Oleh oleh lebaran

12/21/2002

Saya mengerti perasaan Pak Slamet menghadapi situasi seperti itu. Tapi saya berani katakan bahwa Bapak termasuk yang beruntung karena mempunyai sanak family yang begitu mencintai Avie, anak Bapak (tidak malah mencemooh..., misalnya). Kita harus memandang mereka dari sudut positif bahwa mereka tidak ingin dan sama sekali tidak berharap bahwa diagnosa itu benar-benar terjadi. Walaupun itu berarti mereka sama sekali tidak realistis dan tidak mau menerima kenyataan yang ada (itu secara negatifnya).



Avie memang kelihatan normal dan bahkan cerdas (kalau tidak salah, Bapak pernah kirim fotonya khan ? ). Yang paling penting, kita harus selalu berpikir bahwa sebagai orang tua, kita lah orang yang paling tahu dan paling bertanggung jawab atas keadaan anak (terutama tanggung jawab kita kelak pada Yang Di Atas).



Salam buat Ibu dan Avie,

Leny Marijani

----------

Wah, ditembak... he..he..

Ya. Kita cukup bicara dengan nada biasa (netral), singkat, lugas, tegas.

No nonsense.

Tenang, tapi sarat muatan "kau tidak ada pilihan selain mengikuti arahan ayah, nak." Tapi kita sebagai orang tua juga HARUS konsisten. Jadi.... kalau sudah janji sesuatu, jangan sekali-sekali mengingkarinya. Wah, ntar berbalas lho !

Duluuuuuu... waktu belum ada pakar yang bisa mendiagnosa autism, saya mendidik anak saya (Ikhsan, 11 tahun) hanya dengan intuisi dan logika (=hidup sarat aturan, kau harus mematuhinya, ada saat bersenang-senang. Tapi ada saat kau harus belajar). Saya sangat berusaha untuk memenuhi ucapan saya, karena saya dididik dengan pemikiran "omongan kamu akan dipegang orang".

Susah lho. Banyak sekali godaan untuk "mualleeeeesssss" dan pada akhirnya tidak memenuhi niat yang semula sudah direncanakan/dijanjikan.

Untungnya, saya dibantu YME. Saya bisa lumayan konsisten. Dan, sekarang di usianya yang ABG, Ikhsan juga konsisten. Kalau dia bilang IYA, berarti.... he means it.

Yang penting: say what you mean. Mean what you say.

Salam,

Ita

-------------

Teman-teman,

Mendengar cerita Bapak Herwin, saya jadi teringat ketika saya mengikuti pelatihan Joy of Learning. Pelatihan ini diperuntukkan untuk ortu yang punya anak ADD atau ADHD. Di dalam pelatihan ini, kita sebagai ortu diposisikan seperti anak. Bagaimana reaksi kita bila kita mengambil posisi seperti anak yang sedang dimarahi, dimaki-maki, diteriaki, ditunjuk-tunjuk. Bagusnya di pelatihan ini, saya berperan sebagai ibu dan teman saya sebagai anak, disekelilingnya ada 5 orang lain yang bertindak sebagai "TV" dengan berbagai suara. Anak ADD dan ADHD di dalam pikirannya punya banyak "gambar" yang bikin dia tidak terfokus.

Ceritanya gini, saya sebagai ibu memarahi anak dengan memaki, melotot, menunjuk dengan suara yang keras sekali. 5 orang lainnya tetap bersuara menyebutkan 10 macam benda apa saja. Si anak hanya bisa memandang saya. Sementara saya dengan marah mengatakan, "kamu tidak boleh ini-itu, dengerin kata mama, kalau kamu tidak boleh lari ke sana-ke sini, tidak baik, nanti dikira orang gila, memangnya kamu gila? Kamu gila nggak? Kamu bikin mamah marah seperti orang gila. Setelah selesai, kita tanya, apakah si anak mendengar pesan dari Ibu nya itu ? Ternyata waktu ditanya kepada "anak" tersebut, pesan yang ditangkap "MAMAH GILA, AKU GILA".

Session berikutnya : menasihati anak dengan suara yang lembut, datar, memegang bahu, mengusap kepala, mengatakan seperti yang Bapak Herwin bilang tadi. 5 orang sekeliling tetap bicara menyebutkan 10 macam benda. Ternyata si "anak" menangkap 100% nasihat itu.

Jadi bisa dibuktikan pengalaman Bapak Herwin tadi lewat pelatihan itu. Ternyata ........kita-nya yang harus belajar. Eh...di pelatihan itu aku dapat gelar baru : "Ibu yang tergalak".

Ibu Dyah Puspita....ada saran atau masukan nggak ? Sorry nodong nih. Biar

rame.

Salam,

Any



----------

Subject: Hadiah lebaran All headers

Sekedar sharing:

Libur lebaran kali ini, kami bertiga mengunjungi rumah kakak di Sukabumi, dikaki gunung, masih alami.

Kenan, anak saya, tingkah lakunya berbeda sekali kali ini, orang sekitar mengenalnya sebagi anak yang selalu bergerak, belum bisa bicara dan sering menjerit bila keinginanya tidak dipenuhi.

Sore hari kami sampai dilokasi, seperti biasanya Kenan minta mandi dikali, kegiatan favoritnya, kami turuti, setelah melihat ia kedinnginan kami ajak untuk pulang mulanya ia menolak, tapi setelah saya katakan: "Kenan kan anak baik, anak baik harus nurut dan tidak boleh menjerit, besok pagi kita kekali lagi, kalau kenan jadi anak baik nanti bapak kasih hadiah permen", ajaib! dia mau nurut. Besoknya saya ajak dia kekali sebelum ia minta, saya tunaikan semua janji saya, sejak itu jeritanya hampir tidak saya dengar, dan tiap kali saya lihat tanda ia akan menjerit, saya ingatkan kembali bahwa ia anak baik dan anak baik tidak begitu serta akan dapat hadiah.

Sampai kembali ke Jakarta, tingkah lakunya manis sekali, saya harap ini bukan kebetulan dan akan terus berlanjut, amin.

-------------

Yth. Bapak Slamet,



Dalam setiap pertemuan dengan anggota keluargabesar yang lain, sering kali kita dihadapkan pada situasi seperti itu.



Mungkin kemasan bahasanya yang perlu diubah. Saya katakan kepada saudara dan ortu saya bahwa BANTUAN DOA DARI ORANG-ORANG TERDEKAT sangat berarti untuk saya dan anak saya. Jadi, dalam doa-doa mereka bisa disisipkan nama anak saya juga.



Yang saya pernah mengerti adalah perkataan orang tua adalah DOA bagi anaknya. Jadi jangan sampai dicap "negatif" ah.



Salam,

Any



--------------------

Pada akhirnya nanti, misalnya toh keluarga besar menyadari bahwa putra-putri kita "tidak normal", kata-kata itu memang tidak akan mereka pakai secara terbuka.

Kalau mereka pakai, itu sama saja mengatakan "ada bagian dari kami yang tidak normal" -- apalagi ada informasi/penelitian mengatakan kemungkinan autistik merupakan kelainan genetik (sekian persen anak autis memiliki saudara autis juga di keluarga besarnya). Berat sekali, bukan?



Hal itu saya alami juga selama perjalanan saya membesarkan Ikhsan hingga ia kini berusia hampir 12 tahun. Pandangan 'iba', usulan aneh, kritik yang sangat tidak membangun.. bertubi-tubi datang. Berat sekali, apalagi lalu saya terpaksa menjadi single parent ..sehingga keluarga makin menatap dengan pandangan 'iba' dan menyalahkan. Menyebalkan sekali !



Tapi Tuhan selalu memantau, kok.

Pada akhirnya keluarga besar Anda akan berbalik membantu dan mendukung upaya. Meski kadang kita harus berulang menjelaskan... it's okay.

Mungkin lebih baik kita pakai kata-kata "anak berkebutuhan khusus" atau "anak istimewa".

Konotasinya jauh lebih positif, tanpa mengingkari bahwa putra/i kita 'tidak normal'.



salam,

Ita



----- Original Message -----

From: slamet widodo

Subject: oleh-oleh lebaran



Assalamu'alaikum..

Lebaran di kampung memang menyenangkan, sayang sekali yang mau aku ceritakan adalah sesuatu yang lain. Aku sebut oleh-oleh, karena cerita ini memang kudapat waktu aku pulang kampung lebaran kemarin, yang tentu saja berkaitan dengan kondisi anakku.

Seperti biasa dalam keluarga besar, moment lebaran adalah kesempatan untuk berkumpul dan temu kangen antarsaudara. Giliran aku bercerita tentang kondisi anakku (karena ada yang menanyakan), salah satu saudara ada yang menyanggah dan mengemukakan pandangannya tentang anakku (Avie, 4 th.) yang menurut dia tidak berbeda dengan anak-anak seusianya. Pada saat aku bilang secara eksplisit bahwa janganlah memandang atau menilai Avie dari 'sisi normalnya', terpiculah situasi

dramatis yang cukup membuat aku terpukul.

Kakakku tidak bisa menerima kalau keponakannya (Avie) diberi 'cap' tidak normal. Sebutan itu sangat menyakitkan bagi mereka. Memang kondisi autis pada Avie tidak terlalu berat (tidak ada self injured, spining object, dll) tapi tetap saja karakteristik utamanya yang

tidak komunikatif dan asyik dengan dirinya sendiri adalah kondisi anak autistik. Dengan panjang lebar aku jelaskan sejarah perjuangan kami dalam mengatasi dan memperbaiki kondisi Avie sejak dia berumur

1,5 th dan alasan kenapa aku dengan enaknya mengatakan anakku tidak normal. Ektrim memang, tapi bersikap realistis dalam berbahasa sangat membantu aku untuk menghadapi kenyataan bahwa anakku mengidap autis.

Dengan menganggap kondisi Avie positif autis, kata-kata 'tidak normal', 'berkelainan', 'mengalami keterlambatan mental', dll sudah menjadi makanan sehari-hari dan memang itulah bacaan dan pembicaraan kami dengan orang tua anak-anak autis yang lain pada saat menunggui

Avie di tempat terapinya.

Ada isak, ada tangis, rasa kasihan tentu saja, tapi cuma berhenti di situ. Mereka tetap saja merasa aku keterlaluan dengan mengatakan anakku sendiri "tidak normal".So, barangkali kita memang harus pandai-pandai memilih kata dalam berbicara agar kata-kata itu tidak berbalik menyakiti kita

sendiri.

Wassalam

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy