Mengatasi ketakutan anak

04/26/2003



----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, April 14, 2003 7:26 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Ketakutan

Hebat, pak Hendra. Masih inget bagaimana handle situasi 'ketakutan berlebihan'.

Saya sih, ambil kompromi. Saya terima keadaan anak saya, tapi saya juga tetap berusaha agar dia bisa "sedikit" mengatasi perbedaannya sehingga makin bisa enjoy lingkungan 'normal' (antara lain, keadaan pesta).

Caranya?

1. Persiapan. Ibu Lisa sudah menjelaskan, bagus sekali. Tapi mungkin belum pakai gambar/ foto jadi anak tampak seolah mengerti padahal belum bener2 bisa membayangkan. Kalau perlu, bikin foto aneka pesta, terutama yang ia sukai, lalu pakai foto-foto itu untuk "recall" pengalaman2 yang ia sukai tersebut. Yang susah, kalau dia ga' suka.... apa boleh buat.... programnya pending.

2. Desentisisasi.

Ajak dia ke pesta di sekitar rumah/keluarga, tapi biarkan dia menentukan berapa lama dia bisa tinggal. Mungkin awalnya hanya 5 menit, lalu pulang. Lain kali 10 menit, lalu pulang. Sedikit demi sedikit, bujuk, arahkan agar tertarik, tapi tetap kita hargai keberadaan dia.

3. Jangan paksa.

Kalau jelas anak tampak sangat ketakutan....jangan paksa lah. Mungkin ada sesuatu (yang kita belum tahu) yang membuatnya demikian. Kalau terus dipaksakan nanti malah trauma. Pusing, 'kan?

Coba dulu?

BTW, anakku Ikhsan (12 tahun) ga' suka pesta karena boring (ha..ha.. memang!), brisik, banyak orang. Jadi kalau toh terpaksa dia harus datang (karena sepupunya yang undang itu autis juga, karena di rumah ga' ada orang, karena yang ngundang pesta kawinan adalah bos-nya ibunya), aku udah bikin kontrak dulu sama dia: - berapa lama dia & saya akan tinggal di pesta itu - apa yang boleh dia lakukan (makan, duduk di pojok, membaca buku, minum) - apa yang tidak boleh dia lakukan (berteriak, tiduran di lantai, lari-lari, marah2)

Biasanya, dia akan mengungkapkan apa yang dia rasa dan apa yang dia mau, menggunakan buku komunikasinya dia (yang saya selalu bawa kemana-mana). Sewaktu saya ajak ke kawinan temen kerja, baru duduk 5 menit dia udah ajak pulang. Terus saya tanya, Ikhsan merasa apa? Dia ambil symbol "bosan" (he..he.. he is not lying). Saya bilang, "salaman dulu, lalu duduk 5 menit, baru kita pulang". Dan kita lakukan hal-hal tersebut. Fair, 'kan? Pernah juga saya bawa dia ke pesta HUT sepupunya (yang autis juga) yang sarat dengan badut. Wadoh, sebel buanget dia. Tapi dengan negosiasi, dia mau tinggal selama 30 menit-1 jam di pesta tersebut. Peningkatan, 'kan?



Sekarang, saya tanya: "ibu mau anter Eyang Uti ke pesta kawinan. Ikhsan

mau ikut?" Dia dengan lantang menjawab "tidak". Ya sudah, pergilah aku...enjoying myself. :)

Selamat mencoba.

Salam,

Ita



----- Original Message -----

From: lisa

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, April 14, 2003 1:46 PM

Subject: [Puterakembara] Ketakutan

Dear Bapak & Ibu semua,

Mungkin ada yang bisa berbagi cerita dengan saya bagaimana caranya mengatasi etakutan anak yang berlebihan. Anak saya sangat takut di ajak ke acara ulang tahun. Biasanya, pabila saya mendampingi, dia masih mau duduk dan melihat kegiatan anak2 normal lainnya, walaupun dia hanya melihat dari jauh dan tidak ingin berpartisipasi. Nah.. sabtu lalu, kebetulan di kelasnya ada anak yg sedang merayakan ulang tahun. Dari rumah sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa nanti akan ada acara ulang tahun di kelas dan dia tidak perlu takut. Saya sudah merasa yakin dia mengerti tapi ternyata dia tetap saja ketakutan. Ibu gurunya pun tidak dapat membujuknya.Saat saya jemput pulangnya, saya mendapatkan dia sedang duduk sendiri di tangga agak jauh dari kelasnya dengan muka yang sangat ketakutan. Terus terang hati saya merasa gimana gitu dan saya benar2 tidak tahu harus berbuat apa. Saya merasa sudah memberi penjelasan sejelas-jelasnya tapi saya belum mampu mengatasi ketakutannya. Dan karena acaranya di kelas, saya tidak diperbolehkan mendampinginya. Saya sih tidak menyalahkan peraturan sekolah karena gimanapun juga saya tidak bisa meminta hak lebih hanya karena anak saya berbeda dengan yang lainnya.

Mungkin ada Bapak & Ibu yang berkenan memberi masukan kepada saya bagaimana meng-handle rasa takutnya.

Oh ya, satu lagi pertanyaan untuk Pak Willy atau Bapak, Ibu yang kebetulan tau. Apakah "nootropil" itu? apakah nootropil sama dengan rispeadal?

Terima kasih atas perhatian dan masukannya yang tentu sangat berguna buat saya.

Salam,

lisa

------------

----- Original Message -----

From: hendra.widjaja

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, April 14, 2003 4:09 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Ketakutan

Yth Ibu Lisa,

Saya juga mengalami hal serupa dengan anak saya. Tapi saya kok agak sedikit berbeda pandangan dengan Ibu. Kalau saya perhatikan, adabeberapa faktor yg menyebabkan anak saya tidak suka berada di tempat ramai seperti pesta, karena :

(1) bunyi yg bising

(2) orang - orang yg hilir mudik / lalu lalang

(3) semua mata tertuju ke anak saya

(4) anak saya bingung mau melakukan apa

Barangkali memang pendengaran anak saya hypersensitif sehingga mendengar bunyi yg bising membuat dia merasa tersiksa. Barangkali anak saya penglihatannya hypervisual (eh ada nggak ya istilah ini ??) jadi dia tidak tahan melihat begitu banyak obyek yg berseliweran di depan matanya. Barangkali anak saya grogi karena semua mata tertuju padanya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi intinya : saya menerima anak saya apa adanya, dan saya tidak mau memaksa anak saya untuk melakukan hal yang membuat dia merasa tidak nyaman / tersiksa. Jadi buat saya, kalau anak saya belum bisa menikmati untuk datang ke pesta / acara yg ramai, ya saya tidak mau memaksa. Jika kita ingin agar anak kita "masuk" ke dunia kita, tentulah bukan karena paksaan, tapi karena dia menyadari bahwa dunia yang dia masuki adalah dunia yang indah dan nyaman (Hehehe.. pendapat saya ini diilhami oleh buku yg sedang saya baca "Son Rise" tentang perjuangan orang tua membesarkan anaknya yg autis, dan sekarang si anak sudah ABG dan hidup seperti layaknya ABG yang lain)

Tapi kalau tidak salah, di milis ini pernah dimuat tips dari Ibu Johanna Ririmase tentang bagaimana mengatasi ketakutan anak atas suatu obyek. Kalau tidak salah, caranya adalah dengan memperkenalkan dengan obyek yang ditakuti itu sedikit demi sedikit. Barangkali rekan - rekan yg lain ada yg masih menyimpan email itu ? Atau ibu Johana sendiri barangkali ?

Salam,

HW

-----------

----- Original Message -----

From: "IKBAL SINDY"

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Tuesday, April 15, 2003 7:34 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Ketakutan

Ibu Lisa...

mungkin obat yang Ibu Maksud Risperdal (bukan Rispeadal). prinsip kerja Risperdal dan Nootropil memang berbeda lho bu. Risperdal adalah obat yang berguna menstabilkan neurotransmiter (senyawa kimia pengantar impuls di jaringan syaraf/ otak). teori mengatakan pada anak autis (yang Hyperaktif) terjadi ketidakseimbangan dua neurotransmiter penting di otak yaitu Dopamin dan Serotonin. akibatnya aliran impuls syaraf (kayak aliran listrik begitu) menjadi tidak terkontrol dan anak menjadi Hyperaktif. nah Risperdal bekerja untuk menstabilkan kedua neurotransmiter Dopamin dan Serotonin tadi. sehingga hyperaktif anak menjadi berkurang dan anak siap menjalani terapi terapi.

sedangkan Nootropil setahu saya bekerja pada jaringan otak dengan cara memperbaiki metabolisme jaringan otak tersebut.

semoga bermanfaat ya....

salam,

Ikbal



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy