Sharing pengalaman rekan milis

10/17/2002

Hari itu, saya berniat mau mengantar anak saya Riandi untuk ke Salon atau Barbershop. Maklum rambutnya sudah gondrong dan dalam cuaca Jakarta yang panas sekali, kasihan jika di sekolahnya (playgroup) sering merasa gerah dan panas di kepalanya. Oh ya .. anak saya ini masuk sekolah kelas playgroup untuk yang kedua kalinya. ( dua kali playgroup ). Ada alasan tertentu yang nanti akan saya ceritakan pula.



Asal tahu saja, tidak semua Salon maupun Barbershop yang sanggup dan mau memotong rambut anak saya ini. Mengapa? yaa itu, setiap kali mau dipotong dan jika dengar gunting bekerja atau alat cukur listrik bekerja maka anak saya akan histeris dan meronta-ronta seperti orang ketakutan akan dianiaya . Dan saya dengan sangat terpaksa harus memegang kepala, memeluk tubuhnya agar tidak bergerak selagi alat cukur itu bekerja. Sungguh sukar sekali. Soalnya, Riandi ini kalau menolak akan menggunakan seluruh kekuatannya. Jadi walaupun masih kecil tetapi mempunyai tenaga yang luar biasa.

Begitulah biasanya yang terjadi sampai jadi tontonan semua orang di situ. Dan Riandi sekarang rambunya sudah hampir botak. Lucu sekali.



Saat itu sebelum saya minta memotong rambut Riandi, saya minta duluan untuk memotong rambut saya yang memang juga agak panjang. Minimal 2 bulan sekali saya harus potong rambut.

Selagi saya di 'kerjai' oleh tukang cukur, anak saya mundar mandir disekitar saya. Sambil nonton TV yang memang disediakan, juga sekali-kali ia mendekat dan memperhatikan ayahnya sedang di 'upgrade' rambutnya. Dengan kain penutup badan dlsb, saya tahu bahwa Riandika, anak saya ini sangat memperhatikan semua kejadian di tempat cukur. Terutama apa yang di alami orang yang terdekatnya yaitu saya, ayahnya.



Setelah selesai, nah sekarang tiba giliran anak saya yang akan dicukur.

Saya panggil anak saya tsb. lalu saya pangku seperti biasanya untuk mulai pencukuran. Dan ..... ternyata ia, Riandi duduk tenang dan menarik kain penutup tubuh dan tersenyum. Kami, yaitu saya dan tukang cukur tersebut yang sudah siap-siap jika Riandi ini melakukan hal-hal yang histeris dan meronta-ronta seperti biasanya, jadi heran.

Riandi, anak saya malah senyum senang dan menarik kain penutup itu dan menatap ke cermin dan membiarkan rambutnya di potong dengan leluasa. Wah... syukur...kami senang sekali saat itu. Walaupun waktu dicukur, mendengar desingan mesin pencukur, tetapi Riandi tetap tenang dan gembira.



Ini bisa terjadi , karena Riandi telah melihat CONTOH. Jadi ia telah melihat contoh yang dilakukan orang terdekatnya, yaitu saya sebagai Ayah. Bukankah penderita autis adalah pencontoh paling baik ?! Beberapa kali itu terbukti. Dan itu makanya walau saat ini ia harus mengulang playgroupnya, bagi kami sebagai orang tua, tidak memasalahkan. Biarlah.. sekolahnya agak telat, yang kami pentingkan adalah SOSIALISASI anak tersebut terhadap sekitarnya. Dan sekitarnya HARUSLAH, sekitar yang NORMAL. Jangan malah ditempatkan dalam SLB atau yang lainnya. Maka akan menjadi tidak berkembanglah kepandaian anak nanti. Ini saya kemukakan karena ada teman satu sekolah Riandi yang juga autis, tetapi tidak melanjutkan sekolah karena orangtuanya merasa di sekolah tidak berhasil !! Keberhasilan perkembangan anak autis adalah HARUS DILAKUKAN TERAPI . Segala metode terapi autis harus dilakukan dan selanjutnya HARUS ada sosialisasi dengan orang, anak sekitarnya. ( sekolah ). Inilah mungkin saya ceritakan kepada orang tua untuk tidak ragu apalagi malu dalam merawat kesayangan kita. Siapa lagi kalau bukan kita, orang yang terdekatnya yang merawat dengan penuh cinta kasih. Jadi contoh bagi perkembangan anak autis itu sangatlah perlu dan mutlak.



Saat ini, Riandi dalam terapinya lebih memperbanyak untuk terapi bicara. Seminggu 5 x terapi dan 70 % adalah untuk bicaranya. Riandi mengikuti terapi sejak umur 2,5 th hingga saat ini berumur 5,5 tahun. Entah sampai kapan, semoga tidak seterusnya ! Sebagai tambahan , saya juga mempelajari REIKI, yang berharap dapat membantu perkembangannya. Saya beri energi penyembuhan hampir setiap saat. Segala usaha harus dilakukan dan semoga Tuhan memberikan kami kekuatan dan menyembuhkan anak kami.

Amien.

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy