Memerangi autis - management frustrasi


bagi ortu anak autis

02/21/2003

Sharing rekan milis Puterakembara..



From: "IKBAL SINDY

‘Subject: Re: [Puterakembara] frustrasi orang tua.....

maaf Bu Ita dan Bu Leny kalau saya ikutan nimbrung mengomentari topik ini... memang saya suka gatel kalau ada kata kata...frustasi....skeptis....dan BIAYA MAHAL !!!. mungkin seperti kebanyakan orang tua yang lain saya juga pernah dihinggapi rasa kecewa, senewen dan tidak berdaya pada saat mendalami pengetahuan tentang autisme ini. karena semakin didalami semakin banyak metode alternatif yang kenyataan pahitnya adalah tools untuk metode2 tersebut belum dikembangkan di Indonesia sehingga penerapannya memerlukan pembiayaan yang relatif mahal. mungkin di negara asalnya sana, metode tersebut relatif murah. namun pada saat di Rupiahkan...wow.....berat bo'. ada sih saran kalau pelaksanaannya gak usah dilakukan sekaligus tapi bertahap sesuai kemampuan.

Pemeriksaan darah misalnya, ya jangan semua dulu tapi satu satu sesuai tebal tipisnya lembaran yang masih ada didalam kantong/ dompet. tapi satu satu juga tetap aja mahal... itu untuk yang tinggal dikota kota besar dengan akses informasi yang baik. dapat dibayangkan bagaimanakah dengan rekan rekan sesama orang tua yang tinggal di pedalaman diluar pulau jawa misalnya...

karena itulah saya gak bosan bosannya menulis dimana mana menghimbau agar di Indonesia ada semacam "Indonesian Autism Centre (IAC)" yang berbasiskan perguruan tinggi (Fak. Kedokteran), sehingga paling tidak tools untuk Biomedical Treatment misalnya gak perlu dikirim ke Amrik lagi tapi cukup ke Jakarta aja. bayangan saya kelak di IAC tersebut ada sub unit – sub unit : Diet dan Gizi Autism, Imunologi Autism, Psikologi anak Autis (orang tua juga) dan lain lain. apakah mungkin ?? menurut saya sangat mungkin kok. fakultas kedokteran yang hebat hebat kita punya. laboratorium laboratorium sudah ada, tenaga analis analis handal bertebaran di mana mana, orang orang pintar juga sangat banyak kok....

masalahnya kan tinggal ada nggak kebijakan untuk mengkoordinir dan mendukung itu. soal alat pemeriksaan yang harganya mahal, bagi lembaga swasta atau perorangan mungkin tidak terjangkau. tapi untuk lembaga pemerintahan harga yang miliaran itu rasanya kok tidak terlalu besar. mungkin ada yang bilang wah pak Ikbal berkhayal lagi nich....tapi gak apa apa....sejarah menunjukkan banyak terobosan terobosan besar dimulai dari berkhayal kok....he he he. o ya kembali ke topik semula, frustasi itu selalu ada. tapi lama lama saya coba berfikir positif aja.

Terus terang dari upaya belajar mandiri, pengetahuan tentang biomedical treatment rasanya saya kuasai dengan baik, auditory integration training (AIT) juga saya pahami, kinesiology saya cukup tahu , craniosacral therapy juga nggak tulalit amat, immunologi autism juga sekarang lagi didalami.....pertanyaannya apakah itu semua saya lakukan untuk putra saya ?? jawabannya terus terang nggak.. kenapa ?? ya...duitnya enggak nyampe... frustasi ?? awalnya iya juga sih...mengetahui berbagai alternatif cara terapi tapi gak bisa apa apa. tapi lama lama saya meyakinkan diri saya bahwa dibandingkan sebagian orang tua yang lain mungkin saya sedikit lebih "kaya". buktinya saya bisa teratur menyekolahkan anak di pusat terapi autisme.

Kadang kadang bisa mengundang terapis ke rumah. lagian saya sadar bahwa indikator keberhasilan penanganan putra putri kita tidaklah selalu pada hasil akhir berupa si anak sudah seperti anak normal. Tapi kemajuan kemajuan kecil (dan ini sering terjadi) membawa kebahagiaan yang luar biasa.... coba bapak ibu bayangkan kita berkali kali mengalami kebahagiaan akibat kemajuan kemajuan kecil tadi (berkali kali lho bahagianya...bukan hanya sekali !!).

salah satu contoh betapa gempar, heboh dan bahagia sekali rasanya pada saat putra saya tiba tiba masuk kamar mandi sendiri..pipis di kloset dan ngeflush airnya.... padahal kemarennya kalau pipis berserakan di mana mana. orang serumah gempar...si fadjr dipeluk dan diciumi rame rame karena kemajuan itu...sementara si anak sih cuek cuek aja (heran kali dianya, kok orang orang jadi pada aneh begini...). kebahagian seperti ini hanya orang tua anak autis yang bisa merasakannya.

so...frustasi itu wajar...tapi cobalah melihat kebawah masih banyak orang tua yang tidak seberuntung kita kita...lagian saya yakin sekali bahwa anak anak dengan kelainan adalah kesayanga ALLAH...berbanggalah kita kita karena telah terpilih menjadi orang yang dititipi anak anak tersebut.

---------------------------------------------

'Yak tul !!!!

Saya sependapat dengan Ibu Ita dan Ibu Leny. Materi bukanlah segalanya (walaupun kalau ada, lebih baik). Yang lebih penting upaya dan doa kita di dalam mendidik anak. Dan tidak lupa mengamati dan dan mensyukuri setiap kemajuan yang dialami anak kita, sekecil apa pun kemajuan itu.

Contohnya dulu anak saya hobinya ngacak ngacak laci pakaiannya. Awalnya saya dan istri memarahi anak saya. Tapi kok nggak mempan, tetap aja kalo kita nggak liat, laci bajunya diacak acak . Trus di salah satu seminar saya dapatkan solusinya. Setiap kali dia ngacak ngacak, saya ajak dia untuk membereskan bersama. Wah dia berontak abis abisan karena dia nggak suka disuruh membereskan lacinya. Tapi setelah beberapa kali "dipaksa" membereskan laci, hasilnya sekarang anak saya nggak pernah lagi ngacak ngacak lacinya. Dan itu semua tanpa biaya lho, karena dilakukan sendiri di rumah, oleh kami orang tuanya.

Mungkin kalau bagi orang lain, hal itu biasa aja. Tapi bagi kami, hal itu kemajuan yang luar biasa, dan saya dan istri tidak hentinya mensyukuri setiap kemajuan yang dicapai oleh anak saya.

Salam,

HW



-----Original Message-----

From: dyahpspt

Sent: Tuesday, February 18, 2003 6:00 AM

To: Leny; peduli-autis

Cc: dyahpspt

Subject: FW: [Puterakembara] frustrasi orang tua.....

Setuju, ibu Leny !!

Frustrasi itu, gejala akibat seseorang TIDAK berhasil mendapatkan apa yang ingin dicapainya/ diperolehnya. Dalam hal ini... tidak mendapatkan perubahan pada anak, seperti yang diharapkan oleh orang tuanya.

Masalahnya.... apakah harapan orang tua tersebut REALISTIS sesuai keadaan anak? Apakah harapan orang tua mempertimbangkan kemampuan (kelebihan/ kekurangan) si anak? Jangan-jangan... orang tua-nya yang berlebihan nih?

Materi berlebihan itu bonus. Tapi tanpa materi berlebihan, kita bisa juga mencapai sesuatu. Dengan kerja keras, keuletan, kepasrahan atas KEKUATAN YMK, dan doa terus menerus.

Saya berani bilang begini, karena selama 10 tahun sudah menjalaninya. Hasil mungkin bagi Anda tidak berarti, tapi bagi saya yang tahu asal usul dan titik awal anak saya, hingga detik ini saya tidak bisa berhenti mensyukuri nikmat Allah. Minder? Dosa itu. Sama seperti tidak berterima kasih ke yang di atas, dong?

Buat bu Leni, ulasannya selalu tepat. Buat para orang tua yang lain, KEEP UP THE SPIRIT !! God is watching us.

salam,

Ita





----- Original Message -----

From: "Leny Marijani"

To:

Sent: Tuesday, February 18, 2003 12:25 AM

Subject: [Puterakembara] Memerangi autis/Management frustrasi bagi orang

tua.....



Yth. Rekan-rekan Milis,

Dari beberapa tanggapan rekan milis mengenai "success story" nya Ibu

Debbie Sianturi (termasuk pesan langsung yang masuk ke saya), maaf kalau saya

Harus menyimpulkan bahwa tidak semua orang tua dapat menikmati keberuntungan materi seperti yang Ibu Debbie alami.

Saya juga berani katakan di sini bahwa "tidak beruntung" dalam hal materi tidak sama artinya dengan "tidak diberkati".

Bahwa informasi itu sangat penting... itu benar. Sebagai orang tua anak penyandang autis, kita semua memang sangat membutuhkan informasi terutama "informasi praktis" yang berguna dan dapat diimplimentasikan kepada anak kita.

Kalaupun misalnya kita belum dapat "seberuntung" seperti Ibu Debbie, saya yakin masih banyak yang dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak perlu merasa minder. Dengan semangat dan percaya diri, kita pasti dapat berbuat sesuatu untuk anak kita sebaik yang Ibu Debbie lakukan.

Salam,

Leny Marijani

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy