Kekhawatiran...faktor 'gen'/keturunan sebagai penyebab autis

08/21/2003

----- Original Message -----

From: iktiar

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Friday, June 13, 2003 11:22 AM

Subject: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Dear all

Saya pernah ikut seminar, baca artikel, konsultasi dll dll dsb... Ada seorang Dokter yang kebetulan membawa makalah seminar, menulis buku atau ...... yang bertemakan Penyebab Autis. Menurut beliau penyebab autis itu macam2 dan SECARA PASTI belum di ketahui. faktor yang memberi andil besar penyebab autis adalah:

- Virus

- Keracunan Logam Berat

- Alergi dll

Dari beberapa faktor diatas menurut beliau hanyalah faktor PEMICU sedang penyebab utamanya adalah faktor GEN ( keturunan ) dengan kata lain kalaupun ada pemicunya kalau tidak didukung oleh adanya Bakat dari anak yang bersangkutan maka autis itu ngga akan terjadi.



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To:

Sent: Saturday, June 14, 2003 6:27 AM

Subject: RE: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Siapapun dokter itu, itu bukan pendapat beliau pribadi. Di seluruh dunia, itu memang hasil terakhir penelitian. Istilah kerennya: multifactorial. Coba aja browsing kemana-mana. Memang itu kok kesimpulannya.

Penyebab utamanya adalah faktor 'gen' (keturunan) sebenernya, kata2 tepatnya adalah PREDISPOSISI. Kalau ga' ada kecenderungan, ya ga' ada apa-apa meski kena logam berat atau alergi sekalipun.



----- Original Message -----

From: "Dian M."

To:

Sent: Monday, June 16, 2003 10:45 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Trus kalo sebaliknya gimana ??? Meskipun faktor gen (keturunan)-nya ada tapi tidak di dukung factor pemicunya atau berusaha meminimalisasi faktor pemicu pada saat si ibu hamil dan setelah si anak lahir, apakah akan tetap muncul ???

Mohon penjelasannya dong.....

-Mamanya Akram-



----- Original Message -----

From: Sumini

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, June 16, 2003 3:26 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran

Apa maksudnya dengan "gen (keturunan) " , apakah ini berasal dari keturunan keluarga atau memang gen bawaan dari si anak. Kalau ini gen keturunan berarti jika dalam garis kekeluargaan tdk ada yang Autis ,apakah bisa dipastikan anaknya nggak akan autis.

Beberapa minggu lalu ada rekan milis yang mengatakan bahwa autis bisa dideteksi pada masa bayi yaitu misalnya si bayi tidak ada kontak mata, tdk mau dibelai dsb berarti dapat dipastikan bahwa anak tsb nantinya akan autis, bagaimana jika sebaliknya, apakah bisa dipastikan bahwa anak tsb nantinya akan menjadi anak normal dan kriteria "bayi" disini pada saat anak umur berapa.

Mohon penjelasannya karena saya ini orang awam, karena semakin meningkatnya persentase anak penyandang autis mengingat kami ini keluarga yang "kurang mampu" untuk mempunyai "anak special", terbayang dipikiran saya jika misalnya anak saya nanti divonis autis dengan apa saya membekali anak saya nanti untuk masa depannya, untuk therapis dls dimana mengingat keponakan saya dulu yang nggak sempat dapat therapis sebagaimana mestinya karena nggak adanya dana.

Mohon penjelasannya,

Bundanya Naufal



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To: "'Dian M., 'puterakembara

Sent: Monday, June 16, 2003 6:32 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Mana ada jawaban pasti untuk hal-hal seperti ini. Bagaimanapun, kalau kita hamil, itu semua 'kan urusan yang di atas. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin meminimal-kan hal-hal yang bisa membuat individu 'beresiko tinggi' untuk tidak menjadi bermasalah. Tapi hasil akhirnya, bukannya semua sudah suratan ?

Ada yang dalam satu keluarga, bersaudara beberapa yang autis. Ada yang dalam satu keluarga, hanya satu yang autis yang lain normal. Ada yang kembar satu telur, satu autis satu tidak. Ada yang kembar satu telur, dua-duanya autis.

Ada yang dalam satu keluarga besar hanya satu cucu yang autis, tetapi dari garis satu eyang buyut ada tiga cucu autis.

Bingung 'kan? Memang belum bisa dipastikan, kok.



Salam,

Ita



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, June 16, 2003 7:00 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Tidak ada hal yang pasti di dunia ini, bila kita bicara mengenai 'masa

depan' seseorang. Anak normal aja yang dididik setengah mati, kecilnya normal, bukan ga' mungkin gedenya ambur adul.

Sama juga bila kita bicara mengenai: 'nantinya anak saya autis ga' ya?'.

Jujur saja, saya pribadi adalah satu-satunya di keluarga besar saya yang punya anak autis. Tapi pada saat Ikhsan umur sekitar 5-6 tahun, ada sepupu saya (anak adik ibu) punya anak yang jelas sekali punya ciri autis ---meskipun sampai detik ini tidak mengaku demikian.

Lalu pas Ikhsan umur 8 tahun, another sepupu (anak adik ibu juga, tapi beda) punya anak autis juga... Beberapa tahun kemudian, sepupu dari anak yang pertama tadi, dibawa ke saya untuk didiagnosa, dan yaaa...autis lagi.

Jadi saya bilang sama keponakan-keponakan saya (anak kakak-kakak saya)

yang udah pada dewasa. Kalau nanti mau berkeluarga, periksa gen, deh. Jadi ga' seperti beli kucing dalam karung. Kalau mau tetep terus dengan pasangan yang itu,

silakan...tapi sadari resiko.

Sejak hamil jaga kehamilannya dengan sangat hati-hati, minimalkan berbagai hal yang bisa jadi pencetus, dan banyak berdoa.

On the other hand...biarpun orang tua punya keluarga yang autis, belum tentu juga anaknya pasti autis. Buktinya? Kakak kandung saya baru saja punya anak lagi, normal-normal aja tuh.

Jadi di keluarga besar saya tetep hanya Ikhsan yang autis.

Bingung?

Ini yang namanya RAHASIA TUHAN.

Ga' perlu panik.



Salam,

Ita



----- Original Message -----

From: "Widjaja, Hendra"

To: "Dyah Puspita", 'Dian M.'

Cc: 'puterakembara'

Sent: Tuesday, June 17, 2003 8:53 AM

Subject: RE: [Puterakembara] Dari Denial menuju ke Khawatiran



Iya ribet bener 'dah ini urusan gen atau keturunan autis. Apa iya kalo di dalam suatu keluarga ada salah satu anggotanya penyandang autis, trus PASTI salah satu keturunannya akan jadi penyandang autis. Saya setuju dengan Bu Ita, itu mah urusan Yang Diatas.

Saya cenderung lebih fokus pada penanggulangan / penanganan penyandang autis itu sendiri, daripada berspekulasi tentang penyebabnya. Biar aja para pakar deh yang mikirin hal seperti itu. Saya sih mau mikirin penanganannya aja, yang lebih nyata, lebih practical.

Salam,

HW



----- Original Message -----

From: "Edy"

To: "Peduli Autis"

Sent: Tuesday, June 17, 2003 12:16 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Kalau saya sih mikirnya, sudah syukur dianugrahi anak tanpa melihat keadaan anak itu sendiri.

Si anak tidak pernah meminta lahir sebagai anak kita yang "istimewa", tapi yang diataslah yang menyerahkan ke kita. Saya setuju dengan pendapat Ibu "hitler" Ita walaupun kecilnya biasa-biasa saja /"normal" tapi nanti besarnya bermasalah.

Maka mari serahkan saja ke Yang Maha Kuasa, itu lebih meringankan beban hati kita-kita semua. Jangan sampai habis membaca e-mail tentang turunan malah bikin masalah baru lagi dirumah tangga dengan main tuduh siapa yang sebagai pemicu atau PREDISPOSISI (sorry contekan). Masih untung kita dianugrahi anak kalau tidak bagaimana rasanya hidup didunia ini, sepi khan.

Salam

Edy R.



----- Original Message -----

From: endah murtiningrum

To: peduli autis

Sent: Tuesday, June 17, 2003 4:49 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Awal diskusi tentang 'denial' dan berlanjut ke khawatiran, sepertinya banyak membuka wawasan kita, terutama tentang kemungkinan faktor genetik sebagai penyebab autis dan implikasinya bagi masa depan si anak (dan keluarganya?).

Ada beberapa teman yang sudah lama menikah belum dikaruniai keturunan. Salah satu dari pasangan itu memutuskan untuk tidak ke dokter dan memutuskan untuk pasrah. Alasannya, mereka lebih mengutamakan kebersamaan sebagai pasangan dan tidak mau itu dirusak oleh fakta bahwa salah seorang di antaranya dinyatakan mandul.

Toh, kata mereka, banyak anak-anak di panti asuhan yang membutuhkan keluarga dan mungkin itulah yang terbaik bagi mereka. Kasusnya memang berbeda dengan masalah kita, tetapi esensinya sama. Fakta itu (kalau di masa datang bisa dipastikan validitasnya)

pastilah akan menyebabkan dampak serius dalam hubungan pasangan yang punya keturunan autistik.

Jadi aku setuju dengan Bu Ita. Toh, punya anak normal bukanlah jaminan bahwa dia akan membuat kita bahagia.. Satu hal lagi, kalau 'gen' bisa dipastikan menjadi penyebab

terjadinya berbagai macam penyakit, kelainan, dan keunggulan keturunan,... maka kelak lembaga perkawinan akan menjadi semacam transaksi untuk memperoleh keturunan yang super!! Kayak apa, ya???

Endah M.



----- Original Message -----

From: "Tri Permana Dewi"

To:

Sent: Wednesday, June 18, 2003 3:43 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Dari Denial menuju keKhawatiran



Saat pertama kali anak saya ketahuan bermasalah, kebetulan keluarga kedua belah pihak sedang berkumpul. Bapak mertua saya secara nggak sengaja (mungkin) bilang : Tidak ada satupun keluarga saya dan keturunannya yang seperti Odi.

Entah karena sedang tidak mudah tersinggung, atau karena memang nggak merasa disinggung (karena dari keluarga saya sebelumnya juga nggak ada yang seperti

Odi), ibu saya hanya tersenyum dan bilang : Ini anugerah buat Dewi supaya belajar menjadi orang sabar (saya memang terkenal super tak sabar).

Apapun itu, yang diberikan Allah pasti menyimpan rencana tertentu.

dewi



----- Original Message -----

From: "Leny Marijani"

To:

Sent: Thursday, June 19, 2003 1:15 AM

Subject: [Puterakembara] dari DENIAL menuju KEPASRAHAN



Rekan-rekan milis,

Setelah kembali dari luar kota dalam rangka liburan 5 hari sekalian merayakan ulang tahun anak ke 2 saya, Michael; sekalian cari udara "fresh" atau yang agak tidak polusi lah (enggak berani bilang bebas polusi), saya lihat topik yang masih hangat adalah "dari Denial menuju Kekhawatiran".

Sebagai salah satu orang tua anak penyandang spektrum Autis, saya bisa merasakan dan maklum bila ada rasa "kekhawatiran" di antara kita semua. Itu sangat wajar kok..... yang penting khan kita bisa "nrimo" (kalau kata orang jawa) akan cobaan ini. Masalah nanti bagaimana kehidupan anak kita...... Kita serahkan saja sama Yang Di Atas.

Yang paling penting juga harus disadari dan diterima dengan ikhlas bahwa orang tua anak penyandang autis kayaknya harus berusaha LEBIH dalam segala-galanya dalam hal "mendidik" daripada orang tua yang mempunyai anak "normal".

Jadi..... USAHA ..... DOA ...... dan PASRAH........ ya enggak ?

Bagaimana kalau kita ganti ajach... topik ini menjadi "dari Denial menuju Kepasrahan"?

Salam,

Leny Marijani

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy