Berhenti bekerja?

12/12/2002

Assalamualaikum,

Dear All,

Saya ingin sedikit urun rembug.

Setelah putra pertama saya divonis autis, dunia sepertinya sudah tidak berpihak pada keluarga saya. Tapi lambat laun kami mulai bisa menerima. Caranya ? (tanpa berniat menggurui)

* Kami bersyukur kepada Alloh SWT, karena kami "terpilih" sebagai keluarga yang "dipercaya" memiliki anak Autis. (berat lho memiliki anak autis..)

* Kami merefresh kembali : Tujuan hidup kami.

Bukan semata-mata untuk mencari urusan dunia, tapi juga akhirat.

Apabila putra pertama kami tidak bisa seperti anak-anak lain dalam hal sekolah, bermain etc. Kami lebih memfokuskan ajaran kami dalam hal agama. (spt misalnya Menyanyi : lagu-lagu dzikir ; Sholat ; etc)

* Kami sebagai orang tua atau keluarga (termasuk mbah, bude, tante, om nya) tidak mungkin dapat setiap waktu mengawasi putra kami 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Hanya Alloh lah yang mampu melindungi kita semua, termasuk putra kami. Kami harapkan dengan pendidikan/ajaran agama yang kami berikan - meskipun dengan keterbatasan pengertian yang dimiliki anak autis agak sulit mendekatkan diri kepada Alloh, paling tidak kami harapkan Alloh "bersedia" mendekatkan diri" (melindungi) putra kami.

* Tidak kurang-kurang kami berusaha melakukan "terapis" (kalau hal yang kami lakukan dapat disebut terapis). Untuk mendukung hal tersebut Istri saya harus mengundurkan diri dari kantornya dan 100 % berada di rumah bersama anak-anak.

Keputusan ini berat bagi Istri saya mengingat kita sama-sama kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana.

Keputusan ini berat bagi saya mengingat biaya hidup yang semakin tinggi (istilah kami : Single Gardan)

* Mengambil keputusan untuk memiliki Adik baru sebagai mitra bagi anak kami yang menderita Autis.

Insya Alloh dengan selalu mensyukuri nikmatNya dan tidak putus berikhtiar, kami diberikan jalan keluarnya oleh Alloh yang maha segalanya. Amin....

Semoga bermanfaat.

Wassalam,

Abahnya Endhyta & Ikhsandhy

-----------------------

Yth. Bapak Zainal,

Maaf kalau saya ikut memberikan komentar.

Pengalaman saya kesabaran itu hanya bisa tumbuh jika DITUMBUHKAN DAN DIPUPUK. Jadi tidak bisa tumbuh dan besar sabar dengan begitu saja. Saya adalah contoh orang yang tidak sabar, tapi tidak bisa saya alihkan tanggung jawab ini kepada pihak lain (suami, suster, pembantu, guru sekolah, kepala

sekolah atau pengasuh). Pada waktu usia anak sudah semakin besar, ada banyak hal yang justru kita sesali. Aduh....coba kalau dari dulu aku yang tangani sendiri. Coba waktu itu aku....... Andaikan bisa memutar waktu, aku akan ..................

Rasa bersalah ini pada diri saya lebih besar karena saya adalah ibunya.

Kesulitan saya semakin besar, karena anak saya memandang saya sebagai sosok yang tidak membantu, tapi seorang dengan sosok yang menyulitkan. . Memang perlu waktu dan kesempatan.

Kalau saya sih dulu berpikir begini : Anak ini adalah titipan Tuhan, yang bisa sewaktu-waktu diambil sama Tuhan. Jadi saya mau do the best buat dia. Jangan marah-marah terus, karena Tuhan bisa marah juga sama kita. Juga saya bisa saja dipanggil sewaktu-waktu. Bila ajal tiba, kita ditanya sama Tuhan, apa yang kau lakukan pada titipanKu? Saya harus bisa menjawabnya dengan baik.

Dengan berpikir seperti itu, setiap mau marah saya berusaha berhitung 1 - 10. Dulu-dulu di hitungan 19 baru tenang, tapi sekarang hitungan ke 3 sudah bisa tenang. Berdoa untuk minta kesabaran ternyata adalah kuncinya (untuk saya).

Untuk masalah Bapak, saya menyarankan agar menjadikan Ibu sebagai partner dalam waktu-waktu sepulang kerja. Kalau Ibu mendapatkan pujian dan penghargaan dari Bapak untuk usaha-usaha yang Ibu lakukan, pasti Ibu akan lebih bersemangat lagi.

Setelah Ibu sudah terlibat banyak, tularkan beberapa cara kepada pembantu, tentu dengan langkah yang lebih informal lagi. Bisa saja kita buatkan lembar kerja untuk besok bila Bapak dan Ibu bekerja agar pembantu bisa juga menjadi asisten terapis. Misalnya : membaca, mewarna, lompat tali karet,

main raket dengan balon sebagai pengganti kok dll. Tergantung pada kemampuan dan perkembangan anak Bapak.

Semoga bisa menjadi masukan. Bagaimana dengan teman-teman yang lain? Ayo dong .....semangat !!!

Salam,

Any

-------------------

Rekan-2 milis puterakembara,

SAYA AKAN MULAI DISKUSI DI MILIS INI:

Saya punya anak perempuan penyandang autis usia 8 th, 8 bl. Perkembangannya, bisa dilihat pada sharing saya yang terdahulu. Kami tinggal di daerah Cimanggis, Depok. Saya dan istri bekerja sebagai

pegawai negeri. Karena kondisi kami, maka kami hanya bisa mendatangkan terapis ke rumah 3x seminggu @ 2 jam, kami tahu itu sangat-sangat kurang. Dirumah anak kami tinggal dengan pembantu. Menurut istri, saya lebih sabar dari dirinya dalam menghadapi anak saya (hal itu saya akui). Untuk itu istri saya banyak berharap agar saya menjadi terapis bagi anak kami. Istri saya menghendaki saya untuk berhenti bekerja dan full mengasuh anak kami. Saya tidak bisa mengambil keputusan untuk itu, banyak hal yang saya bayangkan jika saya berhenti bekerja.

Pertanyaan saya kepada rekan-2 semua :

Bagaimanakah pendapat rekan-rekan semua bila saya (suami) berhenti bekerja ?

Catatan : Usia saya 47 th., bekerja sbg. pegawai negeri sudah 25 th.

----------------

Rekan-rekan milis,



Sungguh ide yang baik bahwa fasilitas ini dapat dimanfaatkan seluas-luasnya untuk saling berkomunikasi, bertukar pengalaman (sharing), dll. Dari dulu ... (pertama kali) itu mah.. memang salah satu tujuan dari website ini. Tinggal rekan-rekan milis yang bisa dan mau enggak .. memanfaatkannya.



Parent Support Group... kalau kita lihat apa sih tujuannya ?? yach itu tadi.. untuk saling bertukar pikiran, informasi di antara kita orang-orang awam yang kebetulan mempunyai problem yang sama. Syukur pada Tuhan kalau ternyata ada pakar (yang tahu lah masalah autis) yang bersedia menyumbangkan pikiran dan masukan yang tak terkira nilainya.



Tanpa maksud mengurangi semangat Astrid dan Ibu Any, saya hanya berpikir bahwa untuk chating (maksudnya di computer khan ? ) pada waktu yang bersamaan (tentunya dengan tempat yang berlainan) adalah sangat sulit.



Sebenarnya kalau memang ada niat dari semua rekan milis untuk sharing, bisa tanpa cara chating. Caranya ? mudah sekali (kalau orang sunda bilang gampil ...). Setiap ada satu pesan/masalah yang dilempar oleh salah satu rekan, bisa langsung ditanggapi oleh yang lain. Bisa berupa tanggapan biasa, saran/masukan, informasi, atau nasehat. Bayangkan bagaimana sejuknya hati ini apabila ada masalah kemudian ada yang menanggapi komplit dengan saran. Masalah cocok atau enggak .. itu mah masalah nanti.



Mungkin setiap ada tulisan, ada beberapa yang ingin sekali menanggapinya, tapi ach malu... khan .. ini dibaca oleh lebih dari 100 orang lho ...? Mending lagi saran nya diterima...

Tidak jarang tulisan dari rekan kita hilang dan terlupakan tanpa tanggapan

(kesian dech ... ).



Baru-baru ini ada salah satu rekan kita yang bilang (langsung ke email saya) untuk mengadakan pertemuan lagi sekedar sharing dan tukar informasi. Sampai-sampai katanya tidak apa-apa walau cuma ada 5 orang yang hadir .. maju terus...



Saya menulis ini sama sekali tidak bermaksud untuk meng-kritik siapa-siapa tapi kalau kita membaca saran Astrid yang mengatakan bahwa di luar negeri fasilitas milis dapat efektif dalam sharing (support group), itu lebih dikarenakan oleh partisipannya yang aktif.



Salam,

Leny



-----Original Message-----

From: owner-peduli-autis@puterakembara.org On Behalf Of bagwanto

Sent: Friday, November 29, 2002 5:40 PM

To: peduli-autis@puterakembara.org

Subject: Re: Parent Support Group



Bu Lenny,



Ide yang baik, Bu Lenny. Tinggal kita tentukan topiknya saja, supaya tidak menyeleweng pembicaraannya. Bu Lenny orang yang paling tepat untuk menjadi moderator. Kita yang jadi pesertanya. Ayo, kita mulai sehabis Lebaran ini deh. Khan tidak perlu ada persiapan yang rumit.



Terima kasih.



Any

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy