Terapis autis

01/21/2003

Rekan-rekan milis,

Sedih yach ... kalau memang benar ada “physical abuse” yang dilakukan oleh para terapis terhadap anak penyandang autis yang tanpa perlakuan itupun sudah cukup menderita.

Masalahnya bukan apakah terapis itu kualified atau tidak, atau dari lulusan mana, tapi lebih kepada attitude (sifat dan prilaku) dari masing-masing pribadi terapis itu sendiri. Apakah ada jaminan bahwa terapis yang kualified tidak melakukan perbuatan yang kasar/tidak selayaknya dilakukan terhadap anak-anak ???

Saya teringat akan pesan Ibu Dyah Puspita beberapa bulan yang lalu (hal mengenai abuse pernah dibahas) bahwa kita sebagai orang tua lah yang harus AKTIF berperan sebagai manager anak, dalam arti kata harus mengawasi sepenuhnya apa yang terjadi saat proses terapi. Orang tua harus selalu WASPADA terhadap kemungkinan seperti itu.

Salam,

Leny Marijani

--------------------

YES, YES, YES !!!

ORANG TUA adalah QUALITY CONTROL OFFICER bagi putra-putrinya... Kalau merasa kurang pe-de karena belum banyak pengetahuan, ya ditambah saja pengetahuannya. Sekarang sudah banyak kok, sumber pengetahuan di sekitar kita.

salam,

Ita

----------------------

Ada baiknya kita menghilangkan sikat negatif thinking terhadap para terapis anak kita, terutama untuk bapak Vico, belum tentu Kiki takut terhadap mantan terapis karena mempunyai pengalaman buruk pada mantan guru terapisnya, bisa jadi memang anak bapak tidak menyukai karakter atau penampilan fisik dari guru tsb. saya punya pengalaman pribadi yang sangat unik, saat saya masih balita saya paling benci sama orang yang berpenampilan klombrot (tidak rapi) dan pasti mereka saya usir bila bertamu ke rumah. Begitu juga Bayu anak saya yang autis dia tidak suka masuk kerumah orang yang perabotannya berantakan apalagi lantainya kotor, Bayu pasti memberoktak minta keluar.

Seperti kasus petera bapak Vico yang ketakutan sama mantan terapisnya menurut saya itu adalah masalah dan masalah tersebut harus diselesaikan, jangan biarkan Kiki dihantui oleh rasa ketakutan terhadap seseorang sehingga mempunyai memori buruk terhadap seseorang, mungkin perlu dicoba untuk sering mempertemukan mantan terapis anak bapak kepada Kiki yakin kan pada anak bapak bahwa mantan guru terapisnya tersebut baik kalau Kiki suka ketakutan bila ada yang datang kerumah (karena mungkin mengira kalau yang datang adalah mantan terapisnya), usahakan Kikilah yang sering dating kerumah terapisnya, pertemukan mereka dengan suasana yang santai.

salam,

Iktiar Wibowo

----

Dear friends,

Pada saat awal Odi anak saya diduga “bermasalah” oleh dokter, dan kemudian saya masukkan ke suatu tempat terapi, dia lalu mengalami trauma dan menurut dokter Ika membutuhkan penanganan khusus.

Lalu selidik punya selidik... (didukung hasil test AIT)ternyata telinga odi yang sebelah kanan amat sangat sensisitif sehingga sangat tidak mampu mendengar suara keras termasuk pujian sekalipun. Jadi maksud hati terapis memuji dengan keras untuk membuat suasana meriah.. anak justru mengalami ketakuatan luar biasa.

Lalu saya bertemu OT terapis dari Solo(muridnya pak Budi), yang sangat lembut suaranya (laki-laki), anak saya berangsur membaik.

Ketakutan bisa karena berbagai sebab. Kita harus jeli menilai, karena anak kita sangat spesial, salah-salah kita bisa keliru menuduh, seperti yang terjadi dengan saya.

dewi



-----------------

Salam buat teman-teman semuanya

Saya sangat prihatin dengan adanya terapis yang melakukan “physical abuse” terhadap anak yang ditanganinya. Kami dari Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) mohon informasi apakah hal tersebut dilakukan oleh seorang okupasi terapis? Bila Ya, mohon dapat dikirimkan nama terapis, lulusan dari mana? OT Solo atau OT UI JKT? Apabila hal tsb dilakukan oleh seorang Okupasi Terapis mohon dilaporkan kepada kami secara pribadi dan kami akan menindak lanjuti dengan sesuai peraturan yang ada di IOTI.

Kami mohon kepada Bapak/Ibu semuanya agar berhati-hati dalam memilih terapis. Mohon dapat di cek kualifikasinya/latar belakang pendidikan/ pengalaman/ pelatihan yang telah diikuti, dll.

Karena sekarang ini banyak orang yang hanya ikut pelatihan sesuatu topik dalam 1 atau 2 hari berani menyebut dirinya terapis dan melakukan tindakan terapi. Sekali lagi mohon berhati-hati dalam memilih terapis supaya kejadian tsb tidak terulang lagi.

Hormat kami atas nama Pengurus Pusat IOTI,

Tri Budi Santoso, BSc.OT (Can), MSc.(Aus)

(Indonesian WFOT Delegate)

-----------------

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy