Makanan dan Alergi Telor.....

01/23/2003

Yth. Teman-teman,



Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya. Dulu aku pikir hanya dengan diet susu dan terigu, semua beres. Waktu itu, setiap sarapan selalu telur, misalnya hari ini dicampur jamur, besok diberi kecap dan bawang goreng, lusa ditambah dengan daun bawang, hari berikutnya pakai tahu. Pokoknya menu pokoknya TELUR. Begitu setiap hari.



Dari teman-teman lain saya mendengar alergi telur. Waduh...jangan-jangan anakku begitu.



Satu tahun kemudian, barulah pemeriksaan LAB dilakukan. Betapa kagetnya. Telur putih dan kuning, kedua-duanya. Sejak itu dilakukan pemberantasan terhadap telur dan variasinya. Bahkan yang sedikitpun pada anak saya tidak diberikan. Kasian juga, tapi buktinya sarapan pagi menjadi lebih variatif. Seringkali keadaan terdesak, justru menimbulkan kreatifitas pada orangtua.



Oleh karena itu mencatat makanan yang dimakan dan behaviour yang terjadi di tanggal yang sama, sangat bermanfaat. 2 buku ini akan bicara banyak kepada ibu sendiri.



siapa yang berikutnya memberi komentar / pengalaman / masukan. Ayo....semangat lagi.



Salam,

Any

----- Original Message -----

From: Kartati

To: gek wah ; Wahyudi Tjipto

Cc: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Wednesday, January 22, 2003 6:45 PM

Subject: [Puterakembara] Re: Makanan & Alergi Telor



Hallo Bu Dewi, saya sharing yang saya alami....

Anak saya (Thomas, hampir 5 tahun) setelah menjalani test Food Alergy memang dinyatakan alergi (ringan) terhadap telor. Dulunya hampir tiap hari makan telor, akhirnya saya stop total. Karena ingin tahu seperti apa efek alerginya, setelah diet 6 bulan, saya coba test dengan memberikan 1 butir telur di suatu hari Sabtu. Hari minggunya kami ajak dia pergi ke suatu panti asuhan di Cibubur yang taman bermainnya cukup luas & indah. Entah kenapa, dia yang biasanya sangat menikmati alam bebas, siang itu tanrum terus (teriak, marah2, lompat2 & menggeram2) tanpa alasan yang jelas. Tantrum berlanjut s/d Selasa (atau malah rabu, saya agak lupa) siang baru normal kembali. Karena ragu, 2 minggu kemudian saya coba kasih telur lagi, ternyata tantrumnya berulang lagi. Kemudian saya coba lagi (nekat nih . . .) pakai 1 telur dalam suatu resep kue kering (yang habis dimakan dalam beberapa hari), ternyata tidak ada perubahan apa-apa dalam perilakunya. Jadi, saya hanya pakai telur (ayam kampung) untuk 1 resep kue.



Saya tidak tahu efek apalagi yang terjadi dalam tubuhnya (yang saya tidak bisa lihat), tetapi karena sekarang relatif mudah mendapatkan pengganti telur (egg replacer, dsb) saya tidak lagi pakai telur untuk membuat roti buat dia.



Tapi setahu saya, ada juga beberapa anak yang dari test food alergy-nya ternyata tidak alergi telur. Jadi mestinya tiap anak berbeda.



Dari pengalaman pribadi maupun sharing dari ortu lain, tanpa ikut test seperti itu (yang relatif mahal), kita bisa mengenali makanan apa saja yang sebaiknya dihindari anak kita. Caranya rotasi makanan (terutama protein) dalam 5 hari, buat Food & Behavior Diary yang detail tentang makanan apa saja yang dimakan & catat juga perubahan perilaku apa saja yang terjadi. Berdasarkan data yang cukup jelas & rinci, kita bisa tahu makanan apa saja yang bisa jadi 'pemicu' perilaku tertentu.



Kalau dari pengalaman saya, anak saya juga harus menghindari gula (bisa langsung hiperaktif & cenderung agresif). Ternyata memang ada masalah jamur (yeast overgrowth). Jadi saya hindari yang manis-manis, termasuk ubi jalar.



Begitu sharing saya, semoga membantu.

Siapa menambahkan ?



Wiwie Thomas



----- Original Message -----

From: gek wah

To: Wahyudi Tjipto

Cc: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, January 20, 2003 9:28 PM

Subject: Re: Makanan



Hallo saya ibu Dewi dari Bali mohon informasi apakah telor tidak bagus untuk anak autis ? terimakasih

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy