Tanggapan dan tulisan rekan milis mengenai penanganan anak penyandang autis

10/17/2002

Anak autis lain-lain manifestasi gangguannya. Setiap individu unik. Kalau satu anak berhasil melakukan sesuatu, belum tentu anak lain bisa. Seperti halnya dengan Riandi, beruntung bisa bersekolah di sekolah umum. Anak lain, belum tentu. Bukan salah anak atau orang tua, tetapi memang sekolah tersebut tidak dapat menjawab kebutuhan anak (yang mungkin juga tidak sama dengan kebutuhan Riandi).

Tanpa maksud apa-apa selain ingin sharing, bersama ini saya ingin jabarkan sedikit beberapa hal yang saya peroleh dari membaca beberapa buku (gara-gara musti presentasi, sih !): Istilah 'mainstream' sebetulnya ada 2 aspek: social mainstream atau academic mainstream. Yang pertama (social mainstream), bila orang tua merasa putra/I nya belum siap untuk mengikuti materi pelajaran dan berharap dengan keberadaan anak bersama anak2 lain akan memancing anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Berarti, target akademis bukan prioritas utama. Yang kedua, yang juga dikenal dengan istilah 'full inclusion', sungguh-sungguh berarti si anak diperlakukan SAMA dengan anak tanpa kebutuhan khusus. Jadi. kita juga tidak bisa menuntut adanya penanganan khusus atas kebutuhan anak-anak kita.



Sebaliknya, kalau ingin anak mendapatkan penanganan ekstra, namanya bukan mainstream. Tapi lebih merupakan satu kelas anak-anak dengan kebutuhan khusus, yang berada di dalam kompleks sekolah umum. Pada mata pelajaran tertentu, si anak boleh bergabung dengan kelas-kelas anak biasa, sesuai kemampuannya. Nha, kelas yg berkebbutuhan khusus ini, bisa melulu anak autis semua, atau tidak (social skills development & mixed disability classes). Atau. bentuk yang lebih spesifik lagi untuk menjawab kebutuhan pendidikan anak-anak autis yang tidak terlalu ringan adalah home-based individual therapy, homeschooling, designated autistic classes. dan sekolah khusus anak autism.



Persoalannya, itu semua 'kan model pendidikan di AS. Di Indonesia belum ada bentuk standard 'kan? So. kita sebagai orang tua, mungkin perlu juga mengkaji secara obyektif, anak kita sebaiknya masuk ke yang seperti apa.

Kasihan 'kan, kalau kita memasukkan anak ke lingkungan yang dia ga' sanggup. Atau sebaliknya, kita memasukkan anak ke lingkungan yang tidak ada tantangannya sama sekali.

Jangan lupa juga, seringkali anak-anak yang autisnya tidak ringan (dengan perilaku yang beragam dan kemampuan komunikasi yang juga beragam), malah ditolak oleh anak-anak / orang tua anak-anak 'normal'. Jadi, orang tua stres berat lah... ditolak !

Ini perjuangan jangka panjang. jadi semua harus bahu membahu mengerjakan sesuatu, sesuai kemampuannya. Ga' mungkin lah.. mengharapkan semua dikerjakan pemerintah. Atau, mungkin saja. tapi selesai pada saat saya sudah jadi nenek-nenek dan rambutnya putih (oooppppssss..) :-)



Oh ya, sumber bacaan: The World of the Autistic Child- Understanding & Treating ASD, Bryna Siegel, PhD, 1996.

Salam,

Ita

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy