Sosialisasi autisme

03/02/2003

Sosialisasi Autisme

Yth. Bapak Zul dan teman-teman lain,

Sama lah di sini juga begitu, tetapi karena populasinya cukup banyak, lama kelamaan lingkungan mulai banyak tau juga. Waktu jamannya anak saya dibilang ADHD juga banyak yang nggak ngerti.

Pada waktu anak saya masuk SD, kita sampai dimintain tolong sama sekolah TK alumninya untuk memberikan keterangan lengkap mengenai tanda/gejala dari anak autis, supaya mereka bisa membantu ortu yang belum tahu sama sekali. Harapan saya, kalau ortunya nggak tau, paling sedikit sekolah Play Group atau TK yang bisa menginformasikan ke ortunya. Ternyata memang banyak lho ortu yang belum tahu. Kaget kan....

Kesempatan berikutnya saya diminta sharing di sekolah tersebut oleh kepala sekolahnya . Sekolah ini punya beberapa cabang yang tersebar di Jabotabek. Nah....saya bawa aja Ibu Ita ke sana untuk penjelasan lebih lanjut. Wah mereka semangat nonton film-nya, menanyakan cara belajarnya, cara menghadapi anak dll. Saya senang dengan kepedulian mereka dan sambutan ibu Ita terhadap semangat mereka.

Menjelang anak saya masuk TK, saya melahirkan anak kedua. Pada saat menunggu anak di sekolah, saya berusaha menceritakan keadaan anak saya kepada ibu-ibu lain yang juga menunggu anaknya di sana. Ternyata ada 2 kelompok yang kita bisa lihat : yang bersimpati dan yang menjauhi kita. Tapi itu kan biasa lah. Yang bersimpati bisa dijadikan pengawas untuk anak dan mbaknya bila saya tidak mengantar. Jadi anak saya punya banyak "pengawas". Ada beberapa kejadian yang sudah saya ketahui melalui teman-teman lain sebelum anak saya sampai di rumah. Itulah gunanya teman. Ternyata mereka setia sekali mengawasi anak saya.

Jadi memang perlu diperkenalkan sama kita, tentunya "bungkusan"-nya harus tetap "manis".

Salam,

Any

-----------------

haloo pak hiban pak zainal

Kalau di medan orang awamnya sangat sedikit yang mengenal autis kalau saya terangi malah bengong.tetangga pada tak mengerti dia lihat anak saya ganteng bukan seperti orang ediot mereka tak percaya .Yang gilanya saya berobat pada dokter ketika saya bilang anak saya autis dia malah bengong juga.yang sakitnya lagi saya berobat didokter anak saya bilang anak saya autis dia malah no respont seperti biasa aja seperti sakit plu mungkin .Makanya perlu departement penerangan nih di medan .

kalau ada dokter jangan tersinggungyaa soalnya ini aktual di medan .



salam Zoel Medan



---------------------

Pak Ikbal,

Saya setuju sekali dengan usulan Pak Ikbal, tapi tentunya hal ini membutuhkan waktu ya.. dan harus dimulai dari diri kita sendiri. Mungkin bapak masih ingat beberapa hari yang lalu saya pernah kirim mail

ke puterakembara juga sekitar hal ini.

Saya sudah mempraktekkannya buat anak saya Jogi. Seperti yang saya katakan awalnya kita mulai dari lingkungan yang benar-benar ditemui anak saya sehari-hari ataupun sesekali. Mulanya keluarga saya dan keluarga suami, kemudian ke keluarga besar mami dan papi saya, kemudian tetangga-tetangga saya, kemudian teman kantor saya dan suami, teman sekolah saya dan suami, lalu orangtua di sekolah anak-anak saya.

Sekarang saya rasakan ngga ada yang nganggap anak saya aneh...walaupun dia harus ngomong berulang-ulang, ke toillet bolak balik dsb, malahan mereka jadi tau apa-apa saja yang jadi pantangan anak saya. Inipun makan waktu yang agak lama karena kita harus ngejelasin ke mereka, tapi yang jelas ini sangat baik buat kehidupan selanjutnya anak-anak kita di lingkungan terdekatnya.

Tapi saya pernah tau beberapa orangtua yang punya anak autis justru menjauh dari kehidupan sosial, saya sih ngga tau persis apa sebabnya. Mungkin ada yang malu, ada juga yang berpikiran ngapain juga ikut-ikut arisan,ngumpul dengan keluarga emangnya kalau anak gue susah mereka mau bantu? Ada juga yang bilang ngga punya waktu lagi soalnya udah sibuk ngurusin anaknya.

Saya pikir bagaimana kita mau mensosialisasikan kalau kita sendiri ngga mau terbuka dengan lingkungan? Masalahnya kalau mereka tidak lihat sendiri agak susah menceritakan, karena sebagian besar anak autis secara fisik tidak ada beda dengan anak normal lainnya, namun tingkah laku dan bicaranya yang kemudian menyebabkan orang bisa merasakan ada yg "aneh" dengan anak kita.

Kalau memang berniat memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas, mungkin saya bisa bantu karena punya teman-teman yang baik hati yang bisa membantu lewat media. Nanti akan saya coba hubungi.



regards,

duma





---------

The easiest way mungkin mulai dari lingkungan terdekat: keluarga besar sewaktu arisan, lingkungan tetangga pas main bersama di sore hari, rekan sekerja di kantor, teman-teman sewaktu kuliah /sekolah pas ketemu reuni, sampai..... ke lingkungan lebih luas melalui presentasi, seminar, menulis di koran, bicara di radio... wah, limitless.



Kalau radio, bisa anda datangi www.femaleradio.com di kolomnya putri suhendro..ada cerita tentang Ilham (anak autis). Itu juga bentuk penyuluhan kita kepada masyarakat bahwa autism itu ada dan menjadi masalah bersama.



Tadi pagi, saya juga memenuhi undangan untuk presentasi di fakultas psikologi ui (almamaterku) untuk sharing di depan mahasiswa...cerita tentang autis dan putar video anak-anak autis... sapa tau diantara mereka tertarik untuk jadi terapis dan guru bagi anak autis?



Teman sekantor saya semua sudah kenal Ikhsan-ku..karena sering saya ajak..bahkan sewaktu kantor wisata ke pulau seribu.



Barangkali, small steps -pun akan berdampak, selama kita semua melakukannya serempak...tanpa kenal lelah.

Selamat menyebar info!



Ita

-----------

Keselamatan bagi semua,

ketika saya kerja di luar indonesia ( tak usah disebut yah dimananya ), di negara tersebut anak yang autis diterima masyarakat, karena masyarakatnya kenal dengan yang satu ini,baik di bus, di supermarket, di pantai, dan ,,,,sampai sang penjaga pantai diberi tahu anak yang autis berserta keluarganya sedang main,,,saya pun diberi tahu sama supir bus tersebut ketika menempatkan anak autis tersebut duduk di sebelah saya ketika saya liburan ke pedalaman negri tsb.

bu leny, bu dewi, bu diah dan ibu bapak lainya kenalin autis ini di tv, radio, sekolah, tukang beca, sado, angkot, bus, kereta api, satpam, hansip, polisi, politisi, rt, rw, lurah, camat, bupati, gubernur, presiden. Agar mereka sadar bahwa yang autis ini manusia, yang sepatutnya merasakan kehidupan utuh manusia sosial.

Kalau di tetangga saya mah udah, yah lumayan lah se rt, meskipun hanya sebatas mereka menerima dengan sikap sampai pada kasihan,,,lumayan,,, rt yang lainnya mah belum karena waktunya belum di rancang.

Di bandung mulai TK sampai SD ada yang nerima. Kalau tk mah banyak yang nerima, salah satu sd di SD Panorama dekat IKIP nerima,,,,insya Alloh mudah kok,asal keyeng kata orang sunda mah,,dan mensosialkan pada masyarakat bukan dalam pengertian untung ruginya ( kayak dagang/meskipun kadang temen saya masih suka dengan cara ini karena mepet katanya ), tetapi sikap untuk menempatkan manusia pada level manusia.

Memang susah dan kerja berat untuk menyadarakan manusia pada level manusia, termasuk se rt saya sendiri, apalagi dengan variasi jenis dan level pendidikan dan juga berbagai kepentinga yang lebih mendagang pada saat ini, yang kadang jadi riweuh. Meskipun harapan saya tetep sampai bisa menghargai sebagai manusia utuh dengan kesadaran akan kekurangan dan kelebihan tanpa exploitasi ( apalagi exploitasi nilai ). Yah lumayan, karena semua adalah kerjaan.

saya yang lagi keranjingan menempatkan manusia pada levelnya

have a nice week end

tchau

----------

Salam semua,

Memang, untuk membuka mata lingkungan thd anak spesial (autis) ini tidak mudah, dan diperlukan kemauan dari orang tua memulainya spt di Bogor...Bravo.

Saya punya teman yang mempunyai anak spesial ini dan dimasukkan SD negeri....Awalnya ia meyakinkan para guru yang ada disekolah itu tentang anak spesial ini. Ia membimbing para guru tentang apa itu autis, bgmana penangananmya dsb..dsb, akhirnya para guru menerima anak tersebut. Anak tsb masuk kelas dengan pengawasan sang ibu selaku terapisnya. Sekarang anak tersebut sudah kelas 2 SD, dan pintar dikelasnya...

Sekarang teman saya mengajak beberapa ibu yang mempunyai anak spesial untuk sekolah disitu dibawah pengawasannya. Ada 4 orang yang masuk disana...... (saya juga ingin, tapi sayangnya anak saya belum bisa komunikasi dan tantrum, walau usianya sudah 9 th).

Bisa dibayangkan SD NEGERI tersebut kelasnya hanya 6 ruang, murid dan

gurunya pas-pasan dan kata sebagian orang adalah sekolah yang kurang baik...kalau lihat gurunya, edukasi mereka pas-pasan, tapi mereka mau menerima anak spesial ini....dan menyayangi, memperlakukan anak spesial ini seperti anak didiknya yang lain...mereka diberi PR, kalau tidak mengerjakan dikasih hukuman...dlsb.....saya terus terang salut dengan mereka...

Dari pengalamann tersebut, perjuangan ortu untuk membuka mata linkungan memang harus dilakukan, baik secara lembaga maupun perorangan. Mari kita berjuang mulaii dari yang sedikit....

Salam,

Zainal Sutanto



----------------------

Setuju.... Gimana nih Ibu Ratih dari Bogor...?

Coba kita bayangkan (imagine...... jadi inget lagu John Lennon), kalau kita rekan-rekan milis Puterakembara semua semangat dan berani memulai untuk mencoba melakukan pendekatan ke satu sekolah atau institusi yang paling dekat saja dengan kita (tidak usah sekolah anak kita, bisa sekolah dekat rumah atau dekat kantor...) Kebayang enggak ada 200 sekolah yang aware.... (dengan catatan, kalau berhasil).

Kenalan Ibu Duma dari Media, juga boleh tuh dimanfaatkan. Ayo.. siapa yang

mulai mau nulis....? Bapak Ikbal Sindy, ayo pelopor...? Ibu Dyah Puspita...? Lho kok

Ibu Ita.. lagi.... yang lain dong..........

OK.... tetap semangat...!!!! (Kayak Sonny Tulung, Family 100 ajah...)

Salam,

Leny Marijani

--------

Di Bogor, salah seorang praktisi perautisan atas saran PSG kliniknya, pernah mengadakan kerjasama dengan Departemen pendidikan yang mengundang para guru TK

(baru TK) se Bogor untuk memperkenalkan autis dan bahkan muncul kebijaksanaan dari Depdiknas yang mengharuskan setiap sekolah TK di KODYA BOGOR menerima paling tidak 1 anak autis per kelas.Walaupun baru setingkat TK, tapi sepertinya sudah cukup berarti.

Memang tidak serta merta semua sekolah melaksanakan, ada yang bilang sudah ada, untuk menolak anak autis masuk, tapi setidaknya guru-guru mulai memberi perhatian.

Belakangan, dengar-dengar khabarnya mulai banyak pula sekolah yang membuka pintu untuk menerima anak-anak ini, dengan persyaratan masing-masing sekolah.

Kalau boleh memberi saran, jika PSG Bogor memang jadi terbentuk, mungkin bisa bekerjasama yang lebih intens dengan DEPDIKNAS dan Yayasan Autis. Mungkin bisa melakukan pengenalan masalah autisme ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya untuk guru-guru SD.

Sebenarnya tidak bertujuan untuk memaksakan diri agar anak diterima di sekolah umum, kalau anak nggak siap masuk sekolah umum dipaksakan khan juga bisa jadi

bumerang... Tapi setidaknya... guru-guru lebih ngeh dengan masalah autis ini.

dewi

----------------------

Kira-kira 8 bulan yang lalu kami (Pak Yunus Firdaus, Ibu Dyah Puspita, Ibu Tri Permana Dewi) pernah membicarakan masalah yang kurang lebih sama dengan yang Pak Ikbal kemukakan yaitu mengenai perjuangan untuk mensosialisasikan masalah autis (awareness) pada masyarakat dan juga pemerintah. ( http://puterakembara.org/archives/00000028.shtml )

Mengenai kendala kami sadar pasti ... ada... Ibu Dyah Puspita, pada saat itu juga mengingatkan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah dan kalau sudah jalan tidak boleh mundur (jangan setengah jalan... percuma... katanya).

Sebelum melangkah jauh, waktu itu saya berpikir bahwa langkah pertama yang harus dikerjakan adalah lingkungan yang terdekat dengan kita yaitu : sekolah anak-anak kita (terutama sekolah umum/biasa). Saya atas nama Puterakembara telah mengadakan pendekatan dengan Kepala Sekolah untuk menciptakan awareness pada lingkungan sekolah terutama guru-guru bahwa apa itu autis ? apa gejalanya ? dan yang penting bahwa autis adalah bukan penyakit menular yang harus ditakuti. Surprise bahwa tidak sedikit guru yang antusias menanggapi. Bahkan mereka bersedia diberikan penyuluhan secara khusus. Kata mereka kalau perlu penyuluhan itu harus dihadiri oleh semua orang tua murid. Itu salah satu contoh.

Contoh yang lain.... ada salah satu rekan milis di Bandung (Ibu Amah/ibunya Laras) yang telah berhasil berjuang demi anaknya agar tetap bersekolah di sekolah umum. Ibu Amah telah menggugah pihak sekolah ketika beliau menterjemahkan satu artikel dari Website Puterakembara mengenai perjuangan orang tua di luar negeri untuk membuat anaknya diterima di sekolah umum. Bahkan kata Ibu Amah, artikel terjemahan beliau sekarang dipajang di Majalah dinding sekolah.

Pak Ikbal... kami sangat setuju bahwa perjuangan untuk mensosialisasikan masalah autis harus dimulai dari kita, para orang tua anak penyandang autis itu sendiri.

Kalau memang autisme belum dapat disembuhkan, minimal kita harus berusaha untuk membuat masyarakat menerima sekaligus mengakui keberadaan anak-anak kita dengan segala perbedaannya.

Salam,

Leny Marijani

----------------------

dear listmates...

saat ini apabila kita perhatikan begitu menggebu gebu upaya semua orang tua anak penyandang autisme untuk "bertempur" mengatasi permasalahan autisme ini. Dari apa yang saya perhatikan dan alami, sebagian besar upaya lebih diarahkan pada upaya penanganan si anak itu sendiri (anak sebagai obyek penanganan). berbagai

upaya dari yang ilmiah, setengah ilmiah sampai yang tidak ilmiah telah dicoba. namun sekali lagi apabila diperhatikan semua metode penanganan tersebut, tetap saja "si anak yang di terapi". padahal kenyataan menunjukkan seorang penyandang autisme yang dinyatakan telah sembuh, biasanya masih menunjukkan gejala - gejala sisa. sementara yang terjadi dimasyarakat pada saat seorang mantan penyandang autisme (yang masih ada gejala sisa) berinteraksi dengan lingkungannya, lama kelamaan ada kemungkinan seorang anak akan dianggap "aneh" oleh lingkungannya. pointnya adalah saya ingin mengajak rekan rekan sekalian untuk menyadari bahwa terapi terhadap si anak saja tidaklah cukup apabila lingkungan masyarakat tempat anak kita hidup nantinya tidak bisa menerima mereka apa adanya. perjuangan kita yang jungkir balik menangani anak kita sampai "hampir normal" bias menjadi tidak berarti apabila dimasa dewasanya mereka

dihindari dan dijauhi lingkungannya (saya sering sekali menerima pertanyaan dari lingkungan saya apakah autis ini menular ??). keadaannya akan lebih parah lagi pada anak anak yang sampai usia dewasa tetap "tidak sembuh". Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi kelak ketika mereka berinteraksi dengan lingkungannya. sebagai orang tua

kita tidak mungkin bisa melindungi mereka seumur hidup mereka (paling paling hanya bisa melindungi mereka seumur hidup kita....!!!) apakah lingkungan mereka salah bersikap seperti itu ?? tentu saja tidak. hal ini karena ketidak tahuan masyarakat luas tentang autisme itu sendiri.... lalu siapakah yang bisa diharapkan menyampaikan pengertian autisme kepada masyarakat ?? bapak ibu sekalian jangan pernah berharap pada orang lain...pada pundak kitalah tanggung jawab itu dibebankan...!!! saya ingin

menghimbau janganlah karena larut dalam upaya penanggulangan autisme yang nyaris "tanpa batas" itu, kita melupakan kenyataan bahwa putra - putri kita bukan hanya hidup saat ini saja...mereka mungkin masih hidup 20...30...40...atau 50 tahun lagi, bahkan

mungkin mereka masih hidup jauh setelah kita semua dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. percayalah kehidupan putra putri kita kelak akan lebih nyaman apabila lingkungan mereka dapat menerima dan memahami keadaan mereka apa adanya....

gerakan menyadarkan dan memberi pengertian kepada masyarakat tentang autisme inilah yang secara sembarangan saya beri istilah "intervensi lingkungan bagi anak autis".

saya pribadi berpendapat (sekali lagi ini pendapat pribadi) bahwa bagi anak autis "kehidupan akan lebih mudah dan nyaman apabila lingkungan menerima dan memakluminya walaupun si anak belum sembuh dibandingkan sudah sembuh tetapi lingkungan menolaknya". konkritnya saya bermaksud mengajak rekan rekan sekalian untuk bersama sama memberikan pemahaman tentang autisme ini kepada masyarakat luas. hal ini memerlukan perjuangan panjang, upaya yang berulang ulang dan bersama sama serta waktu yang lama. karena itu kalau tidak dimulai dari sekarang, trus kapan lagi ??.

harus diakui memang bahwa akhir - akhir ini mulai ada pembahasan pembahasan dimasyarakat tentang autisme ini. namun dari apa yang saya amati frekwensi pelaksanaannya jarang sekali, atau kalau toh dilaksanakan, media perantaranya tidak menjangkau khalayak yang luas. beberapa artikel tentang autisme memang telah dimuat

di media massa. namun apabila diperhatikan kebanyakan media tersebut adalah media khusus kesehatan yang tentu saja jangkauan sasarannya relatif terbatas. pernah juga sih ada talk show di televisi tentang autisme ini. tapi sekali lagi frekwensinya juuaaaraaang sekali (kalau nggak salah sih setaon sekali....he he he). untuk itu saya menghimbau rekan rekan yang sering menulis artikel tentang autis di milis ini untuk juga mengirimkan artikel tersebut ke koran, majalah, tabloid dll. sesederhana apapun isi artikelnya. kalautidak dimuat ?? ya dikirim lagi... lama lama juga dimuat ( malu ??......wah setelah perjuangan sekian tahun ngurus anak autis, demi untuk anak istimewa ini rasa malu udah aggak tau tercecer dimana....saya cari cari udah nggak ketemu lagi...he he he). cuman supaya menggigit, ngirimnya jangan hanya sekali tapi terus terusan. lebih baik lagi kalau pengiriman artikel ini dikoordinir (oleh Ibu Leny misalnya). Jadi misalnya minggu I giliran Ibu A, minggu kedua Bapak B, minggu ketiga Ibu C, minggu ke empat Bapak F, minggu I lagi (bulan berikutnya) saya, dst, dst, dst....(kalau sudah habis dirotasi ulang lagi). perkara artikel tersebut tidak dimuat ya nggak apa apa. yang penting artikel terus saja dikirimkan. isinya bisa dari hal hal yang sederhana seperti pengalaman sehari hari menghadapi anak autis sampai pada hal hal mutakhir tentang autisme. apabila ada diantara rekan milis yang punya kenalan produser radio/ TV coba dimanfaatkan agar bisa dilakukan "talk show" membicarakan autisme ini...namun sekali lagi jangan hanya sekali sekali. kalau bias rutin. saya yakin banyak sekali orang tua anak autis yang bersedia jadi pembicaranya. lebih bagus lagi kalau disalah satu stasiun radio swasta ada acara talk show mingguan (rutin) tentang autisme....sehingga setiap minggu masyarakat di ingatkan tentang autisme. barangkali ada rekan yang punya koneksi untuk ini ??. saya yakin rekan rekan tentu punya ide yang lebih baik lagi, kalau tidak keberatan kita sharing disini... saya sadar hal ini adalah pekerjaan yang sangat panjang... butuh waktu...dan hasilnya belum tentu kelihatan. tapi kalau tidak sekarang...kapan lagi ??, kalau tidak kita....siapa lagi ????

salam,

Ikbal.

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy