Bersosialisasi -Apakah anak saya kelak dapat menjadi anak yang supel?

12/03/2002

Sekedar komentar....

Mungkin pekerjaan terberat ibu Leni bukan dalam hal membantu Kevin mengatasi masalah sosialisasi atau masalah lain, tetapi lebih bagaimana membantu nya "menerima keadaan dirinya sendiri" lengkap dengan plus-dan-minusnya.

Kemampuan menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya, adalah awal perkembangan 'konsep-diri' yang sehat; dan Ini menjadi modal utama anak berkembang menjadi remaja dan dewasa yang 'sehat'.

Setiap anak PASTI punya nilai plus... nah... itu yang harus dikembangkan sehingga ia bangga pada dirinya sendiri...dan tahu bahwa ia tidak perlu mengejar ketidak-mampuan tetapi justru membuat kelebihan-nya makin berkilau.

Seperti kita semua, 'kan? (Saya tidak jago masak, jadi ga' ngoyo masak kecuali ga' punya pembantu---sekedar survive aja lah ga' mati kelaparan. Saya juga tidak bisa menyanyi, kecuali untuk kuping anakku yang menjadi pendengar setia. Tapi saya bisa main piano, bisa mengajar, bisa menulis

cerita.... dan saya sangat menikmatinya).

Salam untuk anak-anak,

Ita

---------------------

Ibu Mike, Pak Joko & rekan-rekan milis,

Saya mau berbagi pengalaman nich... regarding belajar sosialisasi. Dua hari yang lalu waktu jemput Kevin, anak saya (9,5 tahun penyandang Asperger) wajahnya sangat muram. Saya cepat pegang dahi dan lehernya (ternyata tidak panas) dan tanya apakah sakit, dia jawab tidak. Tapi kenapa wajahnya kelihatan sekali tidak sehat. Di mobil, biasanya dia langsung ngobrol dengan adiknya, tapi waktu itu tidak..... Dia diam, saya pun diam, tidak mengganggunya. Tiba di rumah, lama....... setelah beristirahat baru dia kelihatan ingin menyampaikan sesuatu: " Mom.. kenapa waktu main soccer (foot ball) saya selalu dijadikan cadangan, udah gitu mom, jadi cadangan terus..... tidak pernah dikasih kesempatan main. Teman-teman bilang saya payah mainnya. Saya sih tahu memang begitulah anak Aspi (begitu dia menyebut Asperger)."

Setelah dia menceritakan semuanya (curhat), dia kelihatan cerah dan bisa bermain biasa kembali dengan adik-adiknya. Memang saya sadari bahwa anak saya dan mungkin juga kebanyakan anak autis lain tidak mahir dan tidak akan mahir dalam permainan olah raga apapun (mungkin karena gerakan motorik yang kurang baik). Kevin pun sudah lama tahu dan sadar akan hal itu, tapi tetap saja ada perasaan kecewa pada saat temannya tidak mengikut-sertakan dia dalam kegiatan bermain. Sebenarnya bukan pada gerakan motoriknya saja tapi cara dia bersosialisasi juga kelihatan tidak pas dengan anak-anak sebayanya.

Saya selalu berkata pada Kevin bahwa apabila dia merasa tidak mau dan tidak bisa main dengan teman-temannya, itu tidak apa-apa, itu bukan masalah. Saya ajarkan dia untuk menerima keadaan apa adanya. Berusaha belajar berteman secara perlahan-lahan... kalau tidak bisa? kata dia. yach tidak apa-apa .... kata saya (ini untuk mencegah agar Kevin tidak stress).

Pada tahun pertama Kevin masuk SD (sekolah biasa) saya sebenarnya sudah siap dengan masalah seperti ini. Dan saya tidak kaget kalau persoalan bersosialisasi akan menjadi masalah terbesar. Mungkin akan bertambah dengan semakin meningkatnya kelas dan usia (sekarang kelas IV). Setiap waktu istirahat saya pantau kegiatannya, saya lihat dia bisa bermain hanya dengan mungkin 2 atau 3 teman. Sekarang ada beberapa teman Kevin telpon menanyakan pelajaran dan saya lihat Kevin bisa dan mau menjawab dengan baik.

Proses belajar bersosialisasi bukan masalah 1 atau 2 tahun, tapi harus berlangsung secara terus menerus....... Saya selalu berusaha untuk tidak menganggap kekurangan anak saya itu sebagai kelemahan dia.

Just sharing ...

Salam,

Leny

---------------

Rekan-rekan sekalian,

Anak saya, Aldi (3 th) didiagnosa autis sejak umur 2 th dan hingga saat ini masih menjalani Okupasi dan Speech therapy. Meskipun perhahan sudah terlihat perubahan dalam perilaku dan kontak mata. Namun hingga saat ini imitasi suara belum mau. Dia hanya mau menirukan kata ibu (itupun hanya bu-nya saja)

Yang sangat merisaukan adalah dia tidak mau bergaul dengan teman sebayanya. Dia sudah saya masukkan di PG sejak umur 2 th. Tapi kalau di kelas dia tidak pernah mau bergabung dengan temannya hanya melihat saja sambil tersenyum. Begitu juga kalau saya ajak anak tetangga yg umurnya sama main kerumah untuk mengajak dia bermain, dia tidak mau dan berusaha menghindar. Lalu saya coba di dlm satu ruangan bertiga dgn teman tsb, dia saya amati hanya melihatsaja. Tapi lama-lama dia tertarik dan ikut main tapi tidak lama, hanya 5 menit, setelah itu dia berusaha menjauh. Begitupun kalau ada keponakan2 yang datang ke rumah, Adli selalu berusaha menghindar dan yang sebelumnya ceria dan lincah jadi pendiam. Bagaimana ya cara mengajari bersosialisasi ? Mungkin rekan2 bisa membagi pengalamannya. Terima kasih sebelumnya.

salam,

Mike



Salam berbagi pengalaman

Anak saya autis saat ini berumur 6,5 tahun duduk dikelas I Sekolah Dasar Negeri, hasil UTS kemarin lumayan baik. Kegagalan bersosialisi menurut beberapa informasi adalah salah satu apa yang diderita oleh penyandang autisme. Sampai saat ini anak saya pun masih sulit bersosialisasi, tetapi ada kemajuan saat ini dia sudah mau bermain kejar-kejaran dengan sesama teman disekolahnya.

Mungkin yang perlu kita tingkatkan selaku orang tua dalam menghadapi anak autis adalah kesabaran, ketekunan, melatih dia bersosialisasi dan aktifitas lainnya sebagai manusia

tanpa ada kendala autisme. Di tempat saya tinggal salah satu yang menyemangati saya menghadapai anak saya adalah Salah satu anak teman saya adalah penderita autisme saat ini dapat sekolah di kelas

II SMU Negeri, dapat mengendarai sepeda motor berkopling, dan mulai belajar mengemudikan mobil. Dan tambahan cerita anak saya sudah dapat mengendarai sepeda roda dua saat berumur 5 tahun 2 bulan. Sebelumnya pernah terbanyang di benak saya apakah anak saya (penyandang autisme) bisa mengendarai sepeda roda dua? Saya sudah mendapatkan jawabannya.

Kelihatannya anak autisme jika diajari dia akan bisa menjalani, termasuk bersosialisasi.

Joko Takariyono

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy