Autisme dan Montessori

04/26/2003

-----Original Message-----

From: Lely Tobing

Sent: Friday, March 28, 2003 8:49 PM

To: peduli-autis@puterakembara.org

Subject: [Puterakembara] Montessori dan autis



Dear Listmates,

Mohon saranya nih, beberapa hari yang lalu saya diajak teman saya ke sebuah Montessori workshop di Jakarta. Disana juga ada pameran barang-barang Montessori dan educative play set.Pamerannya sangat menarik dan ketika saya melihat barang-barangya, saya berfikir sepertinya sangat cocok untuk dipakai sebagai alat terapi. Karena setiap alat Montessori mengandung konsep pendidikan yang sangat jelas dan tidak rancu. Selain daripada itu juga harganya sangat terjangkau dan semua adalah produksi dalam negri.

Pada saat itu, yang jual kebetulan seorang yang sangat mengerti tentang Montessori. Dan ketika saya tanyakan apakah semua alat Montessori ini bisa dipakai untuk alat pengajaran anak Autis, dia mengatakan bahwa dasar pertama pengajaran Montessori berangkat dari anak-anak mental retarded dan diterapkan kepada anak normal, teryata bisa dan hasilnya sangat memuaskan. Kebetulan saya ingin merokemendasikan alat tersebut kepada teman saya yang berencana ingin melakukan homeschooling untuk anaknya. Bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian, apakah ada yang tahu hubungan antara Montessori dan autis. Selain daripada itu apakah alat-alat Montessori dapat dipakai juga untuk media terapi anak autis?.

Mohon sarannya

TerimaKasih

Mamanya Debora

----------------------------------

Komentar Dari Rekan Milis:

----------------------------------

----- Original Message -----

From: "Dyah Puspita"

To: "'Lely Tobing'"

Cc: peduli-autis@puterakembara.org



Sent: Friday, March 28, 2003 10:32 PM

Subject: RE: [Puterakembara] Montessori dan autis



Kebanyakan anak autis belajar lebih mudah bila mereka bisa melihat atau memanipulasi sesuatu yang sedang mereka pelajari. (=visual learner atau kinesthetic/hands-on learner). Mereka kesulitan memahami konsep abstrak. Montessori, adalah pelopor pendidikan balita, dan beliau sangat mendasarkan proses belajar mengajar pada 'pengalaman'. Dasar pemikirannya adalah anak lebih mudah memahami sesuatu yang mereka alami.



Kaitannya jelas sekali, bahwa penyandang autis akan dapat mempelajari berbagai konsep abstrak melalui manipulasi dan visualisasi; sementara Montessori memiliki berbagai peralatan yang mendasarkan diri pada manipulasi & visualisasi (pengalaman).

Selama saya mengelola sekolah khusus anak autis, saya belajar dari anak-anak, bahwa mereka lebih mudah paham bila kita mengganti-ganti tampilan bahan pelajaran, dan mereka tidak harus diberikan SATU jenis metode. Mau Montessori, mau Teacch, mau ABA, mau play therapy, apa-lah namanya.... bila menjawab kebutuhan mereka; they do enjoy learning as long as the method is enjoyable.

Salam,

Ita

Pssstt...bocoran nih: kadang saya bongkar-bongkar catalog dari negeri seberang, saya contek ide-nya...dan guru-guru di sekolah kami membuatnya sendiri dari bahan yang mudah diperoleh di sekitar kita. Murah meriah,

tapi tepat guna.



----- Original Message -----

From: "Kartati"

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Saturday, March 29, 2003 10:05 AM

Subject: Re: [Puterakembara] Montessori dan autis

Saya setuju sekali dengan ibu Ita, karena mengalami sendiri manfaatnya. Anak saya Thomas, TK-A, sangat menikmati sekolah barunya (dan tentu saja jadi mendapatkan banyak manfaat), yang menerapkan metode sejenis montessori, dimana secara berkala (saya lupa, tiap minggu atau 2 minggu) mainan diganti/dirotasi.

Dulu dia sekolah umum biasa dengan 30-an anak dan 2 guru, dan permainannya bukan yang sejenis ibu Lely maksud, setelah saya amati (dan sering rekam juga), sekolah buat Tom jadi semacam 'punishment'. Padahal saya baru coba 2 - 3 hari dalam 1 minggu sambil lihat perkembangannya.Akhirnya setelah 1 tahun, Tom dipindahkan ke sekolah yang sekarang

Saya jadi ingat komentar konsultan ABA anak saya (dulu dia di Amrik, UCLA, salah satu Behvr. Consultant Lovaas) waktu pertama kali datang ke sekolah Tom. Dia bilang begini :' pantes aja bu wiwie bilang Tom suka sekali sekolah disini, karena cara mereka mengajar mirip sekali dengan cara-cara yang dipakai di ABA'.

Padahal saya pilih sekolah itu hanya dengan feeling seorang ibu biasa, setelah trial 2 x seminggu selama 2 bulan, Tom sangat happy & inisiatif-nya muncul untuk minta sekolah di tempat baru. Penjelasan ibu Ita sangat jelas, dan saya jadi bangga juga nih . . . ternyata feeling saya tepat. Thanks God.

Tom pindah ke sekolah barunya Juli 2002, sd Des'02 menikmati sekolahnya tapi masih asyik sendiri, interaksi dengan temannya sangat terbatas. Secara akademis Tom di atas teman-temannya, jadi 2 bulan I saya coba dulu di play group karena prioritas adalah 'social mainstream'. Ternyata karena selalu paling cepat selesai mengerjakan tugas / permainan, dia jadi bosan dan tanya terus ke gurunya 'Thomas buat apa lagi ?' Gurunya kewalahan membanjiri Tom dengan tugas tambahan, sampai akhirnya setelah didiskusikan dengan kepala sekolah & guru-gurunya, kami sepakat untuk 'coba' ke TK-A. Ternyata oke banget, karena teman-teman di TK-A (mungkin karena lebih dewasa) malah sangat mau mengajak Tom berinteraksi.

Bulan Okt atau Nov 2002, konsultan Tom mulai mengajak pihak sekolah kerja sama untuk perkembangan Tom. Dan sejak Januari 2003, dampak 'social influence' dari teman-teman sekelasnya mulai terlihat. Dia tidak lagi mau main sendiri, kalau tiba-tiba dia 'tertinggal' di kelas atau di play ground, dia akan segera mencari teman-temannya. Banyak hal-hal yang biasanya tidak mau dia lakukan (naik pesawat, dengar suara blender, nonton bioskop, dll) setelah dilakukan dengan teman sekelasnya, dia jadi mau. Kelihatan sekali dia mulai 'imitasi' perilaku teman2nya. Waktu akan praktek buat kue di sekolah, begitu melihat mixer dia menjauh dan teriak tidak mau. Tapi setelah dari jauh dia lihat teman2nya asyik melingkari gurunya yang sedang memegang mixer, lama-lama dia mendekat, melihat dan akhirnya malah mau 'memegang'mixer waktu gurunya minta dia membantu.

Syukur banget, setelah 3 tahun berjuang, akhirnya mulai ada titik terangbahwa anakku tidak benar-benar 'asyik di dunia sendiri'.Sudah mulai imitasidari teman & lingkungan, buat saya dan suami sudah sangat membahagiakan.Masih sangat banyak PR yang harus dikerjakan, tapi kami senang karena selamaini selalu 'bisa melihat' progress Tom, walau kadang begitu kecil. Banyakorang tua yang berkata :' anakku gak maju-maju'. . . padahal mungkin hanyakarena 'tidak bisa melihat' progress kecil-kecil (tapi sebenarnya adaterus), jadi bagaimana bisa bersyukur dong . . .

Setelah acara 'Teacher Awareness' 24 Mar di rumah bu Any y.l., mendengarmasalah2 para guru menghadapi problem di SD... saya sempat bilang:' aduh,kok masa depan jadi remang-remang nih . . ' begitu juga seorang teman, telpsaya hampir menangis, ternyata dia sangat stress karena tidak menyangkaproblem di SD bisa begitu ruwet. Masa depan jadi gelap, katanya. Setelahngomong panjang lebar, kami sepakat untuk 'do the best', usaha 100% dan iman100%. Udah beruntung kami 'dikasih tahu' sebelum anak kami masuk SD, atleast, masih ada waktu untuk persiapan.

Ayo ibu-ibu, eh bapak-bapak juga . . . . ikut semangat bu Ita, maju terus.Semoga sharing saya berguna

salam,

Wiwie & fam

Oya, soal pertanyaan ibu Lely : ' ....apakah alat-alat Montessori dapat dipakai juga untuk media terapi anak autis?'.Saya jadi ingat lagi waktu kami ditanya konsultan Tom tentang tujuan mengajarkan 'blocks imitation' . . .dia tanya :'mengapa bukan 'rice' imitation or 'key' imitation ? . . . . Kami (dengan beberapa terapis) berusaha menjawab dengan jawaban 'canggih' spt : keseimbangan, warna,bentuk, dsb. Lalu dia bilang :' sebenarnya ada jawaban yang sangat simple & mendasar . . .karena balok adalah mainan umum semua anak. Kita semua kan mau anak-anak ASD juga tidak ada bedanya dengan anak lain, mereka bisa bermain dengan permainan yang sama, bukan yang 'aneh-aneh' . . . 'oh itu kan anak autis, jadi mainannya beras dan kunci ...'....lah, jadi kita sendiri yang bikin mereka tambah autis . . .Jadi saya setuju lagi dengan bu Ita, . . . . mau Montessori, mau Teacch, mau ABA, mau play therapy, apa-lah namanya.... bila menjawab kebutuhan mereka; they do enjoy learning as long as the method is enjoyable



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy