Kebijakan Pendidikan Bagi Anak Autis

12/16/2004

----- Original Message -----

From: "Michael Utama"

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Wednesday, December 29, 2004 7:18 PM

Subject: [Puterakembara] HADIAH AKHIR TAHUN.



Dear All,

Semalam mulai dari pukul 19.00-21.30 saya dinner bersama MenDikNas Prof DR Bambang Sudibyo cum Prof. DR BS Mardiatmaja SJ, Ki DR Suprijoko berbincabng-bincang secara informal masalah seputar pendidikan di Indonesia. Dalam kesempatan itu saya sempat kemukakan masalah anak-anak khisus kita(autis). Pertama-tama saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian DirJenPendidikan Luar Biasa dengan Surat Kebijakan Terhadap Anak-anak dengan Kebutuhan Khusus(Autistik).Saya sharingkan pada beliau bahwa di USA dan Australia,anak-anak Autis ada cukup banyak dan sudah mencapai angka jutaan.Di Indonesia sendiri nampaknya gejala-gejala anak autism sudah mulai banyak bisa puluhan ribu(Apa Bu Lenny atau Bu Dyah tahu berapa jumlah anak-anak autis dinegara kita secara kasarnya???).Kalau di USA dan Australia penanganan terhadap anak-anak autis sudah amat baik,profesional dan pemerintah(Khususnya Departemen Pendidikan)amat peduli dan membantu anak-anak autis.

Saya menghimbau beliau untk memperhatikan anak-anak autis dan juga jajaran DepDikNas diseluruh Indonesia diberi pengarahan untuk juga peduli terhadap anak-anak autis.MenDikNas menanggapi secara amat positif dan kesan saya beliau sudah tahu apakah Autisme itu. Bahkan secara bersemangat beliau mengemukakan bahwa beliau sudah menugasi Universitas Gajah Mada(UGM) Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi untuk melakukan penelitian yang serius dan mendalam mengenai Autisme dan memberikan bimbingan pada sekolah-sekolah di Jokja untuk bisa menerima dan mendidik secara benar dan profesional pada anak-anak Autis.

Syukur pada Allah Yang Mahabesar atas tanggapan dan action dari MenDikNas yang amat peduli dan tanggap terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus kita(Autistik). Saya menghimbau agar penugasan dan bimbingan pada sekolah-sekolah juga diterapkan dikota-kota lainnya dipersada Indonesia.

Beliau akan menugaskan Universitas-universitas lainnya untuk mengikuti jejak UGM-Jokja dalam menanggulangi masalah pendidikan anak-anak autis. Mari kita doakan agar niat baik dan rencana yang luhur dari MenDikNas dijalankan dan ditaati secara baik dan dengan penuh kasih oleh jajaran-jajaran dibawahnya, terutama disekolah-sekolah umum dan swasta disegenap penjuru dunia. Mari kita syukuri bersama good will dari pihak MenDikNas Prof Dr Bambang Sudibyo ini. Syukur pada Allah.

All the best to all of you.Happy New Year 2005.Warm regards to all of you,

Michael Utama (Papanya Andrew,13 th,Jak.Sel.)



----- Original Message -----

From: "Michael Utama"

To: peduli-autis

Sent: Wednesday, December 15, 2004 11:29 PM

Subject: [Puterakembara] Kebijakan Pendidikan Bagi Anak Autis

Dear All,

Syukur Alhamdulilah.....akhirnya Pihak DikNas juga mulai peduli pada

anak-anak khusus kita.

Semoga sekolah-sekolah disegenap penjuru tanah air mau peduli terhadap

Kebijakan baru DepDikNas ini!!!

(Michael Utama Purnama,Papnya Andrew 13 th,SMP St Yosef Kls 1,Jak.Sel).

------------------------------------------------------------

KEBIJAKAN KEGIATAN Prioritas Direktorat Pendidikan Luar Biasa

Program Uji Coba Pendidikan Inklusi

Pendidikan Inklusi adalah kebersamaan untuk memperoleh pelayanan pendidikan

dalam satu kelompok secara utuh bagi seluruh anak berkebutuhan khusus usia

sekolah, mulai dari jenjang TK, SD, SLTP sampai dengan SMU

- bagi anak berkebutuhan khusus untuk bersosialisasi dan berintegrasi

dengan anak sebayanya di sekolah reguler.

- Sebagai solusi terhadap kendala sulitnya anak berkebutuhan khusus

untuk mendapatkan pelayanan pendidikan secara utuh di desa-desa dan daerah

terpencil

- Desiminasi program inklusi yang telah dilaksanakan antara lain di SLB

Negeri Kabupaten Gunung Kidul, SLB Pembina Tk Propinsi di Lawang, SLB Negeri

Bandung, dan Sekolah-sekolah terpadu di DKI Jakarta, NTB dsb.



Penanganan anak autisme

Penanganan secara dini bagi anak yang mengalami hambatan dalam

berkomunikasi, bersosialisasi, sensorik, perilaku, dan emosi untuk

mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

- Menggali dan mengembangkan kemampuan-kemampuan tenaga ahli (dokter

umum, dokter ahli, psikolog) melalui instansi terkait melalui seminar

lokakarya layanan pendidikan untuk penyandang autisme.

- Peningkatan SDM dengan memasukkan kurikulum mengenai pendidikan untuk

penyandang autisme pada pendidikan guru dan guru luar biasa (terutama guru

TK dan SD sebagai saringan pertama) terkait.

- Menyusun satu model layanan pendidikan bagi anak autis.

- Menyusun pedoman modul layanan pendidikan bagi anak autis.

- Memotivasi yayasan penyelenggara pendidikan Autis dan penyelenggara

SLB dengan memberikan bantuan berupa block grant.



KEBIJAKAN PELAYANAN Pendidikan Bagi Anak Autis

I. PENGERTIAN

Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme"

yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada

dunianya sendiri.

Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut

komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak

sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah

ada sejak lahir.

Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental,

sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk

bidang-bidang tertentu (savant)

Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang :

1. Komunikasi

2. Interaksi sosial

3. Gangguan sensoris

4. Pola bermain

5. Perilaku

6. Emosi

Apa Penyebab Autistik?

Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan

penting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan mengalami

gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan

beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalami

gangguan yang sama.

Selain itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur; nutrisi yang

buruk; perdarahan; keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat menghambat

pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung

terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi.

Akhir-akhir ini dari penelitian terungkap juga hubungan antara gangguan

pencernaan dan gejala autistik. Ternyata lebih dari 60 % penyandang autistik

ini mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebut

berupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercerna

dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi

asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino

yang seharusnya dibuang lewat urine. Ternyata pada penyandang autistik,

peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk ke

otak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dan

gliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi

otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif,

reseptif, atensi dan perilaku.

II. KARAKTERISTIK

Anak autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang:

1. Komunikasi:

- Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.

- Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara

tapi kemudian sirna,

- Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

- Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat

dimengerti orang lain

- Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi

- Senang meniru atau membeo (echolalia)

- Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian

tersebut tanpa mengerti artinya

- Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit

berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa

- Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia

inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu

2. Interaksi sosial:

- Penyandang autistik lebih suka menyendiri

- Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk

bertatapan

- tidak tertarik untuk bermain bersama teman

- Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh

3. Gangguan sensoris:

- sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk

- bila mendengar suara keras langsung menutup telinga

- senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda

- tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut

4. Pola bermain:

- Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,

- Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,

- tidak kreatif, tidak imajinatif

- tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu

rodanya di putar-putar

- senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda

sepeda,

- dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus

dan dibawa kemana-mana

5. Perilaku:

- dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan

(hipoaktif)

- Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang,

mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke

pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang

- tidak suka pada perubahan

- dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong

6. Emosi:

- sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis

tanpa alasan

- temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak

diberikan keinginannya

- kadang suka menyerang dan merusak

- Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri

- tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain



III. IDENTIFIKASI 1. Diagnosa Autisme

Waktu adalah bagian terpenting. Jika anak memperlihatkan beberapa gejala

diatas segera hubungi psikolog klinis, dokter ahli perkembangan, anak,

psikiater anak atau neurologis khusus autistik dan gangguan perkembangan

yang akan membuat suatu assesstment/pengkajian yang diikuti dengan penegakan

diagnosa. Jika terdiagnosa dini, maka anak autistik dapat ditangani segera

melalui terapi-terapi terstruktur dan terpadu. Dengan demikian lebih terbuka

peluang perubahan ke arah perilaku normal



IV. BAGAIMANA PENANGANAN LAYANAN PENDIDIKANNYA

Layanan Pendidikan Awal:

A. Program Intervensi Dini:

1. Discrete Trial Training dari Lovaas: Merupakan produk dari Lovaas dkk

pada Young Autistikm Project di UCLA USA, walaupun kontroversial, namun

mempunyai peran dalam pembelajaran dan hasil yang optimal pada anak-anak

penyandang autistik. Program Lovaas (Program DTT) didasari oleh model

perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) yang merupakan faktor

utama dari program intensive DTT. Pengertian dari Applied Behavioral

Analysis (ABA), implementasi dan evaluasi dari berbagai prinsip dan tehnik

yang membentuk teori pembelajaran perilaku (behavioral learning), adalah

suatu hal yang penting dalam memahami teori perilaku Lovaas ini.

Teori pembelajaran perilaku (behavioral learning) didasari oleh 3 hal:

- Perilaku secara konseptual meliputi 3 term penting yaitu

antecedents/perilaku yang lalu, perilaku, dan konsekwensi.

- Stimulus antecendent dan konsekwensi sebelumnya akan berefek pada

reaksi perilaku yang muncul.

- Efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap

antecendent dan konsekwensi. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang

positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Sehingga perilaku yang baik

dapat terus dilakukan, sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time

out, hukuman, atau dengan kata 'tidak'). Dalam teknisnya, DTT terdiri dari 4

bagian yaitu:

- stimuli dari guru agar anak berespons

- respon anak

- konsekwensi

- berhenti sejenak,dilanjutkan dengan perintah selanjutnya

2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for

preschooler and parents)

Intervensi LEAP menggabungkan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dan

tehnik ABA dalam sebuah program inklusi dimana beberapa teori pembelajaran

yang berbeda digabungkan untuk membentuk sebuah kerangka konsep. Meskipun

metoda Ini menerima berbagai kelebihan dan kekurangan pada anak-anak

penyandang autistik, titik berat utama dari teori dan implementasi praktis

yang mendasari program ini adalah perkembangan sosial anak. Oleh sebab itu,

dalam penerapan ini teori autistik memusatkan diri pada central social

deficit. Melalui beragamnya pengaruh teoritis yang diperolehnya, model LEAP

menggunakan teknik pengajaran reinforcement dan kontrol stimulus. Prinsip

yang mendasarinya adalah :

1. Semua anak mendapat keuntungan dari lingkungan yang terpadu

2. Anak penyandang autistik semakin membaik jika intervensi berlangsung

konsisten baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat

3. Keberhasilan semakin besar jika orang tua dan guru bekerja bersama-sama

4. Anak penyandang autistik bisa saling belajar dari teman-teman sebaya

mereka

5. Intervensi haruslah terancang, sistematis, individual

6. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan yang normal akan mendapat

keuntungan dari kegiatan yang mencerminkan DAP.

Kerangka konsep DAP berdasarkan teori perilaku, prinsip DAP dan

inklusi.

3. Floor Time:

Pendekatan Floor Time berdasarkan pada teori perkembangan interaktif

yang mengatakan bahwa perkembangan ketrampilan kognitif dalam 4 atau 5 tahun

pertama kehidupan didasarkan pada emosi dan relationship (Greenspan & Wieder

1997a). Jadi hubungan pengaruh dan interaksi merupakan komponen utama dalam

teori dan praktek model ini.

Greenspan dkk mengembangkan suatu pendekatan perkembangan terintegrasi untuk

intervensi anak yang mempunyai kesulitan besar (severe) dalam berhubungan

(relationship) dan berkomunikasi, dan tehnik intervensi interaktif yang

sistematik inilah yang disebut Floor Time. Kerangka konsep program ini

diantaranya:

- pentingnya relationship

- enam acuan (milestone) sosial yang spesifik

- teori hipotetikal tentang autistik



4. TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related

Communication Handicapped Children)

Divisi TEACCH merupakan program nasional di North Carolina USA, yang

melayani anak penyandang autistik, dan diakui secara internasional sebagai

sistem pelayanan yang tidak terikat/bebas. Dibandingkan dengan ketiga

program yang telah dibicarakan, program TEACCH menyediakan pelayanan yang

berkesinambungan untuk individu, keluarga dan lembaga pelayanan untuk anak

penyandang autistik. Penanganan dalam program ini termasuk diagnosa,

terapi/treatment, konsultasi, kerjasama dengan masyarakat sekitar, tunjangan

hidup dan tenaga kerja, dan berbagai pelayanan lainnya untuk memenuhi

kebutuhan keluarga yang spesifik. Para terapis dalam program TEACCH harus

memiliki pengetahuan dalam berbagai bidang termasuk, speech pathology,

lembaga kemasyarakatan, intervensi dini, pendidikan luar biasa dan

psikologi. Konsep pembelajaran dari model TEACCh berdasarkan tingkah laku,

perkembangan dan dari sudut pandang teori ekologi, yang berhubungan erat

dengan teori dasar autisme.



B. Program Terapi Penunjang:

Beberapa jenis terapi bagi anak autistik, antara lain:

1. Terapi Wicara: membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga

membantu anak berbicara lebih baik

2. Terapi Okupasi: untuk melatih motorik halus anak

3. Terapi Bermain: mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain

4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy): dengan pemberian

obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

5. Terapi melalui makanan (diet therapy): untuk anak-anak dengan

masalah alergi makanan tertentu

6. Sensory Integration Therapy: untuk anak-anak yang mengalami

gangguan pada sensorinya

7. Auditory Integration Therapy: agar pendengaran anak lebih sempurna

8. Biomedical treatment/therapy: penanganan biomedis yang paling

mutakhir, melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor

yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphin,

alergen, dsb)



C. Layanan Pendidikan Lanjutan

Pada anak autistik yang telah diterapi dengan baik dan memperlihatkan

keberhasilan yang menggembirakan, anak tersebut dapat dikatakan "sembuh"

dari gejala autistiknya.

Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunya

sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal,

serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya.

Pada saat ini anak sebaiknya mulai diperkenalkan untuk masuk kedalam

kelompok anak-anak normal, sehingga ia (yang sangat bagus dalam

meniru/imitating) dapat mempunyai figur/role model anak normal dan meniru

tingkah laku anak normal seusianya.

1. Kelas Terpadu sebagai kelas transisi:

Kelas ini ditujukan untuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu

dan terrstruktur, dan merupakan kelas persiapan dan pengenalan akan

pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa, tetapi melalui tata cara

pengajaran untuk anak autistik ( kelas kecil dengan jumlah guru besar,

dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten,

dsb).

Tujuan kelas terpadu adalah:

1. Membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler2.

Belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler, sehingga

dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya

Prasyarat:

1. Diperlukan guru SD dan terapis sebagai pendamping, sesuai dengan

keperluan anak didik (terapis perilaku, terapis bicara, terapis

okupasi dsb)

2. Kurikulum masing-masing anak dibuat melalui pengkajian oleh satu team

dari berbagai bidang ilmu ( psikolog, pedagogi, speech patologist,

terapis, guru dan orang tua/relawan)

3. Kelas ini berada dalam satu lingkungan sekolah reguler untuk

memudahkan proses transisi dilakukan (mis: mulai latihan bergabung dengan

kelas reguler pada saat olah raga atau istirahat atau prakarya dsb)



2. Program inklusi (mainstreaming)

Program ini dapat berhasil bila ada:

1. Keterbukaan dari sekolah umum

2. Test masuk tidak didasari hanya oleh test IQ untuk anak normal

3. Peningkatan SDM/guru terkait

4. Proses shadowing/dapat dilaksanakan Guru Pembimbing Khusus (GPK)

5. Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang ia mampu saja (Mempunyai

IEP/Program Pendidikan Individu sesuai dengan kemampuannya)

6. Anak dapat "tamat" (bukan lulus) dari sekolahnya karena telah selesai

melewati pendidikan di kelasnya bersama-sama teman sekelasnya/peers.

7. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi

1:1 di sekolah umum

Anak autistik mempunyai cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang tidak

merata disemua bidang, misalnya pintar matematika tapi tidak suka menulis

dsb.

Ciri khas pada anak autistik:

1. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain

2. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi orang

lain atas perbuatannya.

3. Pemahaman anak sangat kurang, sehingga apa yang ia baca sukar

dipahami. Misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang

menggunakan kalimat

4. Anak kadang mempunyai daya ingat yang sangat kuat, seperti

perkalian, kalender, dan lagu-lagu

5. Anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar

(visual-learners)

6. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya,

seperti sukar bekerjasama dalam kelompok, bermain peran dsb.

7. Anak sukar mengekspresikan perasaannya, seperti mudah frustasi

bila tidak dimengerti dan dapat menimbulkan tantrum

Kesulitan-kesulitan anak pada bulan-bulan pertama antara lain:

1. Kesulitan berkonsentrasi

2. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru

3. Perilaku anak masih sulit diatur

4. Anak berbicara/mengoceh atau tertawa sendiri pada saat belajar

5. Timbul tantrum bila tidak mampu mengerjakan tugas

6. Komunikasi belum lancar dan tidak runtut dalam bercerita

7. Pemahaman akan materi sangat kurang

8. Belum mau bermain dan berkerjasama dengan teman-temannya

Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autistik didampingi oleh seorang

terapis yang berfungsi sebagai shadow/guru pembimbing khusus (GPK). Tugas

seorang shadow guru pembimbing khusus (GPK) adalah:

1. Menjembatani instruksi antara guru dan anak

2. Mengendalikan perilaku anak dikelas

3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi

4. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan

teman-temannya

5. Menjadi media informasi antara guru dan orangtua dalam membantu

anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.

Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam

mendampingi anak penyandang autistik pada saat diperlukan, sehingga proses

pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Guru kelas tetap mempunyai

wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya

peraturan yang berlaku.

3. Sekolah Khusus:

Pada kenyataannya dari kelas Terpadu terevaluasi bahwa tidak semua anak

autistik dapat transisi ke sekolah reguler. Anak-anak ini sangat sulit untuk

dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi di sekeliling mereka. Beberapa

anak memperlihatkan potensi yang sangat baik dalam bidang tertentu misalnya

olah raga, musik, melukis, komputer, matematika, ketrampilan dsb. Anak-anak

ini sebaiknya dimasukkan ke dalam Kelas khusus, sehingga potensi mereka

dapat dikembangkan secara maksimal.

Contoh sekolah khusus: Sekolah ketrampilan, Sekolah pengembangan olahraga,

Sekolah Musik, Sekolah seni lukis, Sekolah Ketrampilan untuk usaha kecil,

Sekolah komputer, dlsb.



4. Program sekolah dirumah (Homeschooling Program):

Adapula anak autistik yang bahkan tidak mampu ikut serta dalam Kelas Khusus

karena keterbatasannya, misalnya anak non verbal, retardasi mental, masalah

motorik dan auditory dsb. Anak ini sebaiknya diberi kesempatan ikut serta

dalam Program Sekolah Dirumah (Homeschooling Program). Melalui bimbingan

para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orangtua dan orang-orang

disekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak. Kerjasama guru dan

orangtua ini merupakan cara terbaik untuk men-generalisasi program dan

membentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bila

memungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru sekolah dan terapis

di rumah anak-anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaan

pendidikan yang setara dengan sekolah reguler/SLB untuk bidang yang ia

kuasai. Dilain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga dan

masyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorang

autistik.



IV. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AUTISTIK

A. Pelaksanaan Indentifikasi anak Autistik harus mengacu pada :

1) Rujukan untuk Terapi

Rujukan diperoleh dari:

a. Guru TK/Playgroup/TPA

b. Orang tua

c. Tenaga Ahli

2) Asesment

Asesment dilakukan oleh satu team yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu

seperti :

a. Dokter

b. Psikolog

c. Speech patologis

d. Terapis

e. Guru

f. Orang tua

g. Relawan



1. Asesment didasari oleh :

a. Pedoman Kurikulum TK dan SD tahun 1994

b. Pedoman Observasi untuk anak autistik

c. Behavioral intervention manual dari Chatherine Maurice

d. Observasi klinis

e. Masukan dari orang tua

f. Rujukan dari guru, orang tua, dan tenaga ahli



2. Hal-hal yang dikaji :

a. Kognitif

b. Motorik kasar

c. Motorik halus

d. Bahasa dan komunikasi

e. Interaksi sosial

f. Bantu diri (self help)

g. Penglihatan

h. Pendengaran

i. Nutrisi

j. Otot-otot mulut



3) IEP/Individual Educational Plan and Program

IEP didasari oleh kebutuhan dan kemampuan anak untuk mengejar

ketertinggalannya dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.

4) Persetujuan Orang Tua

Orang tua harus memiliki komitmen terhadap IEP ikut serta dalam

kelompok kerja (Team work) yang terlibat dalam pendidikan anak

5) Evaluasi

Evaluasi pendidikan untuk anak autistik meliputi :

a. Evaluasi proses : untuk penilaian guru terhadap anak

dalam setiap hari,

b. Evaluasi bulanan : laporan dari orang tua kepada guru,

atau sebaliknya,

c. Evaluasi catur wulan : laporan untuk orang tua berbentuk

deskripsi kemampuan anak dengan penilaian kualitatif.



B. PENGEMBANGAN KURIKULUM

Anak autistik memiliki kemampuan yang berdeferensiasi, serta proses

perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu

dengan yang lainnya. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih, dimodifikasi

dan dikembangkan oleh guru/pelatih/terapis/pembimbing, dengan bertitik tolak

pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Pemilihan

dan modifikasi kurikulum juga disesuaikan dengan tingkat perkembangan

kemampuan anak, dan ketidakmampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber

daya/lingkungan yang ada.

Pelayanan pendidikan bagi anak autistik akan lebih baik apabila dimulai

sejak dini (intervensi dini). Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu

pada :

1. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun)

2. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5- tahun)

3. Kurikulum Sekolah Dasar

4. Kurikulum SLB Tuna Rungu

5. Kurikulum SLB Tunarungu dan Tunagrahita

Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum

tersebut, dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan)

anak, dengan modifikasi. Kurikulum bagi anak autistik dititik beratkan pada

pengembangan kemampuan dasar, yaitu :

1. Kemampuan dasar kognitif

2. Kemampuan dasar bahasa/Komunikasi

3. Kemampuan dasar sensomotorik

4. Kemampuan dasar bina diri, dan

5. Sosialisasi.

Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada

kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/ kalendernya, maka kurikulum

dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik,

meliputi kemampuan : membaca, menulis, dan matematika (berhitung).

C. KETENAGAAN

Ketenagaan dalam penyelenggaraan pendidikan autistik meliputi beberapa

komponen yang sangat terkait satu dengan yang lain. Yang akan kita jelaskan

di bawah ini :

1) Tenaga Kependidikan

Tenaga kependidikan yang dimaksud disini, bisa guru atau terapis.

Tenaga kependidikan untuk anak autistik ini idealnya dari disiplin

ilmu yang sesuai seperti PGTK, PGSD dan Sarjana PLB atau Sarjana Psikolog.

Bukan berarti dari disiplin ilmu yang lain tidak mampu dalam menangani anak

autistik. Tetapi harus ada pelatihan dan bimbingan. Karena yang paling

diperlukan dalam diri seorang pendidik terutama dalam penanganan terhadap

anak autistik adalah:

1. Mau menerima dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sepenuh

hati dan disertai rasa kasih sayang.

2. Mau banyak belajar untuk memperbanyak pengetahuan dan wawasan.

Tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

terhadap anak diperlukan kreativitas yang tinggi. Karena perlu diketahui

bahwa penanganan anak autistik tidak bisa disamakan antara anak yang satu

dengan anak yang lain.

2) Tenaga Non kependidikan para akademisi/profesional terkait.

Selain tenaga kependidikan dalam penanganan terhadap anak autistik

yang sangat berperan adalah :

a. Tenaga Terapi Perilaku

Perilaku menjadi dasar bagi terapi selanjutnya

b. Tenaga terapi wicara :

Karena seperti kita ketahui banyak anak autistik yang juga mengalami

gangguan dalam berbahasa atau berkomunikasi.

c. Tenaga Terapi Sensori Motorik Integrasi :

Contoh dalam materi penjaskes SLB Tunagrahita

d. Yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan pendidikan untuk anak

autistik adalah

- Orang Tua

- Psikolog

- Psikiater

- Dokter

- Relawan

- Dan tanaga ahli yang lain seperti : ahli gizi, dlsb.

3) Tenaga administrasi

Tanaga administrasi juga sangat diperlukan untuk membantu

penyelenggaraan pendidikan anak autistik. Adapun tujuannya untuk membantu

memperlancar tugas-tugas dari penyelenggara pendidikan anak autistik.

4) Tenaga Penyelenggara (Pengurus Yayasan)

Pengurus yayasan atau tenaga penyelenggara adalah orang yang

mendirikan pendidikan bagi anak autistik. Sekaligus bertugas sebagai

fasilitator bagi setiap keperluan pendidikan yang didirikan dan bertanggung

jawab terhadap perkembangan sekolah maupun tenaga pengelola yang ada sekolah

tersebut.

5) Tenaga Pengelola (Pemimpin Sekolah)

Tenaga pengelola merupakan jembatan antara orang tua, lingkungan dan

pihak penyelenggara serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru atau

terapisnya.



D. SARANA DAN PRASARANA

Sarana dan prasarana ini disesuaikan dengan tahapan usia sekolah sebagai

berikut :

I. Usia Pendidikan Prasekolah

- Alat Peraga : pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka,

benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan.

- Alat bantu komunikasi : berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan

komunikasi dari anak.

- Alat bantu pengembangan motorik halus : cara memegang pensil,

menggunting, mewarna, dan sebagainya

- Alat bantu pengembangan motorik kasar : bola, tali, dlsb.

- Kurikulum Tanan Kanak-kanak

- Terapi wicara (terapi dan alatnya) baik manual atau elektronik

- Terapi sensori motorik integrasi (ayunan, lorong, balok titian dan

sebagainya)

II. Usia Pendidikan Sekolah Dasar

- Segala sarana belajar yang ada pada sekolah dasar pada umumnya

- Alat peraga konkrit sebagai penunjang sarana belajar

- Guru pendamping

- Sarana untuk bersosialisasi

III. Usia Pendidikan Menengah

Pada usia ini jika dimungkinkan anak mengikuti kurikulum sekolah

menengah maka sarana belajar bisa mengikuti sarana yang diperlukan untuk

sekolah menengah akan tetapi jika anak harus berada pada sekolah khusus,

maka sarana yang dibutuhkan harus mengacu pada pengembangan kemampuan

fungsional yang ada pada setiap anak autistik.



E. PENDANAAN

Pendidikan bagi anak autistik memang memerlukan biaya yang mahal, karena

pola pengajaran yang individual (satu anak, satu guru). Oleh karena itu

diperlukan peranan masyarakat dan orang tua siswa yang lebih besar.

F. MANAJEMEN

Pelayanan pendidikan bagi anak autistik merupakan suatu kegiatan yang

terpadu dan juga melibatkan unsur-unsur sebagai berikut :

1. Orang tua, merupakan pemegang peran utama dalam penanganan anak

autistik karena interaksi anak dengan orang tua lebih besar porsinya

dibandingkan dengan di sekolah.

2. Tenaga pendidik, dimana yang berhubungan langsung dengan anak didik

sehingga dalam memberikan evaluasi yang lebih akurat dan mengoptimalkan

pembelajaran.

3. Penyelenggara pendidikan, sebagai penanggung jawab kurikulum dan

penyedia sarana dan prasarana pendidikan bagi anak autistik maka peran serta

mereka mutlak diperlukan guna memberikan tempat pelayanan pendidikan yang

memadai.

4. Tenaga profesional (dokter, terapis, psikolog) yang berfungsi untuk

mendeteksi dan menangani, anak autistik secara berkesinambungan dan

integral.

5. Lembaga pemerintah sebagai fasilitator, dan juga sekaligus mengawasi

program pelayanan pendidikan anak autistik

Dari masing-masing unsur tersebut harus berbentuk suatu jaringan kerja

sehingga dapat mengembangkan program-program yang bersifat inovatif secara

berkelanjutan dan mampu memberikan pelayanan pendidikan bagi anak autistik.

G. LINGKUNGAN

Lingkungan bagi anak yang manapun, tidak hanya dilaksanakan didalam

gedung, tetapi juga diluar gedung. Khusus untuk pendidikan di luar gedung,

maka sebaiknya lingkungan difahamkan dulu tentang anak autistik, seperti

lingkungan bisa bersikap yang tepat pada anak autistik. Lingkungan yang

dimaksud adalah :

1. Keluarga tempat dimana anak autistik berada, yaitu Bapak, Ibu, Kakak,

Adik, Kakek, Nenek, Pembantu, dlsb.

2. Masyarakat sekitar tempat pendidikan

3. Masyarakat pemilik sarana integrasi dan sosialisasi bagi anak autistik.

4. Masyarakat secara luas sehingga perlu informasi melalui media cetak,

elektronik, penyuluhan, seminar, dlsb.



H. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa (anak autistik)

yang belajar dan guru pembimbing yang mengajar. Dalam upaya membelajarkan

anak autistik tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak autistik

harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam

kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak autistik pada

umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka

guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak autistik.

Komponen-komponen yang harus ada dalam kegiatan belajar mengajar adalah :

1. Anak didik

Yakni anak autistik dan anak-anak yang masuk dalam spektrum autistik.

2. Guru pembimbing

Seorang guru pembimbing anak autistik harus memiliki dedikasi,

ketelatenan, keuletan dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya.

Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan

pengajaran untuk anak autistik.



Prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran

Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakan

berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Terstruktur

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip

terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran

dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh

anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar

yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari

materi sebelumnya.

Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna

dari instruksi "Ambil bola merah". Maka materi pertama yang harus

dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata "ambil", "bola". dan

"merah". Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah

selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi "Ambil bola merah" kedalam

perbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik

meliputi :

- Struktur waktu

- Struktur ruang, dan

- Struktur kegiatan



b. Terpola

Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola

dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari

bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus

dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang,

dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan

kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas

yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih

mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan

(adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior

therapi).

c. Terprogram

Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang

ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan

erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan

harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak,

sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target

program yang kedua, demikian pula selanjutnya.

d. Konsisten

Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik,

prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku

positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka

guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan),

begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebut

juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara

tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan

perilaku sebelumnya.

Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsisten

mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru

pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak

sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu

anak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam

mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul

dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam

pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan

terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama

antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran

di sekolah dan dirumah.

e. Kontinyu

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh

berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan

pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik.

Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran,

program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan

pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk

kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapi

perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secara

berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).

3. Kurikulum

Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik

tentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang berorientasi pada

kemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasi

masing-masing individu.

4. Pendekatan dan Metode

Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik menggunakan Pendekatan

dan program individual. Sedangkan metode yang digunakan adalah merupakan

perpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan

kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.

Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang memberikan gambaran

kongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi

dan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.

5. Sarana Belajar Mengajar

Sarana belajar diperlukan, karena akan membantu kelancaran proses

pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara kongkrit bagi

anak autistik. Pola pikir anak autistik pada umumnya adalah pola pikir

kongkrit. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus kongkrit.

Beberapa anak autistik dapat berabstraksi, namun pada awalnya mereka dilatih

dengan sarana belajar yang kongkrit.

6. Evaluasi

Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu

dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Dalam pendidikan dan pengajaran bagi

anak autistik evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

1. Evaluasi Proses

Evaluasi Proses ini dilakukan dengan cara seketika pada saat proses

kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku

menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Hal

ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi

secara visual dan kongkrit.

Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana progres yang dicapai anak

dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.

2. Evaluasi Bulan

Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau

permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah.

Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan

perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkan

pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencari

penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macam

apa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Hal

ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi

bersama atau case conference.

3. Evaluasi Catur Wulan

Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud

sebagai tolok ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuan

program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak,

maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan

bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak, sebaliknya apabila program

belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial)

atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian

program.

Faktor Penentu Keberhasilan Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak Autistik.

Tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak

autistik dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Berat - ringannya kelainan/gejala

2. Usia pada saat diagnosis

3. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa

4. Tingkat kelebihan (strengths) dan kekurangan (weaknesses) yang dimiliki

anak

5. Kecerdasan/IQ

6. Kesehatan dan kestabilan emosi anak

7. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru, kurikulum, metode, sarana

pendidikan, lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).



Hambatan Proses Belajar Mengajar dan Solusinya.

1. Masalah prilaku

Masalah perilaku yang sering muncul yaitu : stimulasi diri dan

stereotip.

Bila perilaku tersebut muncul yang dapat kita lakukan :

i. Memberikan Reinforcement.

ii. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri

iii. Siapkan kegiatan yang menarik dan positif

iv. Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak, tidak menyakiti diri.

2. Masalah Emosi :

Masalah ini menyangkut kondisi emosi yang tidak stabil, misalnya;

menangis, berteriak, tertawa tanpa sebab yang jelas, memberontak, mengamuk,

destruktif, tantrum dlsb.

Cara mengatasinya :

1) Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya

2) Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang.

3) Setelah kondisi emosinya mulai membaik, kegiatan dapat dilanjutkan.

3. Masalah Perhatian. (Konsentrasi)

Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu

yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik

bagi anak.

Untuk itu maka usaha yang harus diupayakan oleh pembimbing adalah:

a. Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap.

b. Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi.

c. Istirahat sebentar kemudian kegiatan dilanjutkan kembali, dimaksudkan

untuk mengurangi kejenuhan pada anak, misal : dengan menyanyi, bermain,

bercanda, dlsb.

4. Masalah Kesehatan.

Bila kondisi kesehatan siswa kurang baik, maka kegiatan belajar

mengajar tidak dapat berjalan secara efektif, namun demikian kegiatan

belajar tetap dapat dilaksanakan, hanya saja dalam pelaksanaannya

disesuaikan dengan kondisi anak.

5. Orang Tua

Untuk memberikan wawasan pada orang tua, perlu dibentuk Perkumpulan

Orang Tua Siswa, sebagai sarana penyebaran berbagi pengalaman sesama seperti

informasi baru dari informasi internet, buku-buku bahkan jika mungkin tatap

muka dengan tokoh yang berkaitan dalam pendidikan untuk anak autistik atau

anak dengan kebutuhan khusus.

6. Masalah Sarana Belajar

Dengan menyediakan materi-materi yang mungkin diperlukan untuk

kepentingan terapi anak-anaknya misalnya :

- Textbook berbahasa Inggris dan Indonesia,

- Buku-buku pelajaran siswa,

- Kartu-kartu PECS, Compics, Flashcard, dlsb,

- Pegs, balok kayu, puzzle dan mainan edukatif lainnya.

Source: Dikdasmen Depdiknas

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy