Sekolah bagi penyandang autisme

03/28/2002

Kutipan diskusi MILIS ini kami publikasikan hanya sebagai informasi sekaligus mewakili opini orang tua anak penyandang autis:

------------------------------

Bicara tentang sekolah umum, sekolah khusus, tugas pemerintah, solidaritas keluarga penyandang autisma...

mungkin di sini saya paling senior ya (kalau ada yg sama tua-nya, kontak aku doonngg.. pingin nimba ilmu juga nih !) -- bukan dari sudut umur orang tua lho... tapi dari sudut umur anak autisnya. Anakku udah umur 11 tahun nih. Udah mulai ada "sexual needs"-nya --- sadar betul dg penampilan, perbedaan ibu dan dia (dalam hal fisik), memegang-megang apapun bagian tubuhnya yg tidak seharusnya dipegang, sudah ada perubahan fisik yg menunjukkan ada pergolakan hormonal (kumis sudah berbayang, mulai kelihatan 'calon2' jerawat, emosi sangat "touchy" dsb).

Nha, 'kan ada yg sempat bilang bahwa pendidikan adalah tugas pemerintah. Wah, setuju buanget ! Masalahnya.... berani ga' tunggguuuuuuu sampai pemerintah bergerak ? Bisa lama lho ! Padahal, DirJen nya punya keponakan autis, kok ya tetep aja tuh ga' ada perubahan.... Seperti yg Ibu Dewi pernah bilang ke saya, pernah ada pertemuan di tingkat DikNas dan ada ketentuan bahwa setiap TK/SD harus menerima SATU anak autis... eh, pada prakteknya... ga' jalan juga, tuh !

Kenapa?

Karena di lapangan juga BELUM ada support buat si guru.

Emang gampang, pegang anak autis di sekolah umum?

Di sekolah khusus aja, susah kok !

So.... penanganan harus dari semua arah.

Orang tua bersatu, saling tukar pengalaman, siapkan anak masing2 untuk dijeburkan ke lingkungan masyarakat (bisa sekolah, tempat kerja, atau kalangan umum). Orang tua bersatu, maju ke pemerintah, mendesak diberikannya kesempatan dan dilakukannya perubahan2 sehingga anak2 autism ini bisa lebih "exist". Orang tua bersatu, menggali pengetahuan, membantu mendukung para guru yg memegang anak2 ini di sekolah (umum & khusus) sehingga penanganan bisa lebih terfokus dan mengaktualisasikan potensi anak. Kalau guru tidak dibekali teknik & pemahaman, percuma juga anak sekolah di situ. Tidak ditangani, didiamkan saja... anak seperti anak bawang... is that what you want for them ?

Hayo... siapa diantara para orang tua yg mau jadi "pemrakarsa" dan "penggerak" nya ? Untuk tugas se-canggih ini, commitment sangat dituntut. Ga' boleh di tengah jalan quit, lho.

Saya sudah mendirikan 2 Yayasan dan sampai sekarang masih aktif. Mungkin, sudah saatnya orang lain yg maju nih.... Giliran mu.... (he..he..)

------------------------------

Bentul....tul..tul...

Sangat dibutuhkan sekali solidaritas untuk mendorong kepedulian yang "berwenang", untuk hal ini saya kira sebaiknya institusi yang sudah ada (YAI mungkin) saja "dipergencar" programnya. Tapi, bagaimanapun seperti kata bu Ita, harus disadari PR "yang berwenang" ini sangat banyak, jangankan persoalan serumit memahami anak autis dan related disorder.. kurikulum sekolah umum untuk anak yang "normal" pun masih berantakan. Apalagi Indonesia sekarang sudah terancam menjadi "negara gagal" (Iiiih sedih deh).

Karenanya, Saya kira sebaiknya sama-sama jalan.... Mendekati pemerintah jalan... menggagas sekolahpun jalan.

Terpikir oleh saya...

Kita bikin semacam pilot project kecil-kecilan...

(atau sekolah yang sudah ada disempurnakan menjadi semacam pilot project, getcuuu) Terus bikin proposal menghubungi badan dunia (biasanya pemerintah akan memperhatikan kalau yang ngomong badan dunia). Dari sini biasanya mereka akan menuntut dilakukan semacam studi dulu, populasinya berapa ... rencana programnya bigimana... seriiinciiii mungkin. Biasanya kalau ini berhatsil... akan ada program bantuan dari badan tersebut berupa grand melalui pemerintah (contoh yang sekarang sedang berjalan adalah proyek pendidikan untuk anak kurang mampu di Sulawesi Selatan dan utara sampai tahun 2004)

Saya menghargai kalau orang tua berkeinginan memasukkan anaknya ke sekolah umum, seperti halnya

menghargai orang tua yang berkeinginan memasukkan ke sekolah khusus. Karena dari pengalaman saya yang baru sedikit, memang ada anak yang bisa dimasukkan ke sekolah umum tapi nggak jarang yang sulit sekali "dipaksa" dimasukkan kesana. Seperti anak saya. Saya khawatir saya hanya akan menyiksanya (dan menyiksa diri saya sendiri). Abiiis... kondisi anak variatif ciiih....jadi kita bikin semacam alternatip kalau emang dia nggak bisa masuk ke sekolah om-om..eh umum...



---------------------------------

salam,

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin anak AUTIS tidak selalu lahir pada keluarga yang peduli atau mampu atau yang berpendidikan KITA yang sekarang aktif di milis ini selalu mencari dan mengusahakan kesembuhan titipan Tuhan yang unik itu. Pernah kah terbayang oleh kita mungkin masih banyak anak Autis yang lain yang keluargannya tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu. Memang sebaiknya kita sesegera mungkin untuk menyikapi hal ini, bermula dari milis putera kembara kita bentuk organisasi yang nyata untuk menyuarakan hak anak-anak malang ini. Seminar yang sering diadakan lebih banyak menyangkut ke teknik penyembuhan atau bahkan bisnis. Kapan ada seminar yang tujuannya menghimpun kekuatan untuk menyuarakan hak-hak anak Autis.

Trims

---------------------------------

Dear Puterakembara member,

Merespon usulan sdr. Dw dan Yn tentang sekolah khusus bagi anak autis kalaupun bisa dilakukan butuh waktu panjang. Meskipun secara pribadi saya lebih suka menyekolahkan anak saya ke sekolah umum, apapun juga tantangannya merupakan realitas obyektif yang mesti dihadapi oleh si anak dan ortunya. Dan prinsip yang mesti dipegang adalah "semua anak autis adalah anak kita. Hak anak autis adalah hak asasi manusia".

Usul saya, yang paling urgent saat ini adalah bagaimana membangun solidaritas keluarga autis. Lewat

organisasi ini kita bisa perjuangan banyak hal menyangkut anak kita dan keluarga autis lainnya, termasuk sekolah bagi anak autis. Kerna anak mempunyai hak atas pendidikan dan ini merupakan tanggung jawab negara (baca: pemerintah). Negaralah yang bertanggung jawab atas terselenggaranya program pendidikan secara nasional, termasuk bagi anak-anak kita yang kebetulan menyandang autis.

Kata kuncinya lewat organisasi yang berskala nasional kita desakkan kebutuhan (hak-hak) autis. Bayangkan di Canada, pemerintahnya memberikan subsidi bagi anak autis sebesar US$ 40,000/th. Kapan untuk kita yang berwarganegara Indonesia, jangankan sebesar ini, saya yakin pihak Depkes & Diknas tidak punya program bagi anak autism (saya belum pernah mendengar dan tidak punya data tentang ini). kapan lagi mereka (elit birokrasi) akan tersentuh dan mau berpihak bila kita sendiri (para keluarga anak autis) tak memperjuangkan. Kerna bagi saya autism tidak terbatas dan berhenti pada masalah kesehatan & pendidikan, jauh dari itu tak luput dari dimensi ekonomi, sosial, politik, budaya.

Hingga kini saya terobsesi dalam waktu dekat terbangun solidaritas keluarga autis. Saya tunggu partisipasi anda semua.



----------------------------

Saya sangat mendukung ide ibu Dw ini, yakinlah . . . anak-anak kita yang special ini punya potensi yang luar biasa, cuma mungkin belum terlihat dengan jelas oleh kita, sehingga kita belum bisa mengasahnya.

Ide mendirikan sekolah semacam ini bukan mimpi, dengan argumen dan informasi yang jelas, hal ini bisa kita ajukan ke yang berwenang, untuk pertama mungkin hanya sebagai wacana, untuk berikutnya bukan tidak mungkin bisa kita realisasikan, dan sebagai ikatan emosional diantara kita sebagai orang tua yang punya anak yang sedikit berbeda dengan yang lain ingin menunjukan bahwa anak-anak kita bisa berkarya gemilang.

Satu hal, karena ini merupakan ide dari orang tua yang punya anak specific, untuk anaknya sendiri dan oleh anaknya sendiri, sehingga komersialisasi authisme tidak terjadi. Insya Allah kita bisa mencetak orang-orang yang punya potensi besar dan mengarahkannya sebagai modal untuk anak-anak kita yang tercinta ini.

Mari kita berdiskusi dan bertukar fikiran.

----------------------------------------------



Selamat Pagi semua,

Menyambung tanggapan bahwa Sekolah umum tidak efektif , menurut saya tidak semua begitu. Pada kenyataannya anak saya tidak mengalami hal tersebut. Memang untuk komunikasi verbal memang belum ada kemajuannya....tetapi guru disekolah membimbing anak saya utk belajar berbicara juga kok..misalnya...A,I,O,U,E, mama, papa, .....dan untuk sosialisasinya oke juga tuh... Anak-anak yang lain mau bermain dengan anak saya....mereka kadang-kadang mengalah kalo anak saya mau mainan yang sedang mereka mainkan....

Demikian informasi dari saya.

----------------------------------------

Maaf saya ikut nimbrung, dengan pendapat apakah anak autis harus masuk sekolah umum.

Pengalaman saya, sewaktu anak saya dinyatakan autis ada tiga hal yang sekaligus saya lakukan yaitu, masuk play group umum, speech terapi dan psikolog. Perkembangannya jauh lebih baik bila kita melakukannya satu-satu. Hal ini bisa dievaluasi oleh psikolog dan ternyata memang perkembangannya luar biasa. Sekarang anak saya sudah 6 tahun, dia sudah lancar berkomunikasi, hanya kadang kita harus memintanya bicara lebih jelas lagi, di ulang. Yang saya lihat dari anak saya bidang akademik luar biasa, jauh diatas anak normal, tapi soal maturity agak tertinggal. Dan kuncinya konsistensi perkataan dan aturan dari orang dewasa yang dia perlukan.

Sekian dulu.

wassalam

---------------------------------

Saya punya pengalaman 3 th menyekolahkan anak saya yg autis di sekolah umum dari play group sampai TK.Dari segi perilaku banyak sekali kemajuan.Dia sudah care sama temannya.Sudah banyak bertanya ttg apa yg dia dengar dari penjelasan gurunya for exp.apa itu neraka,surga dll meskipun saat diterangkan dia lagi sibuk dg puzzlenya.

Ada juga teman anak saya yg DS [downsindrom] usianya 8th.Komunikasinya bagus,bisa bicara cuma sedikit tdk jelas. Masalahnya utk akademis dia sangat tertinggal. Saya sempat ikut mengajar di kelasnya, dan saya pikir dia perlu bantuan khusus utk bidang akademisnya di kelas.Jadi saya pikir belajar di sekolah umum itu ada plus minusnya. Kalau saya,milih sekolah umum utk mengenalkan anak saya ttg cara bergaul,tdk semata-mata akademis.Karena anak saya kekurangannya terutama sekali di bidang sosialisasi ini. Semoga pengalaman saya ini bisa jadi pertimbangan Bapak

---------------------------------------

Saya dulu sekolah di PPSP IKIP Malang (semacam Lab school), modelnya pakai modul-modul.

Jadi yang berminat biologi, disodorin modul biologi lebih banyak dari pelajaran yang lain.

Saya pikir walaupun model itu belum sempurna, karena masih ada muatan lain yang cukup banyak, sebenarnya sangat cocok untuk anak-anak spesial needs ini. Awalnya, diperkenalkan dulu semua, lalu kita kejar mana yang paling "cenderung" untuk dia. Kalau dia "berat" ke Matematik, ngapain juga dibebanin muatan biologi yang bikin dia pusyiiiing...

Saya pengin sekali ada sekolah yang seperti itu (sebenarnya untuk anak normalpun bagus, jadi lebih

spesifik sehingga bisa berprestasi di bidang yang betul-betul dia minati). Apakah ada yang punya informasi ada sekolah semacam itu ? Kalau belum ada.. bikin yuuuk... Yaah, ngimpi lagi

deh. Bukan mimpi, itu cita-cita, ding.

Tambahan, PPSP itu dulu mulai TK sampai SMA, semua pakai model "anda berminat apa" Dan yang bisa selesai lebih dulu, boleh naik kelas duluan. Jadi ada yang SD nya 5 tahun, 5,5 tahun, 6 tahun. SMP juga begitu: 2 tahun, 2,5 tahun atau 3 tahun.. atau malah 4 tahun... tergantung. Mungkin disini yang mendekati semacam itu Lab School ya, saya belum tahu, belum sempet nanya juga.

---------------------------------

oh ya. selain masalah "individual differences" yang sudah saya utarakan sebelumnya, ada satu lagi yang mungkin belum kepikiran oleh para orang tua:

materi kurikulum PdK yg "ruaaarr biasaaa" sulitnya (anak non-autis pun setengah mati dibuatnya). so, siap-siap dengan segala macem peralatan perang deh jangan sampai expectations orang tua setinggi langit, dan begitu ketemu masalah (yang belum tentu adalah masalah si anak) lalu jadi "patah semangat". mustinya sih, kurikulum-nya jangan baku en kaku yeeee.... ga' perlu lah anak2 sedari SD kelas 1 disuruh tulis halus,tulis cetak juga 'kan gak papa. ntar kalo udah SD kelas 3 or 4, barulah dipermanis tulisannya. trus, ngapain sih, anak2 disuruh ngapalin permainan dari daerah2. trus... trus... (he..he.. bolehnya sewot!)

-------------------------------

Merujuk pada pengalaman ank saya 4 th yang telah beberapa bulan kami masukkan sekolah TK umum, kami sepertinya dapat melihat bahwa tidak effektif untuk menyekolahkannya di sekolah umum, karena :

1. Tidak bertambahnya kemampuan komunikasi verbal

2. Sikap agresif membuat anak lain menjauhi

Itu pengalaman yang kami alami, tentu saja harapan tetap ada , jadi silahkan Bapak mencoba, mungkin saja pada anak Bapak hal ini tidak terjadi. Salam sukses

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy