Disonansi Kognitif; untuk kita para orang tua penderita autis dan terapi untuk terapist

02/27/2004

----- Original Message -----

From: "YH"

TO : peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Disonansi Kognitif kita para orang tua penderita autis

Ada yang pernah bilang bahwa diri kita yang sebenarnya adalah "sesuatu" yang tertutup rapat dalam eksistensi kita, yang baru terbuka, anehnya, justru kalau kita membuat kesalahan (dan kita semua

sama-sama nggak mau berbuat kesalahan yang ditonton orang lain). Kejadiannya seperti kalau kita ada di ruangan gelap, lalu tiba-tiba pintu terbuka lalu tertutup dengan cepat, dan kita sempat melihat

sekilas di dalam cahaya itu; sebuah wajah yang asing, atau mungkin seekor monyet yang lagi nangis, cicak yang bisa menggonggong, atau kodok yang ingin menggapai cewek cakep. (Sama seperti ketika pertama kali mendapat kenyataan bahwa anak saya autis) Demi melihat wajah asing itu, tiba-tiba koherensi pemahaman kita pada anak kitapun jadi terusik. Lho kok ternyata dia yang kusayang kok gitu ?

Kitapun semua ternyata punya ekspektasi tentang gambaran yang konsisten tentang orang lain, tentang anak lain, ... dan dari sisi kita sendiri, kita juga diam-diam mengharapkan yang sama terjadi pada anak kita. Entah itu memang diniatkan atau sebagai jawaban dari ekspektasi orang lain itu tadi. Sialnya, kenyataan menunjukkan bahwa pusat diri kita seringkali bukanlah kesadaran kita. Sama seperti orang (sebelum atau ketika ?) abad pertengahan yang ketika itu berpikir bahwa pusat dunia ini adalah bumi, ... dan jadi heboh ketika Copernicus akhirnya tahu bahwa yang jadi pusat adalah matahari,

belakangan ada juga yang menunjukkan bahwa sering-sering justru ketidaksadaran mengambil alih pusat yang "mengendalikan" diri kita.

Pertanyaannya di sini: apakah kita masih punya harapan untuk bisa menampilkan diri kita 100% seperti yang kita kehendaki, sebagai orangtua yg baik bagi anak kita yang autis, yang bisa membahagiakan

buah hati kita ini ?

Salam,

YH, bapakya V. (3 th)

TRANS TV

-----Original Message-----

From: SW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Disonansi Kognitif kita para orang tua penderita autis

masalah yang sebenarnya menurut saya ada pada "revolusi copernican" yang kita lakukan. Sejak kita memutuskan "pusat dunia" kita adalah anak autistik kita, kebahagiaan, kesenangan, kesedihan, whatever.. adalah selalu bersumber pada kondisi anak kita.

Minggu kemarin anakku ikutan lomba mewarnai gambar di komputer di JCC. Ekspetasiku tinggi karena anakku bisa dibilang udah master kalau cuma soal coloring aja. Tapi ternyata aku lupa satu hal! Anakku (5,5 th) belum paham tentang apa itu 'perlombaan'. Walhasil, pada saat dia udah mewarnai gambar yang ditentukan itu sekitar 50 %, dia bosan dengan gambarnya dan berusaha mencari gambar-gambar lain yang tersedia di program tersebut. Tentu saja dia gagal.

Sejenak aku merasa kecewa, sedih,... tapi begitu aku lihat ekspresi anakku yang senang sekali berada di lingkungan 'normal' itu, aku segera sadar! Aku telah terbawa pada egoku, ego seorang bapak, sindrom prestasi, dll.

Bu DP pernah pernah menulis:

Anak-anak autistik gak punya masalah dengan keautistikan mereka. Mereka enjoy aja dengan keadaan mereka sejauh lingkungannya kondusif. Masalahnya justru pada kita sendiri (baca: ortu)

Salam,

SW

----- Original Message -----

From: "YH"

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Disonansi Kognitif, terapi untuk terapist

Benar bahwa revolusi yang radikalpun bisa dilakukan dengan elegan, walo awalnya pasti menimbulkan shock. Dan proses tersebut tokh memerlukan 'jembatan' empati. Empati bukanlah ego yang teraniaya. Empati juga bukan alam bawah sadar kita. Empati adalah bagaimana kita (orangtua) memproyeksikan diri, mempersepsikan diri sebagai 'dianya', sehingga terjadi sinkronisasi yg sehat dalam memahami dan berhubungan dengannya. Saya rasa masalahnya justru disini. Dan sayangnya, banyak diantara kita terjebak ukuran2 kuantitas bukan kualitas. Kita cenderung merasa sudah 'dekat' dengan buah hati kita tanpa sadar kalo sebenarnya masih terasing.

Jika autisme kita analogikan dengan subversi, dengan asumsi Ego yang tidak bisa mebuat struktur jembatan, Ego yang mengalahkan empati, Maka siapapun orang tuanya bisa dipahami akan bersikap dari yang egaliter sehat ataupun sakit menurut ukurannya. Dalam kaitan dengan hal itu, maka, Kedua, 'locus of attention' seperti yang disebutkan oleh Bapak Slamet pun bisa menjadi arena/mahkamah, tempat di mana subversi itu mendapat aksentuasinya dari 'ego-ego kita yang sempurna.

Nah, kalau kita ternyata diam-diam bermimpi bahwa kita bisa menjadi orang tua yang kredibel dengan berpikir bahwa kita pasti bisa 100% menjadi seperti image yang kita bayangkan tentang diri kita, apakah kita (para orangtua) sebenarnya juga butuh terapis disamping buah hati kita. Terapi integral katakanlah.

Sayapun punya pengalaman buruk tentang terapist yang hanya menjadikan anak saya sekedar obyek an sich, serta perilaku lain yang kurang profesional.



Dalam kaitan menjamurnya terapist yang hanya mengejar profit bukan profesionalitas, perlukah adanya terapi buat terapist juga? Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan.

Salam,

YH

Bapaknya V. (3 th)



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy