Denial [Penolakan]

08/21/2003

----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

Sent: Monday, June 09, 2003 8:25 PM

Subject: [Puterakembara] denial



DENIAL --- bahasa Indonesia nya 'penolakan' --- adalah salah satu fase yang 'normal' dilalui setiap individu kala mendapatkan berita buruk (apapun bentuknya). Misal: dibilangin kalau kanker, kalau punya kelainan darah seumur hidup, kalau uban di rambut ga' bisa diapa-apain karena dari sononya, kalau ga' bisa punya anak, kalau mata bakalan nambah terus plus-nya karena bola mata terlalu kecil diameternya...

Biasanya sih, tahapannya: anger, grief, guilt, denial, sad, sampai akhirnya acceptment (urutannya bisa ambur adul tergantung si individu yang empunya perasaan).

Nha, meskipun fase tersebut 'normal'... ya ada fase yang wajar, ada yang ga' wajar. Wajar, kalau sampai bulanan. Ga' wajar, kalau sampai tahunan.... Kenapa ga' wajar ? Yaaa...berita buruk itu kan kenyataan juga. Kalau menolak kenyataan, kapan sampai ke solusi ???

Masalahnya, perubahan dari denial ke acceptance, ga' bisa dipaksakan. Musti dateng dari dalam si individu. Biasanya yang udah kecentok atau kepepet, ga' bisa kabur lagi...mau ga' mau terpaksa nerima kenyataan. Biasanya ada kaitan dengan umur juga.... Waktu kecil, gampang deny facts bahwa anak kita autis. Tapi semakin gede ?? Mana mungkin deny lagi.

Waktu dulu, gampang deny tentang bola mata yang kekecilan diameternya..bilang aja dokternya yang bego (maap, prof...). Begitu makin tua makin ga' bisa lihat... terpaksa terima kenyataan...ternyata musti pake kacamata plus 3 yang seperti nenek-nenek. Nah lho (=true story).

Saya sendiri juga deny kok. Buktinya, Ikhsan baru sunat umur 9 tahun. Padahal udah diingetin semua orang suruh sunat dari umur 4 tahun. Udah tau bahwa musti nyiapin sekolah buat anak yang remaja....deny aaahhhh..... Biarin aja anakku udah 12,5 tahun. Selama belum diusir yang punya (please, Na...don't ...)... yaaaaa....denial dulu aaahhhh.....

Makin lama denial nya..makin ga' ada perubahan... Masih ga' percaya juga?

Busyet dah.



----- Original Message -----

From: "Wina Winiarsih"

Sent: Tuesday, June 10, 2003 11:39 AM

Subject: RE: [Puterakembara] denial



"penolakan" terhadap kenyataan mungkin sebagai salah satu bentuk menghibur diri dan hal ini pernah terjadi juga dengan saya.. ketika baru tahu Gilang autis, rasanya tidak siap.. dan dalam hati menghibur diri.. apa benar.. anak saya autis, ah.. jangan2 hanya terlambat bicara saja terus saya bandingkan dengan anak yang lain yang seumurnya, kok.. kayaknya tidak banyak berbeda ya... Malahan sebelum saya konsultansi ke Dr. Melly, ada dokter lain yang memperkirakannya dan disuruh test BERA untuk melihat kondisi kupingnya terus dikasih surat pengantar untuk ke RSCM, tapi.. ini tidak saya lakukan karena ya.. tadi ada pikiran "ah.. masa.. sih.. anak saya ada apa2nya..?"



Untungnya saya di Kantor punya teman2 yang senasib dan memberikan pandangan yang positif dan akhirnya ketemulah saya dengan Dr. Melly (saat itu usia Gilang 18 bulan) dan benar2 dinyatakan autis. Sempat sedih.. juga sih..!.

Untung...lagi..! rasa "penolakan" tidak merasuki saya dan suami sampai lama dan kami cepat sadar kalau hanya meratapi nasib tidak akan ada solusinya. Akhirnya kami berdua kerja keras untuk segera mencari solusi yang terbaik untuk kesembuhan Gilang dan menjadi prioritas utama.

Syukur alhamdulillah do'a dan kerja keras kami untuk kesembuhan Gilang sudah membuahkan hasil, meskipun masih banyak yang harus diperbaiki.

salam,

wina



----- Original Message -----

From: "Trifiana"

Sent: Tuesday, June 10, 2003 10:56 AM

Subject: Re: [Puterakembara] denial



Bu Ita bener. Saya termasuk orang yang "super" deny pada saat Mike terdiagnosa autis. Tadinya udah nyiapin mental nih karena kok udah 2 th tidak bisa ngomong ditambah lagi kelakuannya yang aneh-aneh.

Pada saat ke dokter masih berharap bkn autis yang divonis oleh dokter ternyata kok terjadi yang ditakutin. Byar.............!!!!! Yang ada cuma bengong, nangis sampai disentak oleh dokternya "sudah bu nanti aja nangisnya, sekarang bkn waktunya. sekarang harus cari jalan keluarnya" terpaksa deh berhenti nangis sementara papanya masih bengong "tidak terima".

Eeh .......sampai di rumah omanya di Bogor masih tidak terima, malemnya saya

tidak tidur masuk kamar mandi nangis sejadi-jadinya, pagi-pagi mata bengkak

tidak berbentuk. Kan di buku bilang (waktu itu) satu diantara 250 anak yang

lahir autis, kenapa kok saya yang masuk ke 250 itu kenapa bukan yang di 251nya aja, kenapa bukan si A yang konglomerat, si B yang punya tanah berhektar-hektar, kok saya yang suami hanya pekerja pada orang dengan gaji yg cukup pas-pasan untuk anak 3 yang kena ah.... bermacan macam kenapa???????????????.

Tapi..........akhirnya mau bengong sampai kapan mau bertanya sampai kapan mau menyesali diri sampai kapan terus apa juga harus menolak anak yang autis (lha wong anaknya cakep banget ui).

Ya .........harus terima kenyataan dong. Yang ada sekarang bukan penolakan dan penyesalan terus tetapi penyelesaian yang harus kita lakukan. Bener nggak bu Ita.

Tapi sekarang juga saya masih deny nih karena Mike yang belum ngomong-ngomong juga he..he..he. Ntar juga hilang kok ya denynya.

salam,

Tri



----- Original Message -----

From: endah murtiningrum

Sent: Tuesday, June 10, 2003 5:14 PM

Subject: RE: [Puterakembara] denial



Dua bulan lebih aku mengalami depresi yang cukup parah setelah Avie dinyatakan autis (3 th lalu). Untungnya suamiku enggak, hampir setiap hari dia membawakan copy-an artikel-artikel dari internet tentang autisma. Tololnya, setiap aku baca 'ciri-ciri' anak autis dan aku melihat ciri tsb pada Avie, penolakan dari dalam semakin menyesakkan dada.

Jadi, tiap hari isinya nangis, nangis dan nangis...Aku lupa turning point-nya, mungkin setelah beberapa kali Avie menjalani terapi di RS Harapan Kita, aku ketemu dengan anak-anak autistik yang lain, dan juga anak-anak DS (down syndrom) semangatku

mulai terangkat dengan kesadaran baru bahwa 'aku tidak sendiri'. We are the choosen mother!! 'Kesombongan' ini yang membuatku (berusaha untuk selalu) kuat.

Seperti juga Bu Leny, aku juga kenal dengan orang yang bersikeras untuk 'deny' terhadap kondisi anaknya dan itu membuatku sedih. Dia datang ke rumah atas anjuran saudaranya yang sudah kenal aku dan Avie, lalu bertanya banyak hal tentang autis; aku jelaskan banyak hal, aku beri bacaan-bacaan yang diperlukan.

Itu dua tahun lalu.., eh kemarin saudaranya bilang padaku dia tidak mau dibilang putrinya autis, putrinya cuma telat bicara, dan anak tersebut tidak diapa-

apain.. (padahal secara finansial dia berlebihan) Sekarang ini putrinya sudah 3 tahun lebih dan sangat berkecenderungan autis, ini kata kenalanku yang (katanya) sudah banyak baca tentang autisma.

Berapa banyak anak-anak autistik yang bernasib serupa? If only.. kita punya 'right' untuk 'menjemput' mereka agar bisa mendapatkan penanganan dini...

Endah.



----- Original Message -----

From: "Tri Permana Dewi"

Sent: Thursday, June 12, 2003 7:16 AM

Subject: [Puterakembara] re : Denial



Denial ala saya, mungkin adalah bentuk Denial yang GR ya bu Ita. Mengira anak Genius... bakalan jadi Einstein. hehe.. Apalagi lingkungan mendukung... Mana mungkin dia Autis, wong tadinya sudah bisa nyanyi 30 laguan (umur 1,5 tahun)... atau mana mungkin dia bisa melewati tralis kalau dia nggak jenius... hehehe... malu gue. Nyadarnya agak lama juga.

Mengira anak jenius itu autis... sama bahayanya dengan mengira anak autis itu jenius.

Kemarin saya juga ketemu dengan orang tua dari Kudus, yang anaknya autis banget, tapi seperti saya, dia juga menduga anaknya Gifted. Dan mau berangkat ke Belanda untuk pengujian. Semoga pertemuan Gifted - Autism yang akan dating memperjelas posisi masing-masing. Saya dengar bu Ita akan mengikuti diskusi tersebut.

Dewi



----- Original Message -----

From: "abdul mukti"

Sent: Thursday, June 12, 2003 12:27 PM

Subject: [Puterakembara] Denial dg anak autis



Hallo Bapak /Ibu yang terhormat, pengalaman saya dan istri mungkin berbeda dengan

pengalaman Bapak / Ibu sekalian. Kami tidak pernah mengalami denial (saat itu). Waktu itu thn 1993, justru kami sendiri yang mempfonis, bahwa Akbar (sekarang 12 thn) menyandang autis, sebab kami membaca artikel salah satu majalah terbitan jakarta, yang

menulis tingkah laku atau gejala autis sama dengan anak kami. Saat kami konsultasi dengan dokter spesialis (psikiater umum bukan anak), dan kami tanyakan pada dokter tersebut apakah anak ini autis, beliau jawab bukan, hanya hyperactif saja, yang bila sianya bertambah hipernya akan hilang.. kami tenang-tenang saja...

Baru pada usia 7 tahun, pertanyaan kami terjawab, setelah RS Soetomo Surabaya membuka klinik untuk menangani anak-anak yang berkelainan. Justru sekaranglah kami merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kami rasakan miris, bahwa menangani anak autis perlu extra hati-hati dan sabar. misal dalam hal pemberian makanan harus super selektif. Dulu informasiyang kami peroleh, bahwa anak autis tidak ada pantangan makanan.

Dan kini kami merasa bersalah secara tidak sadar, kami telah turut menyuburkan virus autis kedalam perutnya..



Salam

mukti+febri



----- Original Message -----

From: "zainal sutanto"

Sent: Friday, June 13, 2003 7:39 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Denial dg anak autis



Pak Mukti,

Anda tidak sendiri, .....pengalaman anda sama dengan yang saya alami. Terlebih lagi ia adalah seorang putri, bernama Nurul, usianya sekarang 9 th 3 bl. Rasa khawatir atas dirinya kerap menimpa kami. Yang bisa kami lakukan mencoba dan berdoa, mohon perlindunganNya.

Salam,

Zainal Sutanto



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To:

Sent: Thursday, June 12, 2003 9:35 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Denial dengan anak autis



Ternyata ada yang nasibnya sama dengan saya...punya anak autis di saat belum ada apa-apa yang jelas.

Saya juga mulanya merasa sangat guilty...dan berfikir: andai..andai...andai...Tapi capek, ah. Jadi, saya mikirnya berubah: 'memang dari sananya dititipin anak istimewa ini, supaya saya jadi saya yang sekarang....'. Lah, kalau ga' gara-gara Ikhsan, mana mungkin lah, aku ngurusin anak autis ?? Ya, 'kan ?

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy