Sharing perilaku anak Asperger

08/20/2005

----- Original Message -----

From: Sy B

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Perilaku anak Asperger

Kepada rekan2, tolong barangkali ada yg punya pengalaman atau info tentang autis menjelang remaja, khususnya untuk anak Asperger.

Kami sedang kesulitan menghadapi perkembangan perilaku dan kecenderungan oppositing yg makin kuat pada anak kami, Ammar yg sekarang berumur 12 th 5 bln. Perilaku lebih suka menutup diri dan

menyendirinya makin kuat. Bagaimana mengatasi dan mengarahkannya?

Komunikasinya verbalnya cukup bagus. Cuma suka sekali menentang pendapat apapun yng sdg jadi topik pembicaraan saat itu. Ya, selalu cari pertengkaran, begitu.

Terima kasih.

----- Original Message -----

From: L M

To: peduli-autis

Sent: Sunday, July 24, 2005 11:23 PM

Subject: [Puterakembara] Perilaku anak Asperger

Bapak Sy,

Karena kebetulan anak saya juga Asperger dan seumuran dengan anak bapak (12 tahun), saya mencoba sharing apa yang saya tahu. Walaupun kasus anak bapak belum pernah dialami oleh anak saya, tapi saya pernah membaca sedikit mengenai kasus-kasus anak Asperger.

Masalah terbesar yang dipunyai oleh anak Asperger adalah masalah sosialisasi dan inter-aksi sosial. Dan hal ini akan semakin terlihat dan terasa pada saat dia meningkat remaja. Anak Asperger kurang atau tidak dapat meng-aplikasikan tingkah laku (behaviour) yang sesuai dan selayaknya pada teman-teman dan orang-orang di sekitarnya. Behaviour yang inappropriate (tingkah laku yang tidak sesuai) ini lah yang dapat membuat anak Asperger terlihat sangat rude. Bicaranya yang tanpa basa- basi dan to the point dapat membuat orang lain "kaget" dan tentu saja akan menimbulkan rasa tidak suka pada lawan bicaranya.

Pada kasus anak bapak, Ammar, mungkin saja pada saat temannya mengatakan "hitam", dia memang berpikiran sebaliknya dalam arti tidak sependapat dengan temannya, sehingga dia langsung saja mengatakan "bukan hitam, tapi putih". Anak Asperger tidak dapat berpikir bahwa pendapat orang bisa berbeda. Anak lain yang bukan Asperger, mungkin saja akan bilang: "oh... kamu suka hitam yah...., kalau aku suka putih tuh....." Itu salah satu contoh saja.

Dan karena temannya bukan Asperger, apalagi mereka semua masih anak- anak, tentu saja marah kalau ditentang, sehingga terjadilah pertengkaran. Terus karena setiap pembicaraan selalu diakhiri dengan pertengkaran (yang mungkin Ammar pun tidak mengerti kenapa bisa begitu ?), akhirnya Ammar pun menjadi malas untuk berteman dan bersosialisasi lagi.

Menurut Tony Attwoods dan juga Christopher Gillberg, pada dasarnya anak Asperger mempunyai "ketidak-mampuan" untuk membaca gerak-gerik atau pun mimik orang lain, dalam hal ini lawan bicaranya. Mereka juga tidak mampu untuk menangkap "maksud" dari suatu kata-kata yang diucapkan orang. Ketidak-mampuan anak Asperger dalam membaca emosi dan mengerti pikiran orang lain inilah yang mengakibatkan anak Asperger kelihatannya tidak mempunyai empati pada orang lain (untuk selengkapnya baca artikel Asperger versi Inggris di website puterakembara).

Menurut para ahli, anak Asperger perlu SELALU diingatkan akan teori-teori/tata-cara berinter-aksi, berbicara dengan orang lain (mengobrol). Hal ini harus diajarkan setiap hari (daily life, learning, and teaching). Dalam kasus Ammar, mungkin bisa dikasih tahu bagaimana caranya kalau mau membantah (menentang pendapat teman), bisa dilakukan secara halus dan tidak langsung. Beritahu juga bahwa kebanyakan orang (walau tidak semua) tidak suka pendapatnya ditentang secara langsung. Saya tidak tahu bagaimana comprehension Ammar dalam menangkap cerita/penjelasan secara verbal. Kalau tidak bisa secara verbal, dapat secara visual misalnya: gambar 2 orang yang sedang mengobrol terus ditentang jadi berantem. Terus beri gambar mimik orang yang sedih karena berantem (unhappy).

Bapak bisa juga membuat satu list yang berisi kalimat-kalimat yang harus dipraktekkan bila sedang berbicara dengan teman, mulai dari yang paling sederhana. Dan kalau bisa latihannya seperti main drama dengan melibatkan adik-adiknya (kalau punya). Ada baiknya bukan cuma list kalimat, tapi juga kata-kata yang harus diucapkan apabila ingin mengganti topik misalnya : eh... ngomong-ngomong; eh.. kamu tahu gak ....; kayaknya ..... (misalnya) dan masih banyak lagi. Juga bagaimana kalau ingin mengakhiri pembicaraan secara tiba-tiba dengan cara yang menyenangkan.

Bukan hal yang mudah pak, tapi pasti ada hasilnya kalau kita sabar. Mumpung masih umur 12 tahun pak. Saya mulai kira-kira 3 tahun yang lalu, dan sudah tampak hasilnya

(Puji Tuhan, karena semua ini tak lepas dari karunia Yang Di Atas).

Oh..yah pak, yang juga sangat penting adalah beri pengertian dan penjelasan pada guru dan teman-temannya mengenai kondisi Ammar yang "berbeda".

Semoga bermanfaat.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: A P

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Mohon Info : Anak saya ADHD/ADD atau Asperger ?

Dear all,

Perkenalkan saya Anthony orang tua dari Rianto 9 tahun yang hingga hari ini masih menebak-nebak apakah anak tersebut adhd/add atau malahan belakangan baru ketahuan kalau lebih mengarah asperger. Kami sudah memeriksakan anak tersebut ke Dr mely, Dr Hardiono, Dr Dwijo dll. Tapi belum ada kesimpulan pasti. Mohon info kepada semuanya apakah metode ini dapat mendeteksi seorang anak yang dikategorikan lebih ke asperger dibandingkan adhd/add?

Trims,

A P

----- Original Message -----

From: L M

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Cara mendeteksi Asperger (Re: Mohon Info)

Pak An,

Sebenarnya pada umur 9 tahun akan lebih mudah untuk mendeteksi apakah Rianto asperger atau bukan.

Asperger akan lebih mudah dideteksi di usia 6 - 11 tahun, tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 - 3 tahun. Anak asperger biasanya sama sekali tidak terlambat bicara, punya kosa

kata yang sangat baik, walaupun kadang-kadang gaya bicaranya sangat formal, tidak mengerti yang namanya "bahasa gaul" atau "becanda" atau bahasa "humor dan ironi". Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah dan bisa masuk sekolah umum. Dapat mengikuti pelajaran dengan baik sesuai kurikulum DepDikNas kita yang cukup "aduhai". Berdasarkan pengalaman, bahkan anak asperger dapat berprestasi.

Tantangan atau masalah TERBESAR bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinter-aksi. Walaupun anak asperger sebenarnya suka sekali untuk berteman, tapi gak

bakalan "nyambung" karena subject yang menjadi topik perhatiannya berbeda dengan anak-anak seusianya. Topiknya suka mengarah ke science, computer, nature, planet atau hal-hal yang lebih tinggi dari yang seharusnya dia bicarakan. Itu sebabnya seringkali dijuluki "professor kecil". Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah.

Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU).

Setahu saya (tolong dikoreksi kalau salah), belum banyak dokter di Indonesia yang memahami benar tentang asperger.

Untuk meyakinkan, bapak bisa mencoba dulu untuk mengisi kuesioner yang ada di website Puterakembara (sangat efektif menurut saya):

http://puterakembara.org/asindo.shtml - Asperger Syndrome menurut Skala Australia

atau sekedar baca-baca mengenai asperger

http://puterakembara.org/apaas.shtml - Apakah Asperger Syndrome itu ?

atau sebenarnya banyak sekali informasi di internet, ada yang cukup bagus menurut saya,

http://www.autism.org/asperger.html

Asperger's Syndrome Written by Stephen M. Edelson, Ph.D.

Center for the Study of Autism, Salem, Oregon

http://www.udel.edu/bkirby/asperger/

Online Asperger Syndrome Information & Support (O.A.S.I.S)

Semoga membantu, juga buat rekan milis yang lain yang sedang ragu-ragu mengenai anaknya masing-masing.

Salam,

L M

----- Original Message -----

From: R G

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing Asperger

Dear Bu LM,

saya sangat setuju dengan pendapat itu dan sangat mendukung, karena putera kedua saya mengidap Asperger dan ciri2nya persis seperti itu. Sekarang meskipun tetap "Freak" tapi dia ternyata mampu masuk ke Universitas.

Betul sekali sosialisasinya tetap mengalami kesulitan tapi anak saya mampu mengatasinya, Saya rasa itu yang paling penting anak diajarkan untuk bisa mengatasi permasalahan yang datang pada dirinya.

Salam,

RG

----- Original Message -----

From: Ind

To: peduli-autis

Subject: Re: Sharing Asperger



Ibu LM dan Ibu RG,



Penjelasan Ibu LM tentang asperger banyak persamaannya dengan anak saya Aldi, saat ini hampir 6 tahun. Saya akan berterimakasih sekali jika Ibu RG bisa sharing mengenai putra ibu dalam melewati masa kanak-kanak, masa remaja, hingga kini di universitas.



Salam,

Ind

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing Asperger

Bu RG,

Bisakah sharing mengenai putera ibu dalam melewati masa remajanya hingga kini di universitas.

Pasti akan sangat membantu rekan milis lain yang mempunyai putra/putri asperger (saya tahu ada walau tidak banyak).

Terima kasih.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: R G

To: peduli-autis

Sent: Friday, April 22, 2005 8:37 PM

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing anak asperger

Makasih bu LM atas perhatiannya, maaf nih baru bisa muncul lagi, Iya menegenai perjalanan Lesmana semasa remaja.

Ini betul2 masa yang terberat, mulai sejak anak menginjak usia 12 th, karena mereka sendiri sudah mulai menyadari di"Kucil"kan oleh teman2nya paling tidak dianggap aneh. Apalagi guru.....wah sepertinya tiada hari yang saya terpaksa harus menjelaskan apa yang diperbuatnya seperti me"ngecat" bangku sekolah dengan type ex , mengukir bangku sekolah.......pulang semau dia saat guru marah atau saat ditegur oleh guru.

Senang menjanjikan sesuatu tetapi tidak dijalankan, atau marah besar saat ditanya mengapa datang terlambat disekolah.

Bagi Lesmana "mungkin" yang ada dibenaknya mengapa orang dewasa senang membuat hidupnya susah???? Mengapa begitu banyak aturan yang harus saya lalui.... padahal urusan akademis saya kan cukup OK?????? Hal itu membuat dia kurang bisa menerima...... disisi lain dia sangat sensitif...... jadi kalo kita betul mengenal dia..... maksud saya dirumah dia sangat manis dan malah penurut..... itu yang kadang membuat saya pusssssiiiiiing tujuh keliling......... tapi saya mencoba untuk selalu minta "Excus" ke gurunya.

Seliwat dari jenjang SMP ternyata "Excus" itu semakin tidak diperhatikan semntara anak masih menuntut perhatian dari sekitarnya...... anak masih sangat moody..... tapi sikap anak lain tentunya semakin dewasa sehingga .....sikap Lesmana yang tetap kekanak-kanakan semakin terlihat...... terutama tidak pernah berani untuk pergi keluar rumah....... sendiri (Saat ini sudah bisa), kalo saya tanya "Mengapa".... maka jawabnya saya malas menjawab kalo ditanya orang......... bila saya katakan "tapi kamu kan juga selalu menjawab kalo mama yang tanya" Maka jawababnnya..... "Karena Mama bertanya yang mudah"........ oooooo..... my.... God....... what shall....I....do........itu yang ada pada diri saya saat itu.

Sulit sekali memang..... tapi tetap saya mencoba mengantar Lesmana kesekolah SMA gitu lo........... seperti masa kanak2 dia, saya antar sampai dia duduk dikelas. Sayangnya hal ini tidak bisa berjalan lama....karena teman2nya dan gurupun mulai melihat "Miring" pada dirinya....dan ini yang membuat dia malas untuk sekolah.

Meskipun pada suatu hari dia menemukan.... seorang "sahabat" wanita di SMA tersebut....dan ternyata dia mencintai wanita tersebut......... ooooo God kita semua

kaget dan ayahnya mulai merasa ketakutan dengan gaya dia berteman..... kami sangat takut dia meng"Hamili" teman tadi..... apalagi mereka pandai sekali mencari rumah kosong....pernah kita mencari dia sampai tengah malam, ternyata sedang berdua disuatu rumah kosong bersama wanita tadi......... wah.... membuat kami makin kalut.... karena semakin kita marah sepertinya ada titik kesengajaan bagi dirinya untuk semakin berbuat...... kamipun semakin putus asa..... sehingga pertenggkaran diantara kami sebagai ortu tidak bisa dihindari lagi....... sayang sekali ........ kamipun berpisah.

Lesmana ternyata bisa menerima dengan baik kondisi ini....justru kami sebagai ortu merasa terpacu hingga masing2 putar otak untuk mencari yang terbaik bagi Lesmana. Saat itu kami menyadari bahwa memang belum ada sekolah di Indonesia saat itu yang mampu mengatasi perilaku anak seperti Lesmana.... karena memang menyulitkan....... untuk itu saya relakan Lesmana untuk dibawa Ayahnya ke LN (Jerman)...... disitu setelah dites.....memang secara mental Lesmana tidak mampu masuk sekolah tinggi (Highschool) tapi bila dilihat secara IQ 142 berarti dia mampu donk........ akhirnya kita dengarkan masukan2 dari semua ahli pakar perkembangan anak yang terdiri dari Dokter syaraf, psikolog, dan para terapis...... yang mengatakan sebaiknya Lesmana di ikutkan di sekolah kejuruan....... sementara dia harus ikut terapi Bahasa....... sambil kita perhatikan perkembangannya saat itu Lesmana berusia 17 th. Akhirnya kami tempatkan Lesmana sebagaimana pakar itu bilang.... kita carikan sekolah yang hanya 50 m dari rumah sehingga dia sanggup pergi sendiri dan tempat terapipun tidak terlalu jauh......disitu Lesmana mulai belajar pergi sendiri.

Selesai sekolah kejuruan Lesmana masih rajin ikut terapi, juga mau bekerja, sepertinya dia enjoy dengan pekerjaannya membuat furniture....... pada saat dia mendengar adiknya lulus SMP di Indonesia......dia secara spontan berkata ingin masuk SMA juga padahal

usia dia sudah 22 th, tapi kami tanpa ragu2 mencarikan dia SMA atau highschool di kotanya...... untung ada yang mau menerima itupun sekolah sore yang hanya dikunjungi oleh pekerja2 asing.....tapi terlihat Lesmana mulai terpacu..... untuk lebih serius..... melihat hidupnya........ Dan sekarang Lesmana sudah duduk di semester 4 kuliah programming.

Kami sekarang sering berdialog melalui telpon, ini bukan hal yang mudah bagi Lesmana.......tapi yang penting bagi saya, Lesmana mengetahui kesulitannya.....dan mau berusaha......mudah2an Tuhan selalu akan memberi petunjuk bagi Lesmana.... untuk bisa mandiri......

Ini sekelumit cerita dari Lesmana........ beda Lesmana dengan Oskar. Lesmana tidak pandai membuat kalimat sehingga dia malas menulis.... apalagi menuliskan tentang dirinya......... tapi dia senang bikin kue...... sehingga bila ada diantara kami ulang Taun

maka Lesmana sibuk membuat kue bagi kami....wink

Salam,

RG

----- Original Message -----

From: Ind

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing anak Asperger

Dear Bu RG,



Terima kasih sharingnya yang menambah semangat dan harapan bagi saya. Semoga sukses kuliah Lesmana dan tercapai cita-citanya dan ibu sekeluarga.



Salam,

Ind

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing anak asperger

Salut dengan kisah perjuangan Lesmana yang telah berhasil menemukan jati dirinya, dengan bimbingan orang tua. Saya semakin sadar bahwa tidak ada satupun anak autis/asperger yang sama persis. Mereka begitu unik, dan masing-masing mempunyai kekurangan serta kelebihan di bidang yang berbeda, sehingga kita harus jeli dalam mengenali interest si anak untuk dapat dikembangkan.

Terima kasih sharingnya bu.

saya turut mendoakan semoga Lesmana selalu dibimbing olehNya untuk bisa semakin mandiri, bisa berkarya, serta tentunya bahagia. Tiada kekuatan yang lebih besar dari pada bimbingan dan kasih Tuhan.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: SDR

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing anak asperger

Kepada sesama orang tua anak asperger,

Sangat menarik mendengar pengalaman ibu ratih (ibunya lesmana) saya pun mengalami pengalaman serupa anak saya Zakaria biasa dipanggil jaka seorang anak asperger sekarang berusia 13 tahun dan duduk di kelas SMP kelas 1 di SMP negeri 29 Bandung.

Sekarang merupakan masa yang paling berat karena pelajaran di sekolah semakin sulit dengan kurikulum yang sangat sulit jangankan untuk anak -anak spesial untuk anak normal pun cukup merepotkan. Tadinya jaka tidak pakai guru pendamping tapi sekarang mulai sering tantrum lagi karena sering menjadi bulan-bulanan kawannya yang sering mengolok-olokannya karena memang cara dia bergaul sangat berbeda dengan anak sebayanya.

Di bandung sendiri belum ada sekolah khusus untuk anak-anak special. Yang membuat saya pusing sekali yaitu dia sangat ingin disamakan dengan anak normal sehingga dia tidak mau dipindahkan ke sekolah lain atau ikut program homeschool sehingga dia sangat rajin kesekolah walaupun secara akademis dia tidak dapat mengejar sistem pelajaran KBS.

Pada tahun 2000 sebenarnya dia pernah saya bawa ke Perth dan didiagnosis oleh Yura tender yang menyatakan bahwa dia mempunyai IQ 140 akan tetapi karena penyampaian pelajarn disekolan sangat klasical maka the messages tidak bisa dimengerti oleh dia.

Begitulah masalah saya mudah-mudahan ada yang bisa membantu saya

SD

----- Original Message -----

From: RU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing anak asperger

Anak saya Gamal, remaja 14 tahun juga Asperger. Sekarang kelas 2 SMP, juga sering mengalami gangguan dari teman-teman di sekolah karena dianggap aneh di pergaulan.

Saya dan istri selalu menghadapi tantangan bagaimana memberi pengertian kepada Gamal agar dapat mengendalikan kemarahannya bila menghadapi olokan-olokan teman-temannya. Juga berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan para gurunya di sekolah untuk dapat memberi pertolongan di dalam hal memberdayakan si anak, seperti lebih sering memberikan perintah-perintah dalam bahasa "visual" disamping "verbal". Memang gurunya terpaksa harus agak berusaha extra.

Beberapa guru memang mengkomunikasikan seperti yang kami harapkan kepada Gamal, tetapi tentu tidak semua karena para guru tsb juga sangat sibuk dimana ratio guru -murid di sekolah kami 1:30. Yah itulah tantangannya kita sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus.

Salam

RU



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy