Sekali lagi.... terapi bersama ortu anak penyandang autisme

06/28/2002

kutipan diskusi milis puterakembara mengenai pembentukan grup terapi autis

------------

Yth. Ibu Nurini,

Pengalaman ibu yang tak kalah hebat dengan yang lain, so....pasti... akan sangat bermanfaat bagi yang lain. Siapa tahu, diam-diam langkah dari Ibu Nurini dan Ibu Dewi dapat diikuti dengan yang lain. Kenapa tidak ?

Sebagai informasi, jumlah rekan-rekan kita sekarang kurang lebih 115 anggota yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia (deu ..ilah kayak siaran berita ajach..). Ada yang dari Medan, Palembang, Pekanbaru, Padang, Serpong, Tangerang, Jakarta, Cimanggis, Depok, Cibubur, Bogor, Sukabumi, Bekasi, Cikarang, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogya, Solo, Jember, Nganjuk, Kudus, Surabaya, Malang, Denpasar, Mataram, Bontang (Kaltim), Tomohon (Sulut), Gorontalo, Sumbawa, bahkan ada juga dari Sabah, Malaysia. Yang paling banyak tentu saja dari Jakarta, lalu Bekasi, Bogor dan sekitarnya, Bandung, Yogya dan Surabaya.



Mengenai nyumbang tulisan, sangat diijinkan banget .. malah diharap-harap yang lain bisa ngikut. Saya tunggu lho .. Bu.

Salam sejahtera dari Puterakembara buat semua Bapak/Ibu dan putera-puterinya......

Leny Marijani

-------------------------

BRAVO buat ibu Nurini !!

Ooohhh, Semarang Autism School itu sama dengan ibu Nurini toh ! Aku pikir "orang baru" mana lagi, nih. Eh, jebule.... he..he.. Ngomong-ngomong, ada libur juga ga' bulan Juli ini? Kebetulan ada salah satu guru kami yang domisilinya memang di Semarnag, biasanya kalau libur panjang (kali ini sekitar 10 hari) pulang kampong. Boleh ga' tengok2 sekolah-nya ibu Nurini? Kalau boleh, saya bawakan surat deh..

Aku salut buanget, akhirnya cita-cita mulai dimulai.

Selamat berjuang, salam dari

Ita & Ikhsan

-----Original Message-----

From: owner-peduli-autis@puterakembara.org

[mailto:owner-peduli-autis@puterakembara.org] On Behalf Of Lembayung Sari

Sent: Thursday, June 27, 2002 8:27 AM

To: peduli-autis@puterakembara.org

Subject: Re: terapi bersama

Dear bu Dewi,

Saya disuruh cerita apa ?

Kan yang punya pengalaman hebat-hebat itu ya bu Dewi, bu Ita, bu Leny, dll, kalau kami di SMG nich, biasa-biasa saja, ngga ada yang istimewa, cuma ngikut’in yang di pusat sana. Sebenarnya terapi bersama yang diikuti anak saya sekarang ini, berawal dari ketidak-mampuan kami membayar biaya terapi di sekolah terdahulu, yang nilainya makin membumbung tinggi, hingga tak terjangkau bagi pegawai negeri golongan bawah macam kami ini. Mula-mula anak saya keluar duluan, dengan niat madhep mantep; mau dipegang sendiri bersama 1 terapist yang sudah mengajar anak saya sejak 6,5 tahun yl(mulai anak saya umur 4,5 tahun, hingga kini 11 tahun lebih, ibu guru ini tetap sabar & setia bersama kami sekeluarga). Ternyata, tak lama kemudian, beberapa teman yang merasa menemui masalah sama dan memutuskan keluar pula. Setelah melalui pembicaraan kilat, sekedar menyamakan persepsi, visi dan misi, kami sepakat bikin tempat terapi sederhana dengan biaya yang dapat terjangkau oleh kami semua. Kebetulan ada yang bisa minjem’in rumah, ngumpulin ditambah urunan sedikit buat beli alat peraga ABA dan OT, jadilah sekolah baru bagi anak-anak kami, yang diberi nama Semarang Autism School (biar sederhana, tapi sedikit keren .. he he ). Seperti bu Dewi katakan, selama ini kami ngga untung, ngga rugi, kalaupun ada biaya yang kurang (misalnya untuk kegiatan renang atau

jalan2) dibagi rata, ditanggung bersama.

Untuk materi terapi, tergantung masing-masing anak, ada yang sudah pelajaran SD ditambah workshop (bikin sesuatu/kerajinan/ketrampilan yang nantinya diharapkan bisa dijual dan mendatangkan penghasilan sendiri bagi si anak). Namun masih banyak anak yang harus diperbaiki sensory-nya, sehingga perlu diberikan terapi SI/OT dengan porsi yang lebih banyak daripada ABA. Tapi sebenarnya, saat anak diterapi Okupasi sekaligus bisa dimasukkan program ABA, misalnya berjalan di papan titian sambil menghitung langkahnya atau saat tengkurap diatas bola besar sambil melempar bola kecil ke dalam keranjang. Ada kejadian lucu, waktu seorang anak dipress pakai bean-bag dan dia harus melakukan gerakan maju untuk melepaskan diri dari jepitan bean-bag tsb; anak yang tadinya ngga pernah ngomong, tiba-tiba keluar secara spontan ucapan “wah, susah!”. Sampai terapisnya pada bengong karena surprise banget. Ternyata terapi SI&OT ini bila diterapkan dengan benar dan sesuai kebutuhan anak, hasilnya cukup signifikan dalam meningkatkan kemampuan di berbagai bidang.

Kalau diijinkan, saya ingin menyumbangkan tulisan singkat tentang SI/OT yang dirangkum dari berbagai sumber, boleh ngga bu Leny ? Sementara demikian sharing dari saya, meskipun sedikit semoga tetap ada manfaatnya bagi kita semua. Bila ada yang salah dalam penyampaian, mohon dimaafkan kekhilafan saya, bila ada kebaikan atau kebenaran, kita yakin, itu datangnya dari Allah semata. Salam sejahtera, Nurini & Adit.

-------------------

Saya dengar ibu Nurini yang di Semarang juga sudah mulai buka sekolah yang diawali juga dengan terapi bersama/workshop semacam ini, mungkin nanti bisa berbagi pengalaman dengan kita semua ya bu...

dewi

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy