Anak suka memukul

04/26/2003

----- Original Message -----

From: "Tri Permana Dewi"

To:

Sent: Friday, April 18, 2003 8:19 PM

Subject: [Puterakembara] Mukul



Waduh saya lagi ada problem nih bu Ita dan teman-teman. Tadinya saya senang karena Odi mulai punya "perlawanan" Dia yang biasanya ngalaaaah terus, tiba-tiba ngelawan kalau diganggu adiknya. Dari yang tadinya mendorong... terus memukul.. terutama kalau mainannya di rebut. Eh lama-lama keterusan. Sekarang nggak diganggupun dia menyerang (memukul/ mendorong). Saya jadi agak kewalahan. Habis memukul dia ketawa-ketawa seperti mendapatkan kemenangan. Aduh Blahen thenan. Apa dia itu dendam ya dulu suka digangguin nggak bisa ngelawan.

Dewi

---------



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To:

Sent: Friday, April 18, 2003 9:25 PM

Subject: [Puterakembara] RE: Mukul



Serba salah, deh. Selagi anak ga' bereaksi, kita pingin mereka bereaksi, bisa bela diri (anakku belum, tuh). Ntar giliran udah bisa.....mereka ngrasain "enak"-nya...jadi terus dikerjain. Di sekolah aku juga ada yang 'enjoy' sekali ngejahilin temen. Malah kadang dia pasang badan, supaya dia kena pukul sehingga ada alasan untuk mukul balik (busyet).

So....gimana, nih?

Ya sama seperti anak biasa....standard kita ga' ada bedanya. Kalau anak biasa juga ga' boleh mukul. Anak kita (biarpun autis dan tadinya ga' bisa terus jadi bisa...sehingga kita kesenangan), tetep juga dapet aturan engga' boleh mukul. Kalau bisa, ambil kenikmatan itu dari dia. Kan dia seneng tuh, setiap abis mukul. Mungkin ada yang tereak? Mungkin ada yang nangis? Bisa ga', reaksi2 itu dihilangkan (ga' ada yang bereaksi sama sekali). Kalau bisa, sebelum dia mukul, dia dicegah.

Nha, sambil diajarin cara-cara lain untuk membalas perlakuan negatif orang lain (misal: menghindar, mengatakan "jangan ganggu aku", "aku ga' suka diganggu").

Susah sih. But worth trying. Daripada keburu besar dan nanti lalu dimusuhin/dihindari banyak orang karena dia tidak bisa membawa diri. Ah, I don't think ini soal dendam. Anak-anak kita ini anak baik, kok. Dia cuma lagi 'explore' berbagai kemungkinan mendapatkan reaksi macam-macam dari berbagai orang di sekitarnya.

salam,

Ita

--------

----- Original Message -----

From: "Trifiana"

To: "Peduli Autis"

Sent: Saturday, April 19, 2003 12:59 PM

Subject: Re: [Puterakembara] RE: Mukul



Ibu Ita, ibu dewi n teman-teman, Sepetinya Michael saya juga punya tuh perasaan "dendam". Soalnya gini, kadang-kadang kalau saya lagi suntuk ngeliat kelakuannya yang njelimet banget, saya sentil dia, pelan banget lho. Eh..... dia langsung musuhin saya, bisa satu harian tuh tidak mau saya apa-apain, tidak mau disuapin, tidak mau dimandiin, apalagi dipeluk. Maunya cuma sama papanya. Setelah cukup lama dibujuk, malah pernah lho sampai satu hari lebih (keesokan harinya) baru mau diajak maen tapi belon mau dipeluk dan dicium. Susah ya.......... Dan kelihatannya dia juga musuhan banget atau iri kali ya sama kakaknya yang no 2 (Sylvia 5,5 th). Kalau ngeliat sylvia gelayutan ama saya, wah habis tuh rambutnya dijambak, dipukul, didorong-dorong, kadang-kadang malah ditendang. Cukup repot juga saya kalau mereka lagi "beramtem" gitu, yang ada akhirnya dua-duanya nangis, berebutan mau dipeluk. Pusing ya........

salam,

Tri

---------

----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To: "'Trifiana'"

Cc:

Sent: Saturday, April 19, 2003 7:44 PM

Subject: [Puterakembara] dendam?



Tolong dibedain antara "dendam" dan "sakit ati". Yang pertama agak terlalu kompleks dan jangka panjang (abstrak pula). Tapi yang kedua, jauh lebih mungkin terjadi... dan pertanda baik buat anak-anak kita. Berarti, dia udah lebih ngeh ama perlakuan orang terhadap dia.

Susah kok, jadi orang tua anak autis. Giliran ga' bereaksi, kita pusing. Giliran udah mulai bereaksi....pusing juga kita, karena seringkali reaksi kita disalah-artikan. Tapi kalau aku sih, melihat "reaksi" mereka (mau positif, atau negatif..) sebagai suatu hal yang disyukuri. Bayangin, betapa kita sakit kepala kalau anak kita SAMA SEKALI tidak berespons. Wuyh, pusiiinnggggg...... (dulu aku ngalamin pas anakku umur antara 2-3 tahun).

So, count our blessings....sambil cari cara gimana ya, handle-nya?

Buat ibu Tri, masalah Anda sebetulnya juga dihadapi oleh orang tua yang anaknya ga' ada yang bermasalah. Sibling rivalry, terjadi di seluruh dunia....pada semua anak. Tetap semangat?

Salam,

Ita



----- Original Message -----

From: johanna ririmasse

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, April 21, 2003 9:51 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Mukul



Yth ibu Dewi,

Menurut saya, Odi udah mulai menyerang atau mengganggu adiknya bukan karena perasaan dendam. Mungkin disebabkan merasa senang bila adiknya nangis, atau sekedar untuk mendapat perhatian.

Mungkin ibu bisa coba sistem token ekonomi untuk mengurangi kesenangan odi yang suka gangguin adiknya. Kalau nggak salah sistem token ekonomi juga bisa diterapkan untuk anak normal juga, jadi adiknya odi juga bisa dilibatkan. Caranya, bila odi dan adiknya bersikap baik,maka mereka diberikan sticker atau koin, atau apa saja yang mereka suka untuk dikumpulkan. Bila mereka sudah mengumpulkan sebanyak yang ditentukan (misalkan sepuluh), maka sticker atau koin tersebut ditukar dengan hadiah yang mereka inginkan. Sebelumnya, ibu bisa kasih tahu "aturan" mainnya buat odi dan adiknya. Misalkan, bila mereka berlaku baik, akan dikasih sticker atau koin yang dikumpulkan, bila udah sebanyak 5 sticker, akan mendapat hadiah (sesuai dengan keinginan mereka). Agar Odi dan adiknya ngerti arti token,mungkin ibu bisa mulai dengan mengumpulkan 2 sticker untuk perilaku baik yang mudah atau biasa dilakukan, lalu dikasih hadiah. Goal dari token ekonomi, mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dengan tidak memperhatikan perilaku tersebut, sebaliknya memberikan perhatian pada perilaku yang diinginkan melalui pengumpulan koin atau sticker yang anak suka, hingga anak mendapat reward atau kesenangan untuk mengulangi perilaku yang baik lagi. Lama kelamaan, anak jadi lebih senang mendapat perhatian dengan cara berlaku baik, walaupun tanpa token lagi.

Saya belajar dan menerapkan sistem token ekonomi saat terapis anak autis, dan cukup bagus diterapkan saat mengari anak sekolah minggu saya yang umumnya balita, yang duduknya nggak bisa diam, suka gangguin teman, atau masih takut sama orang baru dsb-nya. Lumayan, berhasil juga.

salam,

Johanna

--------



----- Original Message -----

From: "Ichwan Hanuranto"

To:

Sent: Tuesday, April 22, 2003 11:45 AM

Subject: Fwd: [Puterakembara] Mukul



Mbak Dewi dan rekan2,

Wah... pengalaman saya malah sebaliknya. Dulu Saskia sangat egois terhadap Shifa (1 tahun), sementara si adik maunya merebut mainan yang sedang dipegang kakaknya. Kami biarkan saja karena nggak sampai mukul. Kami cuman ajarrin dengan mencoba memberikan mainan lain ke adiknya, lama-lama dia sendiri yang ngambilin mainan lain buat adiknya, "Nih, adik main ini aja yah?". Tapi karena si adik tetep ngotot sambil jejeritan, sekarang malah dia yang ngalah dan cari mainan lain. Kelihatannya nggak suka denger suara2 tinggi dari adiknya.

Kalo masalah nggak tertib biasanya di sekolah, dan memang belum konsisten untuk meniru/merujuk/mencontoh teman2nya. Jadi walaupun bisa dibilangin untuk kembali ke barisan misalnya, masih sering keluar barisan atau kalau sudah selesai tugasnya suka jalan2 di kelas. Kadang suka kasihan kalau teman2nya pada gak mau ngajak main gara2 nggak suka liat' kebandelan'nya itu.

Yah, mudah2an dengan terapi SI dan OT-nya bisa semakin memperbaiki behaviournya.



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy