Guru sebagai partner

08/21/2003



----- Original Message -----

From: bagwanto

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Wednesday, June 11, 2003 2:58 PM

Subject: [Puterakembara] Guru sebagai partner



Yth. Teman-teman,

Jum'at, 23 Mei 2003

Saya diminta untuk sharing pengalaman di Training para calon guru dan guru Play Group / TK Bethany. Hadir 14 calon guru dan sekitar 30 orang guru dari cabang-cabang sekolah tersebut yang saat ini sudah tersebar sampai ke luar Pulau Jawa.

Saya bersama Ibu Wiwi dan Ibu Dewi datang bertiga untuk sharing pengalaman. Perhatian mereka terhadap anak autis dan permasalahannya sangat tinggi.

Mereka menyimak setiap penjelasan, walaupun tidak semua dipahami.

Setelah kami cerita, giliran mereka yang sharing juga. Ternyata ada kesulitan yang dihadapi mereka dalam membimbing anak autis antara lain :

- sikap orang tua yang sulit berkomunikasi, menyerahkan semuanya kepada sekolah, cenderung tertutup.

- guru kurang mendapat informasi tentang cara penanganan

- guru kurang informasi tentang diet, sehingga tidak bisa membantu mengawasi pada waktu istirahat di sekolah

Dari situ bisa disimpulkan bahwa orang tua perlu memperlakukan guru sebagai partner, agar kerja sama terjalin bersama dari kedua belah pihak demi kelancaran proses belajar. Keterbukaan dari kedua belah pihak membawa kebaikan bagi anak.

Setiap saat proses belajar tidak pernah berhenti, termasuk kita sebagai ibu - istri - orang tua - suami - bapak - guru dll.

Tetap semangat yo.........

Salam,

Any



----- Original Message -----

From: Duma.Nababan

To:

Sent: Thursday, June 12, 2003 10:04 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Guru sebagai partner



Bu Ani,

Awalnya saya juga suka bingung,, kenapa sih orangtua ngga mau terbuka sama guru-guru anaknya? padahal mereka adalah patner kita dlm mengurus anak-anak special ini. Tapi setelah ngobrol dgn beberapa orangtua saya ternyata ada beberapa dari mereka yang takut kalau menceritakan apa adanya malah gurunya jadi malas ngurusin anak-anak ini...karena takut repot.

Mungkin benar ada orangtua yang ngga mau terbuka tapi ada juga guru yang memang agak sedikit 'malas' ngurusin anak-anak ini.

Saya ngalamin sendiri koq sebelum Jogi disekolahnya yang sekarang ini, saya udah amat sangat terbuka..... eh anak saya tetap aja dibiarin kalo sendiri dan ngga ada deh kemajuannya, akhirnya saya sampai pada keputusan bahwa sekolah itu bukan sekolah yang tepat untuk anak saya. Puji Tuhan akhirnya saya ketemu sekolah yang sekarang ini yang cocok dgn anak saya dan saya.

Tadi pagi saya dapat info dr guru bahwa tahun ajaran baru nanti kelas satu ada 1 anak autis yang akan gabung disekolahnya Jogi. Kebetulan tahun ajaran nanti sudah 23 orang mendaftar dan dibagi 2 kelas. Ketika si anak autis ikut trial di kelasnya Jogi, teman-temannya Jogi kelihatan santai saja ngga memandang aneh-aneh, hanya satu komentar yang keluar dari mulut anak-anak itu " Anak baru itu kayanya sama deh sama Jogi..." . Mereka ngga tau apa istilahnya dan kenapa Jogi 'harus' beda dari mereka, tapi mereka bisa menerima perbedaan dan sudah terbiasa dengan perbedaan itu.

I love them all.

d.u.m.a



----- Original Message -----

From: Wina Winiarsih

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Thursday, June 12, 2003 1:28 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Guru sebagai partner



Setuju Bu Ani, guru di sekolah adalah partner dan kita harus terbuka mengenai kondisi anak kita kepada mereka.

Hal ini saya lakukan juga kepada guru-guru Gilang termasuk Kepala Sekolahnya dan setiap ada kesempatan saya mengantar Gilang ke Sekolah, pasti saya sempatkan untuk ngobrol mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Gilang, mengenai kelemahan Gilang, diet, terapinya dan pengobatan yang sedang dilakukan oleh Gilang.

Hasilnya memang guru-guru Gilang tahu banget mengenai kebiasaan Gilang. malahan kalau ada hal-hal yang aneh atau kemajuan, pasti mereka akan bilang ke saya. Keuntungannya saya juga jadi terbantu dan bisa monitor perkembangan Gilang di sekolah tanpa harus setiap hari mengantarnya.

Menjelang masuk SD bulan Juli nanti, saya sudah memberikan penjelasan awal mengenai kondisi Gilang kepada Kepala Sekolahnya dan pada acara kunjungan gurunya ke rumah nanti (sebelum masa belajar dimulai) untuk mengenal Gilang lebih dekat, saya sudah siap-siap untuk menjelaskan kondisi Gilang kepada calon gurunya, sehingga mereka memahami kondisi Gilang dan dapat menanganinya dengan baik di sekolah.



salam,

wina



----- Original Message -----

From: "Rita Krisdiana"

To: Duma.Nababan, peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Thursday, June 12, 2003 2:01 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Guru sebagai partner



Bu Duma,

Mungkin pengalaman saya belum sekomplit ibu, karena anak saya pun baru 1 bulan ini masuk play group... sejak awal mulai hunting sekolah saya sudah siapkan diri saya untuk terbuka .... apapun tanggapannya terserah deh...

Waktu dikasih kesempatan trial di sekolahyang sekarang... anak saya dimasukkan ke kelas yang sesuai umurnya (3,5 thn)... hari itu meskipun dia cukup mudah adaptasi dengan teman dan guru2nya, tapi waktu belajar di kelas mulai kelihatan gapnya dengan anak lain. Akhirnya gurunya nanya... Hafiss umur berapa ya bu? dari raut mukanya saya tahu dia bertanya2 .... mulailah saya bercerita... termasuk juga dengan kepala sekolahnya.... lalu saya minta kesempatan untuk nyoba sekali lagi di kelas yang lebih kecil.... untuk membandingkan

Dari pengamatan saya, kayaknya anak saya kok lebih sesuai di kelas kecil, soalnya kalimat perintahnya masih pendek2.. jadi saya pikir biar di kelas kecil saja

Ternyata itu jadi bahan diskusi guru2nya... dan hasilnya saya diberitahu... kalau sebaiknya anak saya dimasukkan kelas sesuai umurnya... kesenjangan itu nanti akan dijembatani oleh gurunya Alhamdulillah saya malah dikasih waktu untuk trial selama 2 minggu supaya guru2nya juga bisa mengevaluasi lebih lanjut

Setlah sudah resmi masuk, meskipun dari sekolah ada buku laporan perkembangan harian... saya masih menyediakan satu lagi buku khusus.. yang isinya misalnya hari minggu kemarin kegiatan apa yang dilakukan anak saya... saya minta supaya ini jadi bahan tanya jawab utk melatih kemampuan komunikasinya... atau lagu apa yang tadi diajarkan di sekolah, kalau yang ini buat ngecek kebenaran jawaban anak saya

.... tapi waktu minggu kemarin saya minta ijin sama gurunya untuk ikut di kelas melihat sec langsung (setelah 4 minggu berjalan).... dia masih njambak rambut temennya waktu engga mau gantian main piano... atau ngambil makanan temennya waktu makan siang.... atau tiba2 bengong... he..he..he.. Tapi ini malah jadi bahan diskusi saya dengan guru2nya.... jadi memang guru adalah partner kita...

Salam

rit@



----- Original Message -----

From: "Lely Tobing"

To: Duma.Nababan

Cc: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Friday, June 13, 2003 11:13 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Guru sebagai partner



Bu Duma dan rekan-rekan yang lain,

Sekedar sharing pengalaman dari kacamata seorang pendidik anak usia dini. Memang betul apa yang diungkapkan oleh bu Duma bahwa, terkadang sangat sulit bagi orangtua untuk terbuka tentang keadaan anaknya jika memang mereka tahu bahwa anak tersebut bermasalah. Tapi kalau dengan alasan bahwa takut guru menjadi repot dan malas, saya kurang setuju. Menurut saya itu kembali kepada karakter gurunya.

Tapi jika mereka melihat guru anak mereka malas dan tidak competen, buat apa meneruskan sekolah di situ. Jelas-jelas tidak akan banyak membantu anak mereka. Tetapi kalau dibilang mereka takut, jika anak mereka tidak diterima di sekolah tersebut, jika mengaku bahwa anaknya memang bermasalah. Mungkin masih masuk di akal. Tapi jika kita berfikir positiif, alasan sekolah tidak menerima, bisa jadi karena beberapa pertimbangan:

1. Guru-guru di sekolah tersebut tidak mempunyai skill yang cukup atau pendidikan untuk anak special needs yang competen.

2. Orangtua dari anak-anak lain bisa saja protes dan tidak menerima kebradaan anak bermasalah tersebut. Karena sekali lagi, minimnya pengetahuan mereka tentang kebutuhan anak bermasalah. Menurut mereka, apalagi jika anak tersebut mempunyai level hyperactive yang tinggi dan tantrum yang agak sulit dikontrol akan mempengaruhi anak mereka yang mana berada 1 kelas dengan mereka.

Saya pribadi pernah mengalami hal seperti no 2 diatas. Sekelompok orangtua mendatangi saya dan memprotes kebradaan 1 orang anak Autis di sekolah tempat saya mengajar dan menjadi kepala sekolah. Mereka meminta supaya sekolah mempertimbangkan kebradaan anak tersebut di sekolah kami dan mengancam akan menarik anak mereka keluar dari sekolah itu.

Saya mencoba untuk menenangkan dan memberikan pengarahan kepada mereka, selain daripada itu saya memberikan selebaran kepada seluruh orangtua murid tentang apa itu autis dan menyatakan bahwa autis itu tidak menular (salah satu argumen mereka autis akan menulari anak mereka). Saya juga bebicara dengan orangtua dari anak autis tersebut, menenangkan dia karena dia juga sudah 'diserang' oleh orangtua yang lain. Bahkan kami juga mengadakan seminar intern sehari di sekolah kami tentang autis tersebut. Orangtua dari anak autis tadi, kita sebut saja ibu B tadinya mau menyerah. Tapi saya yakinkan beliau bahwa sekolah akan berjuang bersama-sama dengan dia untuk mempertahankan hak dari anak tersebut.

Syukurlah, para orangtua akhirnya mengerti dan bahkan anak-anak lain dikelas yang sama dengan anak ibu B malah memberikan dukungan moral dan perhatiaan kepada temanya yang autis itu. Walaupun pada akhirnya ibu B harus menyerah juga pada keadaan, bukan karena protes, karena anaknya memang belum siap menurut psikolog yang menangani untuk dimasukan ke dalam social setting yang luas. Lebih baik untuk diterapi dulu sampai mantap basic life skillnya dan dimasukan ke dalam mainstream class.

Di satu sisi, seringkali kami pendidik melihat anak tersebut mempunyai permasalahan yang membutuhkan penanganan serius. Tetapi orang tua deny dan ignore akan masalah tersebut. Sehingga fungsi kami sebagai patner orangtua kurang bisa termanage dengan baik. Di satu sisi yang lain, tanggungjawab seorang guru meliputi kepentingan anak banyak dan bukan hanya individual.

Segitu saja sharring saya dan maaf kalo kepanjangan.

Lely

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy