Anak hilang....

01/08/2003

Baru saja saya membaca koran Kompas hari ini (ujung kanan bawah) mengenai kehilangan anak perempuan bernama Salsabilla (Aca), yang kemarin juga telah kita terima di milis ini (diforward oleh Bapak Andi Widjaja).

Dari peristiwa anak-anak hilang tsb., ada hal yang patut kita perhatikan sebagai tindakan preventif bagi kita (apalagi anak-anak kita adalah kelompok "spesial") :

1. Jangan sekali-sekali meninggalkan anak kecil (balita) seorang diri di tempat umum (walaupun dalam kasus ada yang ketinggalan seperti yang dialami ibu Aca). Sebaiknya ajak serta juga si anak kemanapun kita pergi.

2. Mulai sekarang perlu memikirkan ide-ide seperti yang telah dikemukakan oleh Ibu Tri Permana Dewi dan beberapa rekan milis sebelumnya.

3. Selalu berdoa untuk keselamatan anak-anak kita, di manapun mereka berada. Sebagai orang tua kita kadang-kadang tidak bisa mendampingi anak 24 jam sehari (mis.: pada waktu sekolah, les, tempat terapy, dll).

Untuk Ibu Wina, kayaknya kabar hilang Dimas juga perlu di muat ke Surat Kabar. Saya rasa tidak perlu punya kenalan atau channel, tapi bisa dicek langsung ke redaksinya mungkin.

Salam,

Leny Marijani

----------------

Met kenal kembali pak Ichwan.....

Memang cukup mengerikan mengalami 'dunia runtuh' karena kehilangan anak walau untuk sementara.

Dan itu benar-benar pengalaman berharga. Minimal kita bisa merasakan bagaimana panik, gusar dan kehilangan pada saat kejadian berlangsung. Belum lagi rasa bersalah..... wah udah deh ... nggak mau ngulangi lagi.

Dan pada saat itulah... benar-benar kita merasakan bahwa buah hati kita itu harus kita jaga sepenuh jiwa.



Semoga Allah memaafkan kita yang lemah dan selalu memberi bimbingan setiap saat dalam mendapat amanat ini. Amien.



-----Original Message-----

From: Ichwan Hanuranto

Sent: Thu 1/9/2003 9:42 AM

To: peduli-autis@puterakembara.org

Cc:

Subject: Pengawasan anak penyandang autis



Assalamu'alaikum Wr. Wb. dan salam sejahtera kepada segenap anggota Puterakembara,

Pertama saya turut prihatin dan mendoakan agar Dimas dapat segera kembali ke orangtuanya.

Kedua saya mohon maaf baru 'bunyi' lagi, dan bagi anggota baru saya adalah orangtua Saskia (4 th 9 bln), penyandang autis yang juga pernah hilang 1/2 jam di Plasa Senayan (usia 2 1/2 tahun), dan bahkan tenggelam di pemandian Cipanas Garut (usia 3 th 2 bln), karena kami lalai dalam mengawasinya. Sebagai orangtua kita selalu ada saja saat-saat dimana kita berpikir: "Ah, cuman ditinggal sebentar ini dan dia sedang asyik/bermain dengan ..... (apa saja)", tapi justru saat itu resiko kita kehilangannya sangat besar.

Waktu Saskia hilang saat itu dia sedang makan Chiki (saat itu belum diet dan belum ngomong), dan kami sedang istirahat di atrium tengah PS (di bawah Jam Bernyanyi). Kebetulan pada hari Minggu itu saya juga sedang ada pameran. Istri saya hanya berbalik sekitar 10 detik untuk menyiapkan susunya, tapi dalam sekejap itu Saskia lenyap dari pandangan!

Saya sangat panik dan berlarian ke sana kemari, informasi dan semua satpam saya minta bantuannya. Bundanya bertugas mencari di lantai atas. Yang ada dalam pikiran saya cuma dua: jangan sampai Saskia diculik, atau turun/keluar ke tempat parkir dan tertabrak mobil, karena Saskia kalau sedang 'sakaw' makan Chiki benar2 lupa sekitarnya!

Alhamdulillah, saat saya naik lagi dari tempat parkir kembali ke tempat awal saya melihatnya cuek berjalan, masih asyik dengan cemilannya! Jadi rupanya dia berjalan berputar mengitari 1 blok pertokoan dan kembali ke tempat awal (mirip kasus Pak Wahyudi).

Waktu tenggelam lebih gawat lagi. Saat itu ada acara keluarga dan kami sedang siap2 check out. Istri sedang berpakaian dan saya sedang menyiapkan sarapannya Saskia, sementara Saskia sedang bermain dengan beberapa sepupunya di bungalow sebelah kamar kami.

Saat saya kembali dari ambil air panas sebentar (l/k 2 menit) Saskia sudah tidak ada, katanya lari mengikuti sepupu2 nya. Deg... saya mulai cemas karena saya tahu sepupu2 nya masih pakai celana renang. Saya langsung kejar dan ternyata Saskia tidak ada bersama mereka di kolam renang! Saya balik lari menyusuri melalui pematang-pematang/jalur kembali ke kamar dan benarlah kekahawatirannya, Saskia saya ketemukan sudah mengambang di kolong bungalow mertua saya dengan posisi punggung

di atas. Dengan berteriak ala tarzan saya langsung terjun dan mengangkatnya dari air sambil minta tolong orang untuk mengangkatnya ke atas (cukup tinggi untuk naik sendiri). Dari jauh bundanya sudah

sesenggukan nggak berani lihat karena dia pikir Saskia sudah 'lewat' dengan perut membusung dan bibir membiru. Yang masih memberi harapan adalah waktu di air saya sempat lihat kakinya masih kejat-kejat

walaupun lemah. Akhirnya setelah mendapat pernapasan buatan Sakia siuman dan batuk2 langsung memeluk saya!

Dengan menangis saya langsung larikan ke RS terdekat, lalu ke Borromeus Bandung, dan hasil rontgennya saya bawa ke Graha Medika Jakarta untuk mendapatkan jawaban yang paling memuaskan. Alhamdulillah, tidak ada air di paru dan telinganya, kecuali BAB berwarna hijau tua karena banyak terminum air kotor. Menurut dokter kalau sempat lebih dari 5 menit tenggelam, besar kemungkinan nyawanya tak tertolong atau ada kerusakan otak karena supply oksigen terganggu.

Jadi saya hanya ingin mengingatkan agar kita harus extra waspada saat membawa putera/i autis kita terutama di tempat2 ramai (mal, kb. binatang, dsb.), pantai atau kolam renang, atau tempat2 dengan

ketinggian, stasiun k.a. atau terminal2, yang resiko terjadi kecelakaannya relatif tinggi.

Salam,

Ichwan

PS.: Saskia sekarang sudah di TK A dan rapornya cukup bagus. Terapi OTdan SI-nya juga berlanjut karena sangat membantu perkembangan pemahaman dan penanganan hiperaktifnya.



----------

Kenapa ya banyak anak hilang akhir-akhir ini. Kemarin anak saya juga hampir hilang di Bandara.

Anak sulung saya perempuan, sudah kelas 2 SD Alhamdulillah tidak punya masalah komunikasi.

Kok ya kebetulan beberapa hari sebelumnya dia mendapat hadiah buku seri Sesame Street dari Oomnya, yang menceritakan Burt hilang di pertokoan, disana diceritakan Burt ditolong Satpam dan di bawa ke pusat informasi, lalu diumumkan. Sehingga akhirnya Burt bertemu lagi dengan Tantenya yang mengajak dia ke toko tersebut.

Saat hilang di bandara, anak saya mempraktekkan apa yang dibaca. Dia mencari tulisan "informasi" karena nggak ada di lantai II (terminal keberangkatan) dia pergi ke lantai I. Sayang sekali waktu diumumkan karena berisik nggak terdengar. Entah kenapa papanya lalu menanyakan apakah ada bagian

informasi yang lain, mereka bilang ada di bawah, dan ternyata anak saya sedang duduk manis disana.

Untuk adiknya (anak saya yang "bermasalah") neneknya segera memesankan lebel bordir untuk ditempel di semua bajunya, (seperti lebel merk) berisi nama dan no telephon. Juga kalung grafir seperti yang dipakai tentara saat mau perang.

Oya, kemarin guru ngaji saya juga nemu anak hilang perempuan. Ternyata disakunya ada foto copy KTP

bapaknya, sehingga bisa diantar pulang ke rumah.

Sedia payung sebelum hujan, Kita nggak tahu kapan anak kita punya "ide" untuk jalan-jalan...

- label

- kalung grafir

- gelang grafir permanen

- foto copy KTP kita...

- membacakan buku cerita ttg "anak hilang"

yang manapun yang penting siaga...

dewi

------------------

Waktu itu (sebelum bulan puasa ) kami 2 keluarga, saya beserta kedua anak dan Teman beserta istri dan anaknya + Teman lain, kami jalan jalan ke Metropolitan Mall Bekasi. Ketika kami sedang antri di Hokabento, kedua anak saya ikut beriringan sambil bercanda dengan anak teman kami. Antrian panjang dan ketiga anak kami bercanda sambil lari-lari di sekitar ruang dalam Hokabento. Jadi kami pikir biarlah masih terpantau dan terkendali. Begitu antrian kami sampai makanan yang harus kami pilih terus ke kasir, maka praktis perhatian kami tidak lagi ke mereka yang sedang bercanda di ruangan. Setlelah selesai bayar, kami cari tempat duduk.

Dan eeh.. kemana si Riandika anakku tersayang ?

Adiknya ditanya tidak mengerti, katanya tadi baru saja lari di situ. Saya tanya anak temanku juga tidak melihat lagi. Waduh ... saya sapu sesekeliling ruang hokabento..... 3 sampai 5 kali. Tidak juga ada !!

Mulailah rasa bersalah dihati karena tidak mengawasi dan menjaganya. Pasti Riandi keluar ruangan. Tapi kemana ? Hilang sudah selera makan kami. Kami letakan makanan di meja dan istri teman saya menjaga beserta teman saya satu lagi dengan anaknya dan anak saya. Sementara saya dan teman keluar ruangan Hokabento menelusuri kerumunan pengunjung yang amat sangat ramai di hari liburan ini. Dimana Riandika ?

Pendekatan pencarian kami lakukan dengan mengingat apa-apa saja yang disenangi Riandika ini.

Banyak kekuatiran berkecamuk dalam hati saya. soalnya Riandi ini (autis) belum dapat berbicara. Kami berpencar, saya naik ke atas ke tempat permainan (time zone dll ) sedang temanku ke lantai bawah.

Tidak ada ! Di lantai atas yang memang khusus untuk anak-anak bermain, saya sudah tidak mampu lagi mencarinya. Selain begitu ramainya anak-anak dan banyaknya permainan, sudah 3 kali saya menelusurinya dengan berharap Riandika akan ke permainan yang ia sukai ( tadi memang main dengan saya) tetapi tidak di temukan juga. Runtuh sudah rasanya ....



Dengan badan lemas dan pikiran campur aduk saya kembali ke tempat semula di hokabento dengan tak lupa juga saya tanyakan pada setiap satpan yang ketemu dengan menyebut ciri ciri dari Riandika.

Apa yang harus saya lakukan lagi ??? Ada sekitar 2 jam kami mencari, dalam perjalanan HPku berdering.

Ternyata temanku mengabari bahwa Riandika sudah ditemukan dan ia kembali sendiri ke ruang hokabento.

Kembali sendiri ! Aduh .... jangan ditanyakan betapa gembiranya hati ini . Terasa seluruh harta didunia ini tidak ada artinya selain anakku tersayang. Begitu ketemu langsung saya pelukkk.. saya peluk.., hampir saya menangis kalau tidak malu di tempat umum ini bagi seorang ayah. Alhamdulillah nak ... kamu kembali. Kembali sendiri. Ayah sudah putus asa dan bersalah karena kurang baik dalam menjaga kamu.

Seperti mengerti anak ini akan kesedihan dan kegembiraan ayanya, ia juga memeluk saya dengan sangat erat sekali. Mungkin ia juga lelah karena tersesat dan sambil mencari kesana kemari tetapi tidak dapat bicara kepada orang sekitarnya. Riandi .. riandi ..oohh anakku.



Akhirnya hari itu kami lanjutkan makan bersama di hokabento dengan sangat lahap dan senang. Begitupun Riandika anakku tersayang ini. Alhamdulillah yaa Allah, Kau kembalikan anakku yang menghilang 2 jam di mall ini. Saran saya kepada ortu, jangan lengah sedikitpun dalam mengawasi anak di tempat umum.

Untuk usul tambahan, memang baik bahwa untuk anak istimimewa ini sebaiknya kita kasih TANDA khusus dalam pakaiannya. ( Nama, alamat dan telp yg di jahit , cetak atau lain sebagainya sebagai tanda pengenal).



NB:

Mengenai kembalinya Riandi dengan sedirinya ini, juga berkat usaha teman saya satu lagi yang memang sedikit mempunya keahlian. Menurutnya ia hanya menyuruh Khodamnya untuk 'memblok/kunci' setiap pintu keluar maal. dan menarik, mengajak Riandi untuk naik tangga jalan dan ke tempat semula di hokabento.

Wallahualam, apapun yang ia lakukan saya tetap berterima kasih pada teman saya ini.

(Riandi ini hilang untuk ke 2 kalinya. Tentu saya tidak ingin untuk yang ke 3 kalinya !!! )



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy