SLB-C?

11/22/2003

-----Original Message-----

From: Mar A

To: peduli-autis

Subject: SLB-C?

Dear Ibu DP dan Rekan ,

Beberapa hari yang lalu saya lewat jalan di Bintaro Permai dan ada plang promosi tertulis... SLB C

(AUTIS).

Dalam benak saya sekarang apakah benar memasukan anak ke SLB C ? Apakah ada kriteria dan apa bedanya dengan sekolah khusus?

Mungkin ada pengalaman dari rekan yang mengetahui hal ini .

Sampai saat ini , anak saya Madeleine masih sekolah play group kelas PRA - TK , dan kemungkinan akan

dilanjutkan ke TK . Namun sebelumnya saya harus melakukan koordinasi meeting dengan guru play groupnya dan guru TK . Tetapi dari itu semua sebenarnya adalah kondisi anak , dan dalam benak pertanyaan saya bilamana kita pilihkan sekolah anak supaya tidak overestimated dengan kemampuan anak .

Ibu Ita mungkin bisa bantu berikan masukan bilamana kondisi anak dikategorikan ke:

1. SLB C

2. Sekolah khusus seperti Mandiga, Citabuana

3. Sekolah Umum

4. Atau sekolah ketrampilan saja

Mungkin kalau ada point penting , membuat kita mengevaluasi anak kita dengan masukan dari guru

sebelum kita mengambil keputusan. Karena hal ini sulit kita samakan karena type dan kemampuan anak berbeda. Sering kali saya dengar anak sudah di sekolah umum, tetapi bagaimana proses perjuangan persiapan ortu kalau ada mohon sharing ...

Best Regard,

MA ( MAMA MADELEINE 4 tahun)

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: SLB-C?

Pertanyaannya susah sekali. Tidak ada satu jawaban untuk semua kasus. Soalnya, setiap anak 'kan sangat individual sekali kasusnya. Apalagi, setiap anak juga berasal dari orang tua yang juga sangat individual "harapan"-nya.

Secara umum, secara umum lho ya, saya biasanya mendasari keputusan kepada beberapa hal:

1. Perkembangan anak secara umum (daya pikir, emosi, sosial, komunikasi)

2. kemampuan anak menalar, memahami instruksi secara khusus (melalui

tahapan proses one-on-one) --kesulitan, tidak?

3. kemampuan anak menalar, memahami instruksi dalam lingkungan sarat

distraksi (dicobakan dulu dalam kelompok kecil).==ada hambatan mendasar,

tidak?

4. kemampuan anak mengungkapkan diri (komunikasi fungsional) --

bisa/tidak bisa

5. kemampuan adaptatif anak (toileting, dressing, eating

dsb).--dibantu/tidak

6. Kemampuan anak menahan diri terutama bila terjadi sesuatu yang "tidak

berkenan" ---> tidak tantrum, marah, berteriak ---harus ada bantuan

orang ketiga?

Anak mana masuk kemana, sulit sekali diputuskan dalam sekejap. Biasanya, kalau mau masuk Mandiga, kami minta orang tua coba dulu di sekolah umum. Kalau sudah "mentok", baru kami persilakan lihat-lihat

dulu ke mandiga, ngobrol-ngobrol...dsb...untuk menyamakan persepsi.

Sesudah itu, sesudah melalui waiting list yang cukup panjang (maaf)..ada semacam proses asesmen dimana kedua belah pihak saling mengukur...bisa ga' ya? Proses asesmen itu, bisa seminggu, dua minggu, sebulan, sampai akhirnya ibu Ina dan saya bisa memutuskan "let's do it" atau "maap...kami rasanya ga' sanggup".

Setiap mengambil keputusan, ibu Ina & saya melibatkan SEMUA pihak (guru kelas, guru individual, guru kelompok, asisten) dan saya sendiri ikutan nanganin (to get the feel of the child).

Ada juga beberapa anak yang tadinya mau masuk ke Mandiga, karena terbentur biaya, memutuskan untuk memasukkan anaknya ke SLB C...dan anaknya oke-oke aja tuh? Mungkin SLB-nya juga jangan kita pukul rata ya..sapa tau ada juga yang kasi anak-anak kesempatan untuk berkembang.

Yang penting, orang tua mau terima si anak apa adanya. Biarpun pintar, tapi kalau perilaku berantakan, rasanya kasihan anak dijadikan bulan-bulanan di sekolah. Atau, anak berperilaku manis, tetapi tidak bisa memahami apapun karena penjelasan diberikan ditengah hiruk pikuk kelas yang isinya 40 anak.

Atau, anak pintar dan berperilaku manis, tapi mentok juga di sekolah umum...itu belum tentu karena anaknya lho. Jangan lupa, kita masih "perang" dengan "kurikulum DepDikNas" yang bikin anak normal juga sakit kepala.

Kesimpulannya apa?

Dari sekarang, pelajari ciri si anak, kelebihan dan kekurangan. Bantu anak menajamkan kelebihannya untuk mengurangi kekurangannya. Bantu anak mengatasi hambatan yang mungkin muncul.

Cari informasi, eksplorasi semua kemungkinan, diskusi, pertimbangkan ...banyak sekali tugas orang tua (dibantu professional) sebelum memutuskan memasukkan anak ke sekolah mana. Kalaupun sudah masuk lalu merasa "keliru" lalu mengeluarkan lagi, so what ?? Ga papa.

Jangan lupa, anak selalu berubah...sesuai dengan tahap perkembangannya dan sebagai respons atas penanganan yang diberikan kepadanya.

Semoga bermanfaat.

Salam,

DP









Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy