Bijaksanakah aku?

01/14/2005

----- Original Message -----

From: "HS"

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Bijaksanakah aku?

Teman-teman Milis yang budiman

Dari hari kehari aku melihat Farhan anakku, hati ku semakin miris, bagai mana nasibnya kelak, bisakah ia

mandiri ? bisakah ia berinteraksi dengan sesama ? Sedang di usianya sekarang (4 tahun 10 bulan) ia belum bisa merasakan bagaimana indahnya masa bermain untuk seusianya, belum bisa merasakan indahnya berteman dan masih banyak belum bisa - belum bisa yang lain yang mungkin masih banyak.

Kapan semua itu akan ia rasakan ? di masa remajakah ? atau malah di masa dewasanya baru ia dapatkan? Sedih rasanya melihat ia tertawa sendiri, berbicara sendiri, meracu dan banyak lagi hal-hal yang membuat hati ini semakin teriris.

Terlintas di pikiran untuk menyekolahkan ia ditempat yang jauh, di asramakan, dididik oleh ahlinya, tetapi harus terpisah dengan kami, bijaksanakah kami sebagai orangtuanya? memisahkan ia dengan kami, sementara anak-anak lain seusianya bahagia dengan orangtia-orangtua mereka.

Teman-teman Milis khususnya yang tinggal di Yogya, benarkah di sana ada tempat pendidikan untuk anak2 autis yang diasramakan?

Mungkinkah aku menyekolahkan anakku di tempat yang jauh seperti itu, Jakarta - Yogya bukan jarak yang dekat.

Ya Allah Ya Rabb....Maafkan aku...

Wassalam

HS (Papahnya Fajari Farhan)

----- Original Message -----

From: Dwi P

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tanyalah Hatimu /Re : Bijaksanakah aku?

Buat saudaraku yang sedang galau,

Jangan gusar dan janganlah ragu, percayalah bahwa Farhan lahir ke dunia ini pasti mengandung hikmah. Jangan pernah membandingkan, apapun yang kita miliki dengan yang orang lain miliki. Yakinlah, karena semua kami di sini pernah mengalami situasi seperti itu. Karena itu kami percaya, pasti akan

ada titik terang setelah kesulitan yang menghadang ini.

Saudaraku,

Jika kegusaran itu tetap berada di hatimu, cobalah kembalikan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, mengadulah kepadaNYA, curahkan keluhan dan rasa yang terperi di dalam hati kepadaNYA. Jadikan tetes-tetes air mata kita menjadi saksi betapa kita ini hanya mahlukNYA, yang lemah dan tak mampu berbuat apa-apa selain dengan izinNYA. Jadikan titik-titik airmata yang membasahi sujud kita, menjadi saksi penyerahan diri kita secara total terhadap ilahi.

Jadikan curahan air mata kita menjadi bukti betapa takutnya kita akan azab Allah, bila menyia-nyiakan amanah yang telah dipercayakannya kepada pribadi-pribadi istimewa, yang dipilih dengan bangga olehNYA. Saudaraku, jadikan keluarnya air mata itu sebagai bukti, betapa kita sangat berharap

akan pertolonganNYA. Jangan pernah berhenti berdoa saudaraku....

Saudaraku,

Jangan pernah berpikir apa yang akan terjadi di hari depan, lakukanlah apa yang terbaik yang bisa dilakukan hari ini. Karena sesungguhnya hari depan yang kita cita-citakan, sangat ditentukan oleh apa yang telah kita lakukan hari ini. Jangan pernah berputus asa dari nikmat Allah, sesungguhnya hanya

orang-orang yang sesat saja yang senantiasa berputus asa dari rahmat Allah.

Saudaraku,

Jangan pernah mencari kebahagiaan dan kebaikan itu di luar sana, karena sesungguhnya kebahagiaan yang dicari ada di dalam hati ini, yang akan kita ketahui sendiri solusinya. Dengan hati kita akan tahu permasalahan sesungguhnya dari anak kita. Dengan hati kita akan bangga apapun kondisi anak kita. Dengan hati kita akan tahu kekurangan anak kita. Dengan hati kita mampu menerima secercah cahaya yang memberikan energi yang tak terhingga banyaknya tuk mengahadapi situasi apapun.

Saudaraku,

Tak ada kata terlambat, kita pasti bisa menghadapi semuanya dengan baik. Yang diperlukan Farhan adalah perhatian, sedikit simpati dan menyelami dunianya. Jangan ia yang harus menyesuaikan, tapi diri kita yang harus disesuaikan. Insya Allah, kelak Farhan akan mampu masuk ke dunia yang kita

cita-citakan bersama. Berkacalah kepada orang lain, belajarlah dari rekan lain, namun jangan lupa belajar juga memahami diri kita dan dunianya, yakinlah setelah itu, ia akan segera tahu bahwa ada orang tua yang menyayangi, yang pasti lebih baik dibandingkan dunianya selama ini.

Selamat berjuang saudaraku, dan selamat mencari kemurnian hati, agar semua onak dan duri mampu kita hadapi.

Dwi

----- Original Message -----

From: Id

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?



Sekedar saran,

Saya tidak tahu persis kondisi ananda Farhan sekarang, Mungkin sama dengan kondisi Syauqi pada saat itu, bisa lebih buruk (maaf) atau bahkan jauh lebih baik.

Tetapi saran saya kok lebih baik dekat dengan orang tuanya, berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman-teman yang lain (????), anak-anak yang seperti anak kita itu sangat dekat dengan orang tuanya terutama ibunya.

Dan saran saya yang lain, perlakukanlah ananda dengan hati (penuh kasih sayang) baik oleh orang tuanya maupun oleh guru (+ terapist), jadi tidak semena-mena dengan ilmu pengetahuan baik bidang kedokteran maupun bidang pendidikan, saya kok yakin hasilnya akan sangat luar biasa, jauh dari yang

kita perkirakan.

Yang terakhir (yang saya sendiri belum bisa melakukan dengan penuh dan sepanjang waktu, dan akan tetap berusaha untuk bisa melakukan), ikhlaskan kondisi tersebut, karena semata-mata kehendak Alloh SWT, mungkin sebagaimana Alloh membuktikan kebesarannya pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu di Aceh dan sekitarnya.

Soal hasil, itu bukan wewenang kita, Alloh punya hak penuh.

Sekarang mari kita berjuang bersama.

Terima kasih,

----- Original Message -----

From: Ai

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

Maaf pak Herry,

Saya pribadi tidak akan tega dan tidak akan mau tidak bertemu dengan anak saya walau hanya satu malam, lebih2x pisah dengan jarak yang cukup jauh .....bisa gila saya. Pak bila ia didekat kita, kita akan dapat melihat perkembangan dan melihat reaksinya baik atau buruk mungkin bapak bisa coba cari ke tempat 2x lain alternatif misalnya saya juga sedang berusaha tetapi kemarin saya kiberitahu oleh seorang dokter gigi yang anaknya kena autis juga, ia coba alternatif totok jari hasilnya anaknya kemajuannya pesat sekali dan tidak sakit, maaf ya pak kalau saya ceramah tetapi bapak bisa

coba terlebih dahulu karna kita hanya berusaha dan tuhan yang menentukan

Best Regards

Mama Dzaki

----- Original Message -----

From: SW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

Salam,

perasaan Pak Hery pernah juga saya rasakan. Pokoknya dilihat dari semua sisi, masa depan anak kita suram, nggak jelas, dan makin hari membuat kita semakin tertekan. Masa depan (pernah dibahas di sini) memang milik anak-anak tidak bermasalah. Milik anak-anak yang cerdas, sehat, dan bersemangat. Lalu

masa depan macam apa yang menunggu anak kita? Sedih.

Lalu Bu Ita menulis : " Mereka baik-baik aja, kok. Kita aja yang mencemaskan mereka karena mempersepsikan mereka ke dalam wilayah normal ". Tidak persis begitu, sih. Tapi itulah pencerahan yang saya dapatkan. Mereka memang diciptakan lain. Dunia mereka lain. Perilaku mereka lain, dan tentu saja apa yang mereka pikirkan juga lain. Dan di atas semua itu, Allah mempercayakan kita untuk membesarkan mereka. Lalu saya mulai belajar memahami anak saya apa adanya. Saya belajar dan berusaha masuk ke dunianya, mengikuti cara bermainnya, menghargai usaha-usahanya untuk diterima dan memahami ketidakmampuannya untuk berkomunikasi secara wajar.

ALHAMDULILLAH, dengan 'menikmati' menjadi orang tua anak yang spesial, sekarang ini banyak yang tidak percaya kalau anak saya autis karena anak saya (Avie Rushina 6, 3 th) mendapatkan kemajuan yang pesat dalam mengatasi perilaku autistiknya. Bagi yang sudah tahu, banyak yang menghargai

perjuangan kami untuk mencapai hasil seperti sekarang ini.

So, Pak Hery.. ini bukan masalah bijaksana atau tidak. Saya tidak yakin anda akan tenang dan bisa hidup "bahagia" jika anda berpisah dengan Farhan. Saya yakin, suatu saat anda akan mendapatkan pencerahan, apapun bentuknya, yang akan membuat Pak Hery bisa menikmati menjadi orang tua Farhan. Barangkali untuk awalnya, hal-hal berikut bisa direnungkan: (ini juga pernah dibahas di milis ini) entah siapa yang menulis. 1. Tidak ada jaminan anak normal akan sukses! (koruptor, penjahat kakap sampai teri bukan dari kalangan anak autistik). Dan itu membuktikan bahwa potensi menjadi orang tua

(penyebab) calon-calon amoral lebih besar jika anak-anak kita normal. 2. Sekian banyak ilmuwan penemu (Einstein, Edison, dll.) punya sejarah autistik di masa kanak-kanak mereka. Itu fakta yang jelas, meskipun tidak setiap anak autistik adalah jenius.

Masa depan? Kita wajib berusaha, Allah juga yang akan menentukan segalanya.

Maaf jika ada kata yang tidak berkenan.



Bapaknya Avie Rushina.



----- Original Message -----

From: Muk

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

Pak H,

Jangan memelas dan meratap begini dong, keep your head up, kalo pak Hery sudah lemas kayak gini, gimana bisa memeberikan dorongan kepada Farhan, bahkan kita harus lebih kuat dari orang2 tua yang punya anak normal, karena kita akan banyak sekali membutuhkan energi dalam jangka panjang untuk anak kita.

Saya gak sependapat dengan bapak yang mengatakan bahwa Farhan tidak merasakan indahnya hidup, karena tidak bisa bermain dengan teman2 seusianya. bisa jadi Farhan lebih bahagia dibanding dengan anak2 norma; yang lain, kalo bapak sudah mengenal Farhan dengan baik, Bapak akan dapat melihat dari sinar matanya, apakah dia bahagia atau tidak.

Jangan memaksakan diri untuk menggunakan ukuran "normal" dalam menilai anak kita, masukilah dunianya, dan kita akan tahu bagaimana membuat anak kita bahagia.

Pilihan mengasaramakan Farhan, bukanlah hal yang baik, kemungkinan akan terjadi putusnya hubungan emosional antara Farhan dengan bapak.

OK yang semangat ya, jangan lemas2 lagi, masih banyak yang bisa kita lakukan.

Salam,

Muk

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Bijaksanakah aku?

Pak H,

Menjadi orangtua tidak mudah. Apalagi kalau diberi anugrah anak autistik. Tapi Tuhan maha adil dan maha pemurah. Cobaan apapun yang diberikan pasti tidak lebih dari batas kemampuan kita untuk mengatasinya.

Bukan promosi, tapi bila bapak baca buku saya, bapak akan paham bahwa saya tidak hanya bicara saja. Saya sudah mengalami begitu banyak hal, ibaratnya saya sudah dibanting-banting karena naik roller-coaster.

Sekarang-pun kalau ditanya masa depan anak saya, saya hanya akan tersenyum miris sambil berkaca-kaca karena saya tidak tahu jawabannya. SEmua orang yang melihat sikap saya akan mengelus punggung saya dan mengatakan "semua nanti ada jalannya", "tuhan pasti sudah menyiapkan

sesuatu untuk ciptaanNya yang maha indah ini".

Enak kedengarannya, tapi menjalankannya setiap hari? Waduh, sulitnya.

Tapi...sesudah anak saya semakin besar, semakin menjelang dewasa, rasanya segala hal yang berantakan di masa lalu tidak terlalu berarti dibandingkan kenikmatan yang Tuhan berikan kepada saya saat ini. Jangan lupa pak, anak saya sudah hampir 14 tahun, belum bisa bicara, tidak bisa bersekolah di sekolah umum, tapi sudah mampu baca-tulis-hitung, dan sekarang sedang belajar mengirim sms. Dia bisa bercanda dengan gurunya, menolak apa yang tidak ia sukai, malu-malu memperhatikan gadis pujaan hatinya, dan tertarik pada vcd yang covernya gambar erotis.

Anak saya tidak sebaik anak lain yang meski autis tapi bisa sekolah regular dan bicara lancar, tapi anak saya tahu dengan pasti bahwa saya sangat sayang kepadanya.

Memang saya bercita-cita membuka asrama untuk anak remaja autistik. Tapi tidak untuk menjauhkan mereka dari orangtuanya. Maunya saya, setiap week-end anak pulang ke rumah orangtua dan bisa beraktifitas seperti biasa.

Kalau bisa sih, anak-anak hidup damai sejahtera bersama sanak kerabat seperti anak normal lain yang belum mandiri berkeluarga. Itu kalau bisa.

Salam hormat,

DP

----- Original Message -----

From: HT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

Pak H yang Budiman,

Saya bisa merasakan kerisauan bapak. Saya juga merasakan hal yang sama, tetapi demi kasih terhadap si kecil kita harus tetap tegak dan berusaha yang terbaik baginya. Siapa lagi yang bersedia melakukan pengorbanan yang terbesar kalau bukan orang yang mengasihinya sendiri.

Dari internet saya membaca begitu banyak pengorbanan dan perjalanan yang sudah dilakukan orang tua untuk anaknya yang autism yang membuat saya terharu. Dan dari milis2 termasuk milis ini saya membaca betapa kasihnya mereka terhadap anak2nya bagaimanapun keadaannya.

Kalau saya perhatikan autism adalah biochemical desease. Harapan yang ada sekarang mengenai penyembuhan adalah berdasarkan research tersebut. Sehingga yang penting adalah mendidik diri kita sendiri untuk bisa mengurus anak kita. Dan dalam pelaksanaannya setiap detail dalam hidup anak kita harus diperhatikan apa dan interaksinya dan harus ada cukup kasih yang besar untuk melaksanakannya dan memotivasi diri kita sendiri, keluarga dan juga anak kita, keluarga atau group mana lagi yang paling cocok untuk membantu anak kita?

Tidak usah memikirkan perawatan yang mahal dulu, saya sendiri kalau ke therapy dan dokter terus2an juga bisa jebol kantongnya....

Mulai dari yang bisa dilakukan.... saya perhatikan kalau soal diet, kalau mau sederhana bisa dilakukan sederhana, tidak usah mahal2. Mulai dari masak2 sendiri masakan yang sederhana dan menuruti anjuran2 diet tersebut, back to basic tidak usah dikasih macam2 perasa karena setiap bahan yang sudah dioleh biasanya ada bahan yang tidak bisa ditoleransi anaknya.

Untuk vitamin2 itu memang necessary tetapi anak saya juga belum bisa masuk semuanya, satu dua macam saja susah sekali. Dengan diet dia sudah banyak kemajuan.

Untuk therapy2 itu khan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kita inilah therapist yang best of the best. Harus banyak belajar bermacam penemuan dari buku, internet, sumber lainnya dan menjaga supaya kita tetap punya semangat tinggi - baca2 pengalaman orang lain atau ikut milis.

Ada juga anak autism yang menjalani semua proses ini dan setelah besar meraih gelar Ph.d saya lupa namanya. Dia menerbitkan buku dan mengadakan seminar2.

Kalau sampai ada anak yang bisa keluar dari autism, yang nempel dikepala saya adalah bagaimana perjalanan perjuangan orang tuanya.

Semoga menambah semangat pak H, saya ikut berdoa untuk keluarga pak H.

Salam

----- Original Message -----

From: PS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

yth. Bapak H,

Tahun pertama sejak anak kami terdeteksi autis (usia 2 th) setiap malam ! saya pandangi anak saya yang terlelap, menerawang membayangkan masa depannya tak terasa air mata ini meleleh turun (di keluarga, saya terkenal paling keras hati dan seingat saya tak pernah diri ini meneteskan airmata) .... setiap malam saya menangis! ......... sampai akhirnya hanya rasa pasrah . Namun dalam kepasrahanlah saya dapat kembali berfikir : Anak saya tidak butuh Air Mata ! Anak saya tidak butuh tangisan saya !

Air mata, tangisan, rasa malu, tertekan, depresi, stress kiranya tidak bermanfaat bagi anak saya, lalu buat apa saya pertahankan?? justru terpikir oleh saya, Allah sang Khaliq sedang mempertanyakan dan menguji ketegaran hati saya. Rasa syukur yang dalam saya panjatkan kehadirat Allah yang selalu mengingatkan hamba-Nya. Sedikit ngelantur ya Pak Hery untuk sekedar sharing.

Perihal niatan yang terlintas di pikiran Pak Hery saya memberikan pendapat yang agak berbeda dengan rekan milis lainnya. Mengirim anak Bapak ke tempat therapy yang berjauhan dengan Bapak saya rasa tidak sepenuhnya keliru sebatas Bapak yakini itu yang terbaik buat anak Bapak (tentunya melalui survey perbandingan ke tempat-tempat therapy lainnya), justru Bapaklah yang harus mempersiapkan diri dan tabah hati berjauhan dengan buah hati kita. Menurut saya, Bapak juga harus lebih mempersiapkan diri belajar untuk masuk dan menerima dunia autis di kehidupan kita (yakinlah Pak kalau kita pelajari dunia yang satu ini tidak kalah menariknya dengan dunia kita).

Akhir kata, tetap bersabar ya Pak Hery tetap berupaya buat yang terbaik bagi anak-anak kita, mudah-mudahan kita senantiasa dapat mensyukuri atas segala sesuatu yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Wassalam

ps

----- Original Message -----

From: AB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?

Salam temans,

Sekitar 2 tahun yang lalu saya pernah ditelpon seorang ibu yang anaknya sudah berumur diatas 23 tahun. Anak ini diasramakan di Malang. Ketika ibunya telpon di bulan Desember, ibunya juga merasa sedih, karena tidak saling mengenal dengan anaknya ini. Padahal anak sudah berada sekitar 1

mingguan di rumahnya. Ia mencari dokter yang bisa menangani anaknya. Tetapi sulit sekali, karena semua dokter waiting list dan tidak ada pendaftaran mendadak. Anaknya baru bisa BAB kalau sudah 3 - 5 hari. Menurut susternya itu sudah terjadi 10 bulan terakhir.

Ia merasa asing dengan anaknya dan semua kebiasaan anaknya. Demikian pula anaknyapun merasa asing dengan ibunya dan semua lingkungan rumah ibunya. Anak hanya diberi 1 orang suster pendamping dan suply dana setiap bulan. Bila acara liburan di asrama, teman-teman lain dijemput keluarga, anak ini sendirian di asrama. Mulailah ia tantrum berat. Ibunya hanya menjemput

pada waktu libur Natal sampai Tahun Baru. Padahal ada banyak libur lain dalam setahun.

Saya hanya mencoba merasakan menjadi anak. Rasanya ia memiliki kerinduan juga terhadap orang tuanya. Jadi perasaan itu pasti ada di dalam hatinya. Walaupun pada awalnya ia belum mengerti mengenai hubungan orangtua - anak. Tapi kita bisa menumbuhkannya dengan pertemuan setiap hari.

Saya bertanya kepada Ibunya. Anak adalah titipan Tuhan. Bila ajal sudah datang, apakah jawaban kita kalau Tuhan bertanya : Apa yang telah kau lakukan untuk titipan KU? Pecahlah tangis ibunya. Seandainya waktu boleh diulang kembali ......., katanya.

So....pasang surut kita semua rasakan. Tetapi mintalah kekuatan kepada Tuhan. Pasti Ia akan berikan kekuatan itu. Kita semua berteman. Kita boleh saling mengingatkan, menghibur dan menguatkan. Orang tua adalah kunci bagi anaknya.

Maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.

Salam,

AB

----- Original Message -----

From: WH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Bijaksanakah aku?

Dear Pak H,

Anak saya sekarang sudah 12 tahun, non verbal, konsentrasinya sulit sekali masih suka tantrum

badannya besar sekali 58,5 kg, bangunnya antara jam 2 - jam 4 pagi, tidak bisa sekolah umum, kami berdua dengan istri juga tidak tahu masa depannya akan seperti apa. Yang kami lakukan kira-kira 8 tahun yang lalu, waktu itu ada seminar di Semarang waktu itu bu DP dan bu MB pembicaranya. Ada sepotong puisi yang sangat berarti bagi kami yang intinya adalah kita dipilih oleh TUhan untuk mengasuh anak istimewa kita, coba dibayangkan kalau anak kita tidak di asuh oleh kita mungkin akan lebih parah. Setiap pagi saya selalu memilih mood yang baik dengan membayangkan kalau anak

saya tertawa dan ternyata itu memberi suasana hati yang baik sepanjang hari. Di coba dulu yang ini Pak, cari bagian terbaik dari anak kita. Mengenai sekolah sekarang sudah banyak sekali hampir

si setiap kota besar ada barang 1 atau 2 sekolah autis. Tapi saran saya adalah anak harus dekat dengan kita karena orang tua adalah semangat hidup mereka hal ini saya lihat kalau saya pulang kerja, anak saya senang sekali. Kita juga harus secara ketat mengontrol program sekolah anak kita, kita tidak perlu jadi ahli tapi kita harus tahu flow pengajarannya jadi kita bisa kontrol.

Tenang Pak, hidup ini sangat berat tapi kita harus membiasakan diri dengan hidup. Ambil dari sisi

positifnya semuanya akan cerah.

Mudah-mudahan ini membantu.

Wasalam

W

----- Original Message -----

From: Ut

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Bijaksanakah aku?/sekedar sharing

Dear Pak H,

sekedar sharing, saat anakku terdiagnosis autis di usia 1,5 th, kondisi saya rasakan sangat berat. Saat itu hidup terpisah dari suami yg dinas di luar kota dan membesarkan sendiri sambil kerja juga. Ternyata kemajuan terapi lambat sekali. saya mengultimatum suami untuk balik Jakarta ( pilih anak/istri atau kerja!), dan dibantu dr Melly, Bu Ina, membuat permohonan pindah bagi suami. Suami mengultimatum kantor, dan akhirnya setelah agak maksa, bisa pindah juga Jakarta. Alhamdullillah, saya ngerasa anak saya secara emosional membaik, meski akademis tidak terlalu maju. Matanya lebih berbinar, sering tersenyum, selalu minta tidur diantara kami berdua dan jadi lengket..

Saya kira anak kami memang butuh kasih sayang dan keluarga yang utuh, karena anak autis meski kayaknya cuek sebenarnya peka banget juga seperti anak normal..

Jadi, gimana ya kira-kira kalau bapak kirim dia ke asrama?................

Ut (mamanya riefky)





Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy