Tips dalam menangani kebiasaan anak penyandang


autis memainkan alat genital

08/21/2002

Pertanyaan:

-----------------

Dear sesama yg. Budiman,

Mohon ide dan sarannya, anak saya usia 7 thn. 3 bln. beberapa minggu terahkir ini senang sekali memainkan/menggosokkan penisnya terutama bila ia exciting, menolak, mencari perhatian dan dekat2 saya (ibunya). Hal seperti ini pernah terjadi sekitar tahun lalu, kemudian berkurang sedikit demi sedikit sampai akhirnya keluar lagi akhir2 ini.

Mungkin diantara sesama ada yang memiliki pengalaman yang sama/serupa, saya mencari solusi tapi sampai saat ini tidak pernah mendapatkan yg. jitu.

Terima kasih atas bantuannya.

Tantri

-----------------

Jawaban-1:

Setelah membaca pesan bu Tantri, saya teringat seorang ibu yang mengatakan bahwa ada salah seorang temannya yang mempunyai anak penyandang autis juga mengalami hal yang sama. Dan penyebabnya ternyata (katanya) adalah assisten terapisnya (laki-laki) telah sering berbuat

tak senonoh pada anaknya.

Saya sungguh berharap hal tsb. tidak terjadi pada anak ibu. Sepengetahuan saya sebagai seorang ibu, setiap anak pernah mengalami hal seperti itu (ada masanya). Untuk anak normal, mungkin hanya perlu

pengertian dan pengarahan sambil disertai penjelasan secara biologis. Tapi untuk anak autis, sungguh sulit yach . bu.

Bagaimana kalau ibu sering-sering menerangkan dengan sikap lemah lembut tentunya bahwa kelakuan seperti itu tidak baik dan akan merusak kesehatan. Ini mungkin perlu dilakukan secara berulang-ulang (jangan pernah bosan).

Ini hanya sekedar masukan dari saya.

Untuk ibu Dyah Puspita .. Bagi-bagi dong pengalamannya.

Salam,

Leny Marijani

Jawaban-2:

----------------

Biasanya, anak2 ini memang mengalami sensasi yang menyenangkan saat

memainkan penisnya. Ironisnya, lingkungan "PASTI" deh heboh sewaktu menemukan anak melakukan

itu, jadi otomatis, reaksi tersebut menjadi 'reward' buat dia.

Kami di Mandiga, kalau ada kejadian seperti itu, rame2 konsisten:

1. tidak mengomentari/mempedulikan/memperhatikan perilaku negatifnya (=dalam hal ini memainkan penis)

2. segera menyalurkan energi anak ke hal lain yang lebih positif (apa saja yang bisa ia lakukan).

misal:

- mengajaknya berganti pakaian di kamar mandi

- mengacungkan buku dan mengatakan "baca cerita, yuk"

- menyalakan computer sebagai tanda akan bermain computer bersama

- berbicara kepadanya mengenai topic tertentu (sambil tangan kita mengalihkan tangannya)

dsb.

Mau dicoba?

salam,

Ita

Jawaban-3:

--------------

Dear ibu Tantri,

Mertua saya pernah memberitahu, bahwa anak memiliki fase genital, dimana dia mulai peduli dengan organ genital, merasa ingin tahu dan memperoleh sensasi tertentu. Tapi bukan melulu berkonotasi negatif. Bentuknya : bisa tiba-tiba suka telanjang dan suka memainkan alat genital (biasanya pada anak laki-laki).

Karena kita mengacu pada pandangan kita sebagai orang dewasa terhadap fungsi genital, maka biasanya kalau hal itu dilakukan anak kita bereaksi "heboh"

Nasehat mertua saya :

Yang paling jitu adalah bereaksi "biasa" artinya tidak tampak terkejut/marah, tapi melarang dengan tenang dan tegas, sambil langsung mengalihkan perhatiannya ke kesibukan yang lain, yang sangat menyita perhatiannya dan "menyibukkan" tangannya.

Mungkin bisa dicoba.

dewi

--------------------------

Jawaban-4:

Bermain dengan penis dapat terjadi pada semua anak. Bahkan anak biasa juga dapat melakukan masturbasi. Biasanya selain memegang penis, ia menempelkan alat kelamin pada guling atau pada orang lain. Bahkan bisa sampai ngos-ngosan dan kalau dihentikan menjadi marah. Tidak hanya terjadi pada lak-laki, justru anak perempuan lebih sering. Kasus saya termuda bahkan berumur kurang dari 2 tahun

Secara kedokteran masturbasi/ hal ini tidak berbahaya. Advis dari Bapak Yudhi, Ibu Ita dan Ibu Dewi sudah tepat, alihkan perhatiannya pada hal lain. Jangan dipaksa berhenti atau dimarahi. Hal ini nantinya akan hilang dengan sendirinya.

Soal abuse oleh orang yang dekat dengan anak sering menjadi masalah. Saya pernah menonton video seorang terapis sedang melakukan terapi (bukan ABA) dan pada video tersebut jelas sekali terlihat bahwa cara handling anak dapat digolongkan abuse. Teknik Facilitated Communication juga dilarang oleh American Pediatric Association sehubungan dengan kemungkinan abuse. Barangkali ada asupan atau pengalaman lain mengenai hal ini?

Hardiono D. Pusponegoro

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy