan akan perlakuan cemooh, ejekan atau bahkan intimidasi yang menjurus penganiayaan. Dan ini bisa terjadi di mana-mana, di sekolah (untuk anak yang secara akademik mampu masuk ke sekolah reguler), di tempat kursus atau lingkungan yang lebih kecil seperti yang dialami oleh Ibu S.

Melakukan pendekatan kepada lingkungan sekolah seperti yang dilakukan oleh Ibu D sebenarnya sudah optimal dan cukup efektif, tetapi alangkah baiknya apabila pada Kebijakan DepDikNas yang sudah ada dapat ditambahkan pasal khusus mengenai bullying agar semua sekolah umum (tidak terkecuali) bahkan masyarakat luas juga mengerti bahwa tindakan bullying tidak diperbolehkan.

Seperti Info yang pernah saya forward beberapa waktu yang lalu mengenai Bullying (bahkan sudah diterjemahkan oleh Ibu Lus), issue mengenai bullying sedang hangat dibahas di beberapa negara seperti Inggris, Norwegia, Amerika dan Australia.

Bullying bukan hal baru bagi mereka namun setelah adanya kasus bunuh diri anak-anak berkebutuhan khusus akibat bullying/intimidasi tersebut, pemerintah di negara-negara tsb sepakat untuk secara serius memperhatikan masalah ini.

Sekedar sharing, di Sydney, awal Maret ini kami orang tua murid pada saat pertemuan dengan pihak sekolah sempat dijelaskan bahwa pemerintah Australia sudah memberlakukan peraturan bagi semua sekolah2 untuk wajib memberikan penjelasan kepada setiap murid dalam bentuk modul mata-pelajaran khusus "anti bullying". Setelah adanya sosialisasi mengenai bullying pada setiap murid tanpa kecuali, diharapkan anak/murid sadar dan mengerti bahwa bullying itu melanggar hukum, sehingga jika ada kasus bullying di sekolah maka dapat ditangani secara tegas.

Bentuk penjelasan modul anti bullying kepada murid disesuaikan dengan umur / kelas masing2.

Pagi ini saya dengar di radio ada kasus bullying yang masuk ke-pengadilan.

Terus terang saya selalu prihatin dan sedih (sangat) apabila mendengar cerita tentang bullying, dan saya benar-benar bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan kita sebagai orang tua, yang anaknya dibully, karena sayapun pernah mengalami hal serupa.

Semoga informasi diatas dapat sedikit memberikan harapan bagi rekan-rekan.

PS: Khusus untuk Pak M U, apakah mungkin dapat membantu untuk mengusulkan ke pihak DikNas agar dapat menambahkan pasal mengenai anti-bullying di dalam Kebijakan tsb.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: WW

To: peduli-autis

Sent: Thursday, March 17, 2005 12:40 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Sebagai informasi hari Sabtu (19 Maret 2005) pagi di sekolah anak saya akan diadakan diskusi antara orang tua dan sekolah mengenai bullying dan saya senang sekolah anak saya sudah menyatakan diri komitmennya dengan anti-bullying.

Dalam mata pelajaran "Value" yang sedang diajarkan pada semester ini salah satunya murid-murid harus saling menghormati baik antar teman maupun dengan guru dan sekolah memberikan semacam "respect award" kepada murid yang dalam jangka waktu tertentu berhasil menerapkan respektasi ini. Award diberikan dalam bentuk sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah. Alhamdulillah anak saya, GL, mendapatkan respect award bulan lalu.

salam,

WW



----- Original Message -----

From: DN

To: peduli-autis

Sent: Thursday, March 17, 2005 4:53 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Bu LM,

bukannya saya apatis ya, tapi kalau nunggu Diknas kapan ya? Makanya saya tetap sekuat tenaga deh melakukan pendekatan lingkungan. Kebetulan Jogi ngga banyak ikut kegiatan diluar, dia cuma ikut Kumon aja diluar dan itupun ngga ada interaksi selain dengan guru. Piano juga dia ikut di sekolah, sehingga memang saya cuma perlu melakukan intervensi di lingkungan sekolah dan keluarga saya.

Jogi bukan tidak pernah dibully, dia pernah ditusuk-tusuk pake pensil mekanik oleh teman sekelasnya orang philippina. Tapi ada teman lain yang melihat dan langsung memarahi anak tsb sambil melapor ke guru.

Kebayang ngga kalau saya ngga melakukan pendekatan ke anak-anak itu, mungkin Jogi udah berdarah-darah deh.

Saya masih ingat anak yang membela orang Singapore, dia bilang Hey don't you know that is painful??

Besoknya saya dekati anak yang nusuk Jogi saya ajak ngobrol, eh.. dia belakangan dia malah cerita banyak sama saya sampe2 kalau dia punya barang baru (sepatu, pensil dll) dia pasti laporan ama saya.

Sejak saat itu dia ngga pernah lagi ganggu Jogi, sekali waktu malah dia pernah dipukul sama Jogi, semua teman sekelas dan guru-guru malah tepuk tangan karena akhirnya Jogi 'bisa' marah juga ;-)



Kalau untuk urusan Diknas, saya sih pasrah dan dibawa dalam doa aja. Boro2 membuat pasal khusu ttg bully, untuk menerima anak special need aja walaupun udah ada keputusan tetap aja masih banyak sekolah yang ngga nerima mereka. Di Indonesia seringnya kan peraturan tinggal peraturan.

Mendingan kita mulai dari lingkungan terdekat anak-anak kita aja dulu sebelum Diknas kepikiran kesana.



DN (mamanya Jogi)



----- Original Message -----

From: YA

To: peduli-autis

Sent: Thursday, March 17, 2005 5:20 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Bu LM,



Saya setuju sekali dengan pendapat Ibu. Kalau sudah disosialisasikan ke sekolah dan ada sangsinya maka kita para orangtua dari anak-anak spesial akan tenang memasukkan anak kita sekolah di sekolah umum.

Lihat saja tontonan di TV tentang kenakalan anak-anak di sekolah terhadap sesamanya (bukan anak autis) melakukan cemoohan, ejekan atau bahkan intimidasi terhadap anak-anak yang kurang mampu atau perlakuan kepada anak tiri yang bukan urusan teman-temannya, namun di sekolah teman-temannya ikut mengejek. Kedengkian kepada teman yang lebih pintar sudah ditonjolkan dan si anak punya seribu cara untuk menjatuhkan temannya tersebut

Para sutradara juga perlu meninjau kembali tayangan-tayangan seperti itu, banyak yang tidak mendidik yang mungkin banyak juga ditiru oleh anak-anak sekarang.

Terima kasih



Salam

YA



----- Original Message -----

From: MA

To: peduli-autis

Sent: Thursday, March 17, 2005 7:18 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Repotnyo sih anak2 banyak melihat contoh yang nggak bagus dari orang tua, lihat saja apa yang terjadi di DPR kemarin, sampai baku hantam. di DPR pun bullying jadi masalah. ada domestic violence, kekerasan suami terhadap istri, kesewenangan majikan terhadap pembantu, tayangan kekerasan tv, elemen negatif ini bahu membahu memberikan dampak negatif terhadap anak2. jadi perilaku anak sebagai subsistem,

dipengaruhi oleh sistim yang lebih besar.

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Sent: Friday, March 18, 2005 8:23 AM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Bu DN,

Saya mengerti memang susah mengharapkan sepenuhnya pada pemerintah. Sudah ada semacam perasaan tidak percaya pada pemerintah untuk dapat menangani masalah dengan baik dan tuntas hampir di segala bidang termasuk bidang pendidikan.

Yang namanya perjuangan memang selalu sulit, tapi pasti akan ada hasilnya walaupun mungkin perlahan.

Kebijakan DepDikNas yang baru keluar ini juga, saya percaya pasti hasil perjuangan dari sekelompok orang (saya tidak tahu siapa). Dan karena baru terbit, jadi masih hangat...(belum lagi 6 bulan), jadi masih terlalu pagi untuk mengharapkan kebijakan tersebut teraplikasi secara sempurna di seluruh sekolah.

Baru-baru ini ada surat "contact us" dari seorang Ibu Kepala Sekolah di daerah terpencil yang tertarik pada masalah autis dan ingin belajar banyak mengenai autis, yang ternyata tidak tahu sudah ada kebijakan DepDikNas itu. Ibu itu sangat senang ketika saya kirim via email. Walau sudah terbit, belum semua sekolah tahu/menerima edarannya (mungkin karena begitu luasnya pelosok Indonesia ? ).

Jadi ternyata, walau sudah ada peraturan masih perlu waktu sosialisasi (awareness) yang lama, apalagi kalau tidak ada peraturannya.

It takes time to produce results,,,, but better we have something than nothing.

Salam,

LM



----- Original Message -----

From: MU

To: peduli-autis

Sent: Friday, March 18, 2005 2:35 PM

Subject: [Puterakembara] Re: sharing dan mohon saran (bullying)

Bu LM dan teman-teman senasib,

Saya amat simpati terhadap ibu DN atas tindak kekerasan dan pelecehan terhadap Jogi.Syukur pada Allah berkat perlawanan Jogi dan pendekatan Ibu DN teman-teman Jogi akhirnya bisa sadar!

Saya setuju dengan usulan Bu LM untuk menambah satu pasal Anti-Bullying dalam Kebijakan DepDikNas terhadap anak-anak kebutuhan khusus disekolah-sekolah umum.

Para teman senasib,kita tidak boleh hanya pasrah dan berdoa saja tetapi kita para ortu anak-anak Autis harus terus menerus tanpa putus asa berjuang untuk mengsosialisasikan Kebijakan DepDikNas terhadap anak-anak Autis , yang saya yakin masih belum tersebar merata!!!

Kita harus tetap tekun dan teguh melakukan pendekatan dan penjelasan mengenai anak-anak autis kita pada para Kepala Sekolah, Guru-guru,teman-teman sekelas anak-anak kita bahkan rekan-rekan ortu anak-anak kita agar mereka bisa memahami dan menerima keberadaan anak-anak autis kita ditengah-tengah mereka tanpa melecehkan dan mengganggu secara fisik anak-anak kita yang umumnya cenderung sabar dan

mengalah.Bahkan kadang-kadang Andrew saya sarankan untuk membela diri dan

melawan(Andrew badannya tinggi dan besar), bila dia diganggu secara fisik dan dilecehkan secara berlebihan!!!

Andrew anak saya yang sejak SD sampai saat ini duduk disekolah umum St Y, tidak jarang dalam perjalanan hidupnya dilecehkan dan disakiti oleh teman-teman sekelasnya. Kami berdua sebagai ortu disamping amat sedih dan prihatin serta berdoa;secara proaktif kami senantiasa tiap tahun melakukan pendekatan pada para guru, terutama Guru Wali Kelasnya dan teman-teman sekelas Andrew yang berpengaruh entah Ketua Kelas/Ketua

OSIS/Jagoannya, Kepala Sekolah dan rekan-rekan ortu dari anak-anak yang menganggu Andrew.

Walhasil berkat bantuan dan kerja sama mereka semuanya, pelecehan seperti sebutan Camen (Cacat mental) etc dan gangguan fisik berangsur-angsur makin kurang dan makin kurang.Syukur pada Allah.

Pada kesempatan mendatang jumpa-diskusi informal dengan MenDikNas Prof DR

Bambang Soedibyo saya akan menyampaikan bahwa Kebijakan terhadap Anak-anak

Autis perlu disosialisasikan secara merata dan disempurnakan dengan beberapa butir kebijakan anti pelecehan dan gangguan fisik/mental/moral terhadap anak-anak autis kita!!! Mohon doa restu dan masukan serta usulan lain dari para teman-teman senasib.

Mari kita selalu bermotto "ora et labora", mendoakan anak-anak kita pada Allah Yang Maha besar dan Maha Pengasih serta berjuang terus menerus untuk mengsosialisasikan apakah autisme itu ditengah-tengah lingkungan masyarakat sekolah anak-anak kita

dan dimana saja kita berada;

Agar pada suatu waktu masyarakat Indonesia bisa menerima keberadaan anak-anak autis secara baik dan positif. Semoga ini tidak merupakan impossible-dream berkat ketegaran dan perjuangan kita bersama!!!!!!

Salam hangat dan hormat saya, MU P (Papanya

Andrew, usia 14 Juli mendatang, siswa Kls 1 SMP umum St Y).

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy